CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 12. Fate Changed


__ADS_3

...『⚠️ Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi bukan kejadian nyata ⚠️ 』...


Previously:


"5....5 tahun penuh?!" aku terkesiap.


Myles mengangguk dengan serius.


...


Lama sekali...


Apa aku harus menghapusnya?


ㅡtapi itu berarti aku akan menjilati ludahku sendiri...


Bermacam-macam ide terlintas di kepalaku sambil menggerutu.


5 tahun di sekolah khusus anak laki-laki ?


..aku punya firasat buruk tentang hal ini.


...****************...


Setelah menyelesaikan sarapan dengan Myles dan kami berdua berakhir dengan sama-sama murung. Nina akhirnya mengajakku untuk berlatih, mungkin dia ingin menghiburku. Aku menerimanya dengan senang hati dan kami pun berlatih di dalam Space Magic. Nina terlihat terkejut namun dia kembali memfokuskan perhatiannya untuk mengajariku bertarung.


Apa aku harus menurunkan kemampuanku?


Ketika aku memikirkan berbagai cara agar aku tidak membuat Nina terluka, akhirnya dia mengeluarkan kedua dagger yang memiliki corak yang keren dan langsung melesat ke arahku sambil berteriak, "Musuh tidak akan membiarkanmu untuk berpikir!"


Aku mengeluarkan Hash Slinging Slaiser dan saat aku akan menabrakkan bilang pedangku ke arah daggernya Nina, dengan cepat Nina bergerak ke sampingku untuk menusukkan daggernya ke arah leherku. Refleks aku menangkap lengan Nina sehingga kami terjatuh dengan Nina yang menimpaku.


BRUUK


Nina dengan cepat berdiri dariku sambil menggerutu, "Apa-apaan itu?! Apa kamu berencana menggoda setiap musuhmu yang melawanmu?!" Aku terkekeh mendengarnya dan mengambil daggernya yang terjatuh.


Kami pun memulai lagi untuk berlatih, meskipun aku memiliki kekuatan yang Superhuman alias Over Power dibandingkan Nina, tetapi dia sangat hebat sekali..


TRANGGG


Dentingan keras terdengar saat aku terus menghindar dari tebasan dagger Nina yang terlampau secepat kilat, ketika tangan kiri Nina akan mengayunkan salah satu daggernya itu, aku menunduk dan menendang kakinya. Dia terjatuh namun begitu aku akan menghunuskan pedang di kepalanya, dia langsung menendang kakiku sehingga aku terjatuh.


GEDEBRUKK


Dia duduk di atas tubuhku dan menempelkan daggernya ke leherku, aku menghela napas panjang saat aku terengah-engah...


"Apa kamu sengaja berpura-pura?"


"Hah?"


"Kamu mencoba menahan kemampuanmu...aku tahu itu. Berikan satu alasan yang kuat agar aku tidak membunuhmu disini."


Aku tersenyum dan menatapnya, "Karena aku menyukaimu tentu saja aku menahan kekuatanku. Itu akan membunuhmu," jawabku dengan tenang sebelum...


"Ugh, Nina? Aku tidak bisa bernapas...tubuhku terlalu kecil untuk kamu timpa sekarang," ucapku yang sudah hampir kehabisan napas.


Sontak Nina langsung berdiri dan membantuku berdiri sambil memperhatikanku dengan khawatir.


Posisi itu tadi sangat mencurigakan tetapi aku berhasil membuatnya menjadi lucu karena aku hampir mati tertindih...


"..kalau begitu, kenapa kamu mengajakku berlatih? Sepertinya kamu sudah dapat bertarung sendiri?"


Aku membasahi bibirku sambil menggaruk belakang kepalaku, "Ah, aku hanya ingin banyak menghabiskan waktu denganmu, Nina... ahahaha."


Nina mengernyit dan berdeham sambil terbatuk-batuk. Setelah beberapa saat dia seperti itu, akhirnya dia mengalihkan pandangannya dariku, "Um, kamu kelihatannya sudah lelah. Mari kita akhiri latihannya disini..."


"Benar juga...ayo kita beristirahat di meja seperti biasa?"


"Tentu, Tuan"


Saat kami sedang makan siang bersama, Myles datang sesuai dengan ajakanku bersama Sebastian. Melihat meja kayu itu, Myles bertanya siapa yang membuatnya dan aku dengan cepat langsung menjawab bahwa Nina yang membuatnya.


Nina melemparkan tatapan dinginnya secara diam-diam padaku sebelum di nasihati oleh Sebastian agar meminta izin terlebih dahulu sebelum membuat sesuatu di tengah taman.


Aku meminta maaf pada Nina melalui hatiku sambil mendengarkan celotehan Myles yang mengatakan bahwa dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah pelatihan perang yang menghabiskan terlalu banyak waktu. Aku memberikannya jimat berupa gantungan pedang yang sudah ku bubuhi sihir pelindung dan membuatnya mudah menaikkan levelnya. Dengan senang dan bersemangat, Kakakku yang ceria itu langsung memakaikannya ke pedang barunya yang juga kuberikan sebagai hadiah ulangtahun.


...〈 +50 Rasa Suka Myles (Penuh) 〉...


...〈 +46 Kepercayaan Myles (Penuh) 〉...


Wah, kakakku ini sangat lucu sekali.


...「Host, aku baru tahu kamu ini pencinta semua gender...aku tidak akan mengomentari mu...aku hanya terkejut.. itu saja」...


Awas saja kau nanti jika aku bisa mengubah mu ke wujud manusia, akan ku (PIP PIP PIP )


...「..Tidak perlu semarah itu, Host」...


Setelah Myles dan Sebastian pergi, aku bersantai di kamarku sambil membaca buku. Sudah lama aku tidak melihat Hadiah dari Quest...karena aku sudah memakai CHEAT sekarang aku sedikit lebih malas melihatnya karena akan sama...hm ?


...《 Selamat anda telah mengubah jalan cerita 》...


...《 Menyelamatkan Ratu Elena (Karakter Penting) dari kutukan dan kematian yang merupakan kunci dari Tragedi Perang Spade-Heart 10 tahun ke depan. 》...

__ADS_1


...《 + 4000 Point 》...


《 Selamat anda telah mengubah jalan cerita 》


...《 Menyelamatkan Raven (Karakter Penting) dari kutukan dan kematian masal yang merupakan kunci dari Tragedi Kasus Pembunuhan Massal 3 tahun ke depan. 》...


...《 + 3000 Point 》...


...《 Selamat anda telah mengubah jalan cerita 》...


...《 Mengubah jalan hidup Nina (Karakter Penting) dengan menghilangkan rasa dendamnya yang merupakan kunci dari Tragedi Kematian Karina 1 tahun ke depan. 》...


...《 + 2500 Point 》...


...《 Selamat anda telah mengubah jalan cerita 》...


...《 Mengulur waktu untuk Amy (Karakter Penting) dari penculikan yang merupakan kunci dari Tragedi Hilangnya Anak Bangsawan 1 tahun ke depan. 》...


...《 + 3000 Point 》...


.........


Baguslah, aku banyak membantu agar mereka tidak mati lebih awal...tapi...


Amy dan Nina juga karakter penting ?


Mungkin karena mereka berdua saling berkaitan waktu dahulu saat Nina menyandera Amy...kalau Raven aku tahu dia adalah karakter penting karena dia terlalu kuat dari semua orang dan juga kutukannya serupa dengan kutukan Ratu Elena.


Siapa kira-kira ya pihak yang melakukan semua kutukan itu...


...apakah ini semua ulah iblis atau suatu sekte? Atau ini pertanda akhir jaman ?


Aku berpikir selama beberapa saat sebelum memutuskan untuk mengunjungi Raven dan Night. Setelah meminta izin Nina untuk mengatakan alasan dimana aku berada jika ditanya Raja atau yang lainnya dan aku yang sibuk membujuknya agar tidak perlu ikut denganku karena sulit untuk mencari alasan lain selain aku menghilang begitu saja. Setelah kuberi dia coklat dan kecupan di pipi, akhirnya aku dapat pergi.


Berubah menjadi Akai, aku langsung teleport ke markas Red Eye Gang, tepatnya langsung di dalam ruang Raven yang sedang sibuk bermain papan catur dengan Night.


Mereka yang kaget melihatku langsung menjatuhkan papan catur itu seakan mencoba menyembunyikannya. Aku memandang mereka dengan wajah masam, "Kuharap pekerjaan kalian sudah selesai?" Night membalas ku dengan anggukan sedangkan Raven hanya terkekeh dan langsung melompat ke lenganku untuk memeluknya. Melihatku membiarkannya, dia berbisik, "Biarkan aku libur? Aku baru saja terbebas dari kutukanku dan kemarin aku baru saja melihat sesuatu yang sadis."


"Tidak masalah," Aku membalas dengan mengangguk singkat dan berjalan ke arah Night sambil membiarkan Raven terus merangkul lenganku. Night melihatku dan berpikir sesaat sebelum membuka mulutnya, "Kuharap Tuan tidak membiarkannya terus berleha-leha. Meskipun anggota kita sudah cukup kuat, untuk dapat melawan pasukan Iblis ini masih belum cukup, Tuan."


Aku menganggukkan kepalaku dan memikirkan suatu item untuk dibuat di CUSTOM MADE ALL ITEM selama beberapa saat dan memberikannya benda semacam remote pada Night. Dia memandanginya dengan penuh tanda tanya, "Apa ini Tuan?"


"Itu untuk latihan, tekan tombol merah untuk menciptakan Illusion yang berada di dalam Dungeon. Tenang saja, jika mereka mati di dalam sana mereka tidak benar-benar mati."


Mata Night berbinar dan langsung pamit untuk memberitahukan itu pada yang lainnya, melihat Night yang pergi keluar sambil membawa papan catur. Dia membuka mulutnya setelah Night menutup pintu, "Jadi...akhirnya kita berdua disini."


Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa dan pergi duduk di kursinya Raven yang awalanya usang kini menjadi empuk seperti kursi tahta. Raven dengan santai duduk di atas pangkuanku.


Saat aku mengusap kepalanya, daun telinga Raven yang ujungnya sedikit lancip seperti elf bergerak. Dia melirikku dan semakin mendorong tubuhnya ke arahku, "Ugh..kau cukup berat ya?" sahutku yang dia balas dengan injakan kaki.


"Beraninya kamu menghancurkan suasana yang romantis ini," gerutunya.


"Bagaimana dengan perkembangannya? Sudah menemukan beberapa penjual budak? Apakah Josh mengganggumu?" tanyaku sambil terus mengelus kepalanya.


Raven menggelengkan kepalanya, "Belum terlalu banyak...para penjual budak itu cukup licin...sebaiknya mereka bertemu denganmu dahulu baru kita mendapatkan mereka. Josh tidak menggangguku dan Gang ini lagi... sepertinya kamu benar-benar menakutinya kemarin malam."


Aku menyeringai dan berbisik, "Apa aku menakuti mu semalam?"


Dia bergidik dan menoleh ke arahku dengan wajah memerah, "Sedikit...tapi setidaknya itu menyadarkan ku untuk tidak boleh berada di sisi berlawanan denganmu..."


Aku tertawa dan mengelus lagi kepalanya, lalu dia berbisik di telingaku dengan lembut, "Awalnya aku hanya ingin bermain-main denganmu... tapi sepertinya aku akan merubahnya..." mendengar itu aku tertawa kecil dan menghela napas sambil mendengarkan dia kembali berceloteh tentang beberapa anggota terdekat nya yang terkejut bahwa dia memiliki kutukan.


Setelah merasa sudah terlalu lama disana, aku akhirnya pamit pada Raven dan berpesan jika dia tidak perlu memaksakan dirinya. Mendengar ku, Raven langsung tertawa cekikikan dan memelukku sebelum mengecup pipiku agak lama. Dia menitip pesan pada Nina dan mengatakan aku harus sering mengunjunginya.


Aku tertawa dan menggelengkan kepalaku, pesannya hanya akan membuat Nina marah dan aku kembali ke kamar mandi sebelum mengubah diriku menjadi Kyle. Saat aku keluar kamar, Nina berjalan menghampiriku dengan khawatir, "Apa yang wanita merah itu lakukan padamu? Kenapa kamu sangat lama?" mendengarnya aku hanya tertawa dan di semakin mengerutkan dahinya.


Aku menenangkannya dan mengatakan bahwa Raven hanya berbicara denganku soal harinya dan pekerjaannya yang belum selesai. Nina mendekati ku dan mengendus leherku. Dia mengatakan bau ku sama seperti Raven. Aku menghela napas dan mengatakan Raven juga duduk ke atas pangkuanku dan Nina semakin terlihat kesal.


"Ayolah, sekarang juga aku bisa memangku mu tapi tubuhku terlalu kecil, bersabarlah? Bagaimana kalau aku yang duduk di pangkuanmu?" pertanyaan itu langsung membuat matanya berbinar sesaat sebelum dia duduk di atas kasur dan menggendong ku ke atas pangkuannya.


Oke...ini tidak masalah...aku tidak merasa malu, tidak sama sekali...


Aku mendengarnya tersenyum...serius, sebelum dia mengelus kepalaku sambil bersenandung pelan. Saat aku akan jatuh tertidur di pangkuan Ninaㅡ


"Kyle? Ayo bermainㅡ?!" Myles menerobos masuk kamar dan melihatku di atas pangkuan Nina. Sebastian yang melihat kami menahan senyumannya sedangkan Myles menghampiriku yang sudah berwajah tomat.


"Ahahaha, Kyle kamu terlihat lucu, aku baru ingat kamu ini masih kecil, ayo duduk di atas pangkuanku juga!" lalu Myles mengangkat ku ke atas pangkuannya..


Baiklah, mari kita biarkan saja dan menerima kasih sayang mereka semua dengan pasrah dan hati yang terbuka...


Pada akhirnya, aku jatuh tertidur di atas pangkuan Sebastian...


...****************...


"Kakak?! Apa maksudnya dengan aku jangan mengganggu Pangeran Bajingan itu lagi?! Dan mengapa aku harus menunggu hingga aku masuk Unity Academy?!" teriak Amy pada Josh di dalam kamar Josh.


Josh menggelengkan kepalanya dan menggigit kukunya, "Dengarkan kakak, Amy. Tidak da untungnya kamu berurusan dnegan bajingan itu. Lagipula aku tidak mendengar rumor buruk apapun tentangmu. Lupakan saja hal itu, oke??"


Amy menggertakan giginya dan berlari keluar kamar Josh dengan membanting pintunya. Kesal, Amy menginjak-injak tanah ketika ia keluar menuju halaman belakang rumahnya. Dia duduk di sudut halaman belakang rumahnya yang tertutupi semak belukar.


Amy lalu menundukkan kepalanya dan memasukkan wajahnya ke dalam lengannya sedalam dalamnya. Perlahan dia menangis, terus menangis yang dia tahan suaranya.


"Awas saja kau...bajingan"

__ADS_1


...****************...


Beberapa hari kemudian, di hari keberangkatan Myles untuk pergi bersekolah di Sekolah Pelatihan Perang, kami sekeluarga makan bersama. Seperti biasa, Myles terus berceloteh di sela makannya. Aku hanya ikut menganggukkan kepalaku sebelum dia akhirnya menyentuh topik yang membuat seluruh tubuhku membeku.


"Oh iya, Ayah, Ibu, Ibu Karina! Tahu tidak, beberapa hari yang lalu, aku dan Sebastian melihat Kyle sedang berada di pangkuan Nina dan wajahnya lucu sekali karena dia hampir tertidur. Aku juga memangkunya...tetapi dia dengan mudah tidur di pangkuan Sebastian."


Mendengar itu, suasana di ruang makan menjadi hening sedangkan Sebastian yang berada di belakang Myles terlihat bangga.


Kenapa Pak Sebastian ini bangga ya, pak ?


Ayahku, Raja Grim langsung berdeham sedangkan ibuku menatapku dengan kaget. "Benarkah itu Kyle?! Sudah lama ibu belum memangku mu! Ayo kesini!"


Oh, Shㅡ


Mata ibuku langsung bersinar merah selama beberapa saat dan aku berlari secepat kilat ke atas pangkuannya. Dia langsung bersenandung dan mengelus kepalaku, Ratu Milan terlihat terkejut sedangkan Ayahku...kenapa dia terlihat cemburu ? Myles tersenyum lebar begitupun dengan Sebastian.


Pak Sebastian, saya mohon hentikan senyuman bangga milikmu itu !


Selanjutnya, entah bagaimana akhirnya Ratu Milan memangku ku dan juga Ayah. Ratu Milan dengan malu mengelus kepalaku... sedangkan Ayahku terus berdeham saat memangku diriku di atas pangkuannya. Sesekali dia berusaha mengelus kepalaku namun dia terus berdeham dan kembali menaruh tangannya ke samping kursi.


Baiklah, kalau ayah mau tetap seperti itu...


Aku dengan mudah mengangkat tangan ayahku ke atas kepalaku. Dia terkejut namun berdeham lagi sebelum mengelus kepalaku.


...〈 +50 ★Rasa Suka Karina (Penuh) 〉...


...〈 +100 Kepercayaan Karina (Penuh) 〉...


...〈 +50 ★Rasa Suka Milan (Penuh) 〉...


...〈 +70 Kepercayaan Milan 〉...


...〈 +50 ★Rasa Suka Grim (Penuh) 〉...


...〈 +70 Kepercayaan Grim (Penuh) 〉...


...〈 +45 ★Rasa Suka Myles (Penuh) 〉...


...〈 +46 Kepercayaan Myles (Penuh) 〉...


...〈 +45 ★Rasa Suka Sebastian 〉...


...〈 +46 Kepercayaan Sebastian 〉...


Dengan lautan notifikasi itu, aku hanya bisa pasrah dan menerima kasih sayang mereka semua. Kyle Heart...kamu sebenarnya sangat disayangi...sayang sekali kamu tidak sempat mengalaminya secara langsung seperti ini...


Ketika kereta kuda dari Sekolah Pelatihan Perang itu datang ke dalam wilayah kastil, Myles langsung berlari mengambil barang-barangnya dan membantu pak kusir dan Sebastian memasukkan barang-barangnya. Sebelum pergi, dia memeluk kami semua satu persatu sebelum menyaluti kami.



"Saya, Pangeran Myles, Pangeran Pertama Kerajaan Heart akan melaksanakan tugas dengan baik selama pelatihan dan akan kembali dalam keadaan sehat dan terpelajar!"


Ratu Milan diam-diam menyeka air matanya sedangkan Ayah dan Ibuku hanya melambaikan tangan mereka sambil tersenyum saat Myles menaiki kereta kuda itu. Aku sudah mulai merasa rindu karena kita tidak akan bertemu tiga tahun lagi sebelum aku juga akan ikut masuk ke sekolah itu untuk menemui kakakku yang sudah menjadi seniorku disana.


...ugh...aku tidak ingin sekolah lagi.


Myles melambaikan tangannya dengan ceria dan perlahan kereta kuda itu berjalan pergi hingga menghilang dari pandanganku.


Berjuanglah disana kakak !


...****************...


Jauh...


Begitu Jauh...


"Ratuku! Ratuku!!!"


Dark Succubi terbang melesat sambil berteriak-teriak menuju ruang tahta dalam sebuah kastil yang kelam dan hanya ada lilin sebagai penerangannya.


"Apa, Aria ?!" suara seorang wanita yang terdengar dingin dan menggema di seluruh ruangan seisi kastil. Semua monster dan Dark Succubi itu menghentikan gerakannya untuk menunduk sebelum mengatakan, "Ratuku! Kutukan yang kita berikan pada Objek 1 dan Objek 4 sudah di ambil! Bagaimana ini Ratuku?! Apakah kita melanjutkan rencana kita sesuai dengan rencana sebelumnya ataukah Ratu memiliki rencana baru?"


"Apa? Ada yang berhasil mencabut kutukannya? Kutukan yang sudah kubuat dan ku sempurnakan selama beribu-ribu tahun lamanya? Siapakah yang berhasil mencabut kutukannya?? Apakah itu Hero ?"


Dark Succubi itu terlihat ragu dan Ratu langsung berkata dengan tenang, "Tidak apa Aria, ini bukan salahmu. Ayo, cepat kamu beritahukan padaku, siapa yang berhasil mencabut kutukan itu?"


Dark Succubi itu menoleh kesana kemari namun tidak ada monster lain yang menolongnya, akhirnya dia menghela napas panjang dan menghadap Ratunya dengan bergetar namun berusaha menenangkan apa yang ingin ia ucapkan selanjutnya, "Maㅡmaafkan Saya, Ratuku...tapi...para Dark Fairy belum berhasil menemukan siapa yang mencabut kutukan itu, Ratuku..."


Seluruh ruangan menjadi sunyi, diam, hening. Semua monster termasuk Aria, Dark Succubi melirik ke sana kemari sebelum menatap Ratu Iblis yang masih terdiam sebelum membuka mulutnya dan mengatakan, "Tidak masalah Aria, segera cari siapa orang itu dan semuanya, lanjutkan semua pekerjaan kalian..." seru Ratu Iblis dengan tenang.


"Apa yang harus kami lakukan jika kami berhasil menemukan orang itu, Ratuku?" tanya Aria dengan ragu.


Ratu Iblis menyilangkan kakinya dan mengangkat tangannya dengan bosan.



"Bawa dia padaku. "


Biarkan aku yang memutuskan untuk langsung memusnahkannya atau menjadikannya pasanganku untuk membangkitkan Raja Iblis yang baru...


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2