
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Previously :
Jangan diaㅡtolong jangan bahas diaㅡ
"Aku mencari pria bernama Akai".
Raven mengerutkan dahinya dan menggigit bibirnya sendiri dengan cukup kuat. Melihat reaksinya, Lilia tersenyum.
"Ah, akhirnya aku menemukan seseorang yang benar-benar mengetahuinya. Katakan padaku, dimana pria itu sekarang Raven?"
Raven membuka mulutnya namun mengatupkan nya lagi sebelum bertanya balik pada Lilia, "Memangnya, mengapa kamu mencari pria bernama Akai ?"
Tatapan Lilia seketika menjadi dingin, dia menatap Raven tepat di manik mata dan menjawab dengan sangat dingin,
"Aku ingin membunuhnya."
...****************...
Angin laut menerpa wajahku dengan sangat kuat begitu aku menatap pantai yang luas di hadapanku. Aku tidak menyangka bahwa Valeria akan mengajakku berjalan ke pantai setelah sarapan, baru kami akan menuju wilayah perkotaan.
Aku menghirup angin yang terasa sangat asin di lidahku dan melirik ke Valeria. Dia sedang duduk di sampingku, bersenandung sambil mengeluarkan beberapa makanan yang sudah ia siapkan ketika aku sedang mandi.
Sepertinya, saat ini kita sedang berpiknik di depan pantai Pulau Joker. Mari kita coba suasana baru saat makan siang, begitu katanya bila aku bertanya mengapa aku harus melebarkan kain tipis yang terlihat mahal di atas tumpukan pasir putih di sekitar pantai.
"Uhh, pantainya sangat indah ya? Aku belum pernah mengunjungi pantai ketika aku masih di rumah..." aku tiba-tiba membuka mulutku ketika melihatnya mulai melepas topi jerami berbentuk bundar yang begitu lebar dari atas kepalanya. Mendengarku, Valeria tersenyum dan menyodorkan ku sepotong sandwich.
Ragu, aku akhirnya menerima sandwich itu meskipun aku belum terlalu lapar dan memakannya dalam diam.
HAPPP
Ah.
Ini kanㅡ
Mataku langsung melotot ke arah Valeria yang sudah tersenyum padaku. Aku melihat kembali ke arah sandwich di tanganku.
Ini sandwich rasa selai strawberry.
"Melihatmu yang juga senang memakan kue coklat. Aku merasa kamu juga akan menyukai makanan manis. Sandwich selai strawberry adalah satu-satunya makanan yang tidak ada di pulau utama," terang Valeria.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, apakah kamu sudah pernah mencobanya?" tanya Valeria sambil mengambil sandwich lainnya.
Tidak mungkin aku mengatakan aku sudah mencoba ini sebelumnyaㅡaku menggelengkan kepalaku dan kembali menggigit sandwich manis itu.
Panas matahari yang terik membuatku ingin minum birㅡah, bagaimana jika aku membuat itu?! Aku membuka Custom Made All Item dan mencobanyaㅡ
...〈 Teh Susu Boba XXX x2 berhasil diciptakan 〉...
Aku mengeluarkannya dari tas ajaibku dan menyerahkan gelas plastik berbentuk lengkap dengan sedotannya pada Valeria. Dia memandanginya dengan rasa penasaran dan kebingungan. Aku menunjukkan padanya untuk menyesap ujung sedotannya. Dia langsung mengikutiku.
Begitu dia menegak Teh Susu Boba, matanya terbuka lebar dan wajahnya memerah sambil menoleh ke arahku.
"Ini enak sekali! Apakah ini adalah minuman yang ada di dunia mu?"
"Benar sekaliㅡah."
Valeria tersenyum lebar sebelum tertawa renyah melihatku yang diam mematung. Dia terus tertawa geli jadi aku ikut tertawa dengannya selama beberapa saat.
Dia akhirnya berhenti tertawa sambil menyapu air mata yang keluar karena tertawa terlalu keras, "Akhirnya aku melihatmu tertawa juga. Apakah kamu benar-benar menyalahkan dirimu atas keluargamu? Percayalah padaku. Cepat atau lambat kita semua juga akan mati, Kyle. Keberadaan Ratu Iblis hanya menjadi sebuah tantangan agar kita hidup dengan berjuang semampu kita."
Aku menghela nafasku dan terdiam memandangi ombak yang terus menerus menyapu kepiting yang sedang melintas.
"Kamu tidak perlu menceritakannya. Aku hanya ingin memastikan saja."
"Tapi, bagaimana jika aku ingin bercerita?"
"Aku tidak ingin mendengarmu bercerita."
Aku menggelengkan kepalaku sambil berusaha menahan senyum ketika mendengar jawaban singkat darinya.
"ㅡKalau begitu, aku mulai dari bagaimana aku melihatmu membuat suatu bangunan menggunakan tanah pada saat 3 tahun yang lalu," aku membalas dan dia langsung mengerutkan dahinya.
"Dari semua bagian, mengapa harus bagian yang itu? Apakah tidak ada bagian cerita yang lain? Kyle, kamu sengaja ya?"
Berbincang-bincang dengan Valeria di tengah pantai. Membuatku sedikit merasa lebih baik.
Kuharap apa yang dikatakannya benar.
Bahwa, kematian mereka semua bukanlah salahkuㅡbukan salah Kyle Heart.
Ataupun Kaoru.
__ADS_1
OUCH ! ARGH! Kenapa tidak ada obat anti sakit kepala Bodrex disini?!
...****************...
"Membunuh Akai? Mengapa kamu ingin membunuhnya? Apa yang sudah dia lakukan sehingga kamu ingin membunuhnya, Lilia?"
Raven menjawab Lilia dengan tatapan dinginnya, mereka saling menatap satu sama lain dengan tajam.
"Tidak ada Akai disini," suara seseorang memotong badai salju di antara Raven dan Lilia. Seorang wanita berambut chestnut dengan mata berwarna hazel, menggunakan pakaian pelayan seperti rumahnya, berjalan menuju mereka berdua dengan tenang.
"Kamu juga mengenal Akai? Siapa kamu? Raven, apakah dia anak buahmu juga?"
Wanita yang memakai baju pelayan itu, Nina langsung mendecakkan lidahnya seakan kesal sedangkan Raven membalasnya dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Begitulah, dia adalah Nina yang baru saja menjadi tangan kananku sekarang," sahut Raven sambil menunjuk Nina pada Lilia.
"Tidak mungkin. Aku hanya berdiam disini untuk sementara sebelum aku menemukan tempat tinggal yang baru," balas Nina.
"Tetap saja, kamu harus bekerja disini jika kamu tidur di tempat ini."
"Aku tahu itu, aku akan membayar mu tepat di wajahmu tentu saja."
"Tidak, tidak. Aku tidak butuh uangmu itu. Aku butuh kontribusimu saja."
"Aku tidak peduli soal itu."
"Cukup kalian berdua," potong Lilia begitu Raven akan membuka mulutnya lagi untuk membalas Nina. Mereka berdua terdiam dan memperhatikan Lilia.
"Kamu, apa maksudmu dengan Akai tidak ada disini? Kamu juga mengenalnya?" tanya Lilia pada Nina. Tanpa ekspresi seperti biasa, Nina menganggukkan kepalanya, "Tentu saja. Akai tidak ada disini karena dia berasal dari Kerajaan Heart. Kamu tentu tahu apa yang terjadi sekarang."
Wajah Nina terlihat sangat tenang dan datar, tapi Raven dapat merasakan jika suara Nina sebenarnya sedikit bergetar.
"Apakah ada kemungkinan dia masih hidup? Tuan Josh mengatakan bahwa pria itu sangatlah kuat."
Raven dan Nina tidak menjawab ucapan Lilia. Mereka hanya terdiam dan Lilia menutup lagi tudung kepala dari jubahnya sebelum berbalik pergi, dia menoleh kembali ke arah Raven dan Nina beberapa saat sebelum mengatakan.
"Sekuat apapun kalian berdua ataupun pria yang bernama Akai itu. Tidak akan ada yang kubiarkan tetap hidup setelah membuat Tuan Josh menjadi penakut seperti itu. Kalian berdua jangan ikut campur dengan urusan ku. Aku akan mencari Akai sampai ketemu. Sampai jumpa," setelah mengatakan itu dengan panjang lebar akhirnya Lilia melangkah pergi dari ruangan itu.
Nina dan Raven saling bertukar pandang satu sama lain. Dalam hati, mereka berdua berpikir dan mengatakan hal yang sama.
"Kami juga sangat ingin segera bertemu dengan Akai."
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG..