CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 69. Nope, Thank You


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️』...


Previously :


"Apa itu Unity Arena?" tanyaku lirih.


Pertanyaan itu membuat wajah mereka semua sontak melongo secara bersamaan.


...****************...


Angin berhembus dari salah satu jendela yang terbuka. Kurang lebih sebanyak sepuluh pasang mata menatapku dengan wajah yang beragam. Rata-rata, mereka terlihat diam melongo seakan salah mendengarkan apa yang baru saja aku katakan.


"Apa kau bercanda?? Kau tidak tahu apa itu Unity Arena ?!" seru Roy sambil menyisir poni rambutnya ke belakang kepalanya. Bola matanya membesar diikuti dengan kedua alisnya yang terangkat. Dia benar-benar terlihat terkejut dan tidak percaya.


"Tidak? Aku tidak tahu apa itu Unity Arena."


Amy langsung menyahut sambil mengambil langkah untuk berdiri di depanku, seperti mencoba menghalangi ku atau mungkin melindungi ku, "Bajingan ini bahkan tidak tahu Unity Arena ! Sudah, senior. Biarkan saja bajingan ini!"


"Sepertinya Nona manis ini benar-benar peduli dengan Heart? Sedikit mengecewakan tapi maaf Nona, kamu tidak dapat menjawab undangan kami karena kami hanya menerima jawaban dari Heart," Roy menjawab sebelum menarik lagi Lyle ke sampingnya dan melemparnya ke arah teman-temannya.


"Ugh! Maafkan saya! Saya pasti akan membayar semua utang-utang dari taruhan saya!" Lyle duduk bersimpuh di depan teman-temannya Roy.


Roy menatapku, "Sebagai ketua dari Unity Arena, akan sangat menyedihkan jika ada satu murid terutama orang sepertimu tidak tahu tentang kami. Biar aku jelaskan..."


Singkatnya, Unity Arena merupakan sebuah kegiatan murid-murid mirip seperti klub atau ekstrakurikuler yang berada di bawah naungan Pak Dante, guru Ketahanan Fisik.


Sebagai seorang anggota, baik yang baru ataupun anggota lama, akan bertanding setiap minggunya, melawan satu sama lain untuk memperebutkan posisi ketua Unity Arena yang berarti bahwa, murid tersebut adalah murid terkuat di antara seluruh murid.


Mungkin, seperti kelompok berandalan sekolah namun versi elegan dan memiliki sistem yang ketat. Belum lagi di dalam Unity Arena, akan ada pertandingan umum dimana jika ada murid yang mampu mengalahkan ketua maupun anggota elit Unity Arena, dia akan mendapatkan poin Akademi sebesar 100-1000 poin, tergantung dari tingkat kesulitan lawan.


Selain poin, murid yang menjadi pemenang dan bukan anggota Unity Arena akan diberikan jabatan sebagai anggota Elit Unity Arena. Anggota Elit ini memiliki berbagai keuntungan yang sangat menggiurkan, seperti diberikan fasilitas ataupun kebutuhan selama di Akademi secara cuma-cuma.


Mirip seperti beasiswa atau murid tersebut sebenarnya mendapatkan investasi.


"Jadi...setelah menjadi anggota Elit, murid tersebut harus terus bertanding untuk menjaga posisinya dan jika berhasil menjaga posisi itu sampai saat lulus, murid itu akan mendapatkan posisi tinggi di dalam tentara Kerajaan dimana dia berasal?" Aku mengulangi penjelasan dari Roy untuk memastikan.


Roy mengangguk, "Tepat sekali. Benar-benar tawaran yang bagus, bukan? Untuk bajingan sepertimu...kamu akan berada di pinggir jalan bahkan kamu sudah lulus dari Akademi ini. Bagaimana? Terima saja undangan yang kuberikan secara khusus untukmu," nada bicaranya terdengar sangat meremehkan ku.


Sepertinya dia memiliki dendam, karena aku berhasil mematahkan tulang tangan kanannya dengan begitu mudah barusan.


Aku melirik ke arah Amy yang memandangiku dengan alis bertaut, dia masih terlihat marah tapi jauh di balik ekspresinya itu, sepertinya dia khawatir.


Khawatir pada siapa ? Padaku ?

__ADS_1


Memangnya jika aku masuk ke dalam Unity Arena, apa yang akan terjadi ?


"Ayo, Heart! Kami tidak memiliki banyak waktu disini! Masih ada murId lainnya yang perlu 'kami' kunjungi untuk menagih utang utang mereka pada 'kami'," lanjut Roy tak sabar.


"Satu lagi, taruhan dan utang utang apa yang senior maksud?" aku memilih kembali untuk bertanya dan dia menghela napas dengan keras, "Tentu saja di dalam tempat arena bertarung kami selalu menyediakan tempat untuk mengadu nasib."



"Tempat bertaruh?"


"Tepat sekali, bahkan tempat bertaruh kami sudah mendapatkan izin khusus oleh kepala akademi ini."


Aku terperangah, "Serius?!!"


"Heh, bagus jika kamu tertarik seperti itu. apakah itu berarti kamu akan menerima undangan yang kuberikan?"


"Oh, kalau yang itu...tidak, terimakasih."


"Tentu saja kamu mau kan? Eh? Tidak? Apa??"


"Kubilang tidak, terimakasih."


"Kamu...sudah berpikir dengan baik?"


"Kamu...sudah benar-benar yakin??"


"Iya, aku sangat yakin."


"Apakah kamu tidak yakin tidak akan menyesal?"


"Iya, aku sangat yakin."


Roy masih terlihat terbata-bata, "Sepertinya kamu melupakan suatu hal. Jika kamu menang kamu akan mendapatkan banyak poin dari Akademi."


Aku mengangguk singkat, "Iya...aku tahu. Tetap saja aku tidak ingin ikut apapun itu Unity Arena."


"Meskipun, aku sudah mengundangmu secara khusus seperti ini?"


"Iya, sayang sekali ya."


"IYA! KAMU, HEART MERUPAKAN ORANG YANG BENAR-BENAR MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN BESAR INI!!!" bentak Roy tiba-tiba. Dia berjalan maju ke depanku dan menepis Amy ke samping.


"Baiklah, kalau begitu maumu. Secara pribadi, aku juga tidak ingin mengundangmu. Karena kamu sudah melawanku tadi, akan ku tagih hutang milik Lyle padamu..."

__ADS_1


"Berapa?"


"Ohh, kamu merasa yakin bisa membayar semuanya? Baiklah, dia mengutang sebanyak 3 bungkus kepingan emas! Jika kamu tidak membayar nya sekarang, kamu kita akan jadikan budak bersih-bersih di Unity Arena."


"Tidak perlu...ini," aku langsung melempar empat kantung kepingan emas di depan wajahnya, namun kini dia berhasil melindungi wajahnya sebelum terluka.


Matanya memicing menatapku, akan tetapi pandangannya teralihkan pada keempat kantung kepingan emas di tangannya. Sontak, semua orang yang ikut memperhatikan Roy membuka kantung-kantung yang rupanya berisi penuh kepingan emas itu, terkesiap.


"Ohooo! Rupanya bajingan kita ini kaya. Apa sehabis membunuh keluargamu, kamu mengambil seluruh harta mereka?" Roy meledek sambil menyeringai lebar. Sepertinya dia berusaha untuk membuatku terpancing emosi dan meledak.


Jika aku berkelahi sekarang, maka aku akan mendapat hukuman lainnya dan poin khusus dari Akademi milikku akan sekarat. Aku balik memandanginya dengan tenang sebelum ikut menyeringai, "Tidak masalah. Daripada jika aku tahu bahwa ternyata aku ini bukan anak kandung ayahku melainkan anak dari pamankuㅡ"


BUUUUKK


Roy langsung melayangkan tinjunya ke wajahku secepat yang ia bisa, lamban, tapi aku terima pukulannya. Semua orang kembali terkesiap kecuali teman-temannya yang bersorak, "Ayo Bos! Hajar saja dia!!"


Ketika melihatku diam menerima pukulannya, Roy tersenyum menang dan melayangkan tendangannya ke arah perutkuㅡ


BUUUAAKK


"..." Aku tidak mengerang kesakitan atau apapun, hanya membungkuk sambil memegang perutku sehabis di tendang. Amy ingin melompat untuk melawan, tapi dengan segera, aku tahan lengannya.


Sabar, Amy. Sebentar lagi...


"Hehehe, ternyata kamu ini hanya murid biasa dan sedikit beruntung dapat melukaiku barusan! Rasakan ini!!!" Roy kembali melayangkan tinjunya ke bawah daguku secara vertikal.


BUAK


BRAKK


Aku terjatuh kebelakang. Secara sengaja.


"ROYY! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN DI TEMPAT INI?!!"


Pak Dante, sudah berdiri di ambang pintu kantin seraya menatap tajam ke arahku yang sudah terjatuh sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Roy, yang wajahnya sudah pucat pasi.


Ahahaha, kepergok deh lu.


......................


BERSAMBUNG..


__ADS_1


__ADS_2