
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Aku mengayunkan pedangku secara horizontal dari kiri ke kanan sehingga menebas leher dari boneka kayu.
SWUUUSHH
PRAAK
Aku melakukan kuda-kuda dan mengayunkan lagi ke arah tubuh boneka kayu itu sehingga memotong tubuhnya menjadi dua. Aku menaruh kembali pedangku ke dalam sarungnya dan berjalan mendekati boneka kayu itu. Jari telunjukku mengelus atas tubuh kayu yang terpotong dengan rapi.
Aku mengangguk dan merasa puas dalam hati sebelum pergi meninggalkan ruang latihan dimana beberapa pengawal Kerajaan yang juga ikut berlatih, diam memperhatikanku berjalan pergi.
"Hari ini, Tuan Putri sedang dalam suasana hati yang buruk lagi."
"Ini pasti karena Yang Mulia Ratu masih belum pulih."
"Kudengar Yang Mulia Ratu tidak akan bertahan lamaㅡ"
Mendengar bisikan itu, aku langsung melempar pedangku tepat ke dinding disamping pengawal itu. Dia meloncat kaget begitupun semua orang di sekitarnya. Mereka kompak berbaris saat aku berjalan menghampiri mereka dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Komandan mereka meminta maaf padaku yang tidak ku gubris saat aku mengambil pedangku yang tertancap di dinding. Begitu aku berjalan pergi lagi, Komandan itu langsung menghukum mereka semua berlari sekeliling lapangan istana.
Berusaha menahan amarahku, kakiku membawaku ke arah kamar ibuku.
Kupijaki anak tangga satu persatu sambil memperhatikan ujung tangga, biasanya jika ibuku mendengar langkah kakiku, dia selalu menunggu sambil menebarkan senyumannya yang lembut dan hangat.
Saat ini, hanya ada kegelapan dan cahaya kecil dari lilin yang ada di ujung tangga. Setelah aku sudah berada di ujung tangga, aku tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka.
KRRIIIEETTT
Aku melongok ke arah koridor yang sepi dan kosong, ku telusuri dari mana asal suara pintu itu yang ternyata adalah kamar ibuku. Pintunya terbuka, begitu kulihat dari luar, ibuku yang tersayang masih berada di atas kasur. Terlihat dia terbaring dengan lemah.
"Kenapa ini terbuka? Apakah ini ulah angin?" tanyaku pada diriku sendiri. Aku takut Ibuku nanti kedinginan, apa aku perlu menguncinya? Tapi, aku tidak ingin mengunci ibuku disini sendirian.
Baiklah, malam ini aku akan tidur bersama ibu di samping kasurnya.
Merasa ada yang mengikuti ku di belakang, sontak aku menoleh ke belakang ku dimana pintu yang masih terbuka. Aku memperhatikannya selama beberapa saat tempat yang kosong padahal seperti ada orang namun aku segera berjalan menghampiri pintu itu dan menutupnya sebelum menuju samping kasur ibu.
Aku menatap ibuku yang masih memejamkan matanya, tanganku langsung menggenggam tangannya yang sangat dingin dan pucat bahkan mulai terasa keras dari tulangnya.
Aku menggigit bibirku untuk menahan tangisanku sebelum duduk di sampingnya tanpa melepas genggaman tanganku.
Apa yang harus kulakukan ?
Aku tidak bisa menggunakan kekuatan penyembuhan dari Light Magic...aku masih belum terlalu kuat untuk itu...
Pendeta bilang ibuku terkena kutukan dari salah satu pengguna Dark Magic.
Di Cyrus, hanya dua manusia yang memakai Dark Magic selain monster. Monster tidak akan memberikan kutukan yang kompleks sehingga tersangka yang tersisa hanya dua orang tersebut. Salah satunya adalah anak laki-laki yang kutemui di Kerajaan Heart.
Melihat dari segi usia, tidak mungkin dia dapat mengutuk ibuku yang belum pernah dia temui. Kemudian tersisa satu orang lagi...
Selir pertama Kerajaan Heart, ibu dari anak laki-laki itu...ya...pasti dia...
Aku berusaha menahan gigiku yang akan menggertakan satu sama lain, ibuku selalu bilang itu bukan sikap manis seorang putri sekuat apapun tuan putri itu.
Ku remas lagi telapak tangan ibuku sebelum aku jatuh tertidur di samping kasurnya.
Jika saja ibuku terbangun di besok hari. Aku akan menuruti semua kemauan ibuku terhadapku...iya..aku tidak akan menolaknya.
...****************...
Aku lapar...
Hmmm...ini...bau coklat...
Hehehe...nyam... tunggu...
Ah ini adalah selimut...hmm, tapi aku masih bisa mencium bau coklat...
__ADS_1
Aku perlahan membuka mataku dan mengangkat kepalaku. Ibuku, Ratu Elena kini tengah terduduk di atas kasur. Ratu Elena, ibuku tersenyum padaku, "Selamat pagi, Ellen putriku. Bagaimana tidurmu?"
Aku menguap dan menganggukkan kepalaku, "Aku tidur dengan nyenyak, ibuㅡIBU?!!!!!" pada awalnya aku menjawab dengan tenang namun saat menyadari ibuku masih tersenyum padaku, aku terkejut dan berteriak.
Mendengarku berteriak, beberapa penjaga istana dan ayahku berlari masuk ke dalam kamar. Mereka semua terlihat tegang namun melongo saat melihatku sudah berada di dalam dekapan ibuku.
Pagi itu, suasana di dalam istana Kerajaan Spade menjadi ricuh dan penuh dengan isak tangis semua pelayan, pengawal Kerajaan yang mendengarnya ataupun anggota keluargaku. Adik-adikku berlarian sambil menangis begitupun ibuku yang langsung pergi memeluk mereka.
Kita semua bersuka cita melihat Ratu Elena, ibuku kembali sehat.
Namun tiba-tiba saja, setelah memeluk satu persatu kami, ibuku bilang ingin menghentikan terjadinya perang baru antara Kerajaan Spade dengan Kerajaan Heart. Ayahku menanyakannya pada ibuku yang dibalas dengan, "Percayalah padaku, bukan Karina si Dark Witch yang memberikanku kutukan itu... melainkan Iblis!"
Perkataan ibuku sangatlah tidak masuk akal bagi ayahku, namun saat ayahku melihat bagaimana kesungguhan ibuku yang mendatangi satu persatu bangsawan untuk meminta mereka membenci dan ingin melakukan perang dengan Kerajaan Heart membuat ayahku tidak tega.
Pada akhirnya, terbitlah sebuah hukum baru yang menggemparkan Kerajaan Spade.
Isi hukum barunya adalah, akan ada pengasingan hingga hukuman eksekusi mati untuk setiap orang atau kelompok dari Kerajaan Spade yang masih merencanakan, melaksanakan, tindakan yang memicu perang baru dengan seluruh Kerajaan di Cyrus, termasuk Kerajaan Heart.
Aku benar-benar tidak percaya bahwa saat Kerajaan Spade dengan Kerajaan Heart sudah berhenti berperang adalah secepat ini.
...****************...
NYAM NYAM NYAM NYAM
Aku mengunyah coklat sambil memperhatikan beberapa pengawal Kerajaan berlatih di lapangan istana. Semenjak jalur perdagangan antara Kerajaan Heart dibuka. Aku akhirnya dapat membeli banyak camilan dan coklat dari Kerajaan Heart sepuas hatiku.
NYAM NYAM NYAM NYAM
Saat pikiranku benar-benar terfokus pada coklat yang ada di tanganku, ibuku memanggil ku dari belakang, "Ellen? Apa yang sedang kau lakukan disana?"
NYAM NYAM NYAM NYAM
Aku menoleh sambil masih mengunyah coklat dengan semangat, melihatku seperti itu, ibuku langsung tersenyum.
"Beraninya kamu makan camilan manis sebelum makan malam?" tanyanya dengan sedikit kesal sebelum menghampiriku yang masih mengunyah coklat.
Saat baunya tercium, aku terkesiap, "Ini kan bau coklat kemarin?!"
Ibuku mengangguk dan memberikannya padaku, "Untukku ibu?!" aku berteriak kegirangan dan menerima bungkusan itu.
Ketika aku sedang memperhatikan dan mencium bau coklat yang sangat wangi itu, ibuku bertanya lagi, "Kudengar kamu sudah mengunjungi Kerajaan Heart?"
Aku menganggukkan kepalaku dan menatap ibuku, "Memangnya ada apa, ibu?"
"Bagaimana menurutmu dengan para Pangeran di Kerajaan Heart? Kamu sudah menemui keduanya kan?" tanya ibuku dengan penuh selidik.
Aku menganggukkan kepalaku acuh tak acuh, "Iya, ibu. Aku sudah bertemu dengan merek berdua," jawabku sambil mengambil salah satu coklat dari bungkus yang ibu berikan padaku. Ibu memperhatikanku saat ku kunyah coklat yang wanginya tidak asing itu...
NYAM NYAM NYAM NYAM NYAM?
Tiba-tiba tubuhku terasa ringan dan pandangan mataku menjadi semakin tajam, aku melongo dan menoleh pada ibuku dengan penuh rasa terkejut yang besar.
"Coklat ini..ibu..." aku terbata-bata.
Ibuku mengangguk, "Iya, coklat itu dapat membantumu untuk menaikkan level dengan cepat dan ada sihir pelindung di dalamnya.."
"Ibu beli ini dimana?!" seruku dengan bersemangat. Ibuku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Ibu mendapatkannya...hanya itu yang dapat ibu katakan...jangan lupa untuk berlatih ya?" ibuku langsung bergegas pergi seperti berusaha menghindari topik itu.
Mau bagaimana lagi, aku harus memakannya dengan perlahan dan satu persatu.
Oh, aku harus berlatih !
SWUUUUNG
Bilah pedangku langsung menyentuh ke boneka kayu dan memotongnya menjadi empat bagian. Tubuhku terasa lebih ringan lagi, tanda bahwa aku sudah naik level. Aku memandangi tanganku dan tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, dengan ini...aku dapat menjadi semakin kuat!" aku kembali mengayunkan pedangku pada boneka kayu lainnya.
Hampir seluruh boneka kayu sudah berhasil ku hancurkan dalam satu kali latihan! Dengan riang aku kembali berjalan masuk ke dalam istana dengan tatapan ketakutan para pengawal lainnya yang juga berlatih denganku. Bukan urusanku.
Aku beristirahat sejenak sebelum pergi mandi dan mengganti pakaianku untuk makan malam bersama dengan keluargaku.
Seperti biasa, adik-adikku menyapaku dan mereka tertawa cekikikan yang membuatku bingung. Ayahku menatapku dan menyuruhku untuk duduk, sedangkan ibuku yang duduk di sebelah ayahku kini tersenyum melihatku.
Kami mulai makan malam dengan suasana yang berbeda dan cukup aneh, bagiku.
Setelah makan malam, adik-adikku yang biasanya makan camilan bersamaku langsung bergegas pergi sambil tertawa dan tersenyum padaku sebelum menghilang dari ruang makan. Meninggalkan ku sendiri dengan kedua orangtuaku.
Ayahku berdeham dan Ibuku tersenyum sebelum bertanya, "Ibu cukup penasaran dengan pendapatmu tentang Ryder?"
Aku mengangkat alisku, "Ryder? Maksud ibu Ryder Heinspade?" tanyaku.
Ibuku langsung mengangguk dan tersenyum sambil menaruh sebuah foto di atas meja di hadapanku, terlihat foto Ryder Heinspade. Dia adalah keluarga bangsawan di Kerajaan Spade yang terkenal cukup kaya dan hampir sebanding dengan kekayaan keluarga Kerajaan Diamond.
"..hmm, menurut ku dia seperti anak-anak pada umumnya..."
Ah, aku tahu maksud ayah dan ibuku sekarang...biasanya untuk seorang tuan putri, mereka sudah memiliki tunangan semenjak umur 8 atau 9 tahun...
Apakah ini adalah salah satu calon yang akan ibu pilih ?
Lagipula aku sudah berjanji akan menuruti semua kemauannya...
Aku menatap ibuku, "Bagaimana menurutmu ibu? Apakah Ryder cocok untukku dan Kerajaan kita?". Pertanyaanku dibalas senyuman tipis oleh ibuku dan ayah yang berdeham dengan senang, "Menurut ayah mendapatkan menantu seperti keluarga Heinspade cukup untuk membantu Kerajaan kita secara finansial. Ayah dengar juga Ryder adalah anak yang senang bergaul."
Ibuku akhirnya berdeham dan bertanya lagi, "Bagaimana menurutmu tentang Pangeran Myles Heart?" tangannya menaruh foto Pangeran Myles Heart di samping foto Ryder.
Aku mengatupkan mulutku dan berpikir tentang Myles yang sedang tertawa-tawa. "Menurutku dia adalah anak laki-laki yang baik dan periang. Tapi bagiku dia sedikit...konyol."
Ibuku mengangguk begitupun dengan Ayahku yang juga setuju denganku. Aku sekali lagi bertanya pendapat ibu dan ayahku. Ibu membalas dengan senyuman yang manis dan matanya yang tertutup oleh senyumannya. Setidak ini reaksi terbaik dibandingkan dengan Ryder. Sedangkan ayahku, "Menurut ayah, Kerajaan kita akan semakin kuat apabila akan digabungkan dengan pewaris tahta Kerajaan Heart. Seperti cerita-cerita yang disukai ibumu, dimana pangeran dan putri yang berada di Kerajaan berbeda dan merupakan musuh malah menjadi pasangan yang romantis."
Ibuku mengangguk dan melanjutkan, "Baiklah, ini kandidat terakhir," ucapan ibuku itu membuat ayahku mengerutkan dahinya, "Maksudmu...kamu akan mencalonkan anak itu pada putri kita? Apa kamu yakin?"
Pertanyaannya itu tidak membuatku terkejut dan tidak perlu berpikir dua kali lagi tentang siapa yang dibicarakan oleh ayahku.
Ibuku mengangguk dengan mantap, dia tersenyum menyeringai, "Baiklah, ini dia yang terakhir. Orang yang paling fenomenal sepanjang sejarah, bagaimana menurutmu tentang Kyle Heart, putriku?"
Aku terdiam saat ibuku menaruh foto Kyle Heart di samping foto kakaknya. Berbeda dengan kedua foto sebelumnya yang dimana Ryder dan Myles tersenyum lebar. Kyle terlihat tidak senang sama sekali di dalam foto. Wajahnya itu mirip dengan saat dia melongo terpesona melihatku...
Tanpa sadar, ujung bibirku tersenyum mengingat kejadian saat dia menyeringai dan melawan tindakan Amy, "Menurutku...dia sedikit...lucu."
Melihat reaksiku, Ayah terlihat memucat dan terkejut sedangkan ibuku tersenyum lebar dan terlihat sangat senang.
"Akhirnya kita tahu siapa pemenangnya disini!" seru ibuku dengan ceria. Ayahku terlihat bingung dan memandangi ibuku.
"Maksudmu kita akan membiarkan putri kita dengan anak itu??"
"Percayalah, anak itu adalah harapan terbaik untuk kita!" seru ibuku dengan senang.
Aku tetap memperhatikan foto itu dalam diam sambil berpikir...
Ah, pantas saja aku merasa sedikit mengenali bau coklat dalam bungkusan itu...
Apakah dia yang membuatnya ?
Jika aku benar...
Kurasa...dia sebenarnya semanis coklat yang sudah dia buat sendiri...
__ADS_1
......................
...「 Interlude VI. Ellen's Heart (II) 〈 selesai 〉」...