
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Pagi itu, aku bangun lebih awal seperti biasanya. Memandangi langit-langit kastil sambil menghitung partikel debu yang terlihat oleh mataku melalui celah cahaya dari balik jendela. Beberapa saat berlalu, ketika suara Sebastian mengetuk satu persatu pintu kamar pelayan, lamunanku terhenti.
18992 jam sudah berlalu semenjak aku diperintahkan untuk menyusup ke dalam Kerajaan ini. Tugasku sangatlah mudah..
Melihat dan melaporkan perkembangan Pangeran Kedua Kerajaan Heart.
Posisi anak itu, sebagai anak yang sering dirumorkan, dijauhi dan menjadi bulan-bulanan pelayan benar-benar sangat menyedihkan, bahkan untukku.
Ibunya yang khawatir mengadakan pemilihan 'pelayan yang tepat' khusus untuk anak itu. Tentu saja keberadaan ku adalah berkah baginya. Tidak seperti pelayan lainnya, aku tidak memiliki perasaan apapun pada anak itu. Tidak merasa jijik, tidak merasa suka.
Tidak merasakan apapun.
Aku harus menyelesaikan tugas ini dan kemudian, apa yang akan kulakukan?
Mencari tugas baru, begitupun seterusnya.
Sepertinya ini akan menjadi tugas yang cukup lama, karena Kerajaan ku, Kerajaan Spade masih mengumpulkan dan melatih bala tentara mereka. Raja juga masih menunggu pertumbuhan sang Hero yang umurnya sama dengan anak itu.
Menurut ramalan tetua dari Kerajaan Spade, anak itulah yang akan menjadi bom waktu di Cyrus ini. Tidak ada yang mengerti apa maksudnya, aku juga tidak memiliki dugaan kuat mengenai itu. Aku sebenarnya hanya tidak peduli.
Aku mengenakan pakaian pelayan yang sudah menjadi rumahku sekarang, sambil mengikat rambutku hingga berbentuk kepang dan lebih rapi, aku berjalan keluar dari wilayah asrama pelayan menuju kamar anak itu. Sesekali aku mendengar beberapa pelayan masih membicarakan anak itu, dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar atau pergi ke perpustakaan dan tidur berhari-hari di sana tanpa pergi keluar sama sekali.
Berbeda dengan Pangeran Pertama yang harus mengikuti banyak kelas, latihan bela diri, mempelajari berbagai ilmu etika dan kepemimpinan. Bahkan anak itu tidak dipandang sebagai salah satu calon pewaris tahta. Kerajaan Heart ini cukup aneh, mereka menentukan pemimpin hanya dengan melihat ciri fisiknya. Tapi, untuk apa aku memikirkan ini yang jelas tidak ada hubungannya denganku dan juga tugasku.
Aku memasuki wilayah sayap kiri di kastil ini. Tidak seperti wilayah kastil lainnya, bagian kastil ini terbilang sangat sepi dan tidak ada satupun orang yang ingin lewat ataupun berdiam disini. Bahkan anak-anak para staff tertinggi yang juga tinggal dalam kastil ini tidak ada yang berani pergi bermain atau sekadar untuk mengganggu anak itu.
Seakan jika memiliki urusan sekecil apapun dengan anak itu, maka kau akan terkutuk.
Ada saat dimana aku selalu ditanya oleh beberapa pelayan lainnya jika aku ingin pindah ke bagian membersihkan kastil atau menyediakan makanan. Aku menolaknya.
Mereka berpikir karena aku ini gila dan aneh.
Setidaknya semenjak saat itu tidak ada yang berani menggangguku ataupun mengajakku berbicara kecuali mengenai pekerjaan.
Aku berpapasan dengan salah satu pelayan yang mengatakan bahwa semua anggota keluarga Kerajaan lainnya sudah hadir di ruang makan. Aku diperintahkan untuk membangunkan anak itu dan memberitahukan hal ini padanya.
Keluarga Kerajaan Heart selalu makan sarapan bersama. Setiap harinya. Tidak pernah terlewat sedikitpun, kecuali jika ada salah satu anggota yang sakit atau Raja sedang pergi ke luar Kerajaan.
Mempercepat langkahku, akhirnya aku sampai ke salah satu kamar yang paling sudut dan mengetuk pintunya.
DUK DUK DUK DUK DUK
"Tuan Kyle? Bangun Tuan, waktunya sarapan."
Aku bisa mendengar suara rintihan dan kasur yang bergeser, sepertinya anak itu baru bangun. Derap langkah kakinya yang kecil berjalan menuju pintu.
Kupikir dia akan membuka pintunya, tapi setelah beberapa saat. Ruangan itu sunyi.
Aku mengetuk lagi daun pintu itu,
DUK DUK DUK DUK DUK
"Tuan Kyle? Bangun Tuan, waktunya sarapan. Kenapa pintunya dikunci? Tuan??" aku bertanya saat aku mencoba memutar gagang pintu yang berlapis emas.
Apakah terjadi sesuatu padanya?
Sedikit panik, aku berusaha membuka pintu itu sambil memanggil-manggilnya. Aku merogoh kunci ruangan yang diberikan padaku oleh ibunya untuk berjaga-jaga.
DUK DUK DUK DUK DUK
"Tuan? Akan saya buka kunci pintunya, apakah Tuan baik-baik saja?" aku bertanya sambil membuka pintu setelah membuka kuncinya. Aku mendengar suara seseorang terjatuh dan melihat anak itu kini berada di depan pintu dengan posisi terduduk.
BRUK
Kenapa dia malah berdiri di depan pintu dan tidak membukanya ?
"Aduh!", rintihnya saat belakangnya menyentuh lantai.
"Tuan?!! Tuan Kyle?!!! Maafkan saya, Tuan! Apakah Tuan baik-baik saja?!!" aku bergegas menghampirinya dengan sedikit panik dan kebingungan, apakah semalam ada yang menyerangnya?
Dia meringis dan mengusap-usap pantatnya yang terkena langsung dengan lantai, sambil melambaikan tangannya ke arahku.
"Tidak apa-apa, aku..uhh...aku baik-baik saja..umm..." suaranya terdengar sedikit tercengkat dan terbata-bata.
"Saya benar-benar minta maaf, Tuan!" aku meminta maaf padanya dan membantunya berdiri kembali.
"Tuan, maafkan saya. Tapi saat Tuan tidak menjawab saya menjadi sedikit panik. Ibu Tuan menitipkan Tuan pada saya, sehingga bagi saya keselamatan Tuan sangatlah penting. Lain kali, Tuan sebaiknya berhati-hati dan jangan berdiri di belakang pintu."
Aku akhirnya malah menasihatinya dan dia melongo menatapku. Mungkin dia tidak mendengarkan ku, atau dia akan mengadukannya pada ibunya.
Tapi dia bukan anak seperti itu, dia anak yang memilih diam saat diperlakukan buruk oleh orang lain. Lagipula aku menasihatinya karena aku khawatir..
Khawatir ?
Sejak kapan aku merasa khawatir pada anak ini? Kenapa aku harus merasa khawatir ?
Aku berhenti berbicara. Dia masih tetap terdiam seperti patung. "Tuan Kyle? Tuan Kyle? Tuan Kyle? Yang Mulia sudah memanggil untuk sarapan bersama, Tuan. Apakah Tuan baik-baik saja??" aku menepuk-nepuk pelan pundaknya yang sepertinya membuyarkan lamunannya.
"OHHHH!!!!"
Karena begitu dia mendongak, dia seperti terkesima dan terkesiap begitu riuh saat melihatku. Aku membalas tatapannya dan kami sempat terdiam saling memandang satu sama lain. Namun, seakan tersadar oleh sesuatu, wajahnya memucat.
"Tuan Kyle? Wajah Tuan sangat pucat sekali...apakah saya perlu beritahukan pada Yang Mulia jika Tuan tidak dapat ikut sarapan bersama?" aku kembali bertanya dengan nada khawatir. Anak itu langsung menarik bibirnya seperti berusaha tersenyum tipis dengan wajah pucat nya.
"Tolong tinggalkan aku disini, siapapun kau...oke? Aku bukan Tuan Kyle melainkan seorang pria bernama Kaoru Ishikawa. Tolong tinggalkan aku, disini!" ucapnya dengan setengah berteriak sambil tersenyum penuh paksaan dan begitu lebar.
Apa katanya ? Kaoru ? Ishi-Ishikawhat ?
__ADS_1
Aku menatap anak itu dengan dahi berkerut, "Apa?! Tuan Kyle? Apakah Tuan baik-baik saja?? Sa-saya akan panggilkan Pendeta jika Tuan tidak baik-baik saja," ucapku dengan nada memaksa.
"Tidak! Kubilangㅡtinggalkan aku sendiri!!" tiba-tiba, tangan kecilnya mendorong tubuhku keluar dari ruang kamar dan mengunci pintunya. Aku terdiam karena bingung bercampur kaget. Ada apa ini ?!
Tapi...jika sesuatu terjadi padanya sehingga ia melewatkan sarapan, identitasku akan ketahuanㅡmataku segera melihat jendela terdekat dan dengan cepat, aku melompat masuk melewati jendela itu.
PRAAAANGGG
Aku menatapnya yang balik menatapku.
"Sebaiknya, Tuan Kyle pergi untuk sarapan bersama dengan keluarga Tuan sebelum saya diberikan hukuman. Ikuti saya dan panggil saya, Nina," ucapku setenang dan dingin lebih dari biasanya. Nada ini hanya kugunakan untuk mendisiplinkannya...buktinya dia langsung mengikutiku berjalan keluar kamar.
Aneh.
Anak itu tahu namaku, dia selalu memanggil namaku. Kali ini..kenapa dia menggunakan itu untuk memanggil namaku? Apa dia lupa?
Akan tetapi, Yang Mulia Raja akan marah karena aku terlalu lama, sebaiknya kami segera bergegas...
Dia melihat ke arah pakaian yang ia sedang kenakan selama beberapa saat, sebelum kembali berjalan mengikutiku di belakang.
Lalu, dia menganggukkan kepalanya sendiri seakan sudah siap menghadapi perang dunia ketiga. Aku mencoba untuk memahami sikapnya. Aura anak itu mulai berubah sejak saat itu. Tapi, aku tidak peduli.
Tugasku hanyalah memperhatikannya.
Di ruang koridor kerajaan yang terlihat sangat megah ini, derap langkahnya saja yang terdengar. Aku sudah berlatih berjalan tanpa mengeluarkan suara dan sepertinya itu tidak menjadi masalah di Kerajaan ini. Mereka sama sekali tidak curiga. Benar-benar Kerajaan yang terlalu santai sekali.
Setelah beberapa lama, aku tidak mendengar lagi suara derap langkahnya, jadi aku berbalik dan melihatnya sedang menatap nanar ke arah lantai. Kenapa anak ini?
Kenapa hari ini dia aneh sekali ?
Aku berjalan menghampirinya, "Tuan Kyle baik-baik saja? Sepertinya saya harus membawa Tuan kembali ke ruang medis," Aku dengan lembut mengelus pundak nya sambil menundukkan badanku agar tinggiku sepantaran dengan tinggi tubuhnya.
Matanya yang berwarna hitam gelap itu terlihat kosong namun akhirnya aku menangkap tatapannya. Dia kemudian tersenyum dan mengayunkan tangannya dengan pelan.
"Saya baik-baik saja, Nina. Sebaiknya kita bergegas ke ruang makan atau ayah akan memarahi kita berdua," jawabnya dengan terburu-buru sambil berusaha mendorongku dengan lemah.
Aku pun kembali berdiri tegak dan mulai berjalan menuju ruang makan. Sesekali ku lirik anak itu, dia melihat kesana kemari ke seluruh arah di koridor. Seperti orang yang baru menginjakkan kakinya disini.
Apa dia benar-benar baik-baik saja ?
Semakin dekat kami dengan ruang makan, terlihat beberapa pelayan yang melewati kami sekilas memberikan tatapan jijik pada anak itu secara terang-terangan.
Kuharap anak ini baik-baik saja...
Ah ! Aku harus segera merapikan jendela yang kuhancurkan sebelumnya...
...****************...
"Apakah aku ada latihan seperti Kakak Myles?" tiba-tiba saja anak itu bertanya padaku. Biasanya setelah sarapan, dia langsung pergi keluar dan menuju perpustakaan. Ah, aku harus menjawabnya, "Tidak ada Tuan. Selama ini, Tuan Kyle dibebaskan dalam melakukan berbagai hal terkecuali keluar dari kastil."
Dia mengangguk mengerti dan berjalan keluar dari ruang makan sambil memikirkan sesuatu dengan serius. Berjalan kembali memasuki kamarnya, ternyata dia mengambil kanvas dan beberapa peralatan melukis lainnya. Aku membantunya membawa papan kayu dan kursi kecil. Kami berjalan membawa peralatan itu ke tengah taman kecil yang ada di depan kamarnya. Setelah mengucapkan terimakasih padaku, aku terkejut dan membalasnya dengan datar. Dia tersenyum dan memulai melukis bunga liar yang tumbuh di sekitar taman.
Setelah aku berpikir seperti itu, keringat dingin mengucur dari dahinya dan dia mematung lagi. Aku akhirnya bertanya lagi dengan nada khawatir, "Apakah Tuan Kyle benar-benar baik-baik saja?"
"Ah, aku baik-baik saja...soal itu...Nina?" Dia bertanya lagi.
"?" tanpa sadar aku memiringkan kepalaku dengan tatapan bertanya.
Dia terdiam beberapa saat dan melanjutkan, "Apakah aku memiliki pedang yang bisa ku gunakan untuk berlatih?"
SWOOOSSH
Aku berdiri tepat di sudut taman sambil melihat anak itu mengayunkan pedang kayu dengan sekuat tenaga secara horizontal. Aku belum pernah melihatnya memegang pedang, ataupun melihatnya berlatih. Ini adalah kali pertama aku melihatnya berlatih pedang di luar. Selama ini, anak itu lebih senang menghabiskan waktunya dalam ruangan, jadi pemandangan ini cukup aneh.
Sesekali, anak itu melirik ke arahku seperti ingin memastikan aku tetap didekatnya. Apa dia ingin menunjukkan kemampuannya? Kudengar anak-anak senang menunjukkan kemampuannya untuk mendapat perhatian orang dewasa. Apakah anak itu sudah masuk ke dalam fase seperti itu?
Apa karena itu dia menjadi aneh?
SWUUSH
Karena pandangannya selalu teralihkan padaku, pedang kayu yang ada di tangannya tergelincir dan lepas hingga terlempar ke arah dinding kastil.
Aku berusaha menahan tawaku.
Saat dia mengambil pedang kayu itu, dia melirik lagi ke arahku seperti memastikan aku tidak menertawainya. Untung saja, kulit wajahku keras dan menahan tawa serta senyum tidak terlalu sukar bagiku.
Akan tetapi, dia terlihat seakan kecewa mengenai sesuatu...kenapa ?
Bukannya dia tidak ingin ditertawakan ?
Dia kembali mengayunkan pedangnya ke sembarang arah beberapa saat dan berhenti sambil memperhatikan dengan seksama rumput yang ada di hadapannya. Dia melamun seperti itu selama beberapa saat.
Sepertinya menyadari bahwa aku masih memperhatikannya, akhirnya dia berjalan menghampiriku. "Apakah sudah selesai berlatih, Tuan?" aku bertanya dan dia membalas dengan mengangguk dan tersenyum. Aku memberikannya sehelai handuk kecil dan air minum yang sudah kusiapkan sebelumnya.
"Oh, terimakasih, Nina."
Dia berterima kasih lagi padaku secara tulus. Seingat ku, anak itu tidak pernah membuka mulutnya selama aku berada di sampingnya. Dia hanya menjawab singkat ataupun dengan gerak tubuh. Hanya pada ibunya lah dia banyak berbicara.
Kenapa sekarang tiba-tiba dia menjadi bersikap baik padaku ?
Bingung sekaligus penasaran, aku membalas dengan mengangguk dan mengambil pedang kayu dari tangannya yang berkeringat. Dia meminum air yang kuberikan padanya sambil mengeringkan rambut dan lehernya yang basah oleh keringat.
...
"Berapa lama lagi sampai tamu ayah datang?" suaranya membuyarkan lamunanku, dia memperhatikan burung yang hinggap di atap kastil merah ini sambil mengibaskan tangan ke wajahnya. "54 menit lagi kereta para tamu dari Kerajaan Diamond akan segera tiba di depan gerbang Kerajaan Heart," aku menjawab dengan tenang setelah menghitung waktu tepatnya rombongan itu akan sampai. Informasi keberangkatan mereka sudah ku ketahui dari pimpinan.
Dia mengangguk singkat dan tersenyum tipis sebelum berjalan kembali menuju kamarnya. "Kalau begitu kita sebaiknya bergegas. Nina, mohon bantuannya untuk menyiapkan baju yang perlu ku kenakan saat menyambut mereka." Aku membalas dengan anggukan dan berjalan mengikutinya dari belakang, "Baik, Tuan Kyle."
__ADS_1
Kalau begitu, aku akan melakukan yang terbaik untukmu.
Memasuki kamar dengannya, dia berjalan menuju kamar mandi sementara aku membuka lemari pakaiannya yang ada di sudut kamar. Saat dia memasuki kamar mandi dan menutup pintunya, aku memeriksa seluruh pakaian yang ia punya. Aku pernah sesekali membantu pelayan lainnya menyiapkan baju para Pangeran. Berbeda dengan Pangeran pertama yang mempunyai banyak jenis ragam pakaian dan memiliki warna pakaian yang cerah. Pakaian yang anak itu miliki sangatlah sedikit, gaya baju yang sama dan warna yang gelap.
Tapi menurutku, dia terlihat lebih keren memakai pakaian yang tidak berlebihan.
Aku akhirnya memilih satu pakaian yang selalu ia kenakan dan satu pakaian yang menurutku sangat cocok untuknya. Entah mengapa dia jarang memakai setelan itu.
Beberapa saat berlalu dan anak itu sepertinya terlalu lama di sana. Apa dia tertidur ?
DUK DUK DUK
Aku mengetuk daun pintu kamar mandi dan memanggilnya, "Tuan Kyle? Dua puluh menit lagi tamu akan segera sampai."
"Iya, Nina. Sebentar lagi saya selesai..." Dia menyahut sebelum terdengar suara air yang tumpah dan derap langkah kaki.
Dia dengan segera berjalan keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Aku memperhatikannya yang juga melihatku saat ia melepas handuknya.
Kenapa dia terlihat malu ?
Aku berjalan menghampirinya dan membantu mengeringkan badannya dengan handuk. Aku selalu melakukan ini semenjak dia kecil. Mengingatnya berlarian menghindari handuk setelah mandi saat aku akan mengeringkan tubuhnya menjadi kenangan tersendiri untukku saat itu.
.........
Setelah dia memakai baju dalam, aku menampilkan dua pakaian yang telah kupilih ke hadapannya. Dia memperhatikan setiap pakaian yang ada di tanganku dengan seksama dan sesekali memperhatikanku.
Pada akhirnya, dia memilih pakaian yang aku pilih khusus untuknya, bukan pakaian yang selalu ia gunakan.
Dia berkaca setelah memakai pakaian itu.
Tentu saja itu sangat cocok untuknya.
Dengan bangga, aku mendengus pelan sambil tersenyum kecil. Dia melihatku dan tersenyum sambil memintaku untuk menolongnya lagi untuk memilihkannya pakaian. Aku hanya mengangguk mengerti dan berbalik untuk berjalan keluar kamar.
Hehehe, dia meminta tolong padaku...
Akan tetapi, anak itu dilarang untuk menemui tamu yang datang karena mereka takut bahwa dia akan membawa sial.
Hal itu sudah biasa kudengar setiap saat akan ada tamu yang berkunjung ke dalam kastil, namun kali ini, entah mengapa aku merasa tidak tenang...
...****************...
Keesokan harinya, dia memulai pagi dengan berlari mengelilingi taman. Aku memperhatikannya dengan mematung seperti biasa dari sudut taman.
Ah, hari ini matahari cukup terik...
Saat ada matahari pagi yang tepat mengenai wajahku, tiba-tiba saja dia memintaku berdiri di tempat yang cukup teduh...
Apa anak ini khawatir padaku? Anehnya, kebaikan hatinya membuatku merasa lega.
...****************...
"Nina? Apakah aku sudah menyiapkan hadiah ulang tahun untuk kakakku?" setelah hari mulai berakhir, dia bertanya itu padaku. Aku menganggukkan kepalaku, "Tentu saja, Tuan. Dua Minggu yang lalu, Tuan meminta saya untuk pergi ke penempa terkenal di kota dan membeli pedang baru untuk Tuan Myles."
Kenapa dia bertanya seakan dia lupa ?
"Apakah ada masalah, Tuan?" aku bertanya.
"Tidak ada masalah, hanya akhir-akhir ini saya sedikit pelupa. Mohon bantuannya lagi ya, Nina. Terimakasih sebelumnya." Dia tersenyum tipis padaku sambil menunduk sedikit untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Aku membalas dengan anggukan dan ekspresiku yang seperti biasanya.
Ingin rasanya aku ikut tersenyum padanya..
Tidak, itu berarti aku memilih untuk membangun koneksi dengan anak ini. Aku harus melaksanakan tugasku sebaik mungkin tanpa memiliki koneksi dengan subjek.
"Apakah besok aku akan hadir di acara ulang tahun kakak?" Dia akhirnya bertanya dengan nada ragu. Aku menjawab singkat setelah mengingat ucapan Raja padaku, "Yang Mulia Raja meminta saya untuk menyiapkan pakaian untuk Tuan karena Tuan diperkenankan hadir di acara besok hari."
Wajahnya seketika cerah dan matanya berbinar-binar.
"Benarkah??? Wah, pasti pakaian yang Nina pilihkan untukku akan terlihat cocok untukku. Apakah ini pakaian yang pernah ku kenakan?" sahutnya penuh semangat.
Akhirnya dia bersikap seperti anak seusianya.
Aku menganggukkan kepalaku dan aku rasa kali ini aku tidak bisa menahan senyumanku sepenuhnya , "Tuan akan mengenakan pakaian yang waktu itu Tuan kenakan saat ingin menyambut tamu. Itu adalah pakaian terbaik untuk Tuan."
Dia terkekeh dan menganggukkan kepala, "Tidak masalah, aku juga menyukai pakaian itu. Sekali lagi ku ucapkan terimakasih ya atas kerja kerasmu, Nina. Semoga besok acara ulang tahun kakak berjalan dengan lancar."
Aku terdiam sesaat melihat dirinya yang terlihat senang dan bersemangat. Biasanya dia akan sedikit guram saat akan ada pesta yang diselenggarakan dalam kastil.
Sepertinya aku dapat melihat anak itu menjadi semakin dewasa dan menerima posisinya sebagai seorang Pangeran.
...****************...
"Nina, siapa sajakah tamu yang perlu ku kenali di pesta nanti?" dia bertanya sambil memegang buku Light Magic di hari pesta ulangtahun kakaknya. Aku berjalan menghampirinya dari tempatku yang berada di sudut ruangan dan menjawab dengan tenang, "Pada acara tahun ini, untuk menyambut Pangeran Myles mencapai umur 9 tahun, Yang Mulia Raja memanggil keempat Kerajaan untuk datang menghadiri acara krusial ini."
Alis matanya terangkat seperti terkejut, "Keempatnya? Berarti Kerajaan Diamond, Kerajaan Club dan Kerajaan Spade?" Aku menganggukkan kepalaku, "Benar, seluruh perwakilan Kerajaan akan menghadiri acara ini. Selama Kerajaan Heart dan Kerajaan Spade saat ini masih dalam keadaan gencatan senjata, Yang Mulia meminta para pewaris tahta Kerajaan untuk datang sekedar saling memperkenalkan diri sebelum menjadi pemimpin di masa depannya. Saat ini, baru perwakilan dari Kerajaan Diamond dan Kerajaan Club yang sudah datang."
Setelah menyadari aku menjawabnya dengan panjang lebar, dia menyodorkan air minum padaku, "Sebaiknya Nina minum dulu, lalu bagaimana dengan perwakilannya? Apakah hanya ada keluarga Kerajaan saja?"
Aku menolak air minum yang dia tawarkan namun tanpa sadar aku merasa sedikit tersenyum, "Tidak hanya anggota keluarga Kerajaan yang datang, tetapi para keluarga bangsawan terbesar di setiap Kerajaan menghadiri acara ini. Bisa dibilang acara ini adalah acara yang terbesar yang diadakan pertama oleh Kerajaan Heart." Dia mengangguk mengerti dan mempersilakan ku pergi mengambil makan siangnya sebelum acara dimulai.
...****************...
"Kalau aku tidak ingin berlutut minta maaf, lalu apa? Apa yang akan, kau, bukan siapa-siapa, lakukan? Merengek ke ibumu?" suara anak itu terdengar ke seluruh Aula.
Aku melihatnya menyeringai saat dirinya hampir dipermalukan oleh pengikut Tuan Putri Kerajaan ku.
Ah, sepertinya Tuanku sudah mulai berubah.
......................
__ADS_1
...「 Interlude I. Nina's Heart 〈 selesai 〉」...