
...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...
Previously :
Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi nanti padamu, Kyle Heart.
Apakah kamu akan tetap memihak manusia atau ikut bersamaku ?
...****************...
Hamparan ladang gandum terlihat sejauh mataku memandang dari jendela di samping kereta kuda. Perjalanan dari Kastil Kerajaan Heart menuju Sekolah Khusus Pelatihan Perang mengambil waktu sekitar beberapa hari. Ini dikarenakan Sekolah Khusus Pelatihan Perang cukup dekat dengan arah menuju Kerajaan Diamond karena tepat disamping daerah Neutral Ground.
Sungguh posisi yang tepat untuk membangun sebuah gedung sekolah pelatihan perang...
Selama perjalanan, ketika kereta kuda yang membawaku menepi untuk beristirahat, aku selalu mengajak makan bersama dengan satu-satunya orang disini yaitu Pak Dylan, sebagai pembawa kereta kuda sekaligus salah satu pekerja di Sekolah Khusus Pelatihan Perang.
Setelah beberapa hari saling berbicara dan berbagi makanan, Pak Dylan mengatakan padaku bahwa jarang sekali ada anak bangsawan terutama anak Kerajaan sepertiku yang akan mengajak istirahat bersama seperti ini karena mereka akan selalu berada di dalam kereta kudanya.
Melihat dari cara bicara Pak Dylan yang terus tersenyum padaku semenjak saat itu, mungkin dia tidak tahu aku ini si Bajingan ?
...「Tidak, dia tahu tapi hanya memilih diam saja」...
Sesekali, Sistem membalas apa yang ada di dalam pikiranku. Mungkin karena aku jarang berbicara dengan siapapun selain Pak Dylan. Apa dia tidak ingin aku kesepian ?
...「Tidak juga」...
Ahahaha, baiklah. Aku menggelengkan kepalaku sambil terkekeh sendirian. Mungkin Pak Dylan mendengarnya tapi aku tidak terlalu peduli. Sesekali aku berpikir untuk melakukan teleport tetapi..aku juga sangat senang perjalanan jauh seperti ini.
Lagipula aku ingin terlihat kelelahan sesaat sampai disana sehingga mendapat satu hari libur...atau semacamnya.
Sesampainya di depan gerbang Sekolah Khusus Pelatihan Perang...
"DALAM HITUNGAN TIGA, KALIAN SEMUA SUDAH MENGHADAP SAYA!"
Begitu aku turun dari kereta kuda, teriakan sudah terdengar dari depan gerbang. Seorang pria kekar yang sepertinya adalah pelatih atau veteran perang meneriaki ku beserta beberapa orang lainnya yang juga baru sampai. Beberapa dari mereka ada yang melihat kesana kemari sedangkan aku langsung berlari sambil menarik paksa tas pakaian yang terlihat mahal dari Kerajaan.
"SATUU!!!!"
Sial, tubuhku bereaksi sendiri...
Bukan salahku jika dahulu orang tuaku ingin anaknya menjadi salah satu tentara yang membanggakan semua orang tetapi berakhir gagal karena tidak lolos masalah administrasi. Ah, aku jadi ingat masa lalu lagi.
"DUAAAA."
Aku langsung berdiri tegap di hadapan pria itu yang melirikku sesaat sebelum mendengus keras dan kembali melihat beberapa anak lainnya yang kebingungan namun pada akhirnya mengikuti ku.
"TIGGAAAA!!!"
Akhirnya anak terakhir ikut berbaris dan suara pria itu sangat menggelegar karena aku tepat berada di hadapannya, "LAMBAT! Meskipun kalian sampai terlebih dahulu dari 15 murid lainnya bukan berarti kalian dapat bermalas-malasan di tempat ini! Kamu! Siapa namamu?!" akhirnya aku terkena pertanyaan tajam dari pria kekar itu.
Sebaiknya kucoba...
"SIAP PAK! Izin memperkenalkan diri! Saya adalah Kyle Heart. Pangeran Kedua Kerajaan Heart. Hari pertama sebagai murid dan saya mohon bantuannya, Pak!"
Aku rasa kerongkonganku terasa kering dan sedikit bergetar..biarlah. Pria kekar itu masih menunjukkan wajah seriusnya namun ujung bibirnya terangkat sedikit.
Oh, yeah !
Kemudian dia langsung memperhatikan anak-anak lain yang langsung berbisik setelah mendengarkan siapa diriku yang sebenarnya. Tatapannya yang tajam membuat keempat anak lainnya terdiam.
"Ini adalah Sekolah Khusus Pelatihan Perang. Tidak peduli siapa kalian, tidak ada kasta disini selain murid dan pelatih! Jika kalian mengikuti pelatihan ini lebih baik dan tidak banyak mengeluh. Pasti kekuatan kalian bertambah dan kekurangan kalian akan tertutupi oleh kemampuan kalian. Sekolah pelatihan ini juga akan membantu kalian untuk mencapai kelas tertinggi ketika kalian akan masuk ke dalam Unity Academy. Apakah kalian mengerti maksud saya?!" teriak pria itu yang belum memperkenalkan dirinya.
Sebelum aku sempat berpikir, mulutku sudah terbuka, "Siap, Mengerti Pak!" Keempat anak lainnya akhirnya mengikuti ucapanku dan pria itu mendengus lagi sebelum mengangguk.
"Baik, perkenalkan nama saya adalah Ryvern, sebagai pelatih baru kalian, semua yang kalian akan hadapi, ataupun terkait dengan permasalahan yang ada, cukup tanyakan dan bicarakan dengan saya secara langsung" Pelatih Ryvern menyilangkan tangannya dan memperhatikan kami berlima satu persatu.
"Karena pelatihan baru akan dimulai tiga hari lagi, kalian diperkenankan untuk kembali menuju asrama kalian dan jangan berbuat hal-hal aneh di sekolah ini. Setiap sudut sekolah kami sudah memiliki sihir penglihat dan juga pemberitahuan jika ada sesuatu yang terjadi. Ruangan asrama kalian akan diberikan melalui meja depan bangunan utama sekolah yang tepat berada di tengah. Siap, bubar jalan!"
Setelah mendengus, Pelatih Ryvern berjalan meninggalkan kami. Aku kembali berjalan menuju kereta kuda untuk mengambil barang-barang ku yang tersisa selain tas yang ada di tanganku. Pak Dylan dengan baik membantuku dan aku berterima kasih padanya. Setelah berpamitan dan berpisah dari Pak Dylan, aku berjalan menuju bangunan yang ada di tengah tepat depan gerbang masuk tadi aku berdiri. Bangunan itu luas seperti tampak luar kastil dengan tangga yang cukup banyak. Empat anak tadi sudah berada di dalam bangunan itu bersama dengan pelayan mereka.
Aku tidak tahu ternyata pelayan diperbolehkan untuk berada disini...
Keempat anak itu yang mungkin ada yang aku pernah temui saat acara ulangtahun Myles. Mereka terus melirik ke arahku dan mencoba berdiri lebih jauh dariku. Setelah masing-masing dari keempat anak itu sudah menerima kunci melalui meja tengah yang hanya ada satu orang kakek tua, mereka semua langsung berlari pergi menuju tempat asrama yang letaknya ada di sisi kiri bangunan ini. Aku berjalan sambil tersenyum pada kakek tua itu yang tidak ia balas.
"Nama?" tanyanya dengan datar.
"Kyle Heart," aku pun menjawabnya dengan singkat, padat dan jelas.
Kakek itu mengangguk dan memberikanku sepasang kunci dengan nomor 004 sebelum berkata, "Ruang asrama ada di sisi kiri gedung ini, waktu makan pagi, siang dan malam adalah 07.00, 12.00, dan 19.00. Selain jam itu, tidak akan ada makanan yang disediakan di dalam ruang makan yang letaknya ada di belakang bangunan ini. Tidak diperkenankan untuk meninggalkan sekolah ini sampai waktu yang ditentukan. Selamat berlatih, pejuang." Setelah menjelaskan itu dengan panjang lebar dan wajah yang datar, akhirnya kakek itu mendengus lagi sebelum menatapku beberapa saat sebelum bertanya,
"Apakah ada pertanyaan?"
"Tidak ada, semuanya sudah cukup jelas. Terimakasih, kalau begitu saya akan segera ke asrama," aku menganggukkan kepalaku dan berterima kasih sebelum melangkah pergi menuju ruang asrama melalui koridor yang dipenuhi cahaya dari balik jendela.
Begitu aku hampir di tengah koridor, orang yang sudah lama tak ku jumpai langsung memanggilku dengan penuh semangat seakan tidak ada hari esok untuknya.
"KYLE adiiiikkkkuuu!!!!" pekikannya disertai suara pakaian besi yang ia kenakan. Untung saja tidak ada pelatih di sekitar kami, atau mungkin kami berdua akan terkena masalah karena terlalu ribut. Sebenarnya kakakku lah yang ribut tapi tidak masalah. Aku juga merindukan celotehan rianya.
Aku berhenti berjalan dan tersenyum padanya yang dibalas dengan cengiran sebelum dia berlari ke arahku lagi hingga sekarang berdiri di hadapan ku. Dia langsung bersalut padaku sambil berkata dengan nada riang, "Lapor, Prajurit Myles Heart, telah hadir! Ehehe!"
__ADS_1
Aku tertawa begitupun dengannya, akhirnya kami berpelukan selama beberapa saat sebelum kakakku menepuk-nepuk punggungku, "Aku sudah berkali-kali meminta izin untuk menemuimu, untung saja aku bertemu denganmu sebelum pelatihanmu dimulai. Akan sangat menyedihkan jika kamu melihatku yang dengan dinginnya memerintahkan apapun sebagai seniormu saat kita baru bertemu setelah sekian lama."
"Memangnya kakak akan memerintahkanku dan anak-anak baru lainnya?" tanyaku. Dia langsung terkesiap seakan baru teringat sesuatu, "Ah, itu seharusnya tidak kukatakan padamu karena itu adalah rahasia... tolong lupakan ya?" serunya sambil berbisik dan menaruh telapak tangannya di pundakku.
... ahahaha, baiklah kak. Aku dengan senang hati berpura-pura lupa ingatan pernah memiliki kakak sepertimu.
Aku tersenyum dan mengangkat kedua bahuku, "Tidak masalah. Lagipula tidak akan ada anak yang akan mengajakku berbicara seperti yang kakak sudah ketahui," jawabku dengan singkat namun jawabanku membuat dahinya sedikit berkerut, "Ayolah, Kyle. Aku tahu itu benar tapi jika aku mendengarnya langsung darimu sekarang, aku jadi ingin menangis sedih dan juga marah."
"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli mengenai hal itu, kak."
"...baiklah. Kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan. Jangan ragu untuk datang ke kakakmu ini. Sekolah ini sedikit keras jadi kita harus berjuang! Pejuang ku Kyle!" Dia menyalutiku lagi sebelum berpamitan denganku karena kami sudah berdiri dan berbincang terlalu lama. Myles khawatir jika aku ini yang baru sampai, akan jatuh pingsan karena dia terlalu lama berceloteh.
Setelah berpelukan singkat, akhirnya kakakku berjalan pergi menuju ruang tengah sedangkan aku menuju ruang asrama yang ternyata tidak terlalu jauh. Terlihat beberapa kamar dengan nomor yang tertera di daun pintu. Angka kamarku hanya ada satu digit sehingga ada di koridor awal. Kamar nomor 004 sangatlah mudah ditemukan dan melihat angkanya yang tidak terlalu menyeramkan bagiku, aku membuka kunci dan masuk ke dalam ruangan kamar tidur itu.
Setelah menutup pintu kamar, aku melihat sekeliling sambil menaruh tas yang kubawa. Ruangan ini seluas yang tidak luas. Hanya ada single bed dengan seprai berwana hijau tua yang terlihat sudah tua dengan satu bantal. Meja kecil beserta kursi. Kaca. Tak lupa dengan cat polos berwarna hijau serta jendela yang tepat berada di samping meja. Aku melihat ke arah kananku dan ternyata ada lemari kecil juga.
Sepertinya untuk kamar mandi ada di ujung asrama dan itu adalah kamar mandi bersama.
Aku langsung mengeluarkan beberapa pakaianku dari dalam tas dan melihat ke arah jam dari jendela transparan Sistemku.
...「Saat ini pukul 14.24」...
Aku tersenyum, kan aku juga bisa melihatnya. Kenapa kamu perlu berbicara juga ?
...「Terserah aku」...
Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa tanpa suara dan mulai mengeluarkan satu persatu pakaianku dan menaruhnya ke dalam lemari kecil yang ternyata cukup bersih.
Tahu tidak Sistem? Kenapa akhir-akhir ini aku sepertinya sedang diperhatikan dan aku rasa jika ada bahasa inggris di tempat ini, keadaan ku saat ini adalah the calm before the storm...
Menurutmu bagaimana Sistem?
...「Sudah kukatakan sebelumnya. Sebaiknya Host menggunakan GG GOD MODE sehingga hal kecil seperti itu tidak perlu Host khawatirkan seperti saat ini」...
Kenapa GG GOD MODE lagi? Aku butuh pendapatmu bukan jawaban dari permasalahan ini...
...「Menurutku, Host sudah melakukan apapun sesuai dengan keinginan Host」...
Hmm, terimakasih Sistem.
...「Tidak Masalah」...
Ah, kalau dipikir-pikir memanggil mu Sistem agak sedikit menyedihkan dan terdengar kaku. Boleh jika aku memberimu nama?
...「...Tidak peduli」...
Hmmmm, bagaimana kalau Chae Rin? Kenapa aku malah memikirkan nama Korea? Tidak masalah...mungkin aku ingin memiliki seorang istri dari Korea. Sayang sekali aku sudah mati di dunia itu.
...「...」...
...「...」...
Melihat hanya ada titik-titik di jendela transparan yang ada di hadapanku. Aku hanya mengangkat kedua bahuku seraya tersenyum dan terus melanjutkan menaruh pakaian dan menggantungkan pakaian seragam yang sudah diberikan sebelumnya.
Seragam itu mirip dengan seragam sailor. Ada garis biru di kedua lengan pakaiannya. Aku menguap dan merenggangkan ototku sambil melihat keluar jendela. Lapangan terlihat sepi dan beberapa orang yang mirip dengan prajurit memakai pakaian tentara berwarna hijau berjalan.
Jika kak Myles memakai baju pelindung besi...apakah akan ada perbedaan kelas? Atau aku akan belajar keduanya? Apakah aku akan belajar memakai senapan dengan menggunakan sihir anginku ?
Tanpa sadar aku jadi merasa sedikit bersemangat untuk mengikuti kelas dan mulai membayangkan jika saat menggunakan senapan, aku menggabungkan peluru itu dengan sihir angin dan api. Whooosh, pasti target akan mati dan terbakar disaat bersamaan! Bagaimana reaksi Raven jika aku dapat menirunya tetapi aku menggunakan senapan dan dia pedang? Sambil penuh dengan pikiran seperti itu dan membersihkan kamar sebelum mengganti baju. Akhirnya waktu makan malam pun tiba.
Menyusuri lorong panjang yang hanya diterangi lampu sihir api dan melewati meja tengah yang kosong, aku sampai di depan ruang makan yang ramai oleh beberapa puluh orang berbaris untuk mengambil makanan. Begitu masuk ruangan, aku dengan segera melihat Myles melambaikan tangannya padaku di atas meja yang penuh dengan beberapa anak laki-laki lainnya yang memakai baju sepertinya. Aku membalas dengan senyuman dan sedikit melambaikan tanganku ketika beberapa anak-anak yang ada di meja Myles melirik ke arahku dan berbicara dengan Myles dengan wajah yang aneh.
...Myles tidak mungkin ditindas, kan?
Aku mengambil nampan dan semangkuk nasi sebelum ikut berbaris untuk mengambil lauk pauk seraya mengaktifkan clairvoyance-ku ke arah meja Myles. Mungkin aku hanya sedikit khawatir atau apa. Tapi aku tidak ingin Myles berakhir sepertiku.
"Kenapa kamu menyapa adik bajingan mu itu?! Dia bukan adik kandungmu kan?"
"Tapi kanㅡ"
"Bajingan itu akan merasakan neraka disini dan kau akan terkena juga jika kau mencoba berurusan dengannya disini."
"..."
Aku mengambil daging asap yang diberikan padaku dan juga semangkuk sayuran sebelum menunggu untuk diberikan kuah kari yang terlihat hangat dan lezat itu.
Mendengar percakapan antara kakakku dengan orang aneh itu, aku jadi memegang nampan dengan cukup kuat hingga hampir patah karena menahan amarahku.
Berani-beraninya dia memperlakukan kakakku seperti itu...tapi aku tidak boleh melakukan apapun yang dapat terlihat oleh Myles. Siapa orang tadi? Oh, dia yang berambut hijau kekuningan itu? Hm, kenapa dia sangat mirip dengan salah satu dari keempat anak tadi? Apakah dia memiliki adik juga? Aku sedang tidak ingin melihat statusnya.
Menyebalkan sekali.
...「Akhir-akhir ini Host sedikit mudah emosi ya? Kesepian?」...
Benar juga, Chae Rin. Ayo kita berkencan di kamar nanti malam?
...「Usiamu masih 9 tahun Host. Dasar, tidak sabaran sekali」...
Hah? Apa maksudmu? Aku hanya ingin berbincang denganmu nanti malam di kamar. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?
...「...」...
Aku berusaha menahan senyumanku karena berhasil membuat Chae Rin menjadi terdiam membisu. Begitu aku akan mengambil mangkuk kari, orang yang dibelakang ku mencoba mendorong ku agar mangkuk yang kupegang terjatuh ke depan yang sepertinya adalah seniorku dilihat dari seragamnya.
__ADS_1
Yah, dia tidak tahu karena aku terlalu kuat sehingga saat dia mencoba mendorong ku malah dia yang terpental kebelakang sehingga menimbulkan suara terjatuh.
BRUK
PRAAANGG
Aku melirik dan melihatnya sudah berada di lantai dengan wajah nanar menatapku. Nampan dan piring serta mangkuk nasi yang dia bawa sudah pecah berserakan di lantai dan beberapa orang dibelakangnya juga ikut terjatuh akibat ulahnya yang mencoba mendorongku. Suasana di ruang makan yang ramai mendadak hening. Semua mata terarah pada dia yang terjatuh dan beberapa orang memperhatikan ku namun karena aku tidak menoleh kebelakang jadi tidak terlihat aku ini tidak melakukan apapun...
Ya setidaknya sampaiㅡ
"Dia mendorongku! Diㅡdia mendorongku!" dengan terbata-bata dia menunjukkan jari telunjuknya padaku. Tentu saja aku tidak membalikkan punggungku dan aku mengetahuinya lewat clairvoyance-ku yang masih aktif sehabis menguping pembicaraan Myles dengan temannya.
Aku tetap berjalan maju tidak peduli, senior yang ada di hadapanku akhirnya menoleh padaku yang sudah mengambil susu kotak yang ada di dekat gelas air minum. Dia melihatku dan melihat ke arah belakangku.
"Kamu mendorongnya?" Dia bertanya dengan tatapan yang tajam. Aku menatap matanya dan menjawab sebelum menoleh ke arah orang itu yang ternyata adalah salah satu anak dari keempat anak lainnya yang datang bersamaan denganku.
"Aku tidak melakukan apapun, menurut senior bagaimana?" aku menunjuk nampan yang penuh di kedua tanganku dan bahkan aku terlihat kesulitan membawa nampan itu, "Lihatlah, tanganku cukup penuh dan aku berada di depannya, jika aku mendorongnya ke belakang, makananku akan terjatuh. Dia hanya membawa semangkuk nasi saja di tangannya." Aku berhenti berbicara dan beberapa orang mulai berbisik, senior itu pun mendengus dan melirik ke arah anak yang terjatuh tadi, "Kau baik-baik saja? Cepat bereskan itu. Dan kauㅡ" senior itu menoleh ke arahku. Matanya memandangiku dari atas kebawah, "Besok temui aku di lapangan."
Semua orang kembali melanjutkan aktivitas mereka dan aku mengangkat bahu sebelum menganggukkan kepala dan memilih duduk jauh di sudut ruangan. Tidak ada yang berani duduk denganku dan aku menikmati meja kosong seperti orang VVIP.
Keesokan harinya, aku tidak memenuhi panggilan senior itu karena begitu kulihat melalui clairvoyance, mereka sengaja ingin membuatku terlihat bodoh dan dimarahi oleh pelatih karena lapangan tidak boleh digunakan selain jika ada izin dari pelatih.
Dua hari kemudian, tanpa ada gangguan yang berarti. Pelatihan pun dimulai. Pelatih Ryvern mengajarkan cara berbaris yang rapi dan hanya mengetes stamina setiap anak dengan berlari berpuluh-puluh keliling lapangan.
Ada anak yang dikenal hebat oleh semua orang, dan anak itu adalah Ryder. Ternyata Ryvern adalah Pamannya, pantas namanya terdengar sama saja...
Ryder berhasil berlari 98 keliling dalam satu set, aku memilih untuk berpura-pura lelah saat keliling yang ke 50. Stamina yang biasa untuk orang yang menggunakan sihir sebagai kemampuan utama mereka.
Tentu saja aku tidak ingin mengingat bahwa staminaku ini dapat digunakan untuk memuaskan semua wanita di dunia iniㅡ
"Kyle Heart!" belum ada apa-apa dan aku sudah dipanggil lagi oleh Ryvern. Beberapa anak terkekeh menahan tawa mereka saat melihatku dipanggil. Aku menghadap ke arah Ryvern yang sudah menatapku dengan tajam.
"Siap pak! Kyle Heart, hadir."
"Huh, kudengar kamu menyebabkan masalah di ruang makan beberapa hari yang lalu? Apakah itu sikap seorang prajurit?" selorohnya seakan mencoba membuatku merasa bersalah.
"Saya tidak melakukan apapun. Jika bapak tidak percaya, tinggal lihat saja melalui sihir penglihat yang bapak bicarakan. Tentu ada sihir itu di ruang makan kan, pak?" jawabku dengan tenang. Ryvern mengernyitkan dahinya, "Memang benar disana ada...baiklah akan saya periksa." Ryvern mengambil item semacam tablet di tangannya.
Anak-anak yang tadi menertawakanku mulai terdiam kaku seperti orang-orangan sawah.
Setidaknya orang-orangan sawah ada fungsinya, sedangkan orang-orang itu?
Apa kira-kira fungsi mereka?
Ryvern melihat bagaimana anak berambut hijau itu mencoba mendorongku dan malah berbalik terpental dari tubuhku. Aku melihat ke arah Ryvern yang sudah menatapku.
"Bagaimana pak?" aku bertanya dengan ekspresi datar. Ingin sekali ujung bibirku ini terangkat ke atas, tapi kutahan.
"Yasudah, kamu kembali ke barisanmu," balas Ryvern sambil mendengus.
Jika itu aku, aku akan terkena hukuman dan jika anak itu yang merupakan teman keponakannya dia akan membiarkannya?
Chae Rin, beritahu aku lagi kenapa aku memilih untuk tidak menggunakan GG GOD MODE pada manusia-manusia ini?
...「Karena perdamaian dunia? Serta keegoisan Host yang ingin hidup tenang」...
Aku menghela napas dan kembali ke barisanku. Pada awalnya aku sangat menantikan sekolah ini. Kini, aku merasa sudah bosan dan bahkan berpikir Unity Academy nanti akan menyebalkan sekaligus merepotkan seperti saat ini.
Tidak menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya saja sudah terkena masalah.
Bagaimana nanti jika aku menunjukkannya seperti Ryder yang berusaha menyombongkan diri agar populer ?
Setahun berlalu di sekolah itu dengan banyak gangguan dari grup Ryder. Ryder sendiri tidak pernah menggangguku secara langsung. Hanya para rombongan nya saja yang terkadang mencoba menjahiliku mulai dengan mencoba membuatku datang terlambat tapi gagal karena aku memiliki Teleportation, lalu mencoba merobek seragamku namun aku bisa menjahit dengan cepat bahkan dengan CUSTOM MADE ALL ITEM aku dapat membuat seragam yang sama dengan dibubuhi sihir.
Intinya, apapun yang mereka coba lakukan padaku, tidak ada yang berhasil satupun.
Kenapa aku tidak membalasnya ?
Itu mudah, jika aku membalasnya hanya akan menjadi lebih merepotkan. Lebih baik biarkan saja sampai mereka gila sendiri.
Sehingga pada akhirnya mereka melakukan kesalahan pada mereka sendiri...
...atau begitu yang kupikirkan.
Karena terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang akan terjadi pada kemudian hari.
...****************...
"Bagaimana ini, kita selalu gagal. Tuan Ryder, benarkah kita akan melakukan ekspedisi ke area Dark Forest tahun depan?"
Ryder mendengus dan berkata, "Tentu saja. Disana baru kita jalankan rencana kita untuk menghilangkan Pangeran Bajingan itu."
Beberapa anak yang duduk di dekat dengan Ryder tertawa pelan dan mereka tersenyum.
Kali ini, tidak akan kubiarkan kau berhasil lagi.
Bajingan.
......................
BERSAMBUNG..
__ADS_1