CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Interlude XVI. Raven's Heart 《 III 》


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️ 』...


Melihat Lilia berjalan pergi, aku kembali teringat dengan Akai. Pria yang merupakan manusia palsu, dan orang yang sebenarnya adalah seorang bocah ingusan.


Menghitung lagi uangku, aku memutuskan untuk menyuruh anak buahku yang terkuat agar dapat mencarinya. Aku sama sekali tidak khawatir pada bocah itu...iya, aku hanya ingin memastikan bahwa temanku, Lilia tidak membunuhnya begitu saja.


Lagipula, dia adalah penyelamat hidupku. Aku juga harus menyelamatkan hidupnya.


Iya, hanya itu...tidak lebih.


...****************...


Nina terlihat lebih sering melamun akhir-akhir ini. Aku mengejeknya dengan mengatakan bahwa langit yang ia tatapi dengan seksama akan runtuh. Dia juga terlihat tidak begitu bersemangat untuk mengomentari ejekanku.


Aku juga sebenarnya cukup merasa senang, ketika mengetahui jika dia ingin ikut tinggal disini bersamaku.


Mengetahui bahwa rumah aslinya, Markas Rahasia mata-mata sudah dihancurkan, aku dengan iseng menanyakan apakah dia ingin tinggal di dalam markas bandit milikku. Lalu, dia mengiyakannya dengan tenang dan berterima kasih padaku.


Akan tetapi, setiap harinya dia selalu memakai pakaian pelayan.


Aku tahu dia memiliki banyak seragam pelayan yang kurang lebih, terlihat sama...tapi kenapa dia terus-menerus memakainya?


Bahkan majikannya tidak ada dimanapun. Tidak disini, tidak di Kerajaan lain, tidak ada.


Berusaha untuk menahan diri untuk tidak memikirkan bocah itu, aku menawarkan untuk meminjamkan pakaianku padanya. Namun, aku baru tersadar bahwa bentuk tubuh kami cukup berbeda. Dia terlihat tersinggung dan mulai membalas ucapanku, padahal aku benar-benar tidak sadar soal ini sebelumnya.


Sudahlah.


Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menerimanya sebagai pelayan di dalam markasku. Dia begitu kuat dalam pertarungan dan aku ingin menjadikannya sebagai salah satu anggota banditku. Tapi, aku sedikit ragu melakukannya. Dia sepertinya memang lebih cocok sebagai mata-mata, dibandingkan bandit pemeras uang di tengah jalan.


Nina benar-benar pelayan yang handal. Bahkan beberapa bandit pria diam-diam menyukainya sedangkan bandit wanita senang jika mengobrol dengannya.


Ya, walaupun sebagian besar, Nina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan memberi komentar singkat pada mereka dengan wajah tanpa ekspresinya.


...****************...


Kesal.


Meski aku sudah membakar semua boneka kayu pemberiannya itu, aku masih merasa kesal. Bahkan anak buahku yang sudah dilatih khusus oleh Night, tidak dapat menemukan bocah ingusan itu dimana-mana.


Apa aku terlambat ? Apa dia juga mati oleh kawanan iblis dan dijadikan sebagai tahanan hingga umurnya cukup untuk dijadikan Raja Iblis? Aku tidak tahu.

__ADS_1


Padahal, aku juga ingin menyelamatkannya seperti dia menyelamatkanku dengan semudah menjentikkan jarinya. Bahkan aku bertanya pada Xarx untuk meminta bantuan temannya jika mereka melihat Akai.


Anehnya, Tuan Xarx tidak meminta uang atas permintaan dariku dan hanya menggosokkan tangannya perlahan dengan murung, sambil mengatakan bahwa dia juga sangat ingin bertemu Akai.


Saat aku membakar boneka kayu lainnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Nina, dia berhasil memergokiku dan memberikan komentar tenangnya seperti biasa. Kenapa dia begitu tenang? Apa bocah ingusan itu tidak berarti apa-apa baginya?


Tapi, dia benar...aku harus menenangkan diri.


Tiba-tiba, si Tucky dan anak buahnya datang membawa dua orang yang diikat dan wajahnya tertutup karung. Apa orang-orang itu anak buahnya Gang Blue Head? Saat ini hubungan gang kami sedikit memburuk.


Salah satunya adalah pria paruh baya dan satunya lagi...seorang anak remaja yang memiliki kulit putih pucat. Hm.


Jantungku sempat terhenti ketika salah satu tawanan itu terbangun setelah disingkap karung yang menutupi wajahnya. Dia langsung memanggil anak remaja di sampingnya sebagai Tuan Kyle. Dengan terburu-buru, aku langsung menyingkap karung itu dari wajahnyaㅡ


"Ah, Raven? Senang melihatmu disini."



Suaranya terdengar begitu ringan dan mampu membuat debaran di jantungku berdetak secara perlahan hingga rasa tenang menyapu di dalam hatiku. Senyumannya begitu menghangatkan hatiku dan matanya yang menatapku...aku merasa begitu rindu padanya dan ingin langsung memeluknya.


Disisi lain, aku merasa sangat marah.


Aku ingin membakarnya agar dia tahu rasa sakitnya saat aku mengetahui dia menghilang di dalam hutan sihir misterius Dark Forest.


Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menampar wajahnya yang sudah terlihat lebih dewasa, dibandingkan bocah ingusan yang dahulu kulihat. Melihat wajahnya yang terkejut, membuatku merasa sedikit bersalah.


Akan tetapi, ini semua salahnya.


Ya, ini semua salahnya.


Aku segera beranjak pergi dari tempat itu karena air mataku sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku tidak ingin dia melihatku menangis. Nanti dia merasa senang karena berhasil menipuku dan Nina. Aku menduga dia sengaja menghilangkan dirinya sendiri.


Dasar pria sialan.


Aku kira dia akan berbeda dari pria lainnya, yang hanya mengiinginkan tubuuhku dan kuasa yang kumiliki. Meski dia tidak mengincar itu, dia seperti membohongiku.


Aku ingin membakarnya jika dia berani mendekati markasku.


Iya, aku tidak akan segan-segan lagi.


...****************...

__ADS_1


Sesuai dugaanku, dia datang.


Aku memberikan tatapan tajam padanya, tali dia malah membalasnya dengan tatapan itu.


Kesal dengan tatapan matanya yang begitu memabukkan, aku memanggil nama yang sering orang sebutkan tentangnya. Seorang bajingan. Hatiku terasa sedikit sakit, begitu memanggilnya seperti itu...


Hh, hatiku sudah terlalu dekat dengannya. Sebelum dia mengambilnya, aku harus melindunginya dengan membunuhnya.


Kami bertarung, dia lebih kuat dan percaya dibandingkan waktu pertama kali aku menjadi pembunuh bayaran yang mengincar dirinya.


Akan tetapi, aku benci gaya pertarungannya. Dia seperti dengan sengaja hanya menerima seranganku dan mencoba untuk menutupinya dengan sesekali menyerangku saat aku dapat menghindari serangannya.


Sialan, dia benar-benar bajingan.


Setiap tebasan pedangku, seakan satu-persatu perasaan yang ada di dalam hatiku akan meledak. Aku mulai tidak memikirkan apapun dan memilih fokus untuk menebas habis lehernya itu.


Melihat dia yang benar-benar anti sihir api, aku jadi tidak pilihan lain selain mencincang nya. Oh! Aku bahkan berhasil menggores lehernya itu walaupun hanya luka yang tipis.


Sedikit lagiㅡ


Aku tidak tahu kenapa, tapi dia jadi semakin terburu-buru dari dan mulai memintaku untuk segera berhenti. Tidak, aku tidak akan berhenti sampaiㅡ


Suara pekikan Nina membangunkanku dari lamunanku yang begitu panjang ini.


Pedangku menancap perutnya dengan begitu mudah, seakan dia membiarkannya hanya untuk memelukku. Ini dia...


Aku dapat merasakan darahnya mengucur ke tanganku lewat pedangku, aku baru tersadar.


Aku tidak ingin kehilangannya.


Apa yang baru saja kamu lakukan Raya?! Kenapa kamu menyerangnya? Apa aku berusaha untuk mencari perhatiannya?!


Iya, aku ingin dia memperhatikanku.


Begitu tersadar, aku menangis sambil memeluknya. Aku merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Apakah aku terlambat dan membunuhnya?


Tidak, dia tidak mati karena dengan mudahnya dia menyembuhkan dirinya sendiri. Aku tercengang dan ingin memukulinya hingga dia benar-benar babak belur.


Sayangnya, aku tidak yakin dapat melakukannya dengan serius...karena...


Dia sudah mengambil hatiku.

__ADS_1


......................


...「 Interlude XVI. Raven's Heart (III) 〈 selesai 〉」...


__ADS_2