CHANCES - Battle Of Heart : Online

CHANCES - Battle Of Heart : Online
Chapter 66. First Week 『Part - I』


__ADS_3

...『⚠️Pembaca diharap bijak karena ini hanya berupa fiksi, not real⚠️』...


Previously :


Pada akhirnya, hari kedua ku berada di dalam Akademi sebagai seorang murid berakhir dengan damai, aman dan tentram. Aku berharap hari-hari seperti ini terus berlanjut hingga keesokan harinya...


Tentu saja, itu semua hanyalah harapan kosong.


...****************...


Hari ini adalah hari ketiga, sekaligus hari pertama dimana aku harus menjalani hukumanku sendirian.


Setidaknya aku dapat sekalian berolahraga dan menghirup udara sejuk sambil berlari menuju gedung yang cukup jauh itu.


Setelah berdiri dari kasur dan membuka kain gorden jendela ruangan kamar, aku menguap sambil meregangkan ototku. Waktu kemarin siang dan malam, aku terpaksa makan di dalam toilet agar menghindari orang-orang.


Menyedihkan sekali...


Takut akan sakit kepala yang diderita kambuh jika mengingat masa muda Kaoru bersekolah, aku membuang jauh-jauh pikiran yang mengasihani diri sendiri dan segera memakai pakaian olahraga.


DRAP DRAP DRAP


WHUSSSSH


Angin pagi hari langsung menerpa wajahku, begitu aku melangkahkan kaki keluar dari gedung dimana kamar asramaku berada.


Bergidik kedinginan sambil merapatkan jaketku, aku mulai berlari menuju jembatan kayu yang kulalui bersama Pak Guru Heinz kemarin. Aku tidak tahu apakah jembatan itu diberi nama atau tidak.


Mungkin tidak ? Terserahlah.


Chae Rin, bagaimana kondisi hari ini ?


...「Tidak mendeteksi adanya pasukan iblis selain pertarungan antara bandit Red Eye dan Blue Head di Kerajaan Spade. Nyawa yang melayang sudah cukup banyak seperti layaknya sebuah perang besar」...


Benarkah ? Aku akan menghubungi Nina dan Raven lagi nanti. Kuharap mereka baik-baik saja dan tidak memaksakan diri mereka...

__ADS_1


Kembali berlari melewati perkebunan jeruk yang begitu menggugah selera, akhirnya langkahku berhenti di depan bangunan Life House. Masih sama seperti kemarin, suasana terlihat hening dan kosong. Seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan.


KRRRRIIIITTTT


Mendorong pagar kayu gerbang masuk ke dalam bangunan menggunakan telapak tanganku, terdengar suara berderit yang cukup aneh bagiku.


Aku lanjut berjalan dengan perlahan agar tidak terpeleset oleh lumut dari permukaan bebatuan yang menjadi pijakan sepatuku.


Sesampainya di depan pintu bangunan, aku langsung mendorongnya dan kembali terdengar suara deritan pintu kayu, mataku langsung bertemu dengan Adam, kuda berwarna hitam. Kuda itu mendengus seperti bosan dan berjalan menuju sudut ruangan.


Aku mengambil daging yang sudah disiapkan dan memberikan mereka semua makanan seperti apa yang kemarin diajarkan oleh Pak Heinz. Eve terlihat senang begitu aku sikat bagian tubuhnya dengan lembut. Kepalanya dia sodorkan padaku dan aku tertawa kecil.


Sambil mengusap dan menepuk-nepuknyaㅡaku mendengar suara langkah kaki seorang manusia berjalan mendekati bangunan ini.


Ah, benar juga...aku baru ingat bahwa Pak Heinz mengatakan akan ada senior yang akan membantuku mengurus hewan-hewan ini sekalian menjadi penjaga jika ketiga ekor monster Mad Moo ini mengamuk.


KRRIIIEETTT


Pintu kayu perlahan terbuka dan pandangan mataku sontak bertemu dengan mata hijau seorang gadis yang memiliki rambut pirang. Ujung bibirnya langsung terangkat dan sinar di manik matanya terlihat begitu menyilaukan saat dia menyadari bahwa itu diriku.


Charlotteㅡmemekik dengan histeris seperti gagal menyembunyikan rasa senangnya sebelum berjalan mendekatiku. Sadar bahwa aku terus menahan napasku, aku menghela napas berat sebelum kembali mengelus-elus rambut Eve. Tenang...tenang...


...



...


Begitu Charlotte berdiri cukup dekat denganku, aku berjalan menghindar untuk menyisakan jarak yang cukup lebar di antara kami berdua. Menyadari aku memilih berdiri jauh darinya, alisnya sedikit bertaut dan dia menatapku dalam diam selama beberapa saat. Namun, karena sadar bahwa kami sebenarnya tidak dekat dan merupakan orang asing, akhirnya senior yang membantu hukumanku itu, hanya mengangguk dan berjalan ke arah tiga ekor Mad Moo sebelum memberikan mereka daging.


KRSSK KRSSSK KRSSKK


Hanya ada suara sikat yang terdengar dan juga langkah kaki di dalam gedung itu. Aku tetap diam, tidak menjawab sapaannya barusan selain mengangguk singkat. Begitupun dengannya yang juga sama-sama diam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun setelah kuabaikan.


Itu sebenarnya sangatlah tidak sopan, aku sedikit kecewa dengan diriku sendiriㅡtapi aku tidak yakin dapat terus bertahan untuk menatap wajahnya dalam waktu yang lama sebelum pergi muntah.

__ADS_1


Dalam hati, aku sangat ingin mengajaknya berbicara. Dia tidak memiliki salah apapun selain hanya memiliki wajah yang mirip dengan seseorang yang kubenci. Dia sendiri adalah orang lain. Bahkan ini dunia yang berbedaㅡOUCH !


Aku menaruh telapak tanganku ke atas dahiku untuk menahan rasa pening yang membuat pandanganku berputar-putar. Sialan, penyakit payah ini kambuh lagiㅡmelihatku yang kesakitan sambil memegangi kepala, Charlotte langsung berlari ke arahku dan menyentuh bahuku sambil bertanya dengan panik, "Apakah kamu baik-baik saja?!"


PLAK


Aku menepis tangannya dari bahukuㅡsecara refleks. Hal itu tentunya membuat diriku terkejut atas tindakanku sendiri, begitupun dengannyaㅡtidak, dia sepertinya jauh lebih terkejut dariku.


Dia hanya bersikap semestinya jika juniornya terlihat kesakitan, pasti orang akan mencoba membantu dan aku malah menepis tangannya sesudah bertingkah tidak sopan padanya. Aku benar-benar seorang junior yang menyebalkan.


"Ah! Um, maafkan aku," aku langsung meminta maaf sambil menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diriku agar rasa sakit di kepalaku yang luar biasa ini menghilang secara perlahan.


Dia menarik tangan rampingnya kembali ke samping pinggangnya, matanya terus memperhatikan setiap gerak-gerik ku.


"Sebenarnya, a-ada apa?"


"Tidak ada," pungkas ku singkat setelah mengeluarkan napas secara perlahan dan mengambil kembali sikat yang kujatuhkan saat menggosok badan Adam.


Melihatku yang kembali melakukan pekerjaan seperti tidak ada apapun yang terjadi, akhirnya dia mulai terbawa emosi, "Kau! Apakah kau memiliki masalah terhadapku?! Aku secara pribadi sebenarnya hanya ingin membantu junior yang terkena hukuman dan aku tidak tahu bahwa itu kau...jika aku tahu, mungkin aku akan menolaknya saja. Kau benar-benar orang yang tidak sopan."


Aku berhenti menyikat punggung Adam dan menolehkan kepalaku untuk melihat ke arahnya, "Kalau begitu, pergi saja sana. Tak perlu kamu khawatirkan aku disini juga aku tidak akan mengadukan mu pada Pak Heinz. Silahkan, pintunya masih di sebelah sana," ujarku sambil menunjuk ke arah pintu sebelum kembali menyikat punggung Adam.


Ah, bahkan wajah marahnya juga mirip sekali...benar-benar clonning-an dia itu.


"Baguslah kalau begitu! Aku jadi mendapatkan poin tambahan secara cuma-cuma!" dia mendengus kesal dan berjalan pergi keluar dari bangunan ini.


BLAAAMMMMM


Bahkan pintu kayu yang sudah berusia cukup lama itu, dia banting keras-keras hingga kayu yang sudah lapuk beterbangan kesana kemari. Suara akibat dari caranya yang menutup pintu dengan keras itu sempat membuat kaget Eve yang langsung berlari ke sampingku. Adam hanya mendengus dan membiarkanku tetap menyikat punggungnya.


Untung saja, orang itu sudah pergi atau aku akan benar-benar muntah di depannya.


......................


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2