
Pagi hari semua sudah berkumpul dimeja sarapan n
akan tetapi Vania dan Arga tak kunjung hadir.
Vania terbangun dari tidurnya namun ia merasakan berat di pinggang dan kakinya.
"Aduh Arga, tangan kamu ni."
"Apaan sih?" jawab Arga menggeliat. Ia masih mengantuk.
"Pindahin gak tangan ma kaki mu," bentak Vania nyaring ditelinga Arga.
Arga malah makin mengeratkan pelukanya, membuat Vania berontak.
Dimeja makan...
"Kemana ya tu anak kok belum bangun?" tukas bu Sandra tak enak hati atas kelakuan putrinya. Sebagai menantu rasanya Vania kurang giat.
"Biarin aja, San. Toh namanya saja baru sebulan menikah pasti masih asyik-asyiknya," sahut bu Mutia.
"Iya tapikan masak gak malu sama mertua?" timbal Sandra.
"Udah, tenang sana kalau mereka nginep lagi disini. Aku akan ajarin anak kita masak," jawab Mutia yang sudah tau kekurangan Vania.
"Iya San, biarin saja. Malah Papa seneng kalau mereka segera memberi cicit," sahut Kakek ikut menimpali.
"Setuju Kek, biar aku juga punya ponakan," tambah Vino tak mau kalah bersuara.
"Arga liat udah jam tujuh ni, pasti kita diejek Vino nanti," teriak Vania mengeraskan suaranya.
Mereka sontak bangun bersamaan karna Arga terkejut hingga kepala keduanya berbenturan.
"Aw," teriak Vania
"Aduh," teriak Arga juga. Mengusap kepala mereka bersamaan.
"Ihk, nyebelin sakit tauk," keluh Vania sebel.
"Aku juga sakit ni ngapain juga teriak-teriak," bela Arga membalas.
"Ngapain juga kamu peluk-peluk?" ketus Vania dongkol.
Vania melangkah kekamar mandi namun Arga menariknya.
"Mau kemana kamu?"tanyanya.
"Mandilah, emang ada makanan di kamar mandi, heran deh," sewot Vania.
"Enak aja aku dulu," jengah Arga hendak mendahului.
"Enggak aku dulu, kan yang duluan bangun aku," tolak Vania lagi.
"Kamar mandi itu milik siapa?" tanya Arga mendelik.
__ADS_1
"Milik kamu, tapi sekarang juga milik aku," jawab Vania percaya diri sambil berkaca pinggang mendongak kearah Arga.
"Enak banget ya kalau ngomong, emangnya udah ngenjalani kewajiban sama suami," tukas Arga mengernyit heran.
Sejenak Vania pun terdiam.
"Maaf, tapi akukan malu sama mereka aku duluan ya!" pintanya melo.
"Enak aja, sama aku juga malu. Gini aja biar adil kita mandi bareng," ide Arga mengerling pada Vania.
"Enak di kamu dong, ya udah duluan sana." Vania yakin Arga mau cari kesempatan nanti.
Arga pun tersenyum licik dan melangkah kekamar mandi lebih dulu namun sia-sia saat berada didepan pintu Vania menariknya dan masuk lebih dulu lalu mengunci pintunya.
Arga mendengkus.
"Ahk sial, mau mengerjai ku rupanya awas kamu aku akan bikin perhitungan nanti," gerutu Arga merasa ditipu.
Setelah selesai Vania terkejut tidak ada sehelai kain pun dikamar mandi.
"Aduh bagaimana caranya aku keluar kalau gini," lirihnya.
Arga mondar-mandi di depan pintu. Sejak tadi Vania belum juga selesai.
"Vania cepetan mereka pasti udah nungguin!" teriak Arga tak sabar.
"Iya sebentar bawel," balasnya.
"Arga...!" rayu nya.
"Apa? buruan keluar!"
"Tolong ambilin handuk dong, ga ada handuk didalam," melasnya.
Arga tersenyum licik.
"Oh jadi kamu lagi...," goda Arga namun terputus, Vania bisa menebak kelanjutan ucapan Arga.
"Tutup mulut mu, cepetan ambilin kalau gak aku gak akan keluar dari sini," kesal Vania setengah mengancam.
"Iya ya tunggu."
Arga mengambil handuk dalam lemari dan memberikanya pada Vania.
"Ini, dasar udah bikin kesel ujung-ujungnya mintak tolong," Oceh Arga bum juga mengakhiri kekecewaannya.
"Terima kasih."
Vania pun memakai handuknya dan melangkah keluar lalu Arga yang ganti mandi.
Setelah selesai Arga pun keluar di lihatnya Vania masih bersolek. Ia berpakaian lalu mengambil minyak rambut dan menyisir rambutnya dibelakang Vania. Arga tampak tampan dengan baju jas yang dipakainya membuat Vania yang melihatnya ternganga.
Arga sadar akan hal itupun tersenyum.
__ADS_1
"Ayo keluar, kita harus tampak kompak!" ajak Arga menggaet tangan vania. Vania tak menolaknya namun Arga tidak perduli.
Mereka pun menuruni anak tangga bersama-sama.
"Wah romantis sekali," goda Mutia menanti kedatangan dua insan itu.
"Vania kok baru bangun?" tanya Sandra langsung membondong Vania.
"Udah biarin aja mereka mumpung belum gendong bayi," sahut Dana membela.
"Betul itu kalau udah punya bayi udah susah mau berduaan," sahut Romy juga.
"Iyalah kapan kasih cicitkny," tambah kakek ikut-ikutan.
"Ciye... ciye... ngenes banget aku." Vino yang paling merana di sana.
Arga dan Vania saling bertatapan.
(Gimana mau punya bayi bikin aja belum) batin Arga.
(Aduh kok bahas terus sih)batin Vania.
"Kenapa masih berdiri ayo duduk!" ajak Kakek.
Mereka pun memulai sarapannya dengan berbagai menu makanan.
"Arga hari ini kamu mau kehotel?" tanya Papa Dana.
"Iya Pa, takut Vino korupsi," guyon Arga.
"Iya Bos, aku korupsi setiap hari," timbal Vino.
Berkumpulnya mereka serasa harmonis mereka selalu bercengkrama bersenda gurau.
Setelah selesai orang tua Vania pun berpamitan sedang Papa Dana pergi kekantor.
"Ma, Vania biar disini nanti sore aku jemput," ujar Arga.
"Iya nak, hati-hati dijalan!" pesan Mutia mengacak-acak rambut Arga meski pun Arga sudah dewasa, Mutia selalu memperlakukan Arga seperti bayinya.
Arga dan Vino pun menyalami Mutia.
Arga lalu mengulurkan tangan pada Vania.
"Ayo cium!" titah Arga sengaja membuat Vania tak bisa menolak.
Dengan kesal Vania pun melakukanya.
"Gitu dong kan romantis," tukas mama Mutia.
"Dasar cari kesempatan," batin Vania.
Arga tersenyum menatap Vania penuh kebencian.
__ADS_1