Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_12 Kegagalan


__ADS_3

Arga tertawa mengejek dengan gemes.


"Tu, dengerin kata Kakek. Jangan membantah," tambah Arga. Vania membulatkan matanya mengarah ke Arga namun saat menatap yang lain ia pura-pura tertawa.


(Dasar, mau nya dia tu) batin Vania dongkol.


Arga memulai bicara serius.


"Ma aku dan Vania akan tinggal dirumah kita sendiri. Aku ingin hidup mandiri jadi Papa, Mama dan Kakek. Arga harap bisa mengerti dan tidak keberatan," tukasnya sambil mengunyah nasinya.


"Kakek pasti kesepian dong, tapi Kakek hargai keputusanmu, Ga. Kalau nanti kalian sudah punya anak akukan bisa sering kesana," tukas kakek mengerti.


"Iya, kamukan punya rumah sendiri bagaimana Mama sama Papa akan melarang," sahut Dana.


"Iya ga papa yang penting kalian sering main kesini ya," pinta Mutia.


"Siiiip, aku dan Vania pasti akan sering berkunjung kesini," jawab Arga melirik kearah Vania.


"Tapi, Ga. Menurut Mama lebih baik ajak salah satu Bibi dirumah kasian Vania kalau ngurus rumah segede itu," saran Mutia.


"Aku setuju Ma, biar Vania juga belajar masak sama Bibi," sahut Vania senang.


Setelah lama terdiam untuk berfikir sejenak Arga pun memutuskan menyetujui ide Mamanya.


"Oke, biar Vania bisa belajar masakan kesukaan suaminya sesuai porsinya," jawab Arga.


"Ma kasih ya, Ga. Aku janji akan belajar memasak untuk kamu," tukas Vania sembari memegang tangan Arga diatas meja tampa sadar mata mereka beradu.


"Ehemz.."


Kakek Bram menyadarkan mereka. Arga dan Vania pun kembali pada posisinya.


"Ma kasih ya Ma atas idenya Vania gak bakal kesepian nanti," ucap Vania berterima kasih.


"Iya sayang, tapi jangan lupa susu nya dibawa dan diminum ya," jawab Mutia.


"Iya, Ma," jawabnya terpaksa.


Arga pun tersenyum senang.


Arga dan Vania sudah kembali kerumah mereka datang bersama bu Mardiah.


"Bi, itu kamar Bibi ya," tunjuk Arga pada sebuah ruangan.


"Iya den," jawab si Bibi.


Argamelangkah kekamar di ikuti Vania.


Karna merasa lelah Arga langsung berbaring keranjang. Sedang Vania bergegas membereskan

__ADS_1


Oleh-oleh dari mertuanya tak lupa juga susu penyubur kandungan yang ia letakkan diatas meja mini didalam kamarnya sembari duduk.


"Van, apa kamu tidak mau menuruti Kakek dan orang tua kita?" tanya Arga ingin tahu.


"Maksudmu?" tanya Vania tidak paham sambil menoleh.


"Membuat anak," jawab Arga.


Vania langsung bangkit dari duduknya karna terkejut mendengar penuturan Arga. Lalu melangkah mendekat.


"Itu sih mau mu otak ngenes," umpat Vania lalu kembali memutar tubuhnya tapi dengan sigap Arga menariknya hingga jatuh kepelukan nya.


Vania terkejut dan segera bangkit dari pelukan Arga.


"Ih, masih aja cakem lo," maki Vania membulatkan matanya yang imut.


"Apa tu cakem? baru denger kalimat itu?" tanya Arga menyeringai.


"Cari kesempatan," teriak Vania ditelinga Arga.


"Woy, bisa pecah dong gendang telingaku," balas Arga bergerutu.


"Bodoh amat, gak peduli," teriaknya lagi hingga wajahnya mendekat pada Arga beberapa sentimeter saja. Dengan gerakan mengejutkan Arga hendak menciumnya namun karna sudah paham Vania menarik wajahnya.


"Tu kan cakem, dasar," celoteh Vania melengos.


Keesokan Harinya, matahari sudah menyingsing ke ufuk timur jam alarm berbunyi menunjukan pukul tujuh waktu Indonesia bagian barat.


Arga terbangun dari tidurnya dengan malas lalu mematikan alarm yang mengganggunya dan dengan terpaksa membuka kedua bola matanya. Dilihatnya Vania sudah tak disampingnya.


"Mana tu anak?"


Arga membersihkan diri dikamar mandi dan memakai baju yang sudah disiapkan dimeja samping ranjangnya.


(Tumben, disiapkan) batin Arga lalu tersenyum. Arga pun turun kelantai bawah tampak bi mardiah dan Vania sedang menyiapkan sarapan.


"Ar, ayo sarapan aku dah laper!" ajak Vania lalu duduk lebih dulu.


Arga terkesima, namun akhirnya ikut duduk juga.


"Ini cobain sayur lodeh buatan Vania, asli tampa campur tangan," ucapnya lalu menaruh di piring Arga dan tak lupa nasi penyertanya.


Dengan semangat Argamelahapnya wajahnya tampak aneh dengan rasa sayur itu mulutnya. Arga merasakan keasinan tapi Ia tersenyum. Karena ia ingin menghargai usaha istrinya.


"Gimana sayur yang aku masak, enak?" tanya Vania senang.


Arga mengangguk dan menunjukkan jari ibunya menandakan jawabannya enak namun matanya terpejam-pejam menikmatinya. Bii Mardiah ikut tersenyum karena Ia paham maksud Arga.


"Tapi kok wajahmu aneh, biar aku coba?" ucap Vania tak percaya.

__ADS_1


"Jangan!" larang Arga.


"Kenapa?" tanya Vania bingung.


"Biar buat aku aja," pinta Arga.


"Aku juga mau," jawab Vania.


Mereka saling tarik menarik membuat Bi Mardiah kebingungan.


"Den, Non, nanti tumpah kan mubajir," ujar bi Mardiah memberi tau.


"Biarin, Bi," sahut keduanya masih tarik menarik dengan tatapan kesal.


"O, jadi setiap hari aden sama non bertengkar, biar aku kasih tau Tuan besar ya," ancam bibi.


"Jangan, Bi," timbal keduanya lalu menaruh mangkok sup itu.


"Na gitu kan enak liatnya," tukas Bibi senang. Ampuh juga gertakan yang di ucapkannya.


"Makanya jangan serakah," ketus vania. Ia tetap mengambil sayur itu..


Arga tak dapat melarangnya lagi.


Vania memakannya.


Arga dan Bi Mardiah menatap bingung.


"Huek...huek...., asin kenapa kamu makan tadi?" teriak Vania pada Arga.


"Ya, akukan harus menghargai istri," jawab Arga pelan.


"Ya, kalau bikin sakit untuk apa? Ini bukan makanan tapi racun," ucap Vania lagi masih mengoceh.


"Ya udah Bi buang aja, tadi aku gak dengerin Bibi jadi berantakan semuanya," ucap Vania kecewa dengan hasil masakannya.


"Sabar, Non. Non kan baru belajar, lama-lama juga bisa," hibur bi Mardiah.


"Iya Van, aku yakin kamu mampu kok kegagalan saat melakukan sesuatu pertama kali itu biasa, Sayang," sahut Arga menambahi.


Vania melangkah pergi raut kekecewaan masih menguasai hatinya bahkan nampak jelas dimatanya.


"Van, mau kemana?" tanya Arga.


"Mau kehalaman," jawabnya lemas.


"Ya, tapi jangan lupa sarapan nanti, aku juga sekalian pamit ke hotel," teriak Arga.


"Iya..," jawab Vania sayu. Setelah selesai Arga pun pergi kekantor.

__ADS_1


__ADS_2