Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_68 Ilman Dan Adel


__ADS_3

Ilman sudah sehat setelah sepuluh hari terbaring diranjang. Arga memindahkannya disebuah rumah yang akan membuat Ilman lebih nyaman dari pada tinggal di hotel. Agar kedua orang tua Ilman juga lebih tenang merawat Ilman.


"Aku seneng banget Del, bisa membantu Bang Arga menyiapkan kejutan untuk Mbak Vania," tukas Ilman senang.


"Iya Bang, pasangan itu membuat Adel iri," jawab Adel sembari menggoyang-goyangkan kakinya yang tergantung ditempat duduk yang cukup tinggi. Sedangkan Ilman menyilakan kakinya memperhatikan kaki Adel.


"Iri kenapa? Abang juga cinta banget kok sama Adel, mungkin lebih besar dari cinta Bang Arga ke Mbak Vania. Cuma jalan cinta mereka memang banyak cobaan," ulas Ilman.


"Iya Bang kasihan Bang Arga ama mbak Vania." Tukas Adel sambil memonyongkan bibirnya. Sebenarnya Ia sedih, karena mulai besok Ia akan berpisah dengan Ilman.


Bang!" Panggil Adel lirih.


"Hm?" Ilman menatap Adel serius.


"Adel besok akan pulang ke kampung. Abang jangan banyak kesibukkan dulu. Abang 'kan baru sembuh," pesan Adel sembari ber genggaman tangan dengan Ilman.


"Iya Del, makasih udah ikut ngerawat Abang disini, Abang pasti kangen sama Adel," tutur Ilman dengan raut wajah sedih. Kerena mereka akan berpisah lagi setelah sekitar sepuluh hari bersama.


"Adel juga Bang, Abang sangat setia sama Bang Arga, sikap seperti itulah yang dari dulu membuat Adel kagum sama Abang," puji Adel.


"Ya, Bang Arga udah seperti Kakak abang sendiri walaupun usia kami hanya terpaut beberapa hari. Tapi bagiku Bang Arga adalah inspirasiku. Ia dan keluarganya yang selalu membantu ku sama Bapak dan Ibu saat dalam kesulitan," ulas Ilman sambil menatapi langit yang dipenuhi bintang berkelipan.


"Bang, Adel seneng deh kalau Abang punya sifat yang setia. Abang juga pasti setia'kan ma cinta Adel?" Sindir Adel.


Ilman pun mengacak-acak rambut Adel gemas. " Sudah pastilah, cinta Abang gak akan pernah berubah," tegas Ilman.


Keduanya pun terkekeh.


"Man, Del, ayo masuk sudah malam waktunya istirahat," panggil Ibu Miah dari pintu.

__ADS_1


"Iya Bu," jawab keduanya.


Ilman pun melompat dari tempat duduknya dan menggendong Adel turun. Ia menggenggam tangan Adel masuk kerumah.


"Kalian jangan sering berduaan, nanti yang ketiga setan lo," ledek Pak Wisnu yang duduk diruang tamu sambil menyesapi kopi buatan Bu Miah.


"Iya Man, Del, kalian 'kan belum mukhrim kalau Adel sampai bunting habislah kita sama Pak Lurah," imbuh Bu Miah.


Ilman dan Adel pun terkekeh mendengar ucapan kedua orang tua itu.


"Insya Allah enggak Bu, Ilman inget kok sama Allah, Ilman juga sayang sama Adel jadi gak mungkin 'lah Ilman mau merusak Adel," jawab Ilman sambil melirik Adel.


"Itu apa? Dari tadi gandengan terus," jengah Bu Miah tersenyum melihat kearah tangan mereka yang masih saling menggenggam. Ilman dan Adel pun melihat kearah tangan mereka, Adel yang merasa malu langsung menarik tangannya.


"E... Ya udah Pak, Bu, Adel kekamar dulu masuk siapin baju-baju Adel biar besok kita gak kesiangan," kilah Adel menutupi rasa malunya dihadapan calon mertua. Lalu meninggalkan mereka masuk kekamar.


"Ehemz." deheman Pak Wisnu membuyarkan tatapan Ilman.


Ilman pun nyengir setelah ketauan.


"Ayo sini duduk!" Tukas Pak Wisnu.


Ilman pun mengikuti perintah ayahnya.


"Jaga diri ya nak, kerena Bapak dan Ibu akan pulang. Jadilah orang yang jujur bantu Den Arga setiap dalam kesulitan," pesan Pak Wisnu.


"Iyo Pak, Ilman sangat menghormati Bang Arga," jawab Ilman.


"Dan satu lagi, kesuksesan itu dimulai dari kejujuran. Bapak yakin kamu akan meraih cita-cita mu dan segera melamar Adel. Pak Lurah udah nyindir Bapak terus lo, nanti Beliau berubah pikiran," jelas Pak Wisnu.

__ADS_1


"Oke Pak, Ilman akan berjuang untuk Bapak, Ibu dan Adel," jawab Ilman bijak.


"Satu lagi Man, jangan melirik-lirik gadis lain ya!" Imbuh Bi Miah.


"Siip Bu, hanya Adel seorang di hati Ilman," jawab Ilman meyakinkan.


"Pak Wisnu dan Bu Miah mengangguk-anggukkan kepala percaya dengan ucapan Ilman.


"Bagus le, itu yang Ibu mau," tilas Bu Miah.


"Ya sudah, tidur sana kamu' kan baru sembuh, besok pagi-pagi mau antar Bapak, Ibu, dan Adel ke terminal dan langsung pergi kerja," tukas Pak Wisnu mengingatkan.


"Iya," jawab Ilman. Ia pun pergi ke kamarnya membaringkan tubuh yang baru pulih itu.


Tit tit! Tit tit!


"Vino," tukas Ilman yang meraih HP nya berbunyi.


"Iya Vin," jawabnya.


"Besok, aku gak bisa kekantor, Man. tolong urus semuanya ya! Aku ada keperluan," jelas Vino dari sebrang.


"E... Ta tapi Vin?"


Tut tut tut!


HP nya pun terputus.


"Aku'kan belum selesai ngomong kok dimatiin sih?" Oceh Ilman sambil menatap layar HP nya. "Tapi ada perlu apa ya? Kok tumben banget," gumam Ilman lagi bertanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2