Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_89 Rayuan Seorang Arga


__ADS_3

"Maaf aku tidak punya waktu," timpal Arga yang langsung mematikan ponselnya sepihak. Ia bergegas mengejar Vania ditengah kecemburuannya.


"Sayang, kamu dimana?" Arga berteriak-teriak disetiap ruangan uang dilewatinya. Hatinya langsung bernafas lega saat melihat Vania yang dikiranya menangis histeris ternyata sedang menyiram bunga.


"Huh, kukira? Kau memang istri idaman Van, tak salah jika aku rela melakukan apa pun demi kamu," batin Arga yang langsung tersenyum.


Ia melangkah mendekati Vania dengan langkah yang hampir tidak terdengar lalu memeluk Vania dari belakang.


"Hey, apa yang kau lakukan?" Teriak Vania terkejut.


"Memeluk istriku," bisik Arga ditelinga Vania dengan nada yang sangat lembut. "Ayo kita dinner malam ini!"


"Enggak, bukanya kamu mau menemui selingkuhan mu," yolak Vania menyungut.


"Astaga sayang, dia hanya gadis kecil yang tidak sengaja ku tabrak saat mengikut Dewa tempo hari, Bayu saja mengenal gadis itu, kami hampir ketauan kerena nya karena Ia memaksa minta Kartu namaku, aku sudah menolak tapi Bayu menyuruhku memberikanya," terang Arga yang membalikan tubuh Vania dan mendekap erat pinggangnya.


"Sungguh? Kau tidak bohong? Akan kutanya pada Kak Bayu?"


"Tanya saja!"


"Baiklah aku percaya pada mu, kalau gitu aku mau makan iga sapi!"


"Oke, permintaan Tuan Putri akan segera Pangeran laksanakan," Goda Arga bergaya hormat.

__ADS_1


"lebay," sungut Vania yang berlalu pergi sambil menyikut perut Arga.


"Aduh, sakit sayang," keluh Arga memegangi perutnya.


"Bodo," timpal Vania tak perduli.


Malam pun tiba, Arga dan Vania sudah bersiap. Vania nampak mulai mau berdandan lagi setelah lama tak memperdulikan penampilanya setelah keguguran. "Cantik nya istriku," puji Arga dengan bangga sambil memeluk Vania dari belakang. Arga menyesapi bauk harum yang keluar dari leher Vania.


"Kakak geli."


"Sudah lama kita tidak melakukanya kau selalu menolak keinginanku lirih Arga.


"Maaf," jawab Vania nanar dan merasa bersalah. Ia memang sedikit enggan berhubungan setelah didiagnosa sulit hamil oleh dokter.


"Hehehe... Gak tau malu ahk," timpal Vania cengengesan.


"Kenapa malu? Istri sendiri ini, boleh ya sayang, plissssss!" Pintanya yang mengatupkan kedua telapak tanganya memohon dari pantulan cermin.


"InsyaAllah," jawab Vania.


.


"Sungguh?"

__ADS_1


"Iya sayang."


"Beneran?" Tanya Arga meyakinkan


"Iya," jawab Vania yang kembali memantapkan hati.


Cup! .


Arga mencuri pipi merah merona itu.


"Kakak," sungut Vania cemberut. Arga hanya menyeringai menanggapi istri nya itu.


Setelah selesai dengan segala aktivitas, Arga dan Vania tiba disebuah restaurant dan memesan sop iga sapi dua porsi dan berbagai menu lainya.


"Huf, Wah enak sekali ini!" Seru Vania yang tak sabar menyantap iga itu, entah kenapa matanya sangat tergiur menatap tulang iga besar diatas mangkok itu.


"Makanlah!" Ucap Arga paham.


Tampa basa basi, Vania langsung menyeruput kuah sup iga itu dengan sendok secara berulang-ulang. "Kenapa sup ini terasa nikmat?"


"Habiskan saja kalau suka!" Titah Arga senang. Baru kali ini Vania terlihat kembali sangat lahap setelah sekian lama tak bernafsu untuk makan.


"Pasti," timpal Vania antusias.

__ADS_1


Arga merasa bahagia melihat perubahan sikap Vania yang secara tiba-tiba, itu artinya Vania perlahan telah melupakan kesakitan karena kehilangan dua insan yang telah pergi hampir bersamaan. Ia harus lebih kuat dari Vania demi kebaikan istri tercinta.


__ADS_2