
"Dok, apa yang menimpa Arga Dok? Mengapa dia tidak mengingat istrinya?" Tanya Mutia yang kini diruangan Dokter bersama Dana.
"Kalau dilihat dari hasil ronsen nampaknya otak kecilnya mengalami sedikit masalah yang menyebabkan dia amnesia," tegas sang dokter sembari meneliti hasil ronsen milik Arga.
"Maksud nya Dok?" Tanya Dana tak mengerti.
"Dia telah melupakan kejadian pahit yang menimpanya dua tahun belakangan, dan hanya mengingat dua tahun sebelumnya?"
"Apa itu berbahaya Dok?" Tanya Mutia panik.
"Tidak, ini hanya Amnesia ringan dan pasti akan pulih."
"Berapa lama?"
"Sampai waktu dia mengingat sesuatu yang berharga kembali padanya, ini tidak bisa dipastikan Bu, dan juga tidak bisa dipaksakan Pak, kerena jika dipaksakan justru akan berakibat fatal bagi penderitanya. O ya dia selalu memanggil nama Fiona, siapa dia?" Setelah panjang kali lebar menjelaskan sang Dokter merasa penasaran pada sosok seorang Fiona.
"Mantan kekasihnya Dok, dulu gadis itu sangat di cintai putra ku," ulas Dana.
"Lebih baik jika bisa, dekatkan gadis itu pada Arga mungkin bisa berdampak positif pada pisikisnya nanti."
"Tapi Dok_."
"Iya Dok akan saya lakukan," sela Dana memotong ucapan Mutia.
"Bagus."
Setelah keluar dari ruangan Dokter Mutia menatap geram ke arah Dana.
"Apa maksud Papa bicara begitu?"
"Sudahlah Ma, toh Vania juga sudah meninggal,"
"Tapi hubungan mereka sudah berakhir Pa," protes Mutia.
"Aku gak peduli Ma, aku juga senang melihat Arga begini , dengan begitu dia tidak akan membenci kita dan melupakan Soal Tari," ucap Dana kekeh.
"Terserah Papa lah, tapi Papa harus menanggung semuanya jika nanti Arga sadar dan mengingat Vania."
"Aku akan membuat Arga melupakan Vania Seumur hidupnya."
"Apa maksud Om?" Timpal Bayu yang baru tiba. Ia melangkah mendekat.
"Tolong jelaskan Om?"
"E...e ... Itu Bay. Arga lupa ingatan dan tidak mengingat Vania kecuali Fiona," jelas Mutia tak enak.
"Jadi, Om dan Tante mau mereka bersatu lagi?" Tanya Bayu menyeringai.
"Iya, toh adik mu juga sudah meninggal," ucap Dana dengan sorot mata dingin
"Heh." Bayu kembali menyeringai. "Aku tidak menyangka, begini mertua Vania sesungguhnya, kalian telah memanfaat kan keadaan yang sulit ini dengan mendekatkan Arga dan Fiona sedangkan hilangnya Vania juga belum ada empat puluh hari," decak Bayu kesal.
"Maaf Bay, tapi ini demi Arga juga," tutur Dana menunduk.
"Demi, Om bilang demi? Ini semua bukan demi Arga Om, tapi demi Om sendiri dan ku pastikan Om kalau Vania masih hidup. Karena apa? Karena mayat nya gak ketemu, permisi!" Bayu yang berniat menjenguk Arga pun mengurungkan niatnya dan meninggalkan rumah sakit itu.
Di ruangan..
"Kamu siapa ya? Kok ada di kamar ku, Vino mana?" Tanya Arga pada Ilman.
"Abang tidak ingat saya, saya Ilman Bang anak Pak Wisnu," jelas Ilman.
__ADS_1
"Pak Wisnu?" Arga coba mengingat. "O ya kamu yang dulunya kecil gendut itu ya, sekarang jadi tampan," kekeh Arga.
"Ada apa Dengan Bang Arga?" Batin Ilman bingung.
"Kapan kamu ke jakarta?" Tanya Arga lagi.
"Aku udah ada satu tahun setengah disini Bang, sejak abang bulan madu sama mbak Vania di vila," tungkas Ilman tersenyum.
"Bukan madu? Vania? Siapa dia? O ya nanti Fiona datang dia adalah calon istriku yang hendak dijodohkan dengan orang tuanya dengan orang lain tapi aku akan mencegahnya." Arga tak menggubris ucapan Ilman tentang Vania dan bersemngat bertemu Fiona.
"Fiona? Tapi Bang, Abang kan su_."
"Arga udah bangun nak?" Sela Dana yang tak ingin Ilman meneruskan ucapanya diikuti Mutia.
"Fiona mana Pa?" Tanya Arga cengengesan.
"Masih di jalan."
Tok! Tok! Tok!
"Na itu dia?" Ucap Dana.
Tak lama muncul Fiona dari balik pintu.
"Sayang, aku kangen." Fiona berhamburan memeluk Arga saking senangnya. Siapa sangka? Ia seperti ketiban duren jatuh disiang bolong. Dulu Ia susah payah mengejar Cinta Arga lagi sekarang malah Arga yang menginginkannya untuk datang.
"Jangan pergi sayang, aku akan menikahi mu, liat aku punya segalanya pasti Papahmu tidak menolak kali ini." Arga memeluk erat tubuh Fiona.
"Oh Tuhan, Bang Arga telah melupakan mbak Vania," batin Ilman lagi.
"Pa!" Panggil Arga.
"Iya Nak."
Mutia terisak mendadak mendengar ucapan Arga, air matanya berderai hingga basah dipipi.
"Kamu benar Ar, mau menikahi aku?" Tanya Fiona antusias.
"Iya dong sayang." Arga membelai pipi Fiona.
Ilman tak kuasa, Ia pun memilih keluar.
"Ma, kenapa nangis?" Tanya Arga yang menelisik kearah Mutia.
"Ah, Mama mu sedang senang mendengar kamu menikah," sela Dana lagi.
"Aku mau pesta pernikahan ku diadakan seminggu lagi Pa!" Pinta Arga polos sambil tersenyum menatap Fiona yang kegirangan.
Namun beda dengan Mutia, air matanya semakin deras meluncur.
"Iya iya kita akan adakan semewah mungkin," timpal Dana.
******
Vania pun membantu Bu Ayisa memasak.
"Bu, apa disini ke kota itu jauh ya Bu?"
"Iya ndok, kamu kangen sama orang tua mu?" Tanya Bu Ayisa yang meniup tungku dengan bambu.
"Iya Bu, terutama sama suami saya, saya khawatir dengan keadaannya," timpal Vania tersenyum sambil memetik daun singkong.
__ADS_1
"Tapi saya juga sedih saya difonis sulit hamil setelah saya keguguran,, padahal suami saya menginginkan nya dan sangat mencintai saya, tapi saya gagal membahagiakan dia," imbuh Vania dengan raut wajah sedih.
"O ya? Tenang ndok tinggallah barang seminggu disini lagi untuk memulihkan tenaga mu, Ibu akan buatan ramuan khusus agar nanti setelah kamu ketemu suami kamu InsyaAllah akan hamil lagi," ucap Bu Ayisa antusias. Beliau adalah orang pintar dikampung itu, dan ahli mengobati berbagai penyakit dalam hanya dengan tumbuh-tumbuhan herbal dan banyak yang sudah hamil saat di fonis mandul setelah berobat ketempat beliau.
"Bener Bu?" Tanya Vania girang.
"Iya, Ibu senang membantu mu ndok kau sudah seperti anakku sendiri," ucap Bu Ayisa.
Seminggu itu Keluarga Arga sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Fiona, sedangkan Vania sibuk meminum ramuan herbal yang diberikan Bu Ayisa. "Pait ya Bu?"
"Gak papa, sedikit. O ya ndok Ibu udah nyaterin kamu mobil untuk pulang. Sebenarnya Ibu berat melepas mu tapi gimana lagi, kamu punya keluarga yang harus kamu temui," ucap Bu Ayisa sedih.
"Vania juga seneng ketemu Bu Ayisa, karena Ibu Vania sudah meninggal. Tapi Vania janji pasti akan mengunjungi Ibu kesini lagi suatu saat nanti," tutur Vania memeluk Bu Ayisa.
"Kamu yakin ndok?"
"Iya Bu, makasih udah nyelametin Vania," ucap Vania.
"Tapi maaf ya ndok, Ibu cuma bisa saterin mobil, dan ini sedikit uang buat jaga-jaga karena kamu akan berangkat malam ini." Bu ayisa menyerahkan dua lembar uang merah ketangan Vania.
Vania memeluk tangan itu dan kembali memeluk Bu Ayisa.
"Terima kasih Bu, Vania Tidak akan melupakan kebaikan Ibu."
Malam Harinya Vania berpamitan dengan Bu Ayisa dan diantar Mang Japri dan Bu Dona yang hendak belanja pakaian kekota mereka adalah penjual pakaian.
"Vania pamit ya Bu, semoga Ibu selalu sehat!"
"Iya ndok, semoga cepat ketemu suami mu kalian akan sampai pukul Sembilan besok!" Ujar Bu Ayisa.
"Iya Bu, Assalamu'alaikum!"
"Wa'allaikumsalam."
Singkatnya .....
Vania terbangun dari tidurnya saat Bu Dona menoel pundaknya.
"Van, bangun kita udah ada di Jakarta!"
"Oh iya." Vania mengusap wajahnya yang masih mengantuk.
Kini mereka ada disebuah pasar tangah abang pukul enam pagi.
"Maaf ya, mbak dan akang cuma bisa nganter sampek sini ngejar waktu untuk dagang soalnya banyak pesanan soalnya." Mereka pun turun dari mobil box kecil itu.
"Makasih Mbak' Dona, kang Japri, sampai sini aja Vania udah seneng."
"Iya hati-hati ya!"
"Iya, Assalamu'alaikum!"
"Wa'allaikumsalam."
Vania pun berjalan kearah jalan besar untuk mencari angkot namun matanya tertuju pada sebuah layar lebar di tepi jalan yang memberitakan soal pesta pernikahan Arga dan Fiona sang pengusaha muda sukses.
"Bukanya Pak Arga udah menikah ya waktu itu, diberitain juga di tivi kok sekarang nikah lagi sama mantannya Fiona, bukanya Belum ada empat puluh hari meninggalnya Vania,"ucap Ibu-ibu yang hendak berangkat krlasar bersama temanya yang menoleh kearah layar lebar itu.
"Iya ya, nanti jam setengah sembilan akadnya," timpal Ibu satu nya.
Vania ternganga, dan air matanya meleleh.
__ADS_1
"Jadi Kak Arga akan menikahi Fiona hari ini dan melupakan aku secepat itu, tapi kenapa secepat itu Kak, kalaupun aku meninggal harusnya tunggu lah aku beberapa waktu tidak secepat ini." Vania pun menyetop taksi dan memutuskan pulang kerumah Papanya dari pada kerumah Arga. Ia merasa kecewa dan sakit hati dengan keputusan yang diambil Arga untuk menikahi Fiona.
Bersambung....