
Arga masuk kerumah dengan emosi yang membara lalu membanting semua barang-barang yang ada pada jangkauannya hingga berantakan.
Kakek yang mendengar dari taman semakin menangis, Ia sadar siapa pun itu pasti akan marah saat dirinya telah di bohongi selama dua puluh lima tahun.
Prang! Prang!
Vania dan Mutia yang berada dikamar masing-masing pun terkejut mendengar benda-benda yang pecah dari ruang tamu itu.
Vania dan Mutia segera bergegas keluar mencari tahu apa yang telah terjadi.
"Nak, apa yang kamu lakukan?" Tanya Mutia. Setelah Ia melihat barang-barang mewah itu menjadi kepingan dan Arga yang tampak memegang Vas bunga yang hendak dilemparnya lagi.
Arga tidak menjawab justru menatap Mutia dengan amarah yang tidak bisa diartikan.
"Kakak," tilas Vania. Ia melongo saat melihat apa yang terjadi dihadapannya. Ia juga tak menyangka bila Arga lah yang melakukan perbuatan yang mengejutkan itu.
Arga kembali menaruh Vas bunga itu saat Vania datang dan mengusap wajahnya dengan kasar untuk meredam amarahnya.
"Kak, ada masalah apa?" Tanya Vania lagi. Yang takut melihat perbuatan Arga. Sembari meneteskan air matanya.
__ADS_1
Arga langsung membawa Vania kekamar dan memeluk Vania. Ia menangis setelah mengetahui identitas sebenarnya. Bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa yang berhak atas apa pun itu. Ia hanyalah anak haram yang merebut hak orang lain selama ini.
Vania merasa heran dengan sikap yang menimpa Arga. Kesedihan apa yang sudah dialaminya.
"Kak apa yang membuat mu begini?" Tanya Vania sembari mengusap-usap punggung Arga.
"Aku tau Van, aku ini ternyata cuma anak haram Papa dan Mama," tukas Arga.
"Maksudnya?" Tanya Vania, sebenarnya Ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh apa itu yang membuat mu marah sama Papa dan Mama?" Tanya Vania lagi setelah mengingat sikap Arga yang berubah akhir-akhir ini pada orang tuanya.
Sebenarnya Arga juga takut jika Vania mengetahui identitasnya yang hanya lahir karena kesalahan orang tuanya, maka Vania akan meninggalkan dirinya.
"Kak, apa masalahmu?" Tanya Vania lagi.
Arga pun menggandeng Vania keranjang dan menyeka air matanya. Seumur-umur baru kali itu Arga menangis dan tampak sangat rapuh.
Arga pun mulai menceritakan kebenaran yang baru Ia ketahui kepada Vania. Arga tidak mau menyembunyikan apa pun pada istrinya walaupun mungkin Vania akan ilfil padanya setelah tau.
__ADS_1
"Oh jadi itu penyebab Om Adiyaksa dendam pada keluarga kita?" Tanya Vania lagi.
"Lalu, Kakak punya saudara lain?"
"Ia Van, Kakak malu dan marah setelah mengetahui kenyataan yang menyakitkan ini."
"Kak, kenapa harus malu? Tidak ada anak haram Kak, tapi perbuatan nya lah yang haram. Anak itu terlahir suci Tampa dosa setelah dilahirkan ke dunia ini, Bayi yang lahir itu tidak mengerti apapun, yang Ia tahu saat lahir ke dunia adalah bahagia."
"Tapi Van, ini sangat menjijikan menurut ku. Aku tidak mau terlahir diantara pendosa itu."
"Kak, mereka memang salah dan khilaf, tapi Kakak tidak busa menyalahkan takdir. Jika itu tidak terjadi mungkin Kakak tidak akan pernah lahir ke dunia ini." Vania pun menyinggung senyum.
"Akan lebih baik jika aku tidak pernah lahir."
"Berarti Kakak juga tidak menginginkan keberadaan kami!" Tanya Vania sembari mengelus perutnya.
Arga terdiam mendengar ucapan Vania.
"Tidak begitu sayang," ucapnya kemudian.
__ADS_1