
Arga dan Vania masih berada diperjalanan, dengan mobil sport biru kesayangan Arga. Tampak Vania masih melelehkan buliran air mata dari sudut matanya.
Arga hanya terdiam memandangi Vania yang menyeka pipinya. Secara tiba-tiba, Arga langsung menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Vania heran. Sedangkan rumah mereka masih sangat jauh.
Arga langsung melepaskan tali pengaman Vania dan menyandarkan kepala Vania dibahu nya.
"Berhentilah menangis, aku tidak suka melihatnya," tutur Arga. Ia pun menghapus pipinya yang masih saja menitikan air mata itu.
"Sayang, kamu tidak kasihan sama anak kita?" Tanya Arga lirih.
"Hm?" Vania mendongakkan wajahnya menatap Arga.
"Iya, kalau kamu menangis nanti anak kita juga ikut nangis," timbal Arga lagi menggoda.
Membuat Vania terkekeh dibuatnya.
"Mana ada bayi didalam perut menangis?" Sungut Vania. Sambil kembali menyandarkan tubuhnya di jok.
Arga pun menggenggam tangan Vania, Ia merasa senang melihat Vania kembali tertawa walaupun Ia tau itu hanya tawa terpaksa.
"Iyalah, kalau kamu strees, anak kita juga ikut stress nanti," jelas Arga.
Mendengar ucapan Arga, Vania pun menyadari kesalahan nya.
"Iya Kak, maaf. Aku sedih Papa sama Mama gak bisa hadir di pernikahan Kak Bayu. Malah Kak Bayu bilang, aku suruh ngelupain dia dan gak kasih tau siapa pun soal keberadaannya," ulas Vania. Ia menceritakan kembali apa yang Bayu katakan.
"Ck, jadi itu yang bikin kamu nangis?" Tanya Arga berdecak. Vania pun mengangguk.
"Biar aku, nanti yang bicara sama dia, ya," hibur Arga Kemudian.
"Beneran Kak?" Tanya Vania meyakinkan.
Arga pun membalas dengan anggukan cool khas gayanya.
Vania tersenyum lega atas ucapan Arga.
__ADS_1
"Hey, ayo turun!" Ajak kemudian.
"Ngapain?"
Arga segera membuka pintu mobil, agar Vania turun. Vanua terkejut saat melihat toko buah duren. Semerbak bauk buah duren itu menyengat kehidungnya.
"Ha, Kakak?"
"Iya ayo, tapi gak boleh banyak-banyak ya sedikit saja," pesan Arga.
Vania pun hanya cengengesan menimpali Arga.
Namun saat mendekat Arga merasakan mual diperutnya dengan bauk duren yang ternyata buah yang paling ia tidak sukai. Perutnya langsung tidak karuan, namun berusaha kuat demi Vania.
"Kenapa Kak?" Tanya Vania menahan tawa. ternyata Vania mengetahui bahwa buah duren adalah musuh bebuyutan Arga dari Kakek Brama.
"Hoek...hoek!" Arga tak dapat menahan lagi.
"Kenapa Mas?" Tanya penjual.
"Oh ini Pak saya lagi hamil muda tapi Suami saya yang ngidam jadi gitu deh," jawab Vania mengulum senyum melihat reaksi Arga.
"Wah, romantis sekali, jadi ngerasain sama-sama susahnya ngidam. ngidam buah duren ya? gak papa Mas kalau Mas yang makan. Yang penting istrinya jangan makan, ya," jengah penjual itu.
"Iya iya Pak, saya pesan yang paling enak," tukas Vania.
"Siip Non," jawab Penjual itu lalu pergi memilih buah yang paling enak.
Arga merasa dikerjai lalu mendekati Vania.
"Kamu sudah merencanakan semuanya ya?" Bisik Arga kesal.
"Apa! ini permintaan anak kita. Dia mau kamu yang makan, sedikit saja ya!" Rayu Vania.
"Apa! Gak, gak mau," tolak Arga.
"Ayo dong, kamu mau anak kita ngiler ya nantinya," rayu Vania lagi.
__ADS_1
"Kan, yang mau tadi kamu," sentak Arga.
Vania pun langsung memasang wajah cemberut mendengar bentakan Arga sambil duduk di kursi yang sudah disediakan sembari menopang dagunya dengan tangan. Membuat Arga merasa bersalah.
"Maaf sayang, aku tidak suka dengan duren," jelas Arga lembut. Ia tidak bermaksud membentak Vania.
"Inikan buah yang enak, kenapa tidak suka? Cicip aja dulu, apa kamu mau aku yang makan biar saja," dengus Vania lagi.
"Oke, iya. Aku akan makan demi kamu," pungkas Arga mengalah lebih baik Ia yang sakit dari pada terjadi sesuatu pada Vania dan bayinya.
"Ini buahnya Den, buah duren ini sangat nikmat dan isinya banyak," tukas penjual yang datang dan meletakkan duren yang sudah dibelah diatas meja.
"Wah, isinya banyak banget Pak," tukas Vania terbelalak.
"Silahkan dimakan Mas, 'kan kasihan kalau bayinya ngiler," tukas Penjual.
"I... Iya Pak," jawab Arga.
Arga pun meraih satu biji buah duren itu dan hendak melahapnya
"Hoek." Arga merasa mual melihat buah itu mendekati muludnya.
"Ayo Kak, enak kok," pinta Vania.
Arga pun memencet hidungnya dan memaksa melahap Duren itu. Namun Ia tercengang tak percaya saat rasa duren itu sampai kemulud nya.
"Ini beneran?"
"Kenapa Kak, enakkan?" Tanya Vania.
"Iya, aku gak percaya ternyata buah ini sangat enak," tukas Arga lalu menikmati nya lagi dan lagi.
Vania terkekeh dibuatnya.
"Dasar! Tadi kayak mau muntah sekarang ditahan agar gak muntah," delik Vania.
"Biarin, kalau aku tau seenak ini juga aku pasti suka," desis Arga.
__ADS_1
”""""""""''''''''''' Bersambung"""""""""""""