
Tak lama terdengar lagi ketukan dari luar.
"Biar aku buka?" tutur Arga sembari melangkah kearah pintu.
"Ada apa ya?" tanyanya heran saat ada kurir kembali datang.
"Maaf Mas, saya mengirim paket atas nama bapak Arga, benar?"
"Iya benar, tapi maaf saya merasa tidak memesan apapun?" tolak Arga yang memang tidak memesan.
"Tapi alamat yang dimaksud dan nama yang tertera disini benarkan, Mas?" tukas sang kurir menunjukkan ponselnya.
"Iya, Baiklah saya terima," tukas Arga tak mau memperpanjang masalah dambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal lalu mengambil paket itu dengan penuh curiga.
Setelah menanda tangani tanda bukti terima kurir itu pun pergi. Arga berulang kali memutar kotak tersebut berharap ada petunjuk.
Vania menjadi penasaran mengamati ekspresi Arga dan kotak yang dibawa nya.
Arga mengambil posisi duduk dan menatap lekat kedua kotak yang kini dihadapanya.
"Itu apa?" tanya Vania ikut memperhatikan kotak yang baru saja disejajarkanya dengan yang tadi berbungkus kertas warna warni.
"Ada, ada kurir lagi yang mengantar ini. Kalau dilihat dari bungkusnya orang yang memesan tentu memesan ditempat yang sama?" jawab Arga masih tetap menatap kotak itu was-was.
Tak lama hanphone Vania berdering.
"Kakek?" ucapnya.
"Hallo, Kek!" sapanya kemudian.
"Bagaimana apa batagor yang kakek kirim sudah sampai?" tanya Kakek dari seberang.
"O.. jadi Kakek yang kirim kedua batagor ini?" tukas Vania senang.
"Dua, tidak. Kakek hanya mengirim sekotak saja," sahut kakek diseberang.
Tak lama hp Arga pun berdering saat diambilnya dari saku ia terkejut dengan nomor yang tadi menelponnya.
"Hallo, siapa sih ini?" tanya nya geram.
"Bagaimana dengan istrimu dia sedang menikmati batagor kesukaanya yang sudah kukirim. Apa dia baik-baik saja?" tanya suara misterius itu sembari terkekeh.
"Siapa kamu dan mau apa meneror kami?" teriak Arga seraya bangkit dari duduknya.Wajahnya tampah merah marah karna merasa dipermainkan orang misterius itu.
"Hahaha, santai saja aku hanya ingin bermain-main. Sampaikan salam cintaku pada istrimu. Selamat menikmati batagornya ya?"
pesanya sambungan pun terputus.
"Hey..hey, hallo. Kurangajar siapa orang ini seenaknya saja menelpon dan memutuskan sambungan," kecam Arga. Sorot matanya tajam dan geram akan ancaman itu.
"Kak, ada apa sih? kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Vania bingung.
"Gak papa sayang," timbal Arga yang tak mau Vania ketakutan.
"Oo, jadi apa aku boleh memakan salah satunya?" tanya Vania sambil menelan liurnya dan menatap kedua kotak itu dengan hasrat. Arga memandangi kedua kotak itu bergantian. Lalu dengan sigap ia melempar kedua kotak itu ketempat sampah.
"Kak kok dibuang? itukan pemberian Kakek? Kakak aku mau itu?"rengeknya menatap kedua kotak makanan yang sudah tak berguna itu ditempat sampah.
__ADS_1
Arga menarik pergelangan tangan Vania dan mengajaknya masuk kemobil.
Sampai di pinggir jalan mereka berhenti disebuah warung makan. Tanpak tukang batagor sedang melayani pembeli.
Arga pun mengajak Vania duduk dan memesan batagor langsung.
"Batagornya bang dua?" pesan Arga.
"Eh Bang Arga, udah lama gak kesini. Gimana kabarnya Bang?" tanya penjual itu yang ternyata langganan Arga.
"Baik, Pak," jawab Arga.
Vania tercengang tak percaya Arga berlangganan makanan disebuah warung yang begitu sederhana.
Sedangkan keluarga Arga adalah keluarga terpandang dan kaya raya.
Tapi ia masih diam dan enggan untuk bertanya. Tukang batagor itu pun menyodorkan kedua piring dihadapan mereka beserta kedua gelas teh panas.
"Ini Bang, oya Bang ini istrinya?"
"Iya Pak, kenalin istri saya Vania dan Sayang, ini Pak Udin langganan saya batagornya paling enak seantero negri ini diantara batagor yang pernah saya cicipi," tukas Arga. Vania pmenganggukkan kepalanya menyapa Pak Udin disambut pula serupa dengan pak Udin.
"Silahkan Bang, Mbak saya bekerja dulu!" pamitnya.
"Silahkan, Pak," timbal Arga.
Arga masih menatap batagor itu.
"Sayang, kok diliatin ayo makan," ajak Arga yang menikmati miliknya.
Sebenarnya Vania masih dibuat bingung. Kenapa Arga membuang kedua kotak batagor enak itu. Namun akhirnya ditepisnya dan melahap miliknya. Ia membelalakkan mata, rasa batagor itu begitu nikmat dimulutnya.
Arga rsenyum melihatnya lalu mengusap rambut Vania.
"Kalau begitu habiskan ya?" tukasnya.bVania pun mengangguk sembari mengunyah penuh dimulut nya.
Usai menghabiskan batagor itu, Arga dan Vania kembali kerumah. Belum juga masuk ponselnya berdering lagi.
"Hallo Vin?"
"Bos, gawat Bos, memory card yang digunakan untuk meng kopy hilang dilaci saat aku tinggal sebentar kedepan dan saat aku cek di CC tv juga sudah tidak ada lagi," jelas Vino dari seberang.
"Ada apa lagi ini?" gerutunya seorang diri.
"Ya sudah aku akan segera kesana," jawabnya lalu mematikan sambungan.
"Kenapa lagi, Kak?" tanya Vania heran.
"Sayang, aku akan kembali kehotel. Kamu jaga diri baik-baik dirumah ya bilang Bi Mardiah kunci semua pintu dan jendela," pesanya sambil memegang pundak Vania dengan tatapa serius.
"Emangnya kenapa sih?" tanyanya bingung.
"Ikuti saja perintahku," tegasnya mengecup kening Vania dan segera menaiki mobilnya tergesa-gesa.
"Ada apa sih dengan suamiku? dia kelihatan panik sekali hari ini?" ocehnya berbicara sendiri.
Saat Vania memutar tubuhnya seorang langsung membekap mulutnya hingga pingsan. Bi Mardiah yang hendak membuang sampah pun terkejut dibuatnya.
__ADS_1
"Eh Non. Non Vania!" teriaknya panik .
Namun mobil yang membawa Vania melaju cepat.
"ya Allah Non, siapa yang nyulik Non?" gerutunya panik.
"Oya aku harus telpon Den Arga," lanjutnya berinisiatif dan bergegas masuk lalu menelpon Arga lewat telpon rumah.
Arga yang masih dalam perjalanan menghentikan mobil nya untuk mengangkat panggilan itu.
"Halo, Bi".
"Den gawat Den, anu_," tukas bibi tersengal-sengal saking paniknya.
"Gawat kenapa, Bi?"
"Anu itu... anu Den."
"Bik atur nafasnya dulu," pinta Arga.
Bi Mardiah pun menghela nafas panjang dan kembali menghembuskanya, setelah sedikit tenang ia pun melanjutkan ucapanya.
"Itu Den, Neng Vania dibawa orang."
"Apa Bik!" sontak membuat Arga terkejut.
"Iya Den, Non Vania diculik sama orang bertopeng serba hitam dan dimasukkan kemobil sedan hitam," jelasnya.
Tampa basa basi Arga mematikan ponselnya dan memutar kembali mobilnya.
"Sial, siapa orang ini dalam sehari membuat kekacauan sebanyak ini," umpatnya menggerutu.
Sampai didepan gerbang tampak Bi Mardiah sudah menunggu.
"Kemana perginya Bi?" tanya Arga setelah menghentikan mobilnya.
"Kesana, Den," tunjuknya pada arah yang berlawanan.
Arga melajukan mobilnya berusaha mengejar. Ia pun menelpon Vino dan Ilman untuk menolongnya.
"Siapa yang nelpon, Man?" tanya Bayu yang duduk disampingnya.
"Bang Arga, Bay. Katanya mbak Vania diculik. Aku diminta untuk membantu mencarinya," jelas Ilman setelah mendapat telpon dari Arga.
"Aku ikut ya," tawar Bayu.
"Ayo, kita harus buru-buru!" ajak Ilman diikuti oleh Bayu.
Diperjalanan...
Arga tampak sangat khawatir dengan keadaan Vania.
"sial, diapa yang sudah bermain api denganku tak akan kubiarkan selamat jika terjadi sesuatu pada Vania," dengkus nya mempercepat mobilnya.
Disebuah rumah berukuran kecil Vania dibawa dan dibaringkan diranjang. Pria bertopeng itu pun membuka topengnya dan tersenyum bengis.
"Sampai ketemu lagi, Sayang. Aku akan memilikimu," seringainya menatap Vania yang belum sadar.
__ADS_1
"""""""""""Bersambung"""""""""""""""