Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_90 Tak Direncana kan


__ADS_3

"benarkah malam ini Papa akan menemui ku di kafe?" Tanya Nisya girang saat Dana menelponnya dan berencana memberikan hadiah ultah disana.


"Iya sayang, Papa janji, Papa tunggu ya!" Timpal Dana dari sebrang. saat ini Ia tengah didalam kamar. Ia tak menyadari kalau Mutia sedang memperhatikannya dibelakang.


"Siapa Mas?" Tanya Mutia tampa menunggu Dana menutup telponnya.


Dana mendadak panik dan langsung menutup telponnya. "Ti... Tidak," elaknya. "Sayang, maaf ya malam ini aku ada janji sama kolega ku."


"Jadi mas mau keluar?" Tanya Mutia, Ia segera membenahi baju suaminya yang sedikit berantakan.


"Iya, kuharap kau tak keberatan?"


"Tak masalah Mas, aku mengerti kesibukan mu dimalam minggu ini, kau yang seharusnya libur tapi masih diharuskan untuk mengurus pekerjaan dengan sibuk," tutur Mutia. Sebenarnya hatinya merasa kelu, Ia yakin suaminya bukan menemui koleganya melainkan seseorang yang baru saja dipanggil nya sayang.


Dana memegang kedua sisi lengan Mutia dan menatap lekat.


"Percayalah, aku tidak akan melampaui batas!" Ada arti dalam ucapanya.


Mutia mengangguk. "Baik Mas, hati-hati!" Pesannya sembari menyalami lengan suaminya.


Dana pun meninggalkan Mutia yang mendarat kan bokongnya di kasur sembari menitikan air mata. "aku tahu Mas, kau pasti bertemu dengan keluarga mu yang dulu, Aku tidak keberatan kok Mas, karena akulah yang memisahkan kalian.""


***


Arga dan Vania pun tiba di kafe, Malam minggu ini mereka manfaatkan untuk kembali berpacaran setelah sekian lama dirundung duka.


"Sayang, tempat ini tampak romantis sekali!" Seru Vania mengedarkan pandanganya.


"Iya sayang, ayo duduk disana!" Ajaknya pada sebuah sepasang kursi yang dihiasi lilin cantik diatasnya. Sepertinya Arga sudah memesan nya lebih dulu sejak awal.


"Waw, ini indah sekali!" Decak Vania lalu duduk ditempat kursi yang di tarik oleh Arga untuknya sambil memasang wajah menganga.


"Bahagia lah sayang," batin Arga tersenyum senang.


"Silakan Tuan, Nona, ini menu pesanannya!" Ucap seorang pelayan yang baru datang dan membawa semua menu favorit mereka, bebek panggang, sambel kemangi dan beberapa menu lainya.


"Ini kan favorit mu Kak?" Ucap Vania.


"Tapi kamu jiga kan?" Gida Balik Arga.


"Iya, tau aja hehehe."


Mereka pun memulai melahap makanan di hadapan mereka dengan lahap sambil sesekali saling suap-suapan. Tangan Arga menggantung kearah mulud Vania saat menyuapi ketika matanya tertuju pada sebuah keluarga yang baru masuk dan memilih tempat yang lumayan jauh dari mereka duduk. "Papa, Vino, gadis itu," batinnya saat melihat Nisya.


"Kak, aa... Mana kok gak nyampek-nyampek," rengek. Vania yang kesal karena sudah lama membuka mulud nya.


"O iya maaf sayang, ayo buka mulud nya," timpal Arga setelah sadar.

__ADS_1


Vania pun kembali melahap suapan Arga, namun Ia sedikit penasaran saat Arga bukan fokus padanya melainkan dibelakang nya. Vania merasa penasaran, dan akhirnya menoleh.


"Itu kan Papa, Kak! Kok dia sama Vino dan dua wanita? Siapa mereka?"


"Mungkin itu Tante Tari dan anak perempuannya," jawab Arga yakin.


Vania menangkap rasa cemburu dan sedih Dimata Arga. Dulu Dana sangat memanjakan nya namun kini semua sudah berubah dan bahkan mereka tidak bertegur sapa.


"Kak, sabar ya!" Ucap Vania menenangkan.


"Gak papa sayang, ini untuk pembelajaran awal untukku kerena suatu saat nanti aku pasti akan kehilangan kasih sayang Papa untuk selamanya," timpal Arga getir.


"Jangan bilang begitu Kak, aku yakin kasih sayang Papa Dana tidak akan berubah pada Kakak."


"lihatlah!" Ucap nya memberi tahu Vania. "Nampaknya mereka keluarga kecil yang sangat berbahagia."


Arga melihat Dana memberi Nisya sebuah kalung berlian dan memasangkannya dileher, entah apa yang mereka obrolkan, Arga dan Vania tak dapat mendengar apa pun tapi terlihat jelas dari pancaran wajah mereka, kalau mereka sedang berbahagia.


Tak lama Vino sadar melihat Arga, Ia pun diam-diam bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Arga. "Heh," decak nya dengan senyum sinis. "Lihatlah Ar, jika kau dan Ibu mu yang pelakor itu tak memisahkan orang tua ku kami pasti akan bahagia seperti saat ini."


Arga tak bergeming mendengar celutukan panas dari Vino alias Alan.


"Kenapa diam? O... apa Kau sadar sekarang? Bahwa Ibu mu dan kelahiran mu adalah perusak hidup keluarga ku. Dasar, Ibu dan anak sana-sama perebut kebahagiaan orang lain!" Kecam Alan terus menerus.


"Tutup mulud mu Alan! Jika aku disuruh memilih? Aku tidak ingin lahir di keluarga ini dan mengenal mu!" Sentak Arga emosi.


Arga tak terima dengan ucapan Alan, Ia pun berdiri dan mencekal kerah baju milik Alan hingga mengundang perhatian termasuk Dana yang tersentak kaget melihat Arga dan Vania ternyata sedang ribut dengan Alan.


"Jangan pernah ucapkan kata-kata itu Alan, jika tidak ingin wajahmu berdarah!" Teriak Arga geram sambil mengotot emosi.


"Heh, kenapa tidak terima? Memang kenyataan bukan?"


Arga hilang kendali dan melayangkan tinjuan kewajah Alan hingga jatuh ke lantai dan pelipisnya memar. Arga hendak kembali meluncurkan tinjuan namun Vania bergegas menahan tanganya.


"Jangan Kak! Ayo kita pergi!" Ajak Vania yang takut Arga akan khilaf dan mendapat masalah.


Arga pun luruh saat menatap wajah Vania yang memelas. Ia pun duduk dan kembali mencekal kerah Alan. "Aku ampuni kamu Alan, tapi jika aku dengar kau hina aku maupun ibu ku, aku akan memberi perhitungan yang lebih dari ini!" Arga melepaskan tanganya dan langsung menarik lengan Vania. Sesaat Ia berhenti saat melihat Dana yang hanya diam saja menyaksikan pertengkarannya dan Alan.


"Arga, maafkan Papa nak!"


"Aku lebih senang jika tidak pernah mengenal mu, Pa," desis Arga sembari menitikan air matanya yang sudah lama membendung di kelopak matanya.


Nisya sedikit terperangah saat mendengar Arga memanggil Dana dengan ucapan yang sama. "Apa, jadi, Kak Arga anak Papa juga?" Tanya Nisya setelah Arga dan Vania menghilang dibalik pintu.


Dana hanya melirik Nisya dan tak menjawab.


"Iya Dek, dari pelakor yang merebut Papa dari Mama," timpal Alan.

__ADS_1


"Alan! Tutup mulud mu!" Sentak Tari. "Tidak Nisya, tapi mungkin Papa bukan jodoh Mama," terang Tari.


"Aduh Ma, kepala Nisya pusing," keluh nya sembari memegangi kepalanya.


"Kalau gitu ayo kita pulang!" Ajak Dana yang langsung menggandeng Nisya.


Sesampainya dirumah, Nisya langsung dibawa masuk kekamar oleh Vino.


"Tidur ya dek, Kakak keluar dulu," pamitnya.


"Iya Kak Vini," timpal Nisya. Alan segera menyelimutinya dan bergegas pergi untuk mengetahui apa yang dibicarakan Dana dan Tari di teras.


"Tari, maafkan aku, maaf tidak bisa memberikan kenyamanan pada Nisya."


"Tak apa Mas, aku tidak akan menuntut tanggung jawab padamu, berbahagialah dengan Mutia Dan putra mu Mas!"


Dana tampak berkaca-kaca mendengar sindiran Tari.


"Tari, boleh aku meminta sesuatu darimu?"


"Apa Mas? katakan saja!" Titah Tari sambil meneguk liurnya.


"Tolong hentikan Alan yang hendak berniat merebut Hak Arga," jelasnya.


Tari menarik sedikit bibirnya dan menyungging senyum yang kelihatan sinis.


"Tari, hotel Arga Gautama di dirikan oleh kerja kerasnya sendiri, tolong jangan kasih tau Alan untuk tidak merusak hotel itu!" Pinta Dana memohon.


Tari masih terdiam.


"Tari, Alan bukan darah daging ku jadi ku mohon hentikan tindakannya untuk terus menghina Arga, soal Nisya, dia akan akan mendapat bagian nya dari ku dan juga biaya segala biaya yang Ia butuhkan!"


"Heh." Tari kembali tersenyum mengejek. "Tidak perlu Mas, aku bisa menjaga dan membiayai hidup Nisya dan satu lagi, Alan pasti tidak akan melakukan hal serendah itu pada Arga, aku janji padamu!"


"Terima kasih Tari, maafkan aku sudah menyiaa-nyiakan kamu karena cinta ku pada Mutia."


"Tidak apa-apa Mas, ini adalah kesalahan ku."


Dana mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu, kamu tenang saja, meskipun kamu menolak Nisya adalah tanggung jawabku. beri aku kesempatan membahagiakan nya," pungkas Dana. Ia pun meninggalkan Tari yang menatap nanar kearahnya hingga mobil yang Dana kemudikan hilang ditelan cahaya lampu di trotoar.


Tak lama Alan pun muncul. "Apa laki-laki itu sudah pergi?"


"Iya nak, ayo masuk!" Tari pun merangkul pundak Alan.


Bersambung.....


Maaf ya reader baru up lagi soalnya terkendala internet sedang gangguan beberapa hari ini jadi sulit untuk buka FB....

__ADS_1


Jangan lupa like and komentarnya banyakin ya biar bisa tetap lanjut... Jangan nekt-nekt aja dong tapi kasih komentar untuk pemerannya dong pelit amat.


__ADS_2