Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_07 Rencana Bagas


__ADS_3

Setelah selesai Vania pun berhias. Arga saat itu masih pergi entah kemana. Tak lama terdengar hpnya berdering.


"Hallo, Rahma ada apa?" sahut Vania.


"Aku mau bertemu," jawab Rahma namun Suaranya terdengar aneh.


"Kenapa suaramu aneh?" tanya Vania heran.


"Iya aku lagi flu kita ketemu deket taman kampus ya," ajak Rahma.


"Iya nanti aku kesana," jawab Vania. Vania mematikan hpnya dan menggaet tas slempang nya.


"Mau kemana?" tanya Arga yang sudah kembali.


"Ketemu Rahma ditaman deket sekolah," jawab Vania datar. Saat hendak pergi Arga menahan lengannya.


"Tunggu!" cegah Arga. Arga merebut handphone Vania.


"Eh itu ponselku mau diapakan?" teriak Vania. Arga tak menggubris


"O ya aktifkan terus ponselmu, biar aku selalu tau keberadaan mu," pesan Arga serius.


"Untuk apa? mau mematai ku?" tanya Vania jadi kesal. Ia merasa tidak bebas.


"Turuti saja mau ku, jangan membantah," imbal Arga.


Vania pun pergi dengan wajah manyun.


"Aku getarin aja ponselnya, biar gak denger," gumam Vania memindahkan ke nada diam.


Vania tiba ditaman ia celingukan mencari Rahma yang belum muncul.


"Mana sih, si Rahma?" celoteh Vania terasa lelah sudah lama ada di sana.


Ia menelpon berulang-ulang namu ponsel Rahma tidak aktif, Vania pun memasukkan ponselnya kembali kedalam tas.


Tiba-tiba ada sosok orang tak dikenal berpakaian serba hitam menyekap mulut Vania hingga Vania tak sadarkan diri.


Rahma baru keluar dari kampus, jam pelajaranya telah berakhir.


"Aku mau ketemu Nicho ahk, tapi mana ya kok gak muncul-muncul sih?" gerutunya.


"Oh iya Aku telon aja kali ya." inisiatifnya muncul.


"Lo, handphoneku mana tadi aku masukin tas," ucap Rahma bingung.


Rahma mengeluarkan semua isi tasnya tapi tidak ada.


Dari kejauhan, Nicho mendekat melihat Rahma yang masih mengacak isi tasnya.


"Kenapa Rah?" tanyanya heran.


"Handphone aku ilang Nic, tadi aku masukin disini waktu kekantin. Terus mengisi mata pelajaran tapi kok gak ada ya?" tukasnya gelimpungan.


"Coba periksa disakumu?" saran Nicko.

__ADS_1


"Gak ada, udah ku periksa," tukas Rahma.


"Ya udah ayo tanya teman-teman!" ajak Nicho.


Mereka pun menanyai setiap siswa siswi yang mereka jumpai namun tak ada yang mengetahunya.


Mereka akhirnya duduk ditaman kampus.


"Aduh Nicho, gimana ni mana semua materi kuliahku sebagian aku simpan disana lagi," keluh Rahma gelisah.


"Sabar, gimana lagi mungkin ada yang nyuri!"


Dua jam berlalu, Arga menyusul Vania dikampus di tempat mereka janjian. Arga melihat Rahma dan Nicho disana.


"Rahma, dimana Vania?"tanya Arga.


"Vania? aku tidak bertemu dengannya bukankah dia cuti pernikahan selama seminggu," jawab Rahma tidak tahu.


"Bukankah kamu menelponnya tadi pagi mengajak dia bertemu ditaman ini," jelas Arga mengernyit.


"Apa? tidak, aku tidak pernah mengajak Vania pergi apalagi nelpon. Aku tau dirilah kalian kan baru menikah," pungkasnya tidak mau disalahkan.


Sejenak Arga berpikir.


"Jangan-jangan, handphone kamu dicuri orang Rah," sahut Nicho menebak.


"Aduh, bagaimana kalau Vania diculik," tutur Rahma khawatir. Mendengar hal itu Arga sangat panik ia pun ingat sudah memasang alat pendeteksi keberadaan Vania.


Ia melihat diponselnya titik itu berjalan kesebuah pemukiman padat penduduk dan berhenti disuatu tempat. Arga segera menelpon Vino.


"Vino, bantu aku sepertinya istriku diculik. Aku akan sherlok," ucapnya singkat. Arga segera ke parkiran dan naik mobil lalu melaju sangat cepat.


Bagas menggendong Vania masuk dan mengikatnya pada sebuah kursi.


"Vania yang cantik, aku gak akan rela kehilangan kamu begitu saja. Mamu harus menjadi milikku," ujar Bagas tersenyum licik. tangannya meraba wajah Vania membuat Vania tersadar. Vania terkejut melihat sosok Bagas didepanya. Bagas tertawa liar dihadapanya.


"A.. apa yang kamu lakukan, Bagas?" tanya Vania ketakutan.


"Hai cantik, sudah bangun kamu," sapanya tersenyum miring.


"Bagas, kenapa menculikku? lepaskan aku!" teriak Vania memberontak. Ia berusaha melepaskan ikatanya.


"Tentu saja mau memilikimu," jujur Bagas menyeringai licik sambil membelai wajah Vania tapi Vania memalingkan wajahnya.


"Lepas Bagas kamu jangan gila aku sudah menikah," teriak Vania lagi.


"Aku tidak peduli, aku cinta sama kamu dan suamimu itu tidak berhak memilikimu," bentak Bagas tak suka.


"Dasar gila!" umpat Vania.


"Aku tidak perduli, kamu sudah berani meninggalkan aku. Kamu harus tau akibatnya," ancam Bagas lagi.


"lepaskan...lepaskan aku. Tolong...tolong...!"teriak Vania ngeri menatap seram wajah Bagas.


Bagas pun menjambak rambut Vania.

__ADS_1


"Diam, tidak ada yang akan dengar. Ini jauh dari perkampungan. Aku gak rela kamu menikah dengan orang lain," sentak Bagas menekan juga kedua bibir Vania.


"Lepas Gas, sakit," pinta Vania terisak-isak


Bagas pun mendongakkan wajah Vania dan hendak mencium bibir Vania.


Tapi sebuah tendangan melayang ditubuh Bagas hingga tersungkur ditumpukan kardus. Pelipisnya membentur meja yang sudah usang hingga tergoret.


"Jangan pernah sentuh istriku jika tidak mau kupatahkan tulangmu. Sudah kusangka ini akan terjadi," amuk Arga.


Bagas pun bangkit.


"Kurangajar, kalian menikah karna perjodohkan sedangkan aku sama Vania saling mencintai, iyakan Van jelaskan pada suamimu?" ukas Bagas menatap Vania.


Karna tidak ada jawaban dari Vania.


Bagas pun membalas memukul wajah Arga hingga tersungkur.


"Arga!" teriak Vania.


Bagas terus memukul wajah Arga bertubi-tubi hingga wajahnya memar.


"Aku tidak akan menyerahkan vania padamu," getir Bagas sambil terus memukul.


"Jangan mimpi kamu," sahut Vino sambil melayangkan tendangan pada tubuh Bagas. Bagas terpelanting kesamping Arga.


Akhirnya terjadi baku hantam diantara mereka bertiga.


Nicho dan Rahma yang menyusul pun tiba.


"Nicho aku punya rencana," tukas Rahma.


"Apa Rah?" tanya Nicho.


"Kamukan punya nada dering ciline polisi cepat nyalakan!" titah Rahma. Ia yakin ide itu ampuh.


"Oh iya benar," jawab Nicho.


Nicho langsung menghidupkan nada deringnya.


Bagas terkejut.


"Kita belum selesai," ungkapnya lalu melarikan diri lewat pintu belakang.


Arga tak peduli dengan suara itu, Ia segera melepaskan ikatan tangan Vania lalu duduk melepas ikatan kakinya. Vania yang masih terisak replek memeluk Arga. Vino, Rahma dan Nicko yang baru muncul terpaku melihatnya.


Arga mengusap punggung Vania. Arga berdiri dan menggendong Vania keluar dari rumah kosong itu. Mereka mengikuti dari belakang.


"Terimakasih kalian sudah membantuku," tuturnya sambil melangkah keluar ia segera memasukkan Vania kemobil. Dan pergi meninggalkan mereka lebih dulu.


"Tadi aku dengar ada mobil polisi, mana ya?" tanya Vino pada dasarnya juga sudah tahu.


"Ini polisinya," timbal Nicho menunjukkan ponsel nya.


"Oh jadi kalian pinter ..pinter...." puji Vino suka.

__ADS_1


"Iya dong, idenya Rahma," sahut Rahma percaya diri.


Mereka pun tertawa


__ADS_2