
Hari-hari berlalu Vino, Bayu dan Ilman sibuk mencari bukti untuk menghilangkan beredarnya vidio mesum yang terjadi dihotel Arga.
Semakin hari beritanya semakin menyebar luas di media sosial. Membuat hotel Arga mengalami penurunan pendapatan secara drastis. Orang-orang enggan untuk masuk ke hotel itu karna sudah tercemar nama baiknya.
Arga merasa frustasi akan hal itu, Ia masih menatap laptop yang masih menyala didepannya.
Kedua tangannya memegang kepalanya karna terasa berat oleh beban pikiran.
Drrrrttt!
Telpon genggamnya berdering berada diatas meja didepannya. Ia nampak enggan mengangkat telpon dari Vino.
"Heh." Ia menghela Nafas dengan kasar lalu meraih hpnya dan menggeser tombol hijau.
"Hallo," Ucapnya lemas.
"Maaf bos kerja sama dengan PT.Air Bulan gagal mereka mengira hotel kita akan Palit bos," jelas Vino dari sebrang.
"Sudah kuduga," decak nya menghela nafas. Lalu mematikan sambungannya.
Arga pun membanting ponselnya kearah ranjang. Membuat Vania yang baru masuk terkejut.
"Kasihan Kak Arga, pasti ia sangat pusing memikirkan hotel," ringkas nya bergumam.
Lalu melangkah mendekati sang suami dan melingkarkan kedua tanganya dari belakang.
"Sayang," tukas Arga kaget. Lalu mengembangkan senyum yang nampak terpaksa itu dan mendongak menatap Vania.
"Sabar ya Kak, Kakak pasti akan mendapatkan jalan keluarnya." tenang Vania.
Arga pun mengangguk dengan tenang. Ia tak ingin sang istri ikut strees dengan urusan hotelnya. Apalagi usia kandungan Vania masih dua bulan.
"Sayang, maaf ya Kakak harap kamu selalu jaga pikiran agar kalian sehat terus. Aku gak mau kamu nanti sakit dan anak kita kenapa-napa,"ucapnya.
Sambil memutar lengan Vania dan mendudukkannya dipangkuan nya sembari mengelus perut sang istri dengan lembut.
"Kak, aku dan anak kita akan baik-baik aja kok aku tau kakak sangat bingung dengan nasib hotel. Kenapa kakak gak cek semua sisi CCTV yang tersembunyi itu," saran Vania mengingatkan.
"Ha,CCTV?" Ucapnya sedikit kaget.
"Ia, kan kakak pasang CCTV disetiap ruangan dengan dobel, kan? apa belum dicek?"
"Iya sayang kamu bener, kalau begitu Kakak ke kantor dulu ya." Arga berpamitan.
Vania mengangguk senang melihat sang suami nampak ceria dengan idenya.
Romy melihat Gilang disebuah ruko dan melihat seorang bapak yang kesulitan mengangkat barang belanjaannya keatas motor.
Hadi dan ke 3 orang di mobil itu memperhatikan dari balik kaca yang hanya beberapa meter dari tempat Gilang berdiri. Nampak Gilang sedang mendekati sang bapak dengan sopan
"Pak, biar saya bantu," tawarnya.
Ia menjongkok hendak mengangkat benda itu.
"Ayo.. ayo terlihat," seru Romy gemas.
__ADS_1
Benar saja baju kaos Gilang yang pendek tertarik keatas hingga menampakkan toh dipinggang belakangnya.
"Alhamdulillah, benar dia putraku," sentak Romy mengulas senyum.
"Kalian tunggu disini," perintah Romy. Sedangkan Gilang sudah berhasil mengangkat belanjaan milik bapak itu.
"Terima kasih ya nak, atas kebaikkannya," tukas sang bapak.
"Iya pak hati-hati dijalan," pesan Gilang.
"Oh..iya nak terima kasih," ucap sang bapak. Lalu mengogleng motor bututnya dan pergi.
Gilang pun tersenyum lega namun ia seketika mengkerutkan dahinya saat tangan seseorang mendarat dipundak nya. Gilang pun memutar tubuhnya.
"Om, ada perlu?" tanya nya sedikit heran.
"Enggak nak, om boleh ngobrol?" tanya Romy.
"Oh iya mari," ajaknya. Lalu duduk disebuah kursi disamping ruko.
"Kenapa Om, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya to the point.
"Maaf, kalau Om lancang Sejak kapan kamu punya tanda lahir dipinggang?" tanya Romy.
"Tanda lahir? dari mana Om tau?" tanyanya lagi masih merasa aneh.
"Tidak perlu Om tau dari mana, apa kamu mengenali foto bayi ini?" jelasnya. Menunjukkan foto Ardan saat masih bayi.
"Inikan...," ucapnya terputus.
"Bukan Om, saya anak yang diangkat," jawabnya. Papa tidak punya anak kandung. Aku dan Bayu diasuh sejak bayi oleh Papa Adiyaksa. Memang kenapa Om?" tanyanya masih tetap bingung.
Romy pun serta merta memeluk Gilang.
"Berarti benar, kamu adalah putraku yang hilang," ucapnya sesegukkan.
"Apa Om,viya Lang. Tanda lahir dipinggan mu itu buktinya," jelas Romy. memegang kedua pipi Gilang. "Tapi Om,saya....," Ucapnya terputus.
"Nak, ayo temuin mamamu, Dia sakit keras memikirkan kamu," pintanya dengan sorot mata memelas. Pria paruh baya itu tak malu menangis didepan Gilang.
"Ayolah nak, Papa mohon,"pintanya.
"Tapi aku..."
"Sudah ayo! Mama sudah menunggu!" ajaknya menarik lengan Gilang untuk masuk kemobil.
"Tapi motor saya Om," jengah Gilang yang masih bingung.
"Fathir, kamu bawa motor Gilang!" Perintah Romy.
"Baik pak."
Setelah mobil dan motor itu pergi. Adikyaksa ternyata tengah mengawasi mereka dari jauh. Ia tertawa puas karena rencananya selama 25 tahun akan berbuah hasil.
"Hhhahhha...Romy..Romy...tunggu saja kehancuranmu," Cibirnya. Sambil memukul stir puas.
__ADS_1
Singkat Cerita...!!!!
Setelah Arga pergi Fiona dan dua pengikutnya tampak sedang mengintai rumah Vania. Sedangkan Vania masih menyiram tanaman dan Sandra justru semakin sakit karena memikirkan Ardan.
Fiona dan kedua orang itu melihat kondisi sudah aman.
"Cepat laksanakan!" perintah Fiona.
Kedua orang itu pun mengendap-endap dan langsung membekap mulud Vania membuat Vania sangat terkejut.
Ia hanya bisa mengerang oleh bekapan itu namun tak ada yang mendengar nya. Sandra yang memaksa diri dengan lemas menuju tempat Vania pun terkejut melihat Vania sudah dibawa masuk mobil.
Kakinya seketika lemas dan jatuh tersungkur.
"Vania," teriaknya. Namun suaranya tak dapat terdengar jelas karna Ia begitu lemah.
Bi Ira yang melihat pun gelimpungan.
"Nyonya, Nyonya kenapa? Nyonya bangun," teriak Bi Ira.
"Pak Bono, sini Nyonya pingsan," teriaknya lagi.
Pak Bono pun lari tunggang langgang kearah mereka dan segera mengangkat Sandra masuk lalu merebahkan Nya disofa.
Mereka segera menghirupkan minyak kayu putih ke hidung Sandra.
"Nya bangun, Nya," tutur bi Ira khawatir.
Mobil Romy pun sampai dihalaman rumah. Gilang terkesima dengan rumah yang jauh lebih megah dari rumah Adiyaksa.
"Nak, ini rumah kita. Mama pasti seneng ngeliat kau disini," tukasNya. Lalu merangkul Gilang yang masih dipenuhi kebingungan. Ketiga bodigat itu pun kembali merangkap jadi security dipos penjaga.
Tiba didalam...!!!
"Bi, Sandra kenapa?" tanya pak Romy heran.
"Gak tau Tuan, tadi pingsan di teras," jelas Bi Ira.
Romy pun mengambil alih posisi untuk menopangkan kepala Sandra dipangkuan nya.
"Ma bangun, Ma. Liat siapa yang papa bawa." Romy menepuk-nepuk wajah Sandra. Sandra pun membuka matanya perlahan.
"Pa." Menata wajah suamiNya sendu.
"Liat Ma, Papa udah nemuin Ardan,bMa," tukasnya menatap kearah Gilang.
"Ardan, putraku." mengulurkan tangan pada Gilang.
"Ayo Gilang sini," ajak Romy. Gilang pun masih dengan heran menjongkokkan tubuhnya didekat Sandra. Sandra pun menyentuh pipi Gilang dengan senyum mengembang dari bibirNya yang pucat.
"Anakku, kamu Ardan," tilasNya. Gilang pun mengulas senyum pada Sandra meski tak dipungkiri raut wajahNya nampak bingung.
"Mama seneng nak, akhirnya kamu ketemu juga," UcapNya.
"Pa, Mama mau kasih tau kalau Vania diculik lagi," ungkapnya. Ia sangat lemas sembari menitikan air mata.
__ADS_1
"Apa? diculik lagi," sentak Romy kaget.