Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_85 Kekuatan Cinta


__ADS_3

Kini hari sudah berganti minggu, dan minggu berganti bulan, dan selama enam bulan, Vania lebih sering menyendiri dibanding kan biasanya yang super bawel.


Arga mengamati nya , dari balik pintu yang mengarah ke taman samping rumah. Di sana Vania menghabiskan waktu untuk melamun. Sampai saat ini pun Ia tak kunjung hamil lagi setelah musibah itu, semangat hidup nya mulai surut, tak ada senyum sedikit pun diwajahnya.


Puk!


Bayu menepuk pundak Arga, memberi sebuah kejutan kepulangannya sehabis dari New York selama enam bulan terakhir untuk urusan bisnis Ayah mertuanya.


"Bayu, kamu sudah pulang?" Tanya Arga saat menoleh.


"Adikku masih sering melamun rupanya, sabar, kita ke dokter nanti ya!" Ucap nya menatap kearah Vania berdiri.


"Aku sudah sering membawanya ke Dokter, tapi kata Dokter, memang sedikit sulit untuk bisa hamil lagi," jawab Arga. Perasaannya ikut terhanyut akan kesedihan Vania.


"Tidak a-apa, kamu yang sabar aja ya, aku yakin kok, adikku akan hamil lagi anak kalian," tutur Bayu.


"Kamu kesini sendiri?" Tanya Arga yang menelisik kebelakang Bayu.


"Tidaklah, aku bersama bidadari ku, diai masih menaruh makanan di dapur," jawab Bayu.


"Selamat ya Bay, kau akan jadi calon Ayah sebentar lagi!" Arga sudah mendengar kabar dari Vania waktu menelpon Bayu sebulan lalu.


"Ya Alhamdulilah, ayo kita hibur dia!" Ajak Bayu merangkul Arga mendekati Vania dari belakang.


"Woy, dek!" Sentak Bayu berteriak ditelinga Vania membuat nya terkejut.


"Ehk Kakak, apa yang Kakak lakukan?" Sungut Vania. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya.


Arga hanya terkekeh melihat tingkah Kakak beradik itu.


"Ngelamun aja kerjanya, kamu itu harus rilex Van, agar hormon jamu bagus," saran Bayu yang langsung merangkul Vania dan duduk disampingnya.


"Entahlah Kak, aku tidak punya semangat rasanya!"


"Sayang, itulah yang selalu kami pikirkan, kamu tahu?" Arga ikut duduk dan menggenggam tangan Vania dengan tatapan yang begitu lekat.


"Allah, masih ingin kita pacaran terus artinya," ungkap Arga.

__ADS_1


Tampa sadar, air mata Vania kembali turun, tentu Ia sangat sedih telah memusnahkan harapan keluarga besar nya untuk memiliki cucu, terutama Kakak Bram yang kini justru terbaring sakit.


"Maaf," ucapnya getir.


Arga pun memeluk istri kesayanganya itu dengan erat.


"Sayang, jangan pernah merasa terbebani ya, aku gak masalah kok, kalau memang kita gak akan punya anak nantinya, aku sudah sangat bahagia jika bersama kamu," ulas Arga.


Vania pun langsung melepaskan pelukan Arga.


"Tapi aku tidak, aku juga ingin punya anak seperti yang lainnya nya Kak," sentak Vania tak terima.


Salsa pun melingkarkan tanganya dileher Vania dari belakang.


"Jangan begitu, nanti kamu bisa kok ikut mengurus anak mbak," ucap Salsa. Kemudian.


"Mbak, mbak ikut kemari rupanya!" Tukas Vania.


Salsa pun menggantikan Bayu yang mengalah untuk berdiri m, apalagi istrinya tengah hamil empat bulan.


"Jangan sedih lagi ya, nanti Arga cari istri lagi lo," goda Salsa.


Vania pun terdiam.


"Gak papa kok Mbak, aku ikhlas kalau Kak Arga menikah lagi, agar Ia punya keturunan," tutur Vania kembali berkaca-kaca.


"Aduh, maaf Van, Mbak cuma becanda kok, Mbak tahu, Arga sangat tulus mencintai kamu, jadi mana mungkin dia berpaling ke lain hati kan?" Salsa pun menatap kearah Arga.


"Iya sayang, gak ada yang sebaik dan secantik kamu di dunia ini, bagaimana bisa aku menikah lagi," sahut Arga tang mengusap rambut Vania.


Namun Vania tak menggubris, Ia memilih untuk meninggalkan mereka yang menatap bingung dirinya.


"Aduh maaf Ar, Bay, aku salah bicara ya!" Tukas Salsa yang merasa bersalah.


"Enggak kok Sa, Vania emang mudah tersinggung sekarang, aku susul dulu ya," timpal Arga yang akhirnya mengikuti Vania.


"Maaf Bay," tukas Salsa lagi pada Bayu.

__ADS_1


"Gak papa gak usah difikirkan," jelas Bayu yang menyungging senyum dan mengelus perut istrinya.


"Semoga kelak, kamu jadi orang hebat ya nak," tukas Bayu.


"Iya Papa," jawab Salsa yang mewakili suara bayinya.


Bayu dan Salsa pun terkekeh.


Sesaat, Bayu pun terdiam.


"Tunggu saja Adiyaksa, ini baru di mulai," batin Bayu. Sorot matanya dipenuhi dendam yang membara.


***


Arga yang menyusul Vania masuk kekamar pun langsung memeluk Vania dari belakang.


"Sayang, kok gitu sih, kamu marah ya? sayang, aku hanya akan hidup sama kamu selamanya, tidak akan ada perempuan yang akan hadir di keluarga kita, kamu ngerti." Arga berusaha memberi keyakinan yang menurutnya perkataan Salsa membuat Vania takut.


Jatuh lagi, air mata yang mudah sekali menganak sungai di pelupuk mata Vania. " Kak, Mbak Salsa benar, alangkah baiknya kalau Kakak menikah lagi," jawab Vania. Sakit, itu yang Ia rasakan saat mengungkap semuanya.


"Jangan bodoh sayang, aku tulus mencintai kamu apa adanya, ada atau tidaknya anak ditengah keluarga kecil kita, kau adalah istriku satu-satunya."


Vania berbalik, kini Ia berada didepan arga dengan tatapan yang menusuk kearah Arga. " Aku sedih Kak, aku gak bisa ngabulin keinginan Kakek, yang mengharapkan seorang cicit dari kita, aku juga merasa gagal, gak bisa memberikan kamu anak, tentu kamu sangat menginginkannya 'kan," getir Vania.


Arga pun memeluk istrinya itu dan ikut meneteskan air mata.


"Dulu iya, tapi sekarang gak, kerena aku sadar, anak adalah titipan Allah, Van, jika iya belum memberikannya pada ku, aku bisa apa? aku gak memaksakan kehendak dengan menikah lagi, kalau pun aku ingin punya anak, yang ku mau adalah dari rahimmu, bukan dari perempuan lain," terang Arga. Arga sangat mencintai Vania, tak pernah terbersit sedikit pun Ia ingin berpaling, meski pun saat ini Fiona masih terus mengejarnya, tapi Ia menolak mentah-mentah kehadiran Fiona. Karena baginya saat ini, Ketulusan Cintanya pada Vania, tidak akan pernah luruh sedikit pun meski mereka tidak akan memiliki momongan selamanya.


Arga pun memegang kedua sisi wajah Vania.


"Tatap mataku, sayang, Aku mencintaimu sampai akhir kayat ku, ingat itu!"


Ia mengulang kembali ucapannya untuk meyakinkan Vania.


Vania pun menjatuhkan kembali kepalanya ke dada bidang Arga.


"Makasih ya Kak, aku percaya kok sama Kakak," ungkap Vania yang akhirnya merasa tenang dengan ucapan tulus Arga.

__ADS_1


__ADS_2