
Di kantor, tak seperti biasa Vino tiba-tiba melewati Ilman tanpa menyapa setelah dua hari tidak kekantor.
"Eh, Vin, Vino!" Panggil Ilman.
Tapi Vino tetap melangkah pergi, entah didengar nya atau tidak panggilan Ilman.
"Kenapa tu orang, ke sambet kali ya," gumam Ilman.
Ilman pun mengikuti Vino yang masuk mengendap-endap keruangan Arga. Membuat Ilman penasaran, dan ingin mengintip apa yang dilakukan Vino disana.
Vino sedang mencari sesuatu di meja Arga dengan wajah yang gusar.
"Sialan, dimana Arga menyembunyikan playdist hasil review yang akan digunakan untuk rapat nanti, aku harus merusaknya," oceh nya.
Tapi Ilman yang sedikit heran tak dapat mendengar jelas ocehannya.
(Apa sih yang dicari Vino, kenapa Ia terlihat gelisah) Batin Ilman bingung.
Vino yang memeriksa laci pun tiba-tiba melihat playdist itu lalu menukarnya dengan Playsdist yang lain.
"Apa yang dilakukan Vino? Kenapa Ia sangat mencurigakan?" Gumam Ilman yang penasaran melihat gerak gerik Vino.
Ilman segera bersembunyi setelah melihat Vino keluar dari ruangan Arga.
"Aneh, ada apa dengannya?" batin Ilman bertanya sendiri setelah Vino pergi.
__ADS_1
"Man!" Panggil Arga dari belakang.
"Eh Bang, Abang tadi bertemu Vino?" Tanya Ilman lirih.
" Enggak, kenapa? Vino sudah masuk?" Tanya Arga serius.
"Iya, tapi sikapnya sangat aneh, Ia seperti mencari sesuatu di nakas Abang," jelas Ilman.
"Ah, mungkin urusan kantor, udah biasa kok kalau dia keluar masuk ruangan ku," ulas Arga sembari tersenyum.
"Oh begitu rupanya, Maaf ya, Bang."
"Udah gak papa, oya kapan rapatnya dimulai?" Tanya Arga.
"Lima belas menit lagi, Bang," jawab Ilman. Sambil melihat kearah jam tangannya.
Ia masuk dan mengambil playdist di lacinya lalu membawanya bersama beberapa berkas.
Beberapa saat kemudian, mereka dan para kolega sudah berkumpul.
"Ini adalah playdist hasil dari sesuatu yang akan saya persentasi bentuk kerangka unik yang akan kita buat untuk membangun restaurant dipinggir laut," jelas Arga.
Para kolega mengangguk.
"Segera diputar Pak, saya penasaran dengan bentuk restaurant itu nanti," tukas Pak Leo dari PT, Mekar sari yang akan menjalin kerjasama dengan Arga.
__ADS_1
Playdist itu pun diserahkan pada orang yang akan memutar nya untuk ditonton dilayar besar.
Tiba-tiba kekacauan terjadi, playdist itu isinya adalah lagu-lagu disco.
Arga, Ilman dan yang lainnya tercengang.
"Astaga, apa-apaan ini Pak?" Sentak Pak Leo marah.
"Maaf, maaf Pak, sepertinya ada kesalahan," jelas Arga.
"Man, coba cari playdist lain diruangan ku!" Pinta Arga yang mengusap keningnya. Ia telah membuat dirinya malu.
"Baik Pak."
Selang beberapa menit Ilman pun membawa Playdist lainya, yang tidak tau isinya apa.
"Coba putar ini!" Pinta Arga.
Mereka kembali memutar namun yang muncul adalah monyet yang sedang melempar kulit pisang pada petani yang sedang mencangkul.
Pak Leo langsung berdiri, matanya tampak memerah kecewa. "Kau sedang main-main, Pak!"
"Maaf Pak, kemaren aku sudah menyiapkan semuanya dengan baik tapi kenapa begini?" Tukas Arga merasa bersalah.
"Sudahlah, aku tidak jadi menanam saham disini, ternyata anda tidak profesional dalam hal ini yang ada aku bangkrut nanti," jengah Pak Leo.
__ADS_1
"Mohon maaf Pak, tolong kasih kesempatan saya membuat desain ulang nya," melas Arga.
"Tidak usah, saya kecewa sama anda," tolaknya. Mereka pun pergi meninggalkan Arga dan Ilman.