
Nampak Arga menelpon Pak Bono yang mereka tinggalkan. Ia masih terlihat kesal dengan kejadian tadi.
"Pak! Bapak tadi kemana,Bapak pulang langsung aja Vania bersama saya sekarang,"tuturnya dalam telpon.dan langsung mematikan.
Vania terdiam,Ia tau pasti Arga marah dengan kejadian yang hampir saja menimpanya. Ia pun dengan berani memegang tangan Arga yang hanya dilirik Arga dengan dingin.
"Kak,kakak marah ya?"tanya Vania sedikit ragu. Namun Arga tak menyahutnya.
"Kak,Vania mintak maaf. Vania gak ijin dulu sama kakak tadi," ulasnya.
"Kan,sudah ku bilang gak usah keluar kalau gak sama aku,"bentak Arga. Vania pun kaget dan menangis sesenggukan tiba-tiba. Membuat Arga bingung.
"Kenapa menangis,aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-napa sayang.kenapa gak nelpon aku aja buat beli obat,"tukasnya Pelan saat melihat Vania nangis karna bentakannya.
"Maaf..hig...hig...,"tuturnya masih terisak.
"Maaf...aku tidak bermaksud membentak mu, sayang.aku cuma khawatir gimana tadi kalau kamu jatuh,"terangnya.
"Iya aku tau,aku memang salah...,"ungkapnya Vania mengaku.
Arga pun menghentikan mobilnya lalu mengusap air mata sang istri dengan tangannya.
"Udah jangan nangis,jelek tau,"ledek Arga.
"Ah,kakak...."rengek Vania.
"Kok sekarang cengeng ya biasa nya bales kok,"ledeknya lagi. Sembari menggoda.
"Iya...gak tau kenapa?aku kok mudah nangis sekarang?"tanya Vania. Memang benar Ia sangat manja akhir-akhir ini pada Arga.
Arga pun mengelus perut sang istri.
"Nak,jangan bikin mama manja dong,Papa lebih suka mama bawel kok,"tukas Arga. Lalu menatap wajah sang Istri yang begitu dekat. Entah mengapa matanya tertuju pada bibir sang istri yang indah itu.
Membuat Vania merasa ber desir dengan tatapan maut itu."cup",sebuah sentuhan hangat langsung mendarat dibibir Nya. Membuat Vania memejamkan mata. Melihat Vania memejamkan mata Arga pun tersenyum gemas dan menoel hidung sang istri membuat Vania membuka matanya ."masih aja malu-malu,"desis Arga lirih. Vania pun tertunduk malu.
Arga kemudian melajukan mobilnya kembali.
Namun disebuah kafe dipinggir jalan Arga melihat Bayu dan Fiona sedang mengobrol. Ia pun menepikan mobilnya kepinggir.
"Kenapa Kak?"tanya Vania heran.
"Liat itu,"tunjuknya pada mereka.
"Lo,itukan Bayu ma Fiona,Kak. Bukanya tadi dia kita tinggalin diapotik.kok udah disini aja,"tukas Vania bingung.
__ADS_1
"Mungkin lewat jalan pintas,Tapi apa hubungan mereka?"tanya Arga pada diri sendiri.
"Kak,Vania jadi takut sama mimpi Vania waktu itu,"ucapnya merasa khawatir.
Arga pun mengelus rambut Vania.
"Tenang sayang,tidak akan terjadi apapun sana kita."Arga menenangkan.
Arga pun menelpon seseorang.
"Man,Bayu kemana?"
"Keluar Bang,katanya ada urusan,"jelas Bayu dari sebrang.
"Oh..oke."
Arga pun menelpon lagi dan langsung terhubung.
"Vin,aku punya tugas!"
"Tugas apa bos?"
Arga pun tampak serius menceritakan semuanya.
"Oke Bos,"tukas Vino mengakhiri telpon.
Arga pun kembali melajukan mobilnya.
"Ada apa,Fi?aku kan lagi kerja kalau ketauan bagaimana. Untung Arga pulang tadi?"tanya Bayu.
"Iya aku ketemu tadi.Bay,pokoknya kamu harus cari rencana agar Vania sama Arga pisah secepatnya,"dengus Vania nenyilangkan tangan didada.
"Ya sabar dong Fi,aku juga tidak mau Vania berlama-lama sama Arga,"tukas Bayu.
"Gini Bay,aku punya rencana?"tukas Fiona memiliki ide.
"Rencana apa?" Tanya Bayu penasaran.
Fiona pun membisikkan sesuatu ke telinga Bayu,entah apa yang mereka rencanakan.
"Cemerlang,"seru Bayu.
Skiiippp......
Arga pun tiba dirumah.....
__ADS_1
"Ma ini obatnya diminum ya?"pinta Vania lalu menyodorkan obat dan segelas air putih.
Yang langsung diminum Sandra.
"Makasih ya ma,langsung kasih tau Arga tadi,"tukas Arga.
"Iya nak,maafin mama ya biarin Vania pergi tadi,"tukas Sandra.
"Iya ma,lagian ngapain sih sayang kamu gak bawa HP?"tanya Arga.
Vania pun menepuk jidatnya.
"O.h..iya lupa inikan HP aku ketinggalan tadi,"seringainya.meraih HP nya diatas meja.
"Iya tadi Arga nelpon kamu,jadi mama yang angkat,"jelas Sandra.
"O...,kak aku mau cerita,"tukas Vania yang mengingat tentang saudaranya.
"Apa!"
"Jadi...ternyata,aku punya saudara laki-laki,"tukas Vania sumringah sambil memegang tangan Arga.
"O ya?dimana sekarang?"tanya Arga penasaran.
Vania dan Sandra pun nampak sedih.
"Lo kok jadi pada Melo?"tanya Arga.Lagi-lagi dibuat bingung dengan perubahan sikap mereka.
"Kakak hilang,25tahun lalu,"ungkap Vania.
"Apa,hilang?benar ma?"tanya Arga memastikkan.
"Iya Ar,dia diculik.dan saat ini orang yang menculiknya ada dikota ini,"tutur Sandra sembari menitikkan air matanya.
Sandra pun menceritakan semuanya dari A sampai Z tidak ada yang tertinggal.
"Apa dia punya sesuatu untuk dikenali,ma?tanya Arga.
"Dia punya tanda lahir dipinggang belakangnya Ar,dan teakhir hilang ia memakai gelang seperti yang Vania pakai,"tunjuk Sandra pada gelang yang melingkar di lengan Vania.
"Gelang itu adalah gelang emas putih stanklis tidak akan berubah sampai kapan pun. Dan didalamnya terdapat ukiran nama mereka, ukiran itu hampir tak terlihat,dan gelang itu didesain sedemikian rupa hingga gelang itu tidak akan putus atau pun lepas dari tangan kecuali ada yang melepasnya..Ar"jelas Sandra.
Vania dan Arga pun memeriksa gelang itu Dan benar ada ukiran nama Vania yang hampir tak kasat mata dari penglihatan mereka.
"Iya ma ada nama aku,padahal aku gak pernah tau,"tilas Vania yang baru melihat gelang yang dipakainya. Gelang itu bisa diperbesar sesuai lingkar lengan Vania.
__ADS_1
"Aku akan bantu cari tau ma,"tegas Arga kemudian.
"Makasih ya nak,"tukas Sandra.