Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_88 Salah Paham


__ADS_3

Nisya loncat-loncat diatas kasur, hatinya berbunga-bunga saat Ia bertemu Ayah yang sudah lama dirindukan. Ia nampak tertawa lepas dibuatnya. Tari yang melintas di kamar Nisya pun merasa heran lalu memutuskan mengintip dari balik pintu.


"Aduh, senengnya,ternyata Papa ku masih hidup, itu artinya temen ku gak akan ngejek aku lagi kalau ada undangan untuk wali murid, itu artinya aku bisa ajak Papa." Nisya duduk dan memapah dagunya s3nyum-senyum sendiri.


Tari merasa senang melihat perubahan sikap Nisya yang semula banyak diam, sekarang sangat bahagia.


"Semoga Papa tidak membuat mu sakit hati ya ,Nak, kalau perubahan ini kamu alami, mudah-mudahan penyakitmu berangsur membaik," batin Tari.


Tari memutuskan meninggalkan Nisya dan tak mau mengganggu kebahagian yang Nisya nikmati saat ini.


Sesaat, Nisya mengingat pria yang di tabrak nya kemaren.


"O iya dimana kartu nama pemuda ganteng itu?" Nisya memeriksa tas mininya saat pergi ke kafe kemaren tak tidak menemukan kartu nama itu. "Mungkin disaku baju ku kemaren?" Gumamnya.


Nisya pun bergegas memeriksa baju yang masih tergantung di kamar mandi dan merogoh sakunya.


"Ini dia, Arga Gautama Wijaya, pemilik Hotel Arga Gautama yang terkenal itu.!" Seru Nisya melotot kaget. Ia tak percaya bertemu pengusaha sukses diusia muda.


"Ini dia ada nomer telponnya, siapa taukan jodoh, atau paling gak setelah lulus sekolah bisa kerja disana," decak Nisya penuh harap.


Nisya pun bergegas keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya disamping ranjang tempat tidur.


***


Arga meletakkan ponselnya diranjang setelah pulang dari hotel, hari itu Ia tak bertemu dengan Vino, Ia sendiri pun tak mau tahu lagi dengan keadaan Vino setelah tahu kalau Vino adalah saudara tirinya.


Arga bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang sudah menempel seharian.


Tak lama Vania pun masuk kekamar membawa baju yang sudah dilipatnya untuk di taruh dilemari, Kini Ia harus mengerjakan semuanya sendiri setelah Bi Mardiah kembali kerumah kakek Bram.


Saat sedang sibuk merapikan baju, Vania mendengar ponsel Arga berdering. Ia berusaha mengabaikan ponsel Arga, karena mungkin salah satu rekan bisnis Arga.

__ADS_1


Tapi ponsel itu terus berdering, sedangkan Vania masih mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Arga akan lama, dan Ia berpikir mungkin panggilan itu amatlah penting.


Vania pun mendekat dan terbelalak saat meraih ponsel Arga yang tidak ada nama nya. "Siapa orang ini? Apa sangat penting sehingga terus menelpon Kak Arga, aku angkat gak ya?" Ditengah kebingungan yang mendera, akhirnya Vania pun menerima telpon itu.


Belum sempat Vania menjawab, suara Nisya membuatnya mendadak gemetaran.


"Halo Kak, aku dah capek tauk nelpon dari tadi akhirnya diangkat juga. "


"Kaka pasti sibuk ya, seharian bekerja, aku mendadak inget saat kita tabrakan di kafe tadi, wajah Kakak terus terbayang di benak ku, Kakak ganteng banget deh." Nisya terus nerocos tampak memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menjawab


Vania langsung menitikan air mata dan tak sanggup menjawab, tampa menyadari ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh kekasur.


"Halo, Kak, halo! Kakak kok gak jawab sih, Kak, kapan-kapan ketemuan ya!"


Nisya tak dapat mendengar suara Arga, akhirnya memutuskan untuk memutuskan sambungannya.


Vania tak perduli lagi dengan ponsel itu, Ia terduduk lemas ditepi ranjang dan menangis sejadi-jafonya setelah tahu ponsel itu sudah mati.


Arga pun menghampiri Vania lalu duduk dibawah Vania berusaha menghapus air matanya, tapi Arga tak menyangka Vania langsung menepisnya dengan kasar dan langsung beranjak dari duduknya.


"Jangan sentuh aku, kalau mau nikah lagi, nikah aja!" Oceh Vania marah.


"Arga pun ikut berdiri dan bingung, Ia belum bisa menangkap ucapan yang dimaksud Vania.


"Maksud kamu apa sayang?"


"Jangan pura-pura gak tau kamu selingkuh kan?" Sungut Vania tang masih berderai air mata.


"Selingkuh? Selingkuh sama siapa? Jangan ngacok sayang, aku hanya mencintai kamu," terang Arga.


"Bohong, bilang saja kamu mau menikah lagi karena menginginkan keturunan 'kan? Dan Aku gak bisa ngasih kamu anak."

__ADS_1


"Astaufirullahal azhim sayang, jangan bicara begitu, aku gak pernah selingkuh." Arga mencoba merayu Vania agar tenang.


"Enggak, mana ada lelaki yang tahan dengan perempuan mandul kayak aku," ucap Vania yang terus menyangkal penjelasan Arga.


Arga pun merengkuh tubuh Vania agar tenang terlebih dulu, tapi Vania berontak dan memukul dada Arga dengan kesal.


"Tenanglah, tenang, apa yang kamu maksud aku gak ngerti?" Tanta Arga yang butuh penjelasan.


Vania pun mendorong tubuh Arga agar melepaskan pelukannya.


"Ada cewek yang ngajak kamu ketemuan, depan sana pergi temui dia!" Vania tak bisa lagi tenang dan memerintah Arga agar secepatnya menemui wanita itu, lalu meninggalkan Arga ditengah kebingungan yang mendera.


"Sayang, siapa yang kamu maksud? Aku gak selingkuh!" Teriak arga, tapi Vania tak menggubrisnya.


Arga pun kembali melihat layar ponselnya berdering.


Arga tertegun dengan nomer baru itu yang dilihatnya.


"Nomer siapa ini?" Gumamnya.


"Halo," sapa Arga setelah menggeser tombol hijau.


"Na, baru kedengeran, kenapa tadi aku ngomong panjang lebar gak dijawab sih Kak? Gimana pertanyaan aku, bolehkah kita ketemuan?" Tanya Nisya dari sebrang.


"Jadi ini penyebabnya," batin Arga setelah paham.


"Ini siapa?"


"Aku Nisya Kak, yang mintak nomer Kakak saat tabrakan di kafe kemarin."


Arga pun berusaha mengingat kejadian kemaren.

__ADS_1


"Bagaimana Kak? Aku kagum sama kegantengan Kakak," tanya Nisya.


__ADS_2