
Sekembalinya dari pemakaman Arga dan Vania langsung membersihkan diri. Ia meminta Vania untuk istirahat terlebih dulu, mengingat kondisinya yang juga belum terlalu baik.
"Sayang, tidurlah. Aku akan membuat makanan untuk kita," ujar Arga.
perhatian penuh berusaha Ia berikan untuk Vania walaupun hatinya dipenuhi rasa kecewa setelah mengetahui identitasnya.
"Kak, Bu Mardiah kemana? Kenapa Kakak yang harus memasak?" Tanya Vania yang sedang diselimuti Arga.
Arga duduk disamping Vania dan mengusap-usap tangan Vania yang digenggamnya dengan jari jemarinya.
"Aku sudah memecatnya," jawab Arga. Wajahnya terlihat sangat pelik.
"Dipecat?" Vania sedikit kaget.
"Bukan dipecat, tapi ku kembalikan kerumah Mama," jelas Arga.
"Sayang, Kakak tidak mau memakai uang dari Papa lagi, Kakak harus membagi dua terlebih dahulu hasil dari Hotel yang Kakak dirikan sejak Nol, karena bagaimana pun Hotel itu berdiri separuh biayanya adalah bantuan dari Papa," jelas Arga lagi.
Vania menatap dengan rasa kasihan, Ia tahu Arga pasti masih merasa syok dengan keadaan ini.
"Kak, sabar ya, kita tidak bisa kan memilih pada siapa dan bagaimana kita dilahirkan." Vania berusaha menenangkan.
"Kamulah yang harus tenang sayang, karena kita baru saja kehilangan Mama," tukas Arga sembari tersenyum.
"O ya aku sudah menelpon Pak Rt untuk mengadakan pengajian dirumah dan mengundang tetangga kita," imbuhnya.
Vania mengangguk menurut saja apapun mau suaminya itu. Karena Ia yakin Arga lebih paham untuk mengurusnya.
Arga turun kebawah dan memasak di dapur dengan menu kesukaannya. Bayu yang melihatnya pun langsung menghampiri.
"Ga!"
"Hm?"
"Apa aku sangat jahat?"
"Sangat." Masih memetik daun kemangi.
"Aku menyesal." Menampakkan guratan wajah sedih.
"Terlambat."
__ADS_1
"Kau benar, aku tidak bisa mengubah takdir."
"Kau harus mengakui sesuatu pada Papa," ujar Arga seraya Menggoreng bebek yang sudah direbus.
"Soal?"
Arga menatap wajah Bayu yang menuang air minum.
"Istrimu."
"Heh, istri? aku tidak mencintainya, oh bukan tapi belum," jengah Bayu tertawa.
"Maksud mu?"
"Dia memohoh bantuan dengan pura-pura menjadikan aku pacar nya seharga lima juta."
"Apa? Kenapa bisa?" Arga nampak terkejut lalu mengangkat bebek goreng yang sudah masak dari kuali.
"Dia mengajakku datang menemui orangtuanya, lalu orang tuanya minta aku menikahinya," jelas Bayu lalu duduk dan meneguk tandas minuman yang dituangnya tadi.
"Tapi dia cocok dengan mu."
Bayu mengangguk mengerti.
"?"
"Tolong jangan kasih tahu dulu sama Papa, aku tidak tahu kapan pernikahan ini akan bertahan, aku takut gadis itu hanya memanfaatkan aku karna kondisinya yang putus asa."
"Gak janji," sungut Arga.
"Terserahlah, kalau kau perduli sama kakak ipar mu tentu kau akan membantu." Bayu tak menggubris jawaban Arga lalu berdiri memperhatikan hasil masakan Arga.
"Bebek goreng, itu apa?" Tanya Bayu yang melihat Arga membuat sambel kemangi.
"Lihat saja!"
"Kayaknya enak?"
"Favorit."
"Tak disangka suami adikku pandai masak rupanya." Bayu pun menguntit secuil bebek goreng untuk mencicipinya.
__ADS_1
"Apa rencana mu?" Tanya Arga.
"Membalas."
"Hati-hati."
"Tenang, aku akan melakukannya secara halus."
"Baguslah."
Setelah selesai bergelut di dapur dan obrolan panjang, mereka pun menyiapkan makanan dimeja.
"Bay, Ga" sudah siap ya?"
"Iya Pa, ayo duduk!" Arga menpersilakan.
"Arga panggil Vania dulu," tukasnya lalu pergi meninggalkan mereka menuju kamar.
"Bayu, Papa senang akhirnya bisa makan bersama kamu," ujar Pak Tomy menatap penuh keseriusan.
"Iya Pa, Papa tenang saja, kita akan kembali kerumah kita yang dulu," tegas Bayu.
"Jangan memaksakan karena itu sangat sulit."
"Iya Pa, Bayu mengerti akan hal itu.
Tak lama Arga dan Vania muncul. Mereka segera duduk berkumpul.
"Rasanya kurang lengkap," keluh Vania. Ia menatap satu buah kursi kosong disana.
"Ikhlaskan, jangan diingat-ingat lagi, doakan saja semoga Mama kalian ditempatkan ditempat yang terbaik," tutur Romy.
"Aamiin."
"Oya Kak, Kapan Kakak bawa Is_?"
"Nanti," Potong Bayu.
"Is..., Is apa?" Romy merasa penasaran
"Gak papa Pa," ulas Bayu. " Ayo makan sepertinya enak!" Ajak Bayu mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Membuat Vania merasa bingung.
Mereka akhirnya menyantap Makanan itu bersama-sama. Tanpa ada pembicaraan lagi diantara mereka.