Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_100 Pengorbanan Arga


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah sakit, Arga membantu merebahkan Vania diranjang. Tubuh Vania nampak masih sangat lemah tapi Ia memaksa untuk pulang. Karena katanya ada bersama Arga adalah obat yang paling mujarab untuk melewati fase hamil muda.


Arga mencium kening Vania hingga sangat lama, Ia tidak ingin wanitanya itu merasakan kesulitan sedikit pun terutama pada kehamilannya yang pernah mengalami keguguran.


"Tidurlah, Sayang. Aku akan akan menjaga mu." Arga menyelimuti tubuh istri kesayangannya, takut nyamuk datang menggigit.


Arga hendak beranjak tapi Vania menahan lengannya, sayu matanya menatap dalam netra Arga. "Kakak, aku mau dipeluk. aku gak mau jauh dari Kakak." Wanita itu penuh permohonan.


arga tersenyum kecil.


"Kakak tidak kemana-mana, Sayang. kakak hanya ingin mengambilkan makanan untuk mu kau tunggu sebentar ya." Arga mengusap pucuk kepala Vania sesaat lalu bergegas menuju dapur.


Memasak sesuatu yang Vania sukai dengan tangannya sendiri, sangat menyenangkan perasaannya Mengingat sampai saat ini Arga belum lagi merekrut pembantu setelah Bi Mardiah kembali kerumah orang tuanya.


Sekitar tiga puluh menit, capcai kangkung dan satu potong ikat nila goreng tersaji. Hanya itu yang ada di kulkas untuk menjadi santapan mereka saat ini.


Arga kembali kekamar dengan sepiring nasi dan secangkir air putih. Vania tersenyum melihat kedatangan Arga dibalik bibirnya yang pucat.


"Ayo Sayang, duduk dulu. Kau harus mengisi perut agar kamu san dedek bayinya sehat."


Vania mengangguk dan duduk memangku tangan, dengan telaten Arga menyuapi istrinya itu hingga suapan ketiga.


"Hoek...." Nampaknya Vania masih mual.


"Apa kau mau muntah, biar ku bantu kebelakang," tawar Arga khawatir.


Vania menggeleng.

__ADS_1


"Oke, kau yakin?"


"Iya Kak, Vania baik-baik saja," jawab Vania.


"kalau begitu lanjut lagi ya?" Arga menyuapkan lagi.


Beberapa sendok lagi masuk kemulud nya, Vania kembali mual lalu mendorong piring Arga.


"Hoek..., maaf Kak. Sudah cukup."


Arga paham, kondisi ini harus membuat nya ektra perhatian dan lebih baik lagi untuk menjaga Vania.


"Ya sudah, ayo minum dulu." Arga benar-benar tidak membiarkan istrinya bergerak lebih banyak.


Usai meletakkan gelasnya keatas meja, Arga mematut tatapan kearah Vania lalu duduk ditepi ranjang menggenggam erat tangan istri tercintanya.


"Iya Kak Arga, jangan khawatirkan aku. Aku akan berusaha semampu ku untuk menjaga anak kita. Kamu jangan berlebihan gitu dong.


"Aku hanya takut."


DRRRRT!


"Biar aku angkat dulu.


Arga merogoh ponselnya.


"Iya, Man. Ada apa?"

__ADS_1


"Hem? Kau serius?"


"Oke baiklah, makasih informasinya."


🌱🌱


"Kenapa, Kak?"


"Ilman melihat Papa dan mantan istrinya di KUA saat melewati tempat itu.


"Apa? Maksudnya?"


"Aku khawatir dengan Mama, Sayang. Apa Mama tau akan hal ini?"


"Coba kau hubungi Mama Mutia, Kak."


"Iya, Sayang.


Tut! Tut!


Tidak ada jawaban.


"Apa yabg harus kulakukan, Sayang. Aku gak mungkin ninggalin kamu sendiri dalam kondisi sepertimu ini."


"Itu sangat penting Kak. Kakak pergi saja, aku akan baik-baik kok disini.


"Tidak, Sayang. Biarlah jika itu sudah jadi kehendak Papa. Aku tidak mau ikut campur. Jika sampai Mama Mutia mengalami kesulitan karena ini aku tidak akan memaafkan dia," tandas Arga. Hatinya benar-benar dongkol.

__ADS_1


Malam itu, Arga tidak bisa tidur dengan nyenyak Ia memikirkan nasib wanita yang telah melahirkan dirinya. Sedangkan Kakek nya Bram mungkin juga tidak mengetahui itu.


__ADS_2