
Melihat Vania yang berjalan oleng Arga berinisiatif menggendongnya kekamar.
"Ya sudah kalau gak mau kerumah sakit tapi kamu harus makan ya," pinta Arga sembari menyuapi.
melihat daging Ayam di sendok itu Vania kembali merasa mual.
"Hoek..., maaf, Yang. Aku gak mau daging ayam itu tolong singkirkan aku mau muntah," tolak Vania mendorong piring Arga.
"Kenapa? ya udah kamu mau makan apa biar aku buatin atau aku beliin ya?" tawar Arga sedikit khawatir akan kondisi Vania.
"Aku gak mau makan apa pun," tolak Vania lagi sembari manyun dan merebahkan diri diranjang.
Arga terdiam sejenak menatap Vania.
"Oke, tapi kalau nanti mau makan panggil aku ya, aku mau kebawah dulu sebentar."
"Iya, pergi saja," ketus Vania memalingkan wajahnya memeluk guling.
"Mmm, panggil apa coba?" goda Arga mencubit pipi Vania.
"Iya, aku akan panggil Kakak mulai hari ini," sungut Vania malas.
"Okelah, itu lebih baik dari pada kau panggil namaku," pungkas Arga mencium kening Vania lalu keluar membawa piringnya dan itu hanya di angguki oleh Vania.
Vania membuka ponselnya ia terpantik pada sebuah gambar iklan resep makanan ikan gurame pedas campur kemangi.
Seketika ia meneguk air liurnya.
"Kenapa makanan ini tampak nikmat sekali ya? pasti aku bisa menghabiskan banyak kalau makan?" gerutunya ngedumel. "Kira-kira Arga mau gak ya beliin ini?" Vania memaksa turun kebawah untuk menemui Bik Aah.
"Bi, Bibi bisa masak ini, nggak?" tanyanya menunjukkan ponselnya pada Bibi.
"Ikan gurami pedas campur kemangi?" tukas bibi mengernyit membaca itu. "Wah, maaf Non ini ma Bibi gak bisa, walaupun bisa pasti tak sejago seperti pembuatnya karna ikan gurame pedas campur kemangi memang khas banget, Non," tambahnya meyakinkan.
"Masak Sih Bibi gak bisa? aku mau makan ini, sekarang?" rengek nya sedikit kecewa.
Tak disadari nya Arga tengah berdiri dibelakangnya dan melihat iklan di ponsel itu.
"Ayo dong Bi masakin, aku bantuin deh," pintanya memegang tangan Bi Aah. Bi Aah jadi bingung apalagi ada Arga disana.
Arga menyentuh kedua pundak Vania dari belakang membuat Vania memutar tubuhnya seketika.
"K...kak?" sontaknya cengengesan.
__ADS_1
"Kenapa memaksa Bibi? kalau Bibi gak bisa kan, bisa mintak beliin sana aku, Satang?" tutur Arga menatap Vania dengan lekat.
"Ya udah, kamu dirumah saja ya, biar aku keluar sebentar," pinta Arga hendak pergi berniat membelikan keinginan Vania.
"Gak mau, aku mau ikut kalau kamu yang pergi," rengek lagi menggelayuti Arga.
"Tapi kamu masih sakit, sayang?" Arga menatap wajah sang istri masih sangat pucat.
"Vania, mau ikut kejana? kan masih sakit, sayang?" sahut Mama Mutia yang baru muncul dan mendengar percakapan mereka.
"Aku bosen dirumah, Ma," timbal Vania manyun.
"Arga mau kemana emang, Nak?" tanya Mutia penasaran.
"Vania mau makan ikan gurami pedas, Ma," jawab Arga masih bingung pada Vania antara di izinkan atau tidaknya ikut.
"Ooo... ajak saja kalau begitu," ucap Mutia kemudian.
"Tapi Aa,Vania kan_?"
"Tidak Ma, aku udah baikan kok," timbal yakin seyakin-yakinnya.
Arga melirik Vania dan memastikan. Ia sebenarnya tahu kondisi Vania tidak baik tapi Ia juga tak ingin sang istri kecewa jika tidak diperbolehkan ikut.
"Yakin, kamu kuat, sayang?" tanya Arga memastikan.
"Ya udah Ma, kita pergi dulu ya!" pamit Arga sembari menggandeng Vania.
"Dah Ma," yukas Vania melambaikan tangan.
"Ya hati-hati dijalan," pesan Mutia antusias.
Tak lama Kakek muncul dari belakang.
"Mereka mau kemana, Mut?" tanya Kakek penasaran sembari memegang tongkat kayu kesayanganya.
"Mau cari makanan, Pa," jawab Mutia tersenyum menimpali sang mertua.
"Lo, katanya Vania sakit kok keluar sih?" tanya Kakek lagi.
"Biarin aja Pa, mungkin ia pengen banget makanan itu dari pada gak makan kan kasihan"," jawab Mutia. Kakek Bram mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Sesampainya dicafe tempat iklan itu dibuat. Arga dan Vania turun dari mobil.
__ADS_1
"Ini adalah tempat pembuat asli iklan yang kamu lihat tadi, Sayang," ungkap Arga memberi tahu.
"O ya, wah berarti aku akan memakan langsung dari pembuatnya," ucap Vania senang.
Arga bahagia, wajah Vania mulai kembali Cerah dan tak sepucat tadi. Arga melingkarkan tangan ke pinggangnya memberi isyarat agar Vania menggandengnya.
Vania dengan gembira menyahutnya. Ia tak menyangka, jika ia akan makan sesuatu yang membuat ia berulang kali menelan liurnya dengan suaminya.
Mereka disambut oleh Pak Bembi manager kafe.
"Siang Pak, sudah lama tidak berkunjung ke kafe?"
Arga menyambut uluran tangan sang manager. "Iya maklum aku sangat sibuk, Om," timbal Arga seraya tersenyum.
"Tentu saja orang tersohor seperti Pak Arga sangatlah sibuk mengurus perusahaan sana sini," puji manager itu.
"Bapak bisa saja," balas Arga.
"Silahkan duduk disini Pak, ini istri Bapak ya?" tanya Pak Bemby mempersilahkan mereka duduk.
"Iya," jawab Arga.
"Hallo Pak," sapa Vania.
"Hallo juga Mbak, oya kalian mau makan apa?" tanya Pak Bemby.
"Istriku mau ikan gurame buatan istrimu, Pak," lugas Arga.
"Oh siap istriku akan buatkan spesial untuk Mbak...?" ucap Pak Bemby.
"Vania," sahut Vania. Pasi Pak Bemby lupa padanya.
"Oh iya mbak Vania, tunggu sebentar ya?"
Manager itu segera pergi. Tak lama Ilman dan Bayu masuk kerestaurant bertepatan jam makan siang.
Bayu terpana melihat Vania dan Arga dan Arga ada disana.
"Sayang, kamu udah baikan?" tanya Arga menggenggam tangan sang istri.
Vania mengangguk dengan senyum indah yang selalu menghiasi wajah cantiknya.
Bayu menyenggol tangan Ilman dan mengisyaratkan dengan tatapannya kearah Arga dan Vania.
__ADS_1
"Wah kebenaran ni,bayo kita ikut bergabung!" ajak Ilman. tentu saja Bayu tak akan menolak ajakan itu.
"Hai Bang , Mbak!" sapa Ilman.