Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_16 Kejutan Untuk Arga


__ADS_3

Arga menaiki mobil sport nya dengan kecepatan tinggi menuju rumah pribadinya. Hatinya tak karuan kala mengetahui Vania tengah sakit.


"Vania lagi sakit, kenapa dibiarkan sendirian sih Pa, Ma," gerutunya mempercepat lajunya. Tiga puluh menit kemudian ia sampai di halaman rumah lalu turun dari mobilnya.


Arga mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Ia juga mengucap salam tak juga terdengar jawaban.


"Busyit.. Kok gak ada jawaban sih apa terjadi sesuatu sama Vania," umpatnya dengan kesal. Ia pun mendorong dengan paksa tapi ternyata pintu itu dengan mudah ia buka d


bahkan suasana dalam rumah sangat gelap.


"Apa? kenapa gak dikunci?" tukasnya Arga terheran-heran.


"kenapa lampunya mati sih? apa Vania tidak kuat lagi untuk bangun menghidupkan lampu?" gerutunya terus mengiceh. Perasaanya makin gelisah. Ia pun merogoh sakunya.


"Ahk, sial. handphone aku kan aku letakkan dimeja makan tadi pakek ketinggalan segala lagi," umpatnya lagi kesal akibat kecerobohan nya.


Arga meraba-raba didalam kegelapan hingga segala benda ditabraknya.


"Aduh, Sial kenapa kursi itu ada dijalan sih?" Arga mengeerang kesakitan Kesal saat kakinya menabrak kursi.


"BI, Bi Mardiah. Van,Vania!" panggilnya masih berusaha terus melangkah tetap tidak ada jawaban.


Tiba-tiba lampu diruang tengah berkedip-kadip menambah kekhawatiran Arga.


"Kenapa lampunya berkedip-kedip? baru sebulan aku tinggal kenapa rumah ini serasa horor sih?"


Arga menemukan anak tangga. Saat hendak naik tiba-tiba sebuah layar menyala di dinding mengejutkan Ia.


Itu adalah tampilan foto-foto Arga masih bayi hingga dewasa. Dimana ada juga vidio saat dirinya dirayu Mama Mutia untuk makan.


Arga tertegun dan tertawa sendiri.

__ADS_1


"Ternyata aku sangat lucu ya waktu masih bayi," gumannya setelah layar itu padam.


"AstaufiruLlah, ada apa ini? Van,Vania kamu dimana?" ucapnya terus melangkah kekamar masih khawatir mengingat Vania sedang sakit. Di tambah banyak kejadian yang membingungkan nya tapi tak terfikir olehnya dari mana foto-foto itu muncul.


Kreekek!


Dibuka nya pintu kamar lagi-lagi ia terkejut.


Terdapat lilin-lilin kecil berjejeran indah dilantai dan ditengahnya bertaburan bunga mawar melambangkan hati.


Kamar itu dihiasi dengan cantik diantara cahaya lilin-lilin yang dan ada meja makan disana dengan segala rupa masakan lezat tentunya juga lima buah lilin yang meneranginya.


Arga terharu kala menyaksikan ruangan kamar yang begitu nampak romantis dan semerbak wewangian menyengat hidungnya.


Hatinya merasa bahagia berharap kejutan ini dari istri yang dicintainya. Ia tersadar lagi kala tak melihat Vania di ruangan itu.


"Van, Vania kamu dimana? jangan buat aku khawatir!" teriaknya memanggil Vania. Disibak nya pintu kamar mandi namun tak ada.


"Kemana dia?" tanyanya pada dirinya sendiri. Arga membalikkan tubuhnya.


"Vania", lirih Arga kagum.


Senyum Vania mengembang begitu manis membuat jantung Arga seketika berloncatan.


Vania pun melangkah mendekati Arga yang masih ternganga. Arga tak dapat berkedip memandang wajah Vania yang di moke over begitu sempurna. Aliran darahnya seakan menjalar seperti tersengat listrik berkumpul menjadi satu di daerah dadanya manakala Vania semakin mendekat semerbak bauk wangi dari tubuh istrinya menaikkan gairah nya.


Vania meraih tangan Arga dan mencium punggung tanganya. Lalu menarik Arga duduk dimeja makan bersama tampa sepatah kata pun dari keduanya. Arga mengikuti keinginan istrinya matanya masih menatap lekat wajah Vania menyiapkan makanan di piringnya.


"Ayo makan, tadi Mama nelpon, katanya kamu belum makan dari sana!" ucap Vania. Gegas Vania melahap makanan miliknya.


Sedang Arga masih terdiam bingung dengan kejutan itu.

__ADS_1


"Van, apa kamu tidak sakit?" tanya Arga membuka suara disambut senyuman oleh Vania.


"Menurutmu?" tanyanya menyeringai.


"Kulihat kau baik-baik saja," jawab Arga mengamati Vania.


Vania mengangkat kedua bahu mu.


"Makanlah lebih dulu aku akan menjelaskanya setelah kau selesai makan," tukas Vania kemudian.


Akhirnya Arga pun terdiam dan mengikuti keinginan Vania.mereka makan malam romantis ditemani lilin-lin kecil itu sampai selesai.


Setelah selesai membereskan semua makanan dimeja makan Vania pun kembali kekamar. Sedang Arga masih tertegun melihat hiasan inisial hati yang bertabur bunga diantara lilin-lilin kecil itu.


Arga beranjak ketika Vania menghampirinya. Dipegangnya kedua lengan Vania dan ditatapnya sedalam mungkin.


"Van, kau berhutang penjelasan padaku. Tentang apa yang sudah kalian rencanakan telah menipuku," tutur Arga serius.


"Menipu?" tanya Vania seraya terkekeh.


"Ya Mama, Oapa dan semua bilang kalau kau sakit hingga membuatku tak tenang," jelas Arga.


"Em...begini, Ga. Aku dan yang lainya ingin membuktikan kalau kau sebenarnya bersungguh-sungguh atau tidak soal perasaanmu padaku," jawab Vania.


"kenapa begitu?" tanyanya bingung.


"Karena kau ingin meminta jawaban atas permintaanmu sebelum pergi, oleh karna itu, aku juga butuh pembuktian," ulas Vania.


"Pembuktian, pembuktian apa?" tanya Arga dengan nada bingung.


"Bukankah sebelum aku menjawab, aku juga butuh kepastian dari mu dulu?" tanya Vania balik.

__ADS_1


"Lalu bukti apa yang kau mau?" tanya Arga penasaran.


"Aku sudah mendapat jawabannya, ketika kau mengetahui aku sakit," jawabnya lagi disertai senyuman menawan.


__ADS_2