
"Ada apa sih rame-rame ngobrol di dapur?" tanya Dana yang ikut bersuara. Ia sudah siap kekantor.
"Gak papa Pa, Mama cuma berharap saja jika kita akan segera menimang cucu," tukas Mutia tak mau terlalu menekan Vania.
"Van, nanti kalau sakit mu tak kunjung sembuh bilang Kakek ya. Biar nanti kita panggil dokter kerumah," tukas sang Kakek.
"Iya Kek,"
Dikamar hotel .....!!!!!
Tampak Ilman sedang Vidio call dengan Adel ia sudah menggunakan kemeja dan celana dasar untuk bekerja..
"Hallo, Bang?" sapa Adel dengan senyum manisnya
"Hai Del, gimana kabarmu?" tanya Ilman.
"Alhamdulilah sehat Bang, Abang gimana?" tanya Adel balik.
"Alhamdulilah sehat juga, tapi kayaknya hati dan pikiran Abang yang gak sehat," tutur Ilman mencoba menggoda dengan ungkapan.
"Apa? Abang sakit?" tanya Adel sedikit menunjukkan mimik panik.
"Iya, sakit karna rindu sama Adel," gombal Ilman.
"Ahk Abang. Adel juga kangen kok," timbal Adel nyengir.
"Iya, sabar ya Del. Abang akan berusaha disini untuk Adel," pesan Ilman.
"Iya Bang, Adel akan setia nunggu Abang disini, Abang jangan lupa makan ya kalau sibuk," balasnya.
"Ya, ya udah Abang pergi kerja dulu, ati-ati ya disana titip Ayah sama Ibu," pesan Ilman
"Insya Allah bang, Adel akan sering jenguk."
Ilman memutuskan sambungan. Ia bergegas pergi kekantor.
__ADS_1
Di sebuah taman tampak Bayu dan Ilman sedang mengobrol.
"Apa yang harus kulakukan Bay, kayaknya Arga benar-benar sudah melupakan aku karna wanita sialan itu," ketus Fiona.
"Eh, enak aja Yang sialan itu mantan mu bukan Vania," tukas Bayu melotot tak terima Fiona mengejek Vania.
"Iya ya maaf, terus rencana apa yang kamu punya?" tanya Fiona.
"Aku sulit mendekati Vania, soalnya dia tinggal dirumah Arga yang dijaga ketat orang-orang dirumahnya."
"Kok kamu tau, bukannya kamu belum pernah kesana?" tanya Fiona heran.
"Ya taulah aku selalu mematai rumah besar itu penjaganya saja ada empat orang," delik Bayu.
"Terus gimana caranya kita hancurin hubungan mereka?" tanya Fiona.
"Kamu pepet aja terus si Arga, biar Vania jadi urusan ku tapi ingat Arga dan Vania jangan sampai tau kalau kita ada hubungan," pesan Bayu mengingatkan guna berjaga-jaga.
"Oke beres."
Mereka sudah berkumpul untuk sarapan sedang Vania masih belum melahap makanan didepannya.
"Ha, hari ini kamu mau kekantor atau kehotel?" tanya Dana.
"Aku harus ke hotel dulu Pa, ,kasihan Vino menghandle semuanya sendiri."
"Baiklah yang penting, kamu harus fokus agar bisnis kita berkembang lebih baik lagi," pesan Dana.
"Iya, Pa."
(Aduh kenapa daging ayam ini bikin aku mual sih liatnya, tapi aku harus tahan nanti mereka panik lagi) batin Vania.
"Ga, kamu jangan sore-sore pulangnya," pesan kakek.
"Kenapa Kek?" tanya Arga serius.
__ADS_1
"Tadi Vania mual lagi, tapi tenang aja Mama akan jagain mantu mama kok."
Arga mengelus rambut Vania dan memperhatikan piringnya yang masih belum dimakannya.
"Kamu mual lagi sayang?" tanyanya ia melihat daging ayam itu dan teringat akan tolak kan Vania saat hendak disuapi nya karena merasa mual melihatnya.
"Oh, kamu pasti mual ya liat daging ayam ini kalau gak suka kenapa diambil, hmmmm?" tanya Arga mengernyitkan dahi.
"Apa, jadi Vania mual liat daging ayam ini. Maaf ya tadi Mama yang ambilin," tukas Mutia. Ada perasaan bahagia dan yakin kalau menantunya benar-benar sedang mengandung.
Vania tersenyum menyeringai.
"ya udah, makan sayur nya aja," kata Arga.
Vania menggeleng.
"Kenapa, nanti kamu makin sakit lo?"
"Aku gak pengen makan," tolaknya nyengir lagi.
"Ya udah kamu mau makan apa biar aku nanti beliin sepulang dari kantor?" tanya Arga.
"Gak usah gak papa, nanti kalau aku merasa baik kan aku akan makan kok. Gak usah berkebihan," timbal Vania.
Setelah selesai sarapan. Papa Dana pergi kekantor dan Arga pergi kehotel. Hari itu Kakek tidak mengunjungi anak yatim ia utuskan untuk duduk sampai ditaman belakang. Sedangkan Mutia dan Bibi pergi kepasar sebentar.
Mutia melihat ada buah mangga muda yang enak dipasar. Ia berinisiatif untuk membeli buah mangga itu. "Buah mangga nya bang sekilo?" tukas Muria.
"Oke, Bu."
"Tumben, nyonya beli buah mangga?" tanya bi Aah.
"Pengen Bi, udah lama banget gak makan," jawab Mutia.
"Oooo...."
__ADS_1
Vania masih memegangi perutnya mualnya belum juga reda sedari tadi. "aduh, kenapa mual banget sih? kayaknya enak makan yang pedes-pedes atau yang asem-asem gitu?" keluhnya. Ia pun beranjak dari halaman belakang untuk mencari tukas Batagor kesukaannya tapi tak kunjung lewat. Biasanya tukang batagor itu tiap hari lewat didepan rumah tapi ia tak pernah membelinya. Terakhir yang ia ingat adalah saat ia membeli batagor waktu berlibur ke vila.