Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_40 Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Pakaian Arga nampak kusut dan penampilanya sangat berantakan sekali-kali Vino meliriknya lewat kaca spion.


"Kita kemana, Bos?" tanya Vino sembari pokus mengendara.


"Kita kerumah sakit Vin, aku takut dengan kondisi Vania karna akhir-akhir ini dia sering sakit," pinta Arga seraya menelan salivanya.


"Baik, Bos," timbal Vino mempercepat laju mobilnya.


tampak sekali raut wajah khawatir Arga. Ia mengusap-usap rambut Vania dan mengelus pipi halus itu. Tak lama ponselnya berdering.


"Hallo, Kek," timbalnya pelan.


"Arga, apa benar Vania diculik,ha? gimana keadaanya apa sudah ditemukan?" tanya Kakek panik.


"Iya nak, bagaimana dengan nasibnya?" sahut Sandra ibu mertuanya.


Mereka semua sedang berkumpul dirumah.


Termasuk Romy dan Dana yang pulang lebih awal dari kantor.


"Kek, Ma, semuanya tenang ya, Vania udah ketemu kok dan sekarang sama aku. Dia pingsan sekarang kita dalam perjalanan kerumah sakit," jawabnya memberi pengertian.


"Rumah sakit, rumah sakit mana?" tanya Sandra lagi di ponsel yang dipegang Kakek.


"Rumah sakit Kasih Ibu, Ma."


"Ayo, ayo kita susul!" ajak Sandra tak sabar setelah sambungan terputus.


Arga dan Vino tiba dirumah sakit. Arga segera menggendong Vania.


"Tolong Dokter, Suster, istri saya pingsan," teriak Arga dengan panik disambut perawat lalu dibaringkan diatas ranjang pasien.


Vania dimasukkan keruang rawat.


"Tolong Dok, tolong!" pinta Arga.


"Tenang Pak, semoga istri bapak tidak apa-apa," kata Dokter seraya menutup pintu.


"Kurang ajar Bagas beraninya dia menculik Vania lagi. Kalau sampai istriku kenapa-napa ku buat kau membusuk dipenjara, Bagas," gerutu Arga amarah berapi-api.


"Sabar, Bos," tenang Vino yang melihat Arga gelisah.


Selang beberapa menit kedua keluarga besarnya tiba. Tampak Sandra sangat menghawatirkan putri semata wayang nya itu.


"Arga, bagaimana keadaan Vania nak, apa dia baik-baik saja?" tanya Sandra khawatir.


"Iya Ma, Mama tenang ya?" timpal Arga memegang kedua lengan ibu mertuanya yang sudah berderai air mata.


"Apa yang terjadi, Ga. Hingga Vania diculik?" tanya Kakek heran.

__ADS_1


"Seharian ini ada yang jebak dan neror Arga, Kek. Makannya Arga sampai lalai menjaga Vania," ungkapnya.


"Siapa yang sudah menculik Vania, Ga?" tanya Romy penasaran.


"Bagas Pa, dia ingin menikahi Vania. Tapi untung kami datang tepat waktu," jelas Arga.


"Berarti menantuku dalam bahaya sekarang," tutur Mutia.


"Kalau begitu kalian dirumah saja nak, jangan tinggal sendiri bahaya untuk kalian," saran Sandra.


"Sebaiknya kita lapor polisi saja," saran Dana.


"Gak perlu Pa, Bagas sudah di tahan di kantor polisi sekarang," larang Arga.


Sesaat kemudian Dokter keluar dari ruangan Vania


"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Arga tak sabar.


"Alhamdulilah kondisinya baik-baik saja tapi dia harus diinfus karna Hb nya rendah," papar Sang Dokter.


Mereka bernafas lega. "Alhamdulilah juga, bius yang dihirupnya tidak membahayakan sang janin," jelas Dokter membuat mereka ternganga tak percaya dengan kabar mengejutkan itu.


"Apa Dok, janin?" tanya Arga spontan dengan senyum sangat bahagia.


Semua keluarga ikut senang akan hadirnya calon bayi Mereka.


"Iya,Vania sedang mengandung dua minggu.


"Iya Dok, saya akan memperhatikan makanan istri saya, apa saya boleh menemuinya?" tanya Arga matanya berkaca-kaca karna saking bahagianya.


"Iya silakan, Pak. Disarankan agar pasien banyak-banyak istirahat, agar pasien cepat pulih?"


"Terima kasih, Dok," sahut Arga lalu masuk keruangan dimana istrinya sudah sadar.


Selang infus terpasang dilengan kananya namun senyum indah selalu terukir dibibir nya dengan baju yang masih memakai kebaya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Arga memegang lengan istrinya dan mengecupnya.


Matanya masih mengembun.


"Iya,aku gak papa," jawab Vania masih dengan suara lemas.


"Aku bisa gila kalau jahanam itu sampai menikahimu," ucapnya masih kesal.


Vania terkekeh.


"Kenapa ketawa, ha?" dengus Arga.


"Abis ucapanmu lucu ditelinga aku."

__ADS_1


"Apanya yang lucu, Sayang. Aku itu takut kehilangan kamu," sungutnya lagi.


"Gak papa Kak, aku juga seneng kok bisa selamat dari laki-laki itu," ucap Vania mengembangkan senyum.


Arga menatap perut Vania dan mengelusnya nampak Romy dan Sandra tersenyum saling bertatapan ketika masuk dan melihat adegan itu.


"Nak, yang sehat diperut Mama ya. Papa sayang sama kamu. Jangan bikin Mama susah, oke," ucapnya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Vania mengernyitkan keningnya.


"Nak, maksudnya?" tanya Vania heran dia belum mengetahui kalau dirinya hamil.


"Iya sayang, disini udah ada buah hati kita. kita akan jadi orang tua, Sayang," jelas Arga sumringah.


"Benarkah, aku akan punya anak?" tukas Vania masih tak percaya tapi senyum bahagia itu terpancar dari wajahnya.


Arga mengganggukkan kepalanya.


"Nah, sekarang tugas kalian adalah menjaganya," sahut Sandra sembari mendekat.


"Mama, Papa, Vania kangen," kata Vania.


"Mama juga, sayang." Sandra mencium pipi putrinya.


"Pa," Vania menyalami Ayahnya.


"Van, ingat ya gak boleh gegabah kalau lagi mengandung. Kalian harus jaga baik-baik," pesan Romy.


"Iya Pa, Ma, aku akan menjaga mereka berdua semampuku," jawab Arga.


"Kakek, sangat senang akhirnya yang ditunggu-tunggu akan segera datang," Timpal sang Kakek pula. Di ikuti Dana, Mutia dan Vino.


"Iya Kek, alhamdulilah," jawab Vania.


Bayu nampak gelisah dengan keadaan Vania hatinya gundah gulana membuat Ilman menatap nya heran.


"Kenapa sih, Bay?" tanya Ilman membuka rasa penasarannya dengan ekspresi Bayu.


"Vania kabarnya gimana ya?" tanyanya spontan seperti berpikir.


"Kenapa kamu sangat ingin tau, kan ada Bang Arga?" tanya Ilman heran.


"Oh... e... anu emang gak boleh aku tanya?" ujar Bayu gugup, khawatir Ilman menebak perasaanya pada Vania sembari mengaruk-garuk pelipisnya.


"Ya boleh, nanti sepulang dari kantor aku akan jenguk," jawab Ilman.


"Aku ikut," tegas Bayu tampa basa-basi. Membuat Ilman menatap dalam diam dan akhirnya disetujuinya.


"Iya nanti kita sama-sama kesana," jawab Ilman akhirnya.

__ADS_1


(Aku tau, Bay. Ku perhatikan dari awal bertemu Vania kamu ada rasa sama dia. Tapi aku gak akan setuju, Bay) batin Ilman menatap Bayu.


Saat Bayu menoleh kearah nya Ilman pun tersenyum kecil menarik kedua sisi bibirnya sekejap dan melanjutkan pekerjaan nya begitu pula Bayu yang nampak berbunga-bunga.


__ADS_2