Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_52 Titik Terang


__ADS_3

Pagi itu keluarga Arga dan Vania berkumpul bersama dirumah Romy. Mereka sedang berencana untuk mencari keberadaan Vania. Disana juga ada Ilman dan Vino yang sedang bergabung. Namun tidak dengan Gilang Ia sedang fitnes diluar.


Tentu saja mereka juga sedang membahas tentang hotel Arga yang kini di ambang kehancuran.


"Kamu beruntung San, sudah menemukan anakmu Gilang, karna tanda lahir dipinggang belakang Gilang dan gelang itu," ulas kakek Brama.


"Tunggu! Apa kek? tanda lahir? dipinggang? tanya Ilman.


"Iya Man, kenapa?" tanya Romy heran.


"Oh, Bayu penghianat itu, juga punya tanda yang sama Om," jawab Ilman.


"Mungkin kebetulan," sahut Dana.


"Benar juga sih, maaf ya Om," tukas Ilman akhirnya.


Kakek Brama pun menatap Arga yang masih membisu disana. Ia masih larut dalam kegundahan dan kegelisahan. Manakala Ia belum mengetahui keberadaan Vania istrinya air matanya seketika tumpah tanpa disadarinya.


Mereka yang ikut melihat pun merasakan hal sama. Dengan tenang Romy pun menepuk pundak Arga.


"Sabar, Vania pasti ketemu nak," ujar Romy berusaha menguatkan.


"Tapi Pa, Aku tidak tau nasib Vania dan istriku sekarang apakah mereka baik atau tidak," ungkap Arga meluapkan isi hatinya.


"Siapapun yang menculiknya pasti akan dapat karmanya nak," sahut Mutia.


"Tapi bagaimana Arga bisa tenang Ma, Pa? Arga tidak tau bagaimana keadaan mereka sekarang. Apa mereka sehat, makan atau mungkin Vania dalam keadaan sakit. A...a...tau mungkin lebih buruk dari itu," ulasnya menekankan kalimat terakhirnya sembari memukul pahanya kesal.


Ia benar-benar merasa takut.


Melihat itu Ilman pun tak sanggup melihatnya.


"Maaf Kek, Om dan tante, Ilman permisi," pamitnya.


"Hati-hati Man," teriak Dana.

__ADS_1


"Iya Om," timbalnya..


Ilman pun memukul jok motornya dengan keras.


"Bang, Ilman gak sanggup liat abang seperti ini. Ilman janji Bang akan ngehukum orang itu dengan tangan Ilman sendiri," geramnya berbicara sendiri.


Ilman bergegas meninggalkan tempat itu dan melakukan motor bebeknya.


Singkatnya!!!


Ilman membulatkan matanya kala melihat Bayu keluar dari Bank.


"Itu Bayu, kan?" tanya nya pada diri sendiri. Mengucek matanya berulang-ulang.


"Benar, itu Bayu aku harus ikuti," ocehnya.


Terlihat dari pantauan Ilman kalau Bayu menaiki mobilnya dan melaju dengan cepat. Ilman tak lagi menyia-nyiakan kesempatan mengikuti Bayu pergi dari belakang.


********************


********************


"Tapi Arga gak bisa fokus, Pa. Arga bingung harus bagaimana?" tanyanya gelisah.


"Ehemz," terdengar deheman seseorang dari balik pintu diikuti oleh sepuluh orang yang menakutkan.


""""""""""""""""'"""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""""'''''"'"""""""""""''""""''"'"'""


Bayu pun memarkirkan nya kesebuah rumah mewah dan turun dari mobilnya. Dan tak jauh Ilman pun tiba. Ia melihat banyak orang berjaga diluar.


"Plontos, ini kuncinya masukkan mobil ke bagasi!" perintah Bayu.


"Siap Bos," sahut nya.


"Wah gawat, gimana caranya aku masuk kalau gitu? tapi kok aneh kenapa banyak yang jaga?" ocehnya bertanya sendiri melihat dari balik pagar.

__ADS_1


Tak lama, Ia melihat seorang Fiona menghampiri Bayu.


"Gimana? Apa dia sudah mau menyetujuinya?" tanya Bayu.


"Gak Bay, justru dia berteriak-teriak terus dari tadi," sahut Fiona.


Mereka pun memasuki rumah itu setelah percakapan sesaat. Ilman benar-benar tidak menyangka Bayu yang begitu baik ternyata menyimpan sejuta kelicikan.


"Benar, pasti mbak Vania dikurung didalam sana," tebaknya kemudian.


*************


"Adiyaksa! Mu apa kamu kesini?" tanya Romy meninggikan suaranya.


"Hahaha..., Lagi berduka rupanya," sambil tertawa mengejek.


"Oh jadi kamu b*ngs*t!" Geram Dana yang juga mengenali Adiyaksa.


" iya Dan, senang berjumpa. Aku dengar hotel putramu itu mau bangkrut ya"! ejeknya kemudian.


"Apa urusanmu? Apa jangan-jangan kau penyebabnya?" Ujar Dana menebak.


"Oh, untuk apa aku mengotori tanganku.toh, gak aku apa-apain juga bakal ambruk," dengus Adiyaksa tertawa culas. Tentu saja Romy berdiri dan hendak menamparnya. Namun Adiyaksa langsung menepisnya.


"Sudahlah Rom, kalau kamu mau anakmu selamat tanda tangani ini!" perintahnya sembari mengulurkan maff yang dibawanya.


"Apa!" Teriak Arga mendengar itu sembari bangkit dari duduknya dan berdiri dihadapan Adiyaksa.


"Kenapa? Oh iya istrimu? tenang akan aku kurang tau juga sih apa yang dilakukan Bayu disana," seringainya sinis.


"Si*l*n!" Amarahnya memuncak hingga tonjokan melayang ke wajah Adiyaksa. Membuat anak buahnya hendak menyerang.


"Tahan!" Cegah Adiyaksa sembari memegang pipinya.


"Vania dimana Om?" teriak Arga geram.

__ADS_1


__ADS_2