Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_09 Masih Kesal


__ADS_3

Vania lagi-lagi mendorong Arga.


"Apaan sih cium-cium?" sewot Vania mengusap bibirnya berkali-kali.


"Kenapa sih, akukan cium istriku? emang dosa ya kalau cium istri sendiri?" ujar Arga. Kesal juga ia karna Vania selalu menolaknya.


"Ya...ya enggak tapi aku ...tapi aku...." Vania mendadak gugup wajahnya merah merona sebenarnya ia merasa malu


"Maaf," lirihnya lagi.


"Ga papa, aku paham kok. Kalau ini sulit bagi kamu untuk menerima aku sebagai suamimu. Karna pernikahan kita terjadi atas keinginan orang tua kita dan aku akan sabar," kata Arga mengalah.


Arga melangkah keatas ranjang dan memakai selimut lalu memejamkan matanya. Sedangkan Vania masih mematung, sebenarnya ada perasaan bersalah dalam hatinya tapi apa daya ia masih takut memberikan segala hidupnya untuk pria yang kini jadi suaminya.


Keesokan harinya Vania sudah bangun lebih awal ia juga sudah mandi dan menyediakan makanan roti panggang dan dua gelas susu dimeja makan karna sesungguhnya dirinya tidaklah pandai memasak.


Arga terbangun dari tidurnya, dilihatnya Vania sudah tidak ada disampingnya. Gegas Ia mandi dan setelah selesai ia pun turun kebawah dilihatnya Vania tidak ada juga dimana pun.


Arga memutuskan keluar kehalaman, ternyata Vania sedang menyiram tanaman disana.


"Van, sebentar lagi kita akan kerumah Mama. Ayo kita sarapan lebih dulu!" ajaknya.


Vania mengakhiri pekerjaannya dan mengikuti Arga kemeja makan. Lalu mereka menyelesaikan makan tampa sepatah kata pun. Arga melangkah kekamar disusul Vania yang sudah membereskan meja.


"Ga, apa kamu tidak pekerjakan ART mengurus rumah sebesar ini?" tanya Vania.


"Tidak, ada ART Mama yang tiga hari sekali datang kesini. Lagian aku tidak mau ada orang lain disini," timbalnya. Arga menyambar jaket digantungkan kemudian dipakainya.


"Jadi, kamu sering tinggal disini?" tanya Vania masih di ru penasaran.


"Iya, ya sudahlah segera bersiap aku tunggu dibawah itu bajumu ada di atas ranjang," ucapnya dingin sedingin es lalu keluar dari kamar.


"Pasti dia marah soal kejadian semalam. Sejak kapan ia dapatkan baju ini padahal kan dari semalam aku tak lihat baju cewek satupun," gerutunya. Lekas Vania bersiap secantik mungkin dengan gaun yang sudah ada di ranjang lengkap beserta make-up nya.


Arga yang sudah menunggu di teras selama 30 menit mulai protes.


"Mana sih tu cewek kalau dandan lama banget. Ya emang dia sangat cantik tapi apa gunanya kalau dia terus menolak ku," gerutu Arga ngedumel.


"Makasih, udah bilang aku cantik," timbal Vania yang baru muncul dari dalam. Arga membulatkan matanya terkejut tak percaya kala melihat Vania sangat cantik dengan dress pink itu tak seperti biasanya.


Vania pun melambaikan tanganya kewajah Arga.


"Arga, Arga ayo berangkat!" ajak Vania ganti tak sabar.

__ADS_1


"Oh iya, kenapa lama sekali sih aku capek menunggumu sejak tadi," oceh Arga mengalihkan topik.


"Iya maaf."


"Ayo cepat!"


Mereka masuk kemobil.


"Jangan lupa pasang tali pengaman nya," ujar Arga seraya memasang tali pengaman itu. Wajah Arga dan Vania sangat dekat. Terasa sekali kalau nafas keduanya beradu dengan pandangan yang dalam hanya jarak sejengkal saja.


Vania menutup matanya tak kuasa menatap Wajah pangeran itu berlama-lama. Arga mengulum senyum dibuatnya lalu melajukan mobilnya. Vania yang merasa mobilnya berjalan pun membuka matanya bernafas lega.


Mobil mereka memasuki halaman rumah besar bak istana dan memarkirkan mobilnya. Vania terkejut saat turun dari mobil.


"Lo inikan mobil papa," gumamnya yakin.


Arga tak menjawab lalu menarik Vania masuk kedalam rumah dilihatnya kedua orang tua mereka ada disana tak ketinggalan Vino juga.


"Assalamualaikum!"


"Wa'allaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Ternyata pada ngumpul ya disini?" tukas Arga menyalami mereka diikuti Vania. Vania memeluk ibu dan mertuanya.


"Makasih Ma," timbal Vania.


"Vin, gimana kabarnya?" tukas Arga memukul pundak Vino lalu duduk disampingnya.


"Baik, Bos. Beda ya kalau pengantin baru auranya bersinar cerah," goda Vino.


(Beda apanya, menikah rasa bujang) batin Arga.


Vania hanya terdiam melihat Arga dan Vino.


"Malam ini kalian semua harus nginep disini gak ada kata tapi," ucap Kakek.


"Iya harus, besan kita harus menerimanya," ucap pak Dana.


"Apa mau dikata kalau besan yang meminta," jawab Pak Romy senang.


Hari itu mereka sangat sibuk untuk menyiapkan acara panggang sate bersama. Para bapak-bapak menyiapkan api untuk membakar sate sedang para perempuan membantu bibi memasak. Se usainya mereka berkumpul dihalaman.


"Van, minum ini mama mau kamu segera punya anak," ucap Bu Mutia yang muncul dari dalam.

__ADS_1


"Ini apa ma?" tanya Vania menerima uluran Mama mertua.


"Susu penyubur kandungan agar kamu cepat isi, iyakan San?" tukasnya bertanya pada besan.


Vania menelan salivanya kasar mendengar keinginan mama mertua.


"Iya Van, bener kata mama mertuamu ayo minum," pinta ibu Sandra.


(Aduh gimana mau hamil aku aja nolak terus) batin Bania. Ia tak mungkin menolak keinginan mama mertuanya. Akhirnya ia meminum susu itu.


Arga yang sedang duduk dengan para lelaki tersenyum melihatnya.


(Kamu senang kan aku diperlakukan gini) batin Vania pada Arga yang menatapnya.


Mereka memulai membakar sate kambing setelah masak mereka makan bersama.


"Aduh Kek, kita yang jomblo ngenes," keluh Vino melihat mereka makan berasang-pasanga.


"Iya itu kamu Vin, kalau kakek ma udah tua. Udah ngerasain," timbal Kakek Bram terkekeh.


Mereka jadi tertawa.


Malam itu serasa syahdu dan hangat.


"Makanya Vin, cepetan cari cewek, yang waktu itu tu nangkep bunga bareng kamu," sahut Arga yang melahap sate ditangannya.


"Ah, cewek itu sudah menikah bro setelah dua minggu pernikahan mu," jawab Vino na'as.


"Itukan nasib kamu, Vin. Carinya yang lebih giat lagi dong," tukas bu Mutia.


"Siap tante," jawab Vino kembali mengundang gelak tawa lagi mendengar Vino jadi bulan-bulanan.


Setelah selesai mereka membereskan semuanya lalu bergegas bersih-bersih dan tidur karna sudah jam sebelas malam.


"Van, Arga sudah didalam ini kamarnya kamu tidur ya pasti capek," tukas bu Mutia.


"Iya Ma, makasih."


Vania bergegas masuk dan menutup pintu setelah Mama mertuanya pergi.


Dilihatnya Arga duduk disofa. Ia masuk kekamar mandi dan membersihkan diri. Arga ternyata sudah membaringkan tubuhnya menghadap kearah lain diikuti Vania merebahkan tubuhnya disamping Arga yang membelakanginya.


(Pasti dia masih kesal) pikir Vania tapi ia memaksa memejamkan matanya dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2