
"Hai, kalian ada disini juga?" balas Arga. Mereka saling berjabat tangan. Bayu masih sempat-semparnya melirik Vania dan tersenyum tak ayal membuat Vania merasa risih. Vania akhirnya bangkit dari duduknya didepan Arga untuk berpindah disamping Arga.
"Hai, Van," sapa Bayu mengulurkan tangan.
Vania dengan ragu-ragu membalasnya.
"Ayo duduk saja disini bareng-bareng!" ajak Arga.
Tentu saja Ilman dan Bayu tak menolak dan langsung duduk. Bayu duduk disamping posisi Vania dan masih mencuri pandang pada Vania. Arga yang menyadari pandangan Bayu angkat bicara.
"Gimana Bay, hari pertamamu bekerja?" tanya Arga.
"Oh...e...iya aku sangat nyaman, Pak?" tukas Bayu.
"Tidak perlu terlalu formal jika diluar kantor panggil saja Arga seperti biasa," tukas Arga.
"Ayo pesan makanan," lanjutnya pada Bayu dan Ilman.
Ilman dan Bayu pun memesan makanan.
Tak berapa lama dua porsi yang berbeda ikan gurame pedas campur kemangi beserta nasi, es jus pesanan Arga dan steak daging datang.
"Ayo sayang makan yang banyak ya," pinta Arga tersenyum sembari mengelus rambut Vania.
Vania menyuapkan sendok kan pertamanya ke mulut.
"Ini enak sekali kak," ungkap Vania tersenyum menyeringai. Vania mengulurkan satu sendok kan penuh kemulut Arga juga dengan senang Arga melahapnya.
Bayu merasa risih dan tak menyukai adegan didepan matanya. Beda dengan Ilman yang baper melihat pasangan itu.
"Iya enak, habisi ya," tukas Arga. Arga begitu lembut dan penuh kasih sayang memperlakukan Vania.
"Aku jadi ngiri deh, liat bang Arga sama Mbak Vania," goda Ilman.
"Sabar, makanya bekerja dengan giat biar bisa melamar Adel," balas Arga balas menggoda Ilman.
"Oh ya Bay, kamu sudah punya pacar?" tanya Arga mengalihkan pembicaraan pada Bayu.
"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. "Siapa yang mau sama akuu Ga," jawab Bayu merendah.
"Mana mungkin orang sekeren kamu belum punya pacar Bay, kok aku gak percaya ya," lugas Arga menatap Bayu serius.
"Sungguh, aku belum bertemu yang cocok," timbal Bayu.
"Lalu kamu mau mencari yang seperti apa?" tanya Arga ia bermaksud menyelidik.
__ADS_1
"Kayak Vania," ungkapnya tegas sembari menatap Vania. membuat Vania terkejut dan tersedat.
"Uhuk...uhuk...," Arga segera memberi nya minum. "Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Arga.
Hanya dibalas gelengan oleh Vania.
"Mmmm...maksudku cewek itu harus baik kayak Vania," lanjut Bayu. Ilman dan Arga menatap dalam diam membuat Bayu salah tingkah.
Dengan lahap Vania melanjutkan makanya tampa perduli lagi. (aku akan merebut kebahagian kalian,dan mendapatkan hatimu, Van) batin Bayu dengan sorot mata licik.
Setelah makan siang Bayu dan Ilman pamit kembali kekantor.
Sedang Vania dan Arga jalan-jalan ke taman. Vania tak lagi terlihat pucat.
"Sayang, aku senang kalau kamu sudah baik kan," tutur Arga mencium tangan Vania yang digandengnya.
"Aku juga merasa sehat setelah makan banyak," jawabnya nyengir. Tak lama entah kenapa saat melihat seorang anak makan es-cream lagi-lagi Vania meneguk air liurnya.
(Enak banget es-cream itu ya) batinnya.
Vania berlari mendekati si anak dan bertanya membuat Arga bingung melihatnya.
"Dek,beli es-cream dimana?" tanyanya.
"Mbak anak saya diapain? kok nangis sih?"
"MA.. maaf bu, saya gak apa-apain kok," jawab Vania takut.
"Alah, mukanya aja cantik, tapi mau nyulik anak saya kan," bentak sang ibu.
"Sungguh sedikit pun saya tidak bermaksud untuk menculik anak ibu, saya cuma_," jelas Vania terputus.
Arga yang melihat Vania diomeli mendekat.
"Alah modus aja lo," teriak si ibu terus memaki Vania.
"Cukup Bu, istri saya bukan penculik, dia perempuan baik-baik," balas Arga yang tak terima Vania difitnah.
"Lalu kenapa anak saya nangis? kalau bukan mau dijahati. kalian sekongkol kan?" tuduh sang ibu tak percaya membuat Arga melotot geram.
"Mana buktinya kalau istri saya nyulik? lagian nyulik untuk apa?" tukas Arga dengan nada meninggi. Vania menegang tangan Arga agar menahan emosinya.
"Ya buat uanglah,apa lagi?" sinis si ibu.
"Arga pun menunjukkan uang kes di dompetnya yang banyak dan menunjukkan kartu ATM yang ada lima buah.
__ADS_1
"Kami sudah banyak uang, untuk apa menculik anak kecil. Kalau ibu terus memfitnah istriku, aku akan menuntut Ibu atas tuduhan pencemaran nama baik," ancam Arga.
Melihat uang dan kartu ATM yang banyak si ibu pun terdiam dan mengajak anaknya pergi dengan wajah yang masih nampak sinis.
"Ya Allah sayang, ngapain sih kamu deketin anak itu jadi runyam kan semuanya?" tegur Arga mengomel.
"Maaf," jujur Vania merasa bersalah.
"Kamu mau apa sih sebenarnya?" tanya Arga menatap serius.
Vania menggigit jarinya.
"Aku cuma bertanya es-cream itu beli dimana?" jelas Vania. membuat Arga terkekeh tak menyangka dengan sikap istrinya yang menggemaskan.
"Jadi kamu pengen es cream kenapa gak ngomong aja sama aku, biar aku beliin?" kedek Arga melihat Vania manyun.
Arga menarik pergelangan tangan Vania dan membeli es -cream 2 buah sekaligus hanya untuk Vania.
Vania menikmatinya sembari nyengir menatap Arga. Arga langsung ikut ******* es Cream dari bekas mulut sang istri.
"Ma kasih ya, Kak?" pungkas Vania puas.
"Hm.. .tapi hari ini kamu kok manja banget sih?" tanya Arga mencubit kedua pipi Vania. Vania hanya menggeleng.
"Gak papa, aku malah seneng kok," pungkas Arga mengacak-acak rambut Vania dan memeluk Vania.
Arga dan Vania kembali ke rumah jam sembilan malam. Tampak Kakek, Mama Mutia dan Papa Dana sedang duduk menonton televisi.
"Kek, Pa, Ma," sapa keduanya menyalami.
"Arga, kok baru pulang semalam ini. Kan istrimu lagi sakit," tegur sang Kakek. Kali ini alamat Arga yang diomeli.
"Iya nak, nanti kalau istrimu makin sakit gimana? tambah Mutia.
"Gak kok Ma, alhamdulilah Vania udah sehat," sahut Vania tidak mau Arga kena ocehan.
"Iya, Ma," tambah Arga.
"Beneran gak papa, yakin gak mual lagi?" tanya Mutia memastikan membuat yang lain terpaku menatap Vania.
"Gak Ma, emang kenapa kok mama panik banget?" tanya Vania.
"Enggak, siapa tau masih mual," pungkas Mutia. Padahal sebenarnya mereka berharap Vania tengah mengandung tapi ternyata Vania tak mual lagi.
"Ya sudah ajak istrimu istirahat pasti kalian capek," perintah Kakek.
__ADS_1