Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_73 Hampir


__ADS_3

Arga dan Vania sudah mengemas pakaian mereka kedalam koper dan segera turun kelantai bawah.


Kakek Brama yang berdiri diambang pintu samping semakin menangis saat melihat Arga dan Vania akan segera pergi.


Sama halnya dengan Mutia, Ia terduduk lemas di kursi sambil menangis memegangi kepalanya. Kepalanya terasa sakit mendadak menyaksikan putranya yang semakin membencinya.


Mutia tak dapat menahan lagi rasa bersalahnya, Ia langsung menghampiri Arga dan berlutut.


"Maafkan Mama nak, tolong jangan pergi, Mama mohon Nak!" Tukas Mutia memelas. Air mata nya semakin deras membanjiri pipinya setelah mengucapkan itu.


Vania merasa tak tega pada Mutia melihat Arga tak menggubrisnya saat berlutut dihadapannya.


"Ma, bangun Ma!" Pinta Vania. Ia hendak Menggandengnya tapi Mutia menolak.


"Gak, aku gak mau bangun, sebelum Arga memaafkan Mamanya yang hina ini," Tolak Mutia.


"Arga, maafkan dosa Mama, nak. Mama memang salah telah melakukan itu sama Papa mu hingga Kamu yang menuai semuanya karena dendam mereka," Tukas Mutia masih berharap memeluk kaki Arga.


Arga tak bergeming, Ia melepaskan tangan Mutia dengan paksa dan langsung menarik lengan Vania untuk pergi tampa berpamitan pada keluarganya.


Vania hanya bisa mengikuti langkah Arga didepannya sambil menoleh kearah Kakek Bram dan Mutia yang masih menangis sesenggukan diposisi nya.


Ia tak tega melihat para orang tua itu meratapi penyesalan mereka atas masa lalu yang kini menjadi sebuah kebencian Arga.


Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa sepatah kata pun. Vania yang ketakutan memejamkan matanya dan berpegangan pada pegangan di atap Mobil dengan kuat hingga tiba-tiba sebuah mobil melintas didepan mereka.


Arga yang terkejut langsung membanting stir ke kiri hingga membuat Vania berteriak saat membuka mata melihat mobilnya sebentar lagi akan menabrak pohon besar didepannya.

__ADS_1


"Aaaa...!" Teriak Vania menyilang kan kedua tangannya diwajahnya.


Ssssssst!


Arga mengerem mobil sebelum Mobil itu ringsek.


Beruntung, mobil itu masih bisa dikendalikan. setengah meter saja mobil itu tak berhenti pasti mereka sudah pasti mengalami kecelakaan.


Vania memegang dadanya, jantungnya hampir saja copot dibuatnya. Arga yang dipenuhi amarah memukul stir mobil itu berulang-ulang dengan brutal. Hatinya belum terima kenyataan tentang jati dirinya.


"Kenapa? Kenapa aku dilahirkan sebagai anak haram?" Arga merutuki dirinya kerena nasib nya ternyata sangat menjijikkan.


Vania menghela nafas mendengar makian Arga pada dirinya sendiri.


Arga melepaskan tali pengamannya.


"Enggak Kak, jangan bicara begitu, aku mengerti Kakak pasti sangat kecewa akan apa yang Kakak ketahui. tapi Kak, tolong jangan bertindak bodoh yang nantinya akan membuat Kakak semakin menyesal," pinta Vania. Tak dipungkiri Ia sangat ketakutan karena hampir saja mereka meregang nyawa karena Emosi Arga.


"Aku minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku, Van. Hatiku belum bisa menerima kenyataan itu. Aku dilahirkan dari sebuah perselingkuhan, Van." Arga seseguk kan dan merengkuh Vania semakin erat.


"Kak, apa Kakak mau aku mati, Kakak membuatku sesak," goda Vania. Ia ingin Arga tidak meratapi nasibnya lagi.


"Ha?" Arga melepaskan pelukannya pada Vania sambil mengusap sir matanya.


"Apa aku memelukmu terlalu kencang? apa kamu merasa sesak? perut kamu baik-baik saja 'kan?" Tanyanya panik saat sadar ternyata kelakuannya telah menyakiti istri tercintanya itu.


Vania cekikikan melihat kekhawatiran Arga.

__ADS_1


"Kau berbohong ya?" Sungut Arga tersenyum kecil.


"Abis Kakak bikin aku sesak, meluk nya kenceng banget," jengah nya.


"Kau ini ya, Suami masih bersedih malah diledekin," tukas Arga lagi sambil mengelus rambut Vania dan menatapnya dengan lekat.


Vania mengulum senyum sambil menggigit bibir bawahnya. " "Aku gak mau Kakak nangis, nanti anak kita denger lagi," celoteh Vania.


Arga terkekeh, Ia merasa terhibur dengan perlakuan Vania.


"Sayang," panggil Arga serius.


"Hm?"


"Apa kamu tidak menyesal menjadi istriku?" Tanya Arga lagi ingin mendapat kepastian.


Vania menatap Arga dengan lekat.


"Kenapa itu lagi yang ditanyakan?" Tanya Vania balik.


"Aku takut_, aku takut kamu jijik dan malu sama diriku kalau nanti semua orang tau kalau seorang Arga cucu dari Bram Pradopo yang katanya pewaris tunggal kekayaan Bram Pradopo adalah anak haram yang terlahir dari perselingkuhan ternyata tidak punya hak apapun atas semua itu," Ulas Arga lagi. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Kenapa Kakak berpikiran sejauh itu?" Vania pun menggenggam tangan Arga. "Jika itu sampai terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Kakak.


Karena bagiku Kakak bukan anak haram, Kak. Sudahlah, Vania gak mau denger kata-kata itu lagi," dengus Vania diakhir kalimatnya sambil melipatkan kedua tanganya didada memonyongkan bibirnya kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2