
Arga dan Vania sudah kembali dari rumah sakit, buliran bening masih terus membasahi pipi Vania. Wajahnya tampak pucat dan lesu. Belum lama Ia kehilangan sang Ibu kini Ia telah kehilangan calon anak mereka.
"Sabar ya sayang, mungkin Allah lebih menyayangi anak kita dari pada kita," tutur Arga yang mengusap air mata Vania dengan tanganya.
"Kenapa secepat ini kak, aku harus kehilangan dua orang yang begitu berarti dalam hidup ku," kelu Vania. Perasaannya bagaikan teriris-iris akan perkara ini.
Gubrak!
Sentakan pintu kamar Vania membuat Arga dan Vania terkejut.
"Dek, apa terjadi dengan mu, ha?" Tanya Bayu yang nampak sangat khawatir dan langsung memeluk Vania dari ranjang sebelahnya.
"Yang kuat ya Dek, kakak minta maaf meninggalkanmu seorang diri tadi," imbuh Bayu menyesal.
"Gak papa Kak, ini bukanlah kesalahan Kakak kok," tukas Vania berusaha ikhlas.
"Tapi Papa bilang, kau akan sulit hamil lagi, apa benar?"
Vania tak menjawab, air matanya kembali bergulir, perih hati nya jika mendengar itu.
"Gak Bay, itu gak bener kok, Vania pasti bisa hamil lagi," sahut Arga menimpali. Ia menyadari ucapan Bayu tengah melemahkan kembali kesakitan Vania akan kehilangan calon anak mereka.
__ADS_1
"Kakak janji dek, akan mencarikan Dokter terbaik agar kalian bisa punya anak lagi nanti," tegas Bayu. Bayu memegang tangan Vania untuk memberikan kekuatan pada adiknya itu.
***
Adiyaksa turun dari mobil kebesarannya memperhatikan seksama rumah milik Arga yang tak sebesar kediaman Kakek Bram.
"Sakit 'kan kehilangan," ucapnya menyeringai sinis. "Akhirnya Sandra mati juga, menelan obat itu, Vania juga terpeleset keguguran, hancur sudah!" Adiyaksa tertawa terbahak-bahak.
Saat itu salah seorang anak buahnya tengah menghampiri nya dari belakang. "Aku sudah melaksanakan tugas dengan sempurna Bos," tuturnya.
"Kerja bagus, dengan menghancurkan Arga, keluarga besar Bramantyo dan Dana Wirawan akan ikut merasakan kehancuran," tukas Adiyaksa bangga. Lalu melemparkan segepok uang kewajah orang suruhannya itu. Tak disangka Ilman yang baru datang dengan ojek online nya terkejut melihat kejadian itu. Ia pun berusaha bersembunyi di balik pohon untuk menguping pembicaraan Adiyaksa dan anak buahnya.
"Mudah, hanya menyiramkan pelicin di kamar mandi," terang orang itu.
"Bagaimana dengan Sandra?"
"Aku menukar obatnya diam-diam saat Sandra tengah tidur," jelasnya lagi.
"Bagus, bagus, aku puas mendengarnya, aku punya tugas lagi, ayo kita pergi dari sini!" Ajak Adiyaksa kemudian.
***
__ADS_1
"Wah sial, jadi ini ulah Om Adiyaksa rupanya," batin Ilman setelah menyimpan rekaman Vidio nya dan melihat mobil Adiyaksa telah meninggalkan halaman rumah Arga.
Ilman pun bergegas masuk dan menyerahkan hasil rekaman itu pada Arga dan Bayu di ruang kerja Arga. Ilman sengaja memberi tahu itu secara dian-diam agar Vania tidak mengetahui rencana mereka nantinya.
"Apa!" Arga tersentak tak percaya.
"Kurang*jar jadi ini sudah direncanakan rupanya," geram Bayu yang mengebrak meja dengan emosi. Ia pun hendak beranjak untuk menemui Adiyaksa dan membuat perhitungan pada biadab itu, Namun Arga mencegahnya.
"Tenang Bay, kitaa harus tebang," tutur Arga.
"Apa maksudmu Arga, aku sudah kehilangan Ibu dan calon ponakan ku, bagaimana mungkin aku bisa sabar, ha!" Sentak nya kesal. Matanya tampak merah padam tak sabar ingin memberikan dogeman pada wajah Adiyaksa.
"Bukan begitu Bay, mungkin aku lebih emosi dari kamu, karena kehilangan calon anak kami, bahkan ingin sekali aku membunuh lelaki itu dengan tangan ku sendiri, tapi itu bukan solusi, kita akan mendekam dipenjara bila membunuhnya," terang Arga berpikir jernih.
"Benar Bay, kata Bang Arga, kira harus membalasnya lebih pedih dengan cara tenang, agar Ia merasakan balasan setimpal, terutama adalah merebut kembali harta milik kalian," sela Ilman kemudian.
"Iya Bay, dengan begitu Ia tidak akan punya kekuatan untuk menyerang kita tampa uang," imbuh Arga.
Bayu pun berpikir sejenak menangkap maksud Arga dan Ilman.
"Oke, aku akan membuatnya merasakan balasan ku," tegas Bayu menyetujui.
__ADS_1