Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_39 Dipaksa Menikah


__ADS_3

Tak kama Vania pun tersadar dan sungguh terkejut dirinya kala membuka mata menatap senyum jahat lelaki dihadapanya. Ia segera mengambil posisi duduk.


"Bagas A.. a... apa mau mu?" bentaknya gelagapan dengan melotot menatap Bagas.


"Hahaha..., hai sayang aku kangen sama kamu," jawab pemuda itu tertawa senang.


"Apa maksudmu menculik ku lagi, ha?" tanya Vania dengan nada meninggi.


Bagas pun membelai dagu Vania tapi Vania memalingkan wajahnya jijik.


"Kenapa memalingkan wajahmu, Sayang. Ayo menikah denganku atau suamimu akan dalam bahaya," ancam Bagas masih tersenyum jahat sembari membelai pipi Vania.


Cuih...


Vania meludahi wajah Bagas membuat Bagas murka lalu menekan kedua sisi bibirnya.


"Dasar perempuan tidak tau diri, kamu mau mati ya?" teriak Bagas menggampar Vania hingga terbelalak jatuh kebelakang diatas ranjang sembari mengelap wajahnya.


Vania menangis histeris memegangi pipinya yang memerah.


Bagas menjentikkan jari ibu dan jari telunjuknya memberi kode untuk memanggil seseorang.


"Masuklah!" seorang perempuan yang menenteng tas besar dan dua body guard yang besar-besar pun masuk.


"Cepat dandani dia, aku ingin pernikahan ku segera dilaksanakan," perintahnya dengan kasar lalu hendak pergi dengan membalikkan badan.


"Baik, Bos," jawab mereka menunduk hormat.


"Dandani secantik mungkin," titahnya pada si perempuan itu.


"Kalian tunggu didepan pintu!" titahnya melotot pada bodyguard itu.


Mendengar itu Vania bangkit dan memukul-mukul punggung Bagas sekuat tenaga.


"Kamu gila ya Gas, aku ini sudah menikah mana mungkin menikah sama kamu," kesal Vania.


"Kamu ceraikan Arga setelah kita menikah, atau Arga akan ku bunuh," pungkasnya tampa menoleh kearah vania.


vania semakin menangis sejadi-jadinya.


Dengan deraian air mata, perempuan itu tetap telaten mendandani Vania yang sudah memakai kebaya.


Vania tak bisa berpikir lagi. Tapi kemudian ia melihat ponsel perias itu tergeletak dimeja dan munculah idenya.


"Mbak, boleh mintak tolong?" melas nya yang masih terisak.


"Oh iya, apa Mbak?" tanya perias itu.


"Tolong ambilkan minum aku haus!" pintanya.


"Oke baiklah," jawab perias itu lalu keluar.


Vania segera meraih ponsel itu dan mengirim pesan pada Arga.


(Untung aku ingat nomor kak Arga semoga dia datang tepat waktu) batinnya dalam hati.


Tak lama kemudian pintu terbuka perias itu kembali dengan sebotol mineral. Vania dengan perlahan segera meletakkan ponsel itu ditempatnya dan pura-pura diam.

__ADS_1


"Ini Mbak minumnya," serah perias itu dan diterima Vania.


.


.


.


Di sebuah jalan..


Arga sudah bertemu Ilman dan Bayu.


"Gimana, Ga. Apa ada petunjuk?" tanya Bayu.


"Belum, sulit untuk mencarinya karna tak ada yang bisa dijadikan petunjuk," jawab Arga memegang pinggang.Hanya ada raut bingung diwajahnya.


"Sabar Bang, semoga Mbak Vania tak kenapa-napa," tenang Ilman.


Ting!


Suara Pesan masuk.


Arga segera mengambil hp disakunya dan membaca pesan tampa nama itu.


"Aku di alamat B dirumah no 29 cat biru segera datang aku dipaksa menikah dengan Bagas sekarang."


Arga membulatkan matanya tak percaya.


"Ayu ikut aku, sebelum terlambat!" ajak Arga sembari menaiki mobil sportnya.sedang Bayu dan Ilman menyusul dibelakang.


"Cepat bawa Vania kesini!" perintah Bagas pada kedua bodyguard lainya.


Tak lama Vania digiring duduk disamping Bagas. Vania menoleh kesana kemari tapi ia tak melihat tanda-tanda Arga akan datang.


"Bagaimana, sudah siap?" tanya penghulu itu. Air mata Vania turut turun membasahi pipinya kala ia benar-benar akan dinikahi psikopat itu.


"Siap, Pak," tegas Bagas.


"Tapi kenapa pihak perempuan menangis ya?" tanya penghulu cemas.


"Oh, tidak apa-apa Pak namanya juga gadis," jawab Bagas nyengir.


"Cepat senyum atau Arga aku bunuh," lirihnya di telinga Vania.


Karena merasa khawatir dengan keselamatan Arga ia pun terpaksa tersenyum dan pasrah.


Saat ijab kabul diucapkan dan akan dijawab Bagas.


Tiba-tiba pukulan membabi buta menghantam wajah Bagas hingga membuat Vania, penghulu dan saksi terkejut dibuatnya.


Bagas tersungkur dengan pukulan itu hingga pelipisnya lebam.


"Dasar psikopat, beraninya menikahi istri orang apa tidak ada lagi wanita yang suka dengan kamu, ha?" geram Arga murka.


"Heh, pahlawan datang rupanya," seringai Bagas.


Arga kembali melayangkan pukulan karna tak dapat membendung emosinya.

__ADS_1


"Cukup Bang, jangan teruskan. Nanti kalau dia mati, Abang bisa dipenjara," cegah Ilman menarik lengan Arga.


"Aku tidak takut, Man. Orang gila seperti dia memang harus dihajar," bengis Arga membara.


Bagas berdiri dan memerintah keempat bodyguard nya menyerang lalu ditampik Ilman dan Bayu.


Maka terjadilah perkelahian mereka.


Arga memilih menghampiri Vania.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Arga memeriksa tubuh istrinya.


"Enggak, aku gak papa kak," jelas Vania.


"Arga, Arga... !" seringainya sembari meraih sebilah balok dan hendak memukul dari belakang. Vania dan yang lainya terkejut histeris.


"Arga awas!" teriak Vania.


Dor....


Suara tembakkan melukai tangan kanan Bagas hingga tersungkur.


"Cepat borgol mereka!" perintah komandan polisi pada Bagas dan keempat bodyguardnya.


"Siap, Ndan," tukas bawahan polisi dan yang lainya.


Bagas telah diborgol walau mengalir darah dari lengan yang tertembak.


"Arga kamu gak papa?" tanya Vino.


"Enggak, jawab Arga. Bajunya saja yang berantakan dan nampak letih.


Bagas dan para pengikutnya digiring kemobil polisi yang terparkir diluar.


"Terima kasih Pak Arga, atas kerjasamanya. Kami sudah lama mengejar Bagas dan komplotanya.Mereka adalah pengedar narkoba kelaskakap," jelas polisi sambil mengulurkan tangan.


"Sama-sama Pak terima kasih atas bantuannya," jawab Arga berjabat tangan.


Kedua Mobil polisi itu meninggalkan tempat itu.


Arga pun merangkul pundak Vania.


Namun tiba-tiba Vania merasa lemas dan jatuh pingsan di dekapan Arga membuat Arga terkejut.


"Sayang, bangun, Sayang. Ada apa?" panggil Arga menepuk-nepuk pipi Vania tapi tak ada jawaban.


"Vin, ayo ikut aku, kita akan bawa Vania kerumah sakit!" ajak Arga.


"Aku ikut," tawar Bayu.


"Tidak usah kalian kembali saja kekantor," pinta Arga. Bayu terdiam kecewa dengan penolakan Arga.


Arga segera menggendong Vania kemobil dan dipangkunya kepalanya di jok belakang sedang Vino yang mengendarainya.


Setelah mobil Arga pergi, Ilman mengajak sahabatnya kembali kekantor.


"Ayo, Bay!" ajaknya merangkul Bayu.

__ADS_1


Bayu hanya bisa mengangguk.


__ADS_2