Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_37 Jebakan Dan Teror


__ADS_3

Tapi Vania malah melepaskanya.


Hoek..hoek...


Lagi ia merasa mual saat mencium bau keringat Arga.


"Mandi sana aku mual dengan bauk badanmu?" tukas Vania sewot.


"Lo kenapa, Sayang? Biasanya aja suka?" tutur Arga hendak mendekat lagi.


"Udah cepet mandi sana perutku mual bauk keringatmu," dorong Vania kesal.


arga menggaruk pelipisnya dengan penolakan itu.


"iya, iya, aku mandi," pungkasnya dengan malas pergi mandi.


Setelah selesai Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi sebagian penting tubuhnya.


dilihatnya Vania sudah cantik dan wangi sedang menyisir rambut didepan cermin.


Ia memeluk Vania dari belakang mencoba menggoda lagi.


"Sekarang udah gak mual kan?" tanyanya mengerling bermain mata.


Vania mengendus lengan sang suami.


"Enggak," jawabnya nyengir.


Arga mencium pucuk kepala sang istri.


"Mmmm... dikasih gak?" lirihnya ditelinga Vania.


"Dikasih apa?" tanya Vania polos.


"Itu ..!" tutur Arga dengan lembut.


"Itu, itu apa?" tanyanya tak mengerti.


Arga membisikkan sesuatu di telinga Vania. Vania pun tersenyum mendengarnya.


"Gimana? mau ya?" rengek Arga.Vania jadi tersipu.


Tampa basa basi Arga langsung menggendongnya keranjang.


Di rumah Fiona....


Mereka sedang melihat vidio viral yang terjadi di hotel Arga dan penjelasan Arga perihal itu. Bayu dan Fiona tertawa terbahak-bahak.


"Bagus, ini awal yang baik. Getaran itu akan membuat Arga mulai tergoyahkan," tukas Bayu.


"Bener Bay PT. Bina Purnama akhirnya jatuh ketangan kita," timbal Fiona.

__ADS_1


"Besok tugas kamu menggoda Arga dihotel buat agar orang-orang semakin yakin dengan HOK yang terjadi dihotel Arga."


"Siplah, serahin sama aku, Bay," Jawab Fiona menggampangkan.


(Aku gak akan berhenti sebelum mendapatkan kamu, Van) batin Bayu dalam hati dengan senyum yang selalu jahat.


Pagi itu Arga kembali ke hotel dan membahas lagi masalah di hotelnya bersama Vino.


"Vin , coba cari CC TV saat kedua tamu itu masuk ke hotel ini. Aku ingin mengenal wajah mereka!" tukas Arga.


"Baik Bos, biar aku lihat kebagian pengawasnya," tukas Vino.


"Ya, jangan lupa copy ke memori card ya?"


"Oke."


Setelah Vino keluar hp Arga berdering ria.


"Nomor baru, siapa ya?"gumam Arga mengingat-ingat tapi tak ingat.


"Hallo, siapa ini?" tanya Arga tampa basa-basi.


"kalau kamu mau tau keadaan Vania temui aku ditaman sekarang," ancam suara itu.


Tiba-tiba memutuskan sambungan seenaknya.


"Siapa ini, mau apa dia?" Arga merasa khawatir. Tampa pikir panjang segera ia keluar tergesa-gesa dan tak menghiraukan Vino yang memanggilnya.


Arga menaiki mobilnya dengan laju yang cepat.


"Ada apa sama Arga? ia kelihatan panik sekali," ucap Vino bertanya sendiri.


Beberapa saat Arga sampai ditaman yang dimaksud. Segera ia mencari seseorang yang menelponnya tadi. Tapi tak terlihat batang hidungnya. Hanya ada orang-orang lalu lalang yang berlibur disana.


"Mana orang itu? kenapa tak kelihatan batang hidungnya?" celoteh Arga geram ia pun mencoba menelpon berulang kali nomer tadi tapi tidak aktif.


"Sial, apa orang ini sengaja menjebakku," umpatnya mengacak-acak rambutnya.


Sssst....


Sebuah anak panah melesat dan jatuh ketanah setelah menabrak pohon yang tak jauh dari tempat Arga berdiri menyebabkan Arga terkejut.


"Apa ini?" tanya Arga pada dirinya sendiri lalu meraih anak panah yang ditangkainya terselip sepucuk surat.


Diperhatikan nya disekitar tempat itu namun tak ada yang mencurigakan. Diburu rasa penasaran Akhirnya Arga membuka surat itu.


(Ceraikan Vania atau kamu tidak akan melihatnya lagi) pesan surat itu.


"Apa? ini tidak benar. Aku harus pulang. Pasti Vania daLam bahaya," ucapnya gelisah lalu segera kembali kerumah.


Seorang kurir Membawa boxs ukuran kecil untuk Vania.

__ADS_1


Ning nong.... Ning nong..


Suara bel rumah berbunyi.


Vania bergegas membuka pintu. Sedangkan Bi Mardiah sedang sibuk di dapur.


"Siapa ya?" tanya Vania heran. Pasalnya ia tak memesan apapun.


"Maaf Mbak, saya mengantar pesanan seseorang.t


Rapi identitasnya gak mau diberi tahu. Dia cuma pesan ini kejutan untuk, Mbak," lugas sang Kurir menyerahkan boxs itu dan diterima oleh Vania.


"Oke, silahkan tanda tanganin, Mbak.


Vania menanda tangani tanda barang sudah diterima.


"Ma kasih, Mas."


"Sama-sama Mbak, permisi," tukas sang kurir lalu meninggalkan Vania yang masih terpaku.


"Siapa yang pesan ya? pasti ini kejutan dari suami tercinta," tukasnya sembari mengulas senyum. Vania pun membawa boxs itu masuk.


Ia tak sabar ingin membuka isi boxs kejutan dari Arga itu. Saat dibukanya ternyata isinya batagor pedas kesukaannya.


"Wah inikan yang aku pengen tadi," ungkapnya sumringah dengan semangat dia pun hendak melahapnya tapi belum sempat masuk kemulut terdengar suara Arga melarangnya.


"Sayang jangan dimakan," cegah Arga menepis tangan Vania yang memegang batagor itu.


"kak Arga, kenapa gak boleh?"sewot Vania yang sedari tadi terus menelan liur menginginkan makanan itu.


"Kamu dapat dari mana makanan ini?" Tanya Arga mendelik.


"O, bukanya kamu yang kirim?" tanya Vania terbelalak.


"Enggak, aku gak pernah kirim sayang. Ada nama pengirimnya enggak?" tanya Arga memastikan.


Vania menggeleng.


"Tadi kurir itu bilang kejutan, aku pikir ini kejutan dari kamu, Sayang," jelas Vania.


"Enggak,baku gak kirim apapun, Sayang."


Arga menelpon kelurganya tapi dari keluarganya pun tak merasa mengirim apapun pada Vania. Begitu juga keluarga Vania yang tidak mengirim apapun.


"Oke fiks, ini adalah kiriman orang gila itu," tuturnya dengan nada marah .embuat Vania merasa bingung.


"orang gila, siapa?"


"Oh gak papa sayang, jangan di makam ya," cegahnya khawatir.


"Tapi kenapa?aku mau makan itu dari tadi pagi aku pengen banget," ucap Vania kesal.

__ADS_1


"Pokoknya gak usah dimakan, dengerin kata suami. Nanti aku cari yang baru," tegas Arga tak mau gegabah sedang pengirimnya tak jelas.


__ADS_2