
"Kamu puas sekarang, kamu puas Kak, kamu tega sama Mama, kamu udah buat dia merasa bersama tidak bisa punya kesempatan mencurahkan kasih sayang untuk merawat mu sebagai anaknya!" Bentak Vania lagi dengan emosi.
Wajahnya benar-benar marah namun juga sedih, apa dayanya melihat semua sudah terlambat.
Bayu tetap diam, pandangan kosong, dan pikiran kalut telah menghantui nya saat ini.
"Sayang, cukup sayang, mungkin ini sudah takdirnya," ujar Arga berusaha menenangkan.
Lalu mendekap Vania keperluannya, Vania pun menumpahkan tangisan.sejadi-jadinya didada Arga.
Romy menepuk pundak Bayu, perasaannya tak kalah hancur kehilangan istrinya.
"Bayu, ini bukan salahmu, kamu tidak menyesali kejadian ini, Papa yakin, kamu hanya belum siap menerima kenyataan ini tapi bukan berarti kamu tidak mengakui' kan?"
Bayu berlutut di kaki Romy.
"Maaf Pa, aku memang salah, aku yang terlalu lama untuk menerima semua ini bukan karena aku tidak mengakui, tapi aku malu pada kalian Pa aku sudah membuat hati kalian terluka karena selama ini Bayu hanya dijadikan alat untuk merusak keluarga Bayu sendiri."
"Bayu yang salah, Bayu penyebab kepergian Mama, hukum Bayu, Pa, hukum!" Bayu tak dapat mengendalikan perasaan besar yang membuat gumpalan di dadanya.
Romy menangis sesenggukan, Lalu menuntun Bayu untuk berdiri dan memeluk erat putranya itu.
"Tidak Nak, jangan salahkan diri mu, ini sudah takdir Tuhan, kita harus kuat."
"Aduh." tiba-tiba Vania merasakan keram diperutnya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Arga panik.
"Aduh, perut ku sakit Kak!" Teriak Vania.
Arga langsung menggendong Vania untuk diperiksa oleh Dokter kandungan.
Sesampainya di ruangan, Vania langsung diperiksa oleh Dokter yang biasa menanganinya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Dok?" Tanya Arga. Ia menggenggam tangan Vania dengan erat setelah Dokter selesai memeriksa.
"Sepertinya Vania stress, Pak. HB nya sangat rendah, sebaiknya ia harus diinfus," jawab Dokter menyarankan.
"Gak usah Dok, kami harus mengurus jenazah Mama yang baru saja meninggal," tolak Vania.
"Tapi akan sangat beresiko jika dipaksakan Van, kerena kandungan mu masih sangat rawan," Jelas Dokter Irma.
"Tidak Dok, aku kuat kok," jawab Vania kekeh.
Dokter pmenatap Arga mendengar penolakan Vania. "Dok, apa tidak bi yg sama jika Ia diinfus setelah
Mama dimakamkan?" Tanya Arga kemudian.
"Oke, tapi jika tidak kuat, tolong segera beritahu saya. Saya hanya takut akan kondisi nya," tukas Dokter pada Vania.
"Iya Dok, saya akan berusaha membuat dia tenang," timbal Arga. Kerena tidak mungkin Arga tega membiarkan Vania tidak ikut keperistirahatan Ibunya yang terakhir kali.
"Tolong segera tebus Pak, agar sakitnya menghilang dan Vitaminnya bisa menambah tenaganya." Dokter menyerahkan resep yang ditulisnya.
"Baik Dok," jawab Arga. Lalu membantu Vania bangun dari ranjang dan menuntunnya perlahan.
Sandrs sudah dimakamkan dibantu oleh beberapa pamong dan warga setempat lalu meninggalkan keempat orang itu di pemakaman.
Vania menatap gundukkan tanah itu dengan pilu, perasaannya belum siap untuk kehilangan sosok seorang Ibu yang sangat menyayanginya telah membuatnya merasa lemah.
Sama halnya dengan yang lainnya, perasaan sedih terpampang nyata diwajah mereka.
"Ma, Bayu janji Ma, akan merebut kembali hak kita, Ma. Adiyaksa harus membayar mahal atas kejadian ini, itu janji Bayu."
Bayu benar- benar merasa bersalah dan sudah dipermainkan, tentu Adiyaksa akan mendapat balasan darinya atas perbuatan nya pada mereka.
"Ma, Seandainya Bayu tidak perduli dengan rasa malu Bayu, mungkin Bayu akan lebih cepat menemui Mama dan ngerawat Mama, maafkan Bayu, Ma," ujarnya lagi.
__ADS_1
Tak lama mereka dikagetkan oleh Pak Bram, Dana dan Mutia yang baru muncul.
"Romy, kenapa kasih kabar terlambat sih? jadi kami tidak sempat untuk membantu," tukas Dana.
"Iya Rom, kita inikan keluarga," imbuh Kakek Bram.
"Sandra, kok kamu gak pernah kasih tau sih, kalau ternyata kamu sakit keras?" Ujar Mutia pula. Mutia memegang batu nisan itu dengan perasaan sedih kerena sahabat sekaligus besannya telah pergi menghadap Allah.
Romy terdiam, Ia bingung mau mengatakan apa penyebab Ia tak mengabari Keluarga Bram.
"Ini permintaan ku," sahut Arga dingin.
Dana menatap peluh kearah Arga, Ia tau Arga membenci mereka saat ini.
"Kalian bukan keluargaku," jengah Arga.
"Arga, apa maksud mu?" Tanya Dana terkejut. Baru kali ini Arga lancang pada orang tuanya.
"Aku sudah tau semuanya, Pa," pungkas Arga menatap nanar kebencian pada orang tuanya itu.
"Ayo sayang kita pulang, kamu harus istirahat kan?" Ajak Arga kemudian sambil menuntun Vania. Vania hanya memberikan bungkukkan rasa hormat pada Kakek dan kedua mertuanya itu lalu mengikuti Arga meninggalkan mereka dalam kebingungan.
Bayu menyusul Arga dan Vania kemobil.
Romy menepuk pundak Dana, lalu tersenyum tertimbun duka untuk menguatkan sahabatnya itu.
Romy sangat paham dengan masa lalu Dana kerena mereka sahabat karib. Dana selalu curhat padanya setiap ada masalah tentang kelurganya.
Tapi Romy ingin, Dana menjelaskan sendiri permasalahannya pada arga, agar Arga mengerti semuanya secara detail.
Karena bagaimana pun Romy tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam keluarga sahabat sekaligus besannya itu. Romy meninggalkan mereka yang menatapnya kearah mobil.
Sebenarnya Romy tak tega mengabaikan sahabatnya itu, tapi ia tak ingin menyakiti perasaan dari menantunya itu.
__ADS_1