Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_75 Sandra Sakit


__ADS_3

Arga dan Vania pun tiba dirumah pribadi milik Arga . Mereka disambut Romy di depan pintu.


"Arga, Vania, dari kemaren Papa menunggu, akhirnya kalian datang juga," tukas Romy.


"Mama, kemana Pa?" Tanya Vania. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tengah yang tembus langsung ke dapur namun tidak melihat Sandra.


"Maaf nak, Papa tidak cerita." Wajah Romy seketika berubah sedih.


"Kenapa Pa?" Tanya Vania khawatir.


"Mama mu sakit, sejak kami datang kesini," jawab Romy.


"Sakit, sakit apa Pa?" Sela Arga.


"Biasa, ini soal anak lelakinya. Ia selalu mengigau memanggil nama Ardan saat tidur.


"Kasihan Mama, baru saja Kakak ketemu, malah menghilang lagi," tukas Vania merengut.


Arga pun merangkul pundak Vania.


"Ayo kita lihat!" Ajak Arga tersenyum.


Vani pun mengangguk, mereka segera menuju kekamar Sandra. Terlihat jelas Sandra terbaring lemas tak berdaya, wajahnya pun terlihat pucat pasi.


"Vania, Arga, akhirnya kalian kesini juga." Suara Sandra terdengar parau.


Vania pun langsung berhamburan memeluk Sandra. " Sabar Ma, keluarga kita sedang diuji, tolong Mama kuat, aku janji akan bawa Kak Ardan kesini," tukas Vania. Air matanya mulai menggenangi kedua mata perempuan itu.


"Mungkin ini hukuman untuk Mama, nak. Mama tidak layak menjadi Ibu dari anak lelaki Mama," ulas Sandra.


"Jangan bilang begitu Ma, mungkin Ardan masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri bertemu kita," sahut Arga menenangkan.


"Mama kangen Ar, Mama cuma pengen memeluk dia, Mama tidak pernah mendapatkan sentuhan tangannya sekali pun." Air mata Sandra semakin deras berderai. " Apa salah Mama, hingga Mama dipisahkan dengan putra Mama sendiri. Apa Mama tidak layak untuk menjadi seorang Ibu yang bahagia mendapat cinta dari anak-anaknya."


"Tidak Ma, jangan bilang begitu, aku yakin Kak Ardan pasti akan datang memeluk atau bahkan mencium Mama nantinya," hibur Vania.


"Ma, aku janji akan bawa Ardan hari ini juga!" Pungkas Arga.


"Kak," tukas Vania. Ia mengisyaratkan Arga dengan tatapan untuk tidak berjanji pada Sandra, karena Ia tidak yakin Arga mampu membujuk Bayu untuk datang menemui Sandra.


Arga membalas Vania dengan tatapan lalu pergi meninggalkan mereka dikamar itu.


"Semoga kamu berhasil ,Kak," batin Vania.


Tatapan matanya hanya penuh pengharapan pada suaminya itu.


Arga melajukan mobilnya kearah rumah keluarga Permana. Arga turun dari mobil dan disambut oleh Pak Anam.


"Selamat datang Pak!" Sapa Anam sembari membungkuk.


"Pak, apa Pak Permana ada?"


"Beliau sedang keluar kota pagi-pagi tadi."


"Kalau Pak Bayu?"


"Beliau masih belum keluar dari kamar , Pak Arga."


Tolong panggil dia aku ada keperluan padanya!"

__ADS_1


"Baki Pak, mohon tunggu disini, silahkan duduk!" Pak Anam mempersilahkan Arga duduk di sofa setelah sampai diruang tamu.


Anam segera menuju kamar dua insan yang masih belum muncul itu. Entah apa yang mereka lakukan, mungkin kelelahan habis melajukan aktivitas yang menguras tenaga semalaman. Namanya juga pengantin baru begitu pikir Pak Anam.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Teriak seorang dari dalam. Suara itu milik Bayu. Pak Anam pun masuk, ternyata Bayu sudah berpakaian rapi sedangkan Salsa masih bergulung selimut diatas ranjang.


"Ada apa, Pak?"


"Ada Pak Arga."


"Apa! Bayu nampak terlihat gusar. "Bilang saja Papa tidak ada!" Titahnya.


"Sudah Tuan muda, tapi beliau bilang Ia ada perlu dengan Tuan muda."


"Oh, ya sudah, nanti aku kesana," jawab Bayu


"Mau apa dia," gumam Bayu kemudian.


Bayu pun langsung bergegas menyusul Anam menemui Arga. Arga pun replek berdiri,keduanya bersi tegang bertatapan satu sama lain. Anam memandang mereka penuh rasa heran, sepertinya ada yang tidak beres dengan keduanya.


"Tinggalkan kami, Pak Anam!" Titah Bayu.


"Baik Tuan Muda." Anam pun membungkuk lalu pergi meninggalkan mereka.


"Ada apa, Ar? Jika tujuan mu kesini hanya untuk membuang waktu ku, pulanglah!"


"Tidak Bay, aku tidak akan pulang, jika tidak membawa serta diri mu," tegas Arga.


"Apa mau mu?" Jengah Bayu.


"Mama Sandra sakit."


"Menemuinya."


"Sia-sia, aku tidak akan menemui nya."


"Kenapa? Apa yang terjadi dengan mu bukanlah salah orang tua mu, Bay. Mereka hanya korban dari Adiyaksa. Seharusnya Adiyaksa lah yang kau hukum atas semua yang menimpa mu."


"Aku tidak perduli."


"Kau harus perduli Bay, Adiyaksa tidak punya hak apapun atas harta keluarga mu. Dia hanya anak angkat, tapi dia membuat keluarga mu kehilangan semuanya dan menanggung penderitaan karena kehilangan diri mu, sadar Bay! Rebut kembali hak mu yang sudah dirampas oleh biadab itu."


Bayu pun terdiam, Ia memikirkan segala yang diucapkan Arga.


***


Tiba-tiba saja Sandra diserang kejang, tubuhnya terasa kaku.


"Mama, mama, kenapa Ma?" Vania panik.


"Sandra, Sadar Sandra!" Panggil Romy.


"Pa, ayo bawa Mama kerumah sakit, Pa!"


Romy pun segera menggendong Sandra dibantu oleh Vania.


Diperjalanan

__ADS_1


"Pa, aku harus hubungi Kak Arga, Pa."


"Iya, nak."


Vania pun segera menelpon Arga, sambil memangku kepala Sandra di jok belakang mobilnya.


***


"Vania." Tukas Arga yang melihat layar ponselnya bertuliskan Istri ku Tercinta.


"Halo, sayang."


"Kak, Mama kejang.


"Apa, Mama kejang?"


"Iya Kak, aku dan Papa sedang dalam perjalanan kerumah sakit."


"Iya, iya, kamu yang sabar ya sayang, Kakak akan segera kesana."


"Baik Kak, Vania tunggu."


***


"Ardan, Ardan anakku," panggil Sandra ditengah ketidak sadaran nya.


"Ma, tenang Ma, Kak Arga pasti bawa Kakak untuk Mana." Vania sangat panik, Sandra terus merancau, bibir juga tampak membiru.


"Pa, ayo cepet, Pa!"


"Iya nak."


Romy sudah perduli, mereka telah menerobos lampu merah, untunglah suasana sepi dan polisi tidak ada jadi mereka aman tampa halangan.


Rumah Sakit Ibu Pertiwi


Sandra langsung di masukkan ke UGD, Vania tak bisa ikut masuk karena dilarang, Ia mondar-mandir tak tentu arah.


***


"Lihat Bay, Mama Sandra sakit keras, jangan sampai kau menyesal jika kau tetap bersikap egois. Seharusnya Kau bersyukur, tidak menodai adikmu sendiri, dan bertemu keluarga mu. Tapi kami sudah memaafkan kamu, kerena kami sadar kau tidak sepenuhnya salah. Terserah kamu, aku tidak akan datang lagi setelah ini, sampai kau menyadarinya sendiri," jengah Arga. Arga pun meninggalkan Bayu yang mematung dalam beribu kebingungan.


Saat Arga hendak membuka mobil, sebuah tangan menahannya dari belakang.


"Aku ikut!" Tukas Bayu.


Arga pun mengulas senyum, mereka berdua pun masuk kemobil.


"Pak Anam, beritahu Salsa aku ada perlu!" Pesan Bayu sebelum pergi.


"Baik Tuan Muda." Keduanya pun meninggalkan halaman rumah itu.


"Mau kemana dia?" Tanya Dewa yang muncul dari belakang Anam.


"Tuan muda, Tuan muda Bayu bilang, Ia ada perlu."


"Dengan Siapa?"


"Pak Arga."

__ADS_1


"Sepertinya, mereka sudah saling mengenal lama?"


Anam hanya terdiam mendengar ucapan Dewa, Ia tak berani menjawab, karena dirinya juga kurang yakin sejauh apa Arga dan Bayu saling mengenal.


__ADS_2