Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_21 Ada Rasa


__ADS_3

Siang hari pak wisnu pun sudah bersiap untuk menjemput Ilman di stasion. Memakai mobil bak yang terparkir dihalaman villa. Ia sangat senang karna Ilman lulus dari kuliah S1 nya dibandung dengan nilai terbaik. Mobil bak itu adalah salah satu kendaraan yang digunakan untuk mengangkut hasil panen pucuk teh yang dikirim keluar kota.


"Pak, hati-hati dijalan ya!" pesan Arga.


"Oke, Den," jawab Pak Wisnu.


"Jangan lupa beli sate kambing nanti."


"Sia, Den. Kalau gitu bapak pergi dulu, Assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam," jawab Arga.


Arga mengamati mobil pak Wisnu sudah tak tampak lagi. Ia melangkah masuk ke villa. Diilihatnya Vania sedang duduk dilantai menonton Drakor dan memakan cemilan kentang goreng.


"Sini, aku juga mau!" rebut Arga pada cemilannya.


"Kebiasaan," sungut Vania kesal.


Arga menyuapkan separuh kentang yang sudah ia makan dari mulut Vania dengan senang hati Vania melahapnya.


"Kenapa cemberut?" tanya Arga tunjuk nya pada pipi Vania.


"Siapa yang cemberut?" tanya Vania cemberut.


"Itu..."


Cup!


Ciuman Arga mendarat dipipi nya membuat wajah Vania seketika memerah.


"Kebiasaan, cakem kan?" tukas Vania.


"Biarin, itu akan terjadi selamanya," jawab Arga dengan senyum menggoda.


"Ya iyalah suka-suka," dengus Vania.


Arga mengacak-ngacak rambut Vania gemas.


"AW sakit," keluhnya manja.

__ADS_1


Arga menarik kepala Vania di dadanya sambil masih tetap mengusap rambut Vania.


"Sayang, jangan pernah pergi ya. Temani aku selamanya"," tukas Arga serius.


Vania menatap lekat wajah suaminya.


"Emang aku akan kemana?" tanyanya nyengir.


"Aku cuma takut kalau nanti kamu ninggalin aku," tukas Arga melo.


"Cengeng," goda Vania.


"Kok cengeng sih? aku serius sayang." Arga mengecup pucuk kepala Vania


"InsyaAllah, Vania akan setia kok," tukasnya. Lalu terkekeh melihat tawa renyah Vania lagi-lagi Arga mendaratkan ciumannya dipipi Vania.


"Ahk, Arga," manjanya merasa di kerjai. Vania mendorong tubuh Arga.


"Ehem...." Sebuah deheman menyadarkan mereka.


Sontak Arga dan Vania menoleh mereka merasa malu ternyata Bi Miah memperhatikan mereka.


"Bibi," tukas Vania.


"Bibi bisa aja, apa Bibi sudah menyiapkan makanan untuk anak Bibi? kalau belum bibi pulang saja dulu pasti Ilman lapar nanti," tukas Arga mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Den. Ini Bibi mau ijin. Semua sudah bereskan kok," tukas Bi Miah.


"Iya Bi, makasih," tukas Vania serata tersenyum.


Setelah Bi Miah pergi Arga pun berpamitan.


"Sayang, aku ke kebun sebentar ya. Jangan kemana-mana kamukan belum sehat benar," pesan Arga diangguki Vania.


Setelah Arga pergi Vania pun menyelesaikan Drakor nya dan terus sembari nyemil. Beberapa jam iya mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk santai di teras sesekali ada yang lewat menegurnya.


"Arga kemana ya kok lama sih?" keluhnya menopang dagu.


Tiba-tiba ada penjual batagor lewat.

__ADS_1


"Batagor, batagor enak, nikmat sekali makan pasti ketagihan" teriak penjual batagor membuat Vania menelan liurnya. Ia pun memutuskan lari kejalan untuk membelinya.


"Batagornya, Bang!" teriak Vania.


Ketika menyebrang sebuah motor ninja hampir menabraknya hingga Vania terkejut dan jatuh.


"AW....." Vania meringis kesakitan. Penjual batagor berhenti.


Pengendara motor ninja itu turun dari kendaraanya lalu melepaskan helmnya dan mengulurkan tangan untuk membantu Vania yang masih mengusap lututnya yang lecet terkena jalan beraspal itu.


"Maaf..," ujar pemuda itu.


Vania mendongak pemuda itu terkesima.


(Siapa gadis ini cantik sekali) batin pemuda itu terpesona.


Vania mengabaikan uluran tanganya dan memilih berdiri sendiri.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucapnya menggaruk pelipisnya. Tatapan nya nyalang dan tak berkedip menatap Vania.


Menyadari itu Vania merasa risih.


"Gak papa," ungkasnya datar. Vania berlari kearah tukang batagor dan membelinya. Saat hendak membayar tiba-tiba pemuda itu lebih dulu mengulurkan uang.


"Gak usah, Bang. Biiar aku bayar sendiri," tolak Vania merasa tak nyaman.


"Gak papa ini permintaan maaf ku," jawab pemuda itu terus menatap lekat Vania dan tersenyum manis.


"Oh, terima kasih," jawab Vania datar. Vania pun masuk ke villa. Sesekali di liriknya pemuda itu masih saja terus menatapnya. Tapi Vania berusaha mengabaikan tatapan pemuda itu.


(Siapa pemuda itu, terus saja memperhatikan aku)


Beda dengan pemuda itu ia masih tertegun ditempatnya.


"Kenapa, Mas. Terpesona?" goda tukang batagor.


"Eh, bapak biasa aja," jawabnya malu tertangkap tukang batagor.


"Cewek cantik begitu mah pasti udah ada yang punya," tukas Tukang batagor itu.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum simpul.


(Sudah pasti, tapi aku akan berjuang) pikirnya tak patah semangat.


__ADS_2