Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_45 Penyelidikan


__ADS_3

Romy pun mengikuti Gilang sampai ditempat fitnes. Tampak ketua yang membantu para olahragawan itu menyapa Gilang di teras.


"Lang,apa kabar?lama gak keliatan lo,"tukas Bang Wandy.


"Maaf Bang,soalnya Gilang sibuk banget ngurusin tugas kuliah,"jawab Gilang.


Diparkiran.....


"Siapa yang ngobrol sama pemuda itu?"tanya Romy pada kedua bodigat nya dan seorang sopir."itu bang Wandy,bos.dia terkenal dengan bela dirinya,"jelas salah seorang bodigat.


"Cepat kalian ganti baju dan masuk,cari tau Gilang ada tanda lahir dipinggang belakang atau tidak!"perintah Romy. Mereka berdua ditugaskan untuk menyamar menjadi olahragawan baru disitu.


"Siap bos,"jawab keduanya. Mereka pun segera keluar dan berganti pakaian.


Gilang nampak memulai olah raganya di mulai olah raga lari.kedua orang itu sembari perlahan mendekat disamping Gilang. Kedua masih berusia muda.


"Wah...Bang,hebat sekali permainan abang bisa mengatur nafas seperti itu,"tutur seorang diantara mereka berdua, Fathir namanya.


"Iya Bang,ajarin kita bang,biar kita bisa kuat ikut turnamen lari,"rengek Yudhi.


Gilang pun tersenyum.Dia adalah pemuda yang sopan dan ramah semua pemula pasti Ia yang mengajari.


"Kalian baru disini?"tanya Gilang sambil terus berlari start dengan nafas yang masih stabil.


"Iya Bang,kami mau ikut kejuaraan,"jawab Yudhi.


"Oke...ayo mulai dari star perlahan dulu,"tukas Gilang menghentikan aksinya. Dan meminta salah seorang belajar dari mereka naik. Fathir pun naik keatas alat canggih itu dan memukai lari perlahan.


Dengan telaten Gilang memandu Fathir. Tentu mudah bagi Fathir mengendalikan nafasnya karna ia adalah olahragawan dan ahli bela diri pilihan.


Setelah dirasa lengang,Fathir pun mengisyaratkan Yudhi untuk memeriksa punggung Gilang dengan menggerakkan kepalanya.


"Kenapa,pusing?"tanya Gilang yang heran.


"O...gak Bang,pegal aja kepalanya,"timbal Fathir menggerakkan kepalanya.


Yudhi pun perlahan menggerakkan tangannya untuk membuka baju Gilang. namun karna Gilang tidak diam dan bergerak terus sulit untuk Yudhi melakukannya.


Fathir pun mendongakkan kepalanya keatas tanda bertanya.namun Yudhi tak mampu melakukanya.karna tiba-tiba bang Wandy muncul.


"Siapa Lang?"tanya Bang Wandy.


"Olahragawan baru Bang,"jawab Gilang. Gilang adalah pemuda yang santai.


"O....Gilang,tadi Bang Naim cari lo."


"Ngapain Dia,Bang?"tanya Gilang.


"Gak tau,katanya butuh tenaga lo buat nangkep maling dihotel bosnya,"jelas Bang Wandy.


"Okelah...aku akan menemuinya sekarang. Bang aku tinggal dulu ya,'pamitnya pada Fathir dan Yudhi.


"Iya bang."

__ADS_1


Tampak dari parkiran Gilang pergi menaiki motor gedenya.


"Kemana pemuda itu,ikuti pak,"perintah Romy.


"Baik Pak".


Oak Romy pun menelpon kedua bodigat nya untuk menyusul.


***************************************************


Maaf ya orang awam gak tau nama alatnya....kasih tau dong.apa sih yang dipakai Gilang lari namanya.


.


.


.


Lanjut....!!!!!


"Gimana,apa ada hasilnya?"tanya Arga pada Vino,Bayu dan Ilman.


"Sulit bos,soalnya tanda buktinya hilang.tapi saya mengenali pelakunya bos,"jawab Vino.


Bayu pun mengerutkan keningnya.


"Wah gawat kalau sampai Vino tau,"batin Bayu khawatir.


"Yakin,kamu paham?"tanya Arga memastikan.


"Hmmm...apa pendapat kalian?"tanya Arga pada Bayu dan Ilman.


"Em..kita lakukan pencarian bos,"sahut Ilman.


Bayu masih nampak diam.


"Bay,gimana?"tanya Arga yang melihat Bayu terdiam.


"Oh ..iya saya ikut saja,"tilasnya.


Kembali kerumah.. !!!!


"Ma,seperti nya obat mama habis,aku beli sebentar ya ma,"pamit Vania.


"Gak usah Van,Arga kan melarang kamu keluar.kamu kan tau,kamu udah dua kali diculik."Sandra menyarankan,agar semua tidak terulang lagi.


"Tenang ma,kan Bagas dah ditangkap.lagian kan apotiknya gak terlalu jauh.nanti Pak Bono yang antar,"tukas Vania agar mamanya merasa tenang.


"Ya udah,hati-hati ya,"pesan sang mama,


"Oke ma,"jawab Vania. diikuti kecupan Vania di kening mamanya..


Vania pun meraih tas slempang nya dan melangkah pergi.

__ADS_1


Sampai Di apotik. Vania langsung memesan obat yang dibutuhkan."berapa pak?"tanya Vania. Setelah menerima obat yang disodorkan.


"Seratus lima puluh ribu mbak."


"Makasih pak."


"Sama sama neng."


Saat Vania memutar tubuhnya,ternyata Fiona telah berdiri dibelakangnya, membuatnya terkejut.


"Fiona,"tukasnya.


"Hay,Van apa kabar,"seringai Fiona memicingkan mata.


"Mau apa kamu kesini?"tanya Vania.


"Mau ketemu kamu,aku dengar kamu hamil ya,"ucapnya nampak mengejek.


"Apa urusanmu?"tanya Viona meninggikan suaranya.


"Emang kenapa?biasa aja dong,"tukas Fiona sembari menyelipkan rambut Vania kebelakang telinganya.Namun Vania menepisnya.


"Maaf,permisi,"ucap Vania hendak pergi namun dihadang Fiona.


"Nanti dulu dong,mau kemana buru-buru?"godanya.


"Minggir,aku mau pergi,"teriak Vania mengusir Fiona.


"Eh,perempuan penggoda kamu tu yang harus pergi tinggalin Arga. Dia itu milikku,"bentak Fiona.


"Heh,tak tau malu.bukannya kamu yang ninggalin Arga,sekarang kok ngejar-ngejar sih dia kan punya istri,cantik Lagi. Mau jadi pelakor ya,"ejek Vania dengan PD.


"Kurang ajar,beraninya ngehina aku.kamu gak takut sana aku,ha!"dengus Fiona kesal.


"Ngapain takut,takut tu ama yang Cipta'in,"tegas Vania tak mau kalah.


"Sialan lo,"tutur Fiona lalu mendorong Vania hingga hampir jatuh Tapi syukurlah ada malaikat penolong menangkapnya.


Siapa lagi,kalau bukan suami tercinta.


Kini Vania berada dalam dekapan Arga dan saling bertatapan. Membuat Fiona semakin panas.


"Gak papa sayang?"tanya Arga sembari membenarkan posisi mereka. Vania pun menggeleng.


Lalu Arga pun dengan garang menatap Fiona.


Lalu mendekati Fiona dengan sorot mata seperti singa lapar.


"Kamu mau nyelakain mereka,ha!"bentak Arga marah.


"E..e...enggak Vania yang ngejek aku",timbal Fiona sembari menunduk takut.


"Awas kamu,kalau sampai istri dan anakku celaka.kamu yang aku cari,"ancam Arga. Lalu menarik pergelangan tangan Vania.

__ADS_1


"Hiis,"dengus Fiona kesal menatap mereka.sembari menghentakkan kaki.


__ADS_2