
Arga pun tiba dari Hotel, Ia sengaja pulang lebih awal untuk menemui Vania.
"Vania, Vania, sayang!" Teriak Arga memanggil.
Ia membuka kamar dan memeriksa semua ruangan namun Ia tak menemukan keberadaan Vania. Arga mulai panik.
"Bi Aah?" Pangilnya pada Bi Aah yang sedang mencuci piring didapur.
"Vania dan yang lainya kemana, bi?"
"Oh non Vania pergi sama nyonya, tapi Bibi gak tau kemana nya, Den," jawab Bibi.
Arga pun kembali ke teras dan sedikit khawatir.
Dilihatnya mobil milik mamanya datang. Dan berhenti didekat Arga.
"Sayang, kamu dari mana saja,' kan sudah kubilang izin dulu sama aku!" Teriak Arga menumpahkan rasa marah.
"Maaf, aku tadi menemui Papa, Mama dan juga Gilang," jawabnya sembari melihat kearah mereka yang baru keluar dari mobil.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Mereka diusir Kak."
"Diusir? Sama siapa?" Tanya Arga.
Ia pun mengingat kalau Romy sudah menanda tangani surat perpindahan kekuasaan.
"Oh iya aku lupa, Kalau begitu Papa sama Mama bisa tinggal di rumahku kita akan tinggal bersama. Dan Gilang maaf ya, akan lebih baik kamu tinggal disini bersama orangtuaku dan kakek," tukas Arga memberi penjelasan. Bagaimana pun Ia tak mau mengambil resiko kalau Gilang tidak berbuat jahat dengan Vania. Apalagi keduanya tidak memilik hubungan darah.
"Aku mengerti akan kekhawatiran mu, Ar. Sudah banyak hal yang kau lalui, aku tidak akan tinggal bersama kalian. Aku sudah memutuskan akan menjalani hidupku sendiri dengan baik. Aku tidak bisa memilih untuk tetap bersama Papa Adiyaksa atau pun kalian. Kerena kita memang bukan sedarah atau sekandung," tolak Gilang.
"Tidak Gilang, kau sudah ku anggap sebagai anak," tukas Sandra.
"Tidak Ma, ini sudah menjadi pilihan Gilang. Gilang akan memilih untuk sendiri dan mencari jati diri Gilang," jawab Gilang kekeh menolak.
"Tapi Lang, bagaimana kau bisa hidup?"
"Aku bekerja ditempat fitnes dan akan mengontrak rumah. Kita masih bisa saling berkunjung, bukan?"
Mendengar kelapangan hati Gilang, Arga pun menepuk pundak Gilang. "Makasih ya Lang, atas bantuan mu selama ini."
"Kau tau Ar? jika aku tetap tinggal. Maka Papa Adiyaksa akan memusuhi ku. Aku tau diri dan tidak bisa memihak kalian ataupun dia. Bagaimana pun dia membesarkan ku dengan kasih sayang dan segala kebutuhan materi. Walaupun tak bisa ku pungkiri kalau aku hanya dimanfaatkan," tukas Gilang sedih.
"Kalau begitu aku pergi!" Pamit Gilang kemudian.
"Kau akan pergi sekarang, Lang?" Tanya Romy.
__ADS_1
"Iya Pa, Assalamu'alaikum," tukas Gilang lalu pergi.
"Tunggu Lang, tolong terima ini untuk keperluan mu!" pinta Arga. Ia menyerahkan cek yang cukup besar jumlahnya.
"Apa ini?" Tanya Gilang tercengang.
"Anggap itu sebuah hadiah dari kami untuk kakaknya, aku akan kecewa jika kamu menolaknya," tukas Arga.
"Baiklah, jika penolakan membuatmu tidak lebih baik, aku terima," jawab Gilang. Ia pun meninggalkan tempat itu.
"Aduh,' keluh Vania perutnya merasa keram.
"Sayang, ada apa?" Tanya Arga panik.
"Maafkan Mama nak ini salah Mama tidak bisa menjaga Vania. Ia tadi jatuh didorong Adiyaksa," ungkap Mutia merasa bersalah.
"Apa! jatuh? Benar itu sayang?"
"Maaf, aku yang salah memaksa Mama mengantarku tadi," jawab Vania gugup.
"Tidak nak, kami yang salah membuat Vania khawatir pada kami," sanggah Sandra.
Arga terdiam dan bingung mendengar ucapan mereka.
"Oke, baiklah hentikan perdebatan kalian."
Arga pun langsung menelpon Dokter untuk datang. Setelah selesai mematikan HP nya, Arga langsung menggendong Vania kekamar nya.
"Kak, maaf. Apa Kakak masih marah?" Tanya Vania.
"Kau pikir apa, ha? Kau selalu membuat aku khawatir, bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita? Apa kau mau membunuhku dengan membuat aku takut, ck?" Sentak Arga kesal. Sambil mu memegang kedua pinggangnya yang dipenuhi kekhawatiran itu.
Vania pun langsung menangis dengan bentak kan Arga. "Hig.. hig... ."
Arga jadi merasa bersalah melihatnya. Lalu duduk ditepi ranjang.
"Aku tidak bermaksud memarahi mu, sayang. Aku takut kamu dan anak kita kenapa-napa," ucapnya sambil menghapus air mata Vania. "Apa perutmu masih sakit?" Tanya Arga lagi mengelus perut Vania.
"Sedikit, maafkan aku selalu membuat Kakak merasa khawatir," tukas Vania kemudian. Ia tau, pergi tampa seizin suami adalah kekeliruan.
"Tidak apa-apa, semoga semua baik-baik saja ya." Arga mencium tangan Vania dengan tatapan yang masih terlihat cemas.
Tok tok!
Suara ada yang mengetuk pintu.
"Masuk!" Tukas Arga. Ternyata seorang Dokter dan
__ADS_1
Kakek dan kedua orang tua mereka.
"Silahkan Dok!"
Arga pun beranjak dari tempat duduknya.
Dokter segera memeriksa keadaan Vania.
"Berapa usia kandunga nya?" Tanta dokter.
"Sudah masuk satu bulan, Dok." Arga nampak terlihat semakin cemas begitu juga Kakek dan orang tua mereka.
"Mudah-mudahan, tidak terjadi apa-apa, Bayi nya sangat sehat. Apa tadi jatuhnya kuat?" Tanya Dokter lagi.
"Mungkin Dok," sahut Mutia.
"Tadi Ia di tampar hingga jatuh," jawab Sandra
"Oh baiklah, saya akan beri pereda sakit. Mungkin dia hanya keram perut." Dokter pun menuliskan sesuatu di kertas kosong dan menyerahkannya pada Arga yang masih cemas.
Dokter pun menepuk pundak Arga.
"Tidak perlu khawatir, tidak semua wanita hamil yang jatuh keguguran Arga. Dan tidak semua kandungan itu lemah. Saya yakin Vania dan bayinya tidak apa-apa." Dokter menatap Vania.
"Segera tebus obat ini, agar sakitnya hilang, tapi jika tidak menghilang segera bawa kerumah sakit ya," pesan sang Dokter. Dia adalah Dokter Adrian, Dokter pribadi keluarga Arga sekaligus sahabat Arga.
"Iya Ian,"
"Tidak perlu sungkan Arga, Aku akan melakukan yang terbaik untuk istrimu!" Tukas Dokter.
"Kalau begitu saya Pergi dulu!" Dokter pun meninggalkan mereka diantar oleh Dana.
Arga kembali duduk dan menatap Vania.
"Jangan lakukan lagi, kau bisa membunuh ku," lirih Arga.
Vania pun mengangguk tanda mengerti.
"Ayo, istirahat ndok dan jangan mengerjakan apapun!" Pinta Kakek.
"Iya Kek," jawab Vania.
"Arga. Biar Papa yang cari obatnya!" Pinta Romy.
"Tidak perlu Pa, biar Arga saja."
"Tidak apa-apa nak, kau jaga saja Vania, ya!" Pinta Romy.
__ADS_1
"Baik Pa," tukas Arga menyerahkan nota itu.
Mereka pun meninggalkan Arga dan Vania berdua.