Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_81 Kalut


__ADS_3

Arga masuk kemobil dan meninggalkan hotel dengan perasaan tak tentu arah. Ia masih tak menyangka akan pernyataan Vino hari ini.


Vino yang selama ini hidup sebagai Sahabatnya sejak kecil ternyata adalah saudara tirinya sendiri.


Dulu Arga bertemu Vino sebagai anak jalanan yang sering meminta-minta didepan rumahnya. Karena rasa iba Arga meminta Dana merawat Vino dan memberikan kehidupan layak.


Awalnya Dana menolak, namun akhirnya menyetujui keinginan Arga.


Ia memberikan rumah dan segala isinya serta seorang ART untuk memasak kebutuhannya. Arga selalu datang menemuinya setiap hari dan bermain bersama.


Hingga keduanya tumbuh dewasa dan lulus kuliah Arga mengajaknya ikut serta untuk bekerja di kantor.


Karena kecerdasan Arga dan bantuan Vino, mereka bisa membesarkan perusahaan dan membangun Hotel AG bersama-sama.


AG dibangun atas keuntungan dari hasil kerja mereka. Kerena kebaikan Vino, keluarga Arga mengangkat Vino sebagai anak.


Arga menghentikan mobilnya secara mendadak lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Vino....!" Teriak Arga. "Tega sekali kamu berkhianat, apakah kamu tahu, aku sangat menyayangi dan menghormati kamu seperti seorang Kakak. Ta... Tapi, tapi ternyata kamu adalah Kakak ku, kakak dari rahim wanita yang berbeda."


Air mata. Arga seketika pecah.


"Ya Allah, apa salahku lahir ke dunia ini? aku begitu tidak berguna sekarang," gumam nya.


Drrrrttt!


Arga menghapus air matanya dan meraih ponselnya disaku baju kemejanya saat merasakan getaran.


"Halo sayang," sapa Arga karena ternyata Vania yang menelpon.


"Kakak, kakak dimana, tolong aku Kak perut ku sakit," teriak Vania menangis.


"Ya Allah, sayang, ada apa sama kamu, Papa Romy kemana?" Tanya Arga Panik.


"Papa keluar, katanya cari kerja."


"Bayu?"

__ADS_1


"Kak Bayu sudah pulang."


"Kamu tenang ya sayang, aku akan segera kembali."


Arga pun segera melajukan mobilnya dengan cepat setelah ponsel Ia putus. Kepanikannya membuat nya hilang arah hingga hampir menabrak seorang penjual bakso.


"AstaufiruLlah," ucap penjual itu kaget. Ia melihat seluruh dagangannya tumpah kerena gerobaknya roboh saat terlepas dari tangannya.


Arga segera turun dan meminta maaf.


"Maaf Pak, saya gak sengaja, apa bapak tidak apa-apa?"


"Tidak nak, tidak apa-apa tapi dagangan Bapak_," tuturnya menatap kearah bakso yang berserakan dan gerobaknya yang rusak.


"Mohon maaf Pak, saya benar-benar gugup dan buru-buru karena istri saya sakit dan sendiri dirumah," ulas Arga. Ia pun merogoh dompetnya dan menyerahkan Uang kest tiga juta rupiah lebih.


"Pak tolong maafkan saya, anggap uang ini sebagai ganti rugi kerusakan dagangan bapak," serah Arga yang memberikan langsung ke genggamam penjual itu.


"Iya iya den terima kasih," balas sang Bapak.


Arga melajukan mobilnya tergesa-gesa hingga tiba di mansion nya. Tampa berpikir panjang Arga langsung mencari sumber suara Vania yang berteriak.


"Tolong, aduh, tolong sakit."


Arga terkejut ketika melihat Vania yang tergeletak dilantai samping ranjang dan darah yang mengalir dari kaki nya.


"Sayang, apa yang terjadi?" Arga terlihat gelisah dan menangis menghampiri Vania. Tubuhnya terasa sangat lemah.


"Kakak sakit," keluh nya.


Arga menggendong Vania dan langsung membawanya kerumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" Tanya Arga yang dipenuhi kepanikan setelah Dokter selesai memeriksa.


Dokter terlihat sedih dan merasa tak sanggup memberi tahukan Arga tentang istrinya.


"Dok, tolong jawab Dok, jangan biarkan saya khawatir!" Teriak Arga kesal.

__ADS_1


"Maafkan saya Pak, anak Bapak tidak tertolong, kerena benturan keras saat terpeleset dikamar mandi," ungkap Dokter.


"Apa!" Arga mengusap peluh wajahnya. Duka yang tak disangka telah menghancurkan dan meremukkan jiwanya dalam sesaat.


"Ya Allah, aku tahu mungkin tak layak bagi ku untuk bahagia saat ini, karena aku telah merampas kebahagian keluarga yang lain selama ini," Oceh Arga menangis tak henti-hentinya. Lemah, kata itu yang saat ini tepat berada di dirinya.


Vania yang masih berbaring di ranjang rumah sakit pun ikut menangis saat mendengar penjelasan Dokter dari luar.


"Pak, tolong yang sabar ada perihal lain juga yang harus kami sampaikan." Dokter memberi tahu dengan rasa tak sanggup.


"Apa itu Dok, apa ada masalah dengan Vania?" Tanya Arga yang diterpa badai berulang-ulang.


"Pengoretan yang kami lakukan terhadap Vania akan sedikit sulit membuatnya hamil kembali," jelas sang Dokter.


"Apa Dok? Emangnya kenapa?"


"Kandungan Vania sangat lemah, kalau pun hamil pasti sulit untuk membuat bayinya bertahan. Bapak harus mampu memperhatikan pola makan Vania dengan baik yaitu pola hidup sehat berolah raga dan makan makanan empat sehat lima sempurna agar kandungannya kembali kuat," ulas sang Dokter.


"Tapi berarti kami masih punya harapan memilik anak kan Dok?"


"InsyaAllah, semua adalah kehendak dari Allah."


Setelah Dokter pergi Arga pun menemui Vania yang tengah menangis sesenggukan.


"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Arga yang pura-pura tegar didepan Vania. Sambil mengusap pucuk kepala Vania, menggenggam tangan Vania dengan erat dan menciumnya.


"Maaf Kak, maafin aku, aku yang salah, aku gak hati-hati sampai aku terpeleset dikamar mandi." Tangis histeris Vania membuat Arga tak mampu membendung air matanya.


"Tidak sayang, tidak apa-apa Allah lebih menyayangi anak kita lebih dari kita kan." Arga berusaha terap terlihat tegar didepan Vania meski pun hatinya sedang ditengah kekalutan yang besar.


"Tapi Dokter bilang kita akan sulit mendapatkan anak kan?" Bagaimana jika aku tak bisa hamil lagi?"


"Sayang, itu hanya ucapan Dokter, Tidak dengan yang menciptakan. Tidak ada yang sulit baginya jiga Ia berkehendak," terang arga.


****


Maaf ya baru up lagi soalnya lagi kurang sehat, ini aja aku sempetin bikin cerita buat kalian pembaca setiaku. Doain Author dan keluarga cepet sehat ya! Biar bisa up tiap hari, makasih....

__ADS_1


__ADS_2