Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_42 Perhatian Arga


__ADS_3

Malam itu Vania sudah melihat Arga tertidur pulas di kursi dan bertumpukan tangan disamping ranjangnya. Namun ia tak dapat menahan hajatnya untuk kekamar mandi bila ingin membangunkannya ia pun tak tega.


"Aduh,bgimana ni, kasihan juga suamiku pasti dia capek seharian ngurusin aku," lirihnya pada diri sendiri.


Karna sudah tak tahan lagi ia pun memutuskan untuk pergi sendiri dan membawa botol infus itu.


Tubuhnya rupanya masih sangat lemah namun ia berusaha untuk kuat.


Tiba-tiba..


bruuk!


"Aduh," keluhnya tubuhnya lunglai dan jatuh membuat Arga terbangun dengan suara keluhannya.


" Astaufirullahal azhim, Sayang." Arga bergegas membantu Vania berdiri lalu mendudukkannya diranjang dan mengangkat selang infusnya.


"Kamu mau kemana, Sayang? bahaya kalau kamu pergi sendiri. Kenapa gak bangunin aku?" oceh Arga khawatir.


"Maaf, aku mau pip"s, aku udah gak tahan," tuturnya dengan sedikit malu membuat Arga tergelak dengan pernyataan Vania.


"Ya udah, ayo aku antar, tapi pegang infus ini yang tinggi," ucapnya meminta Vania memegangnya lalu menggendongnya.


"Ayo pelan-pelan aja," tukas Arga.


Vania masih terdiam berharap Arga akan pergi.


"Kenapa malah liatin? Ayo, mau aku bukain," goda Arga gemas.


"Kamu keluar dulu," pinta Vania memberanikan diri.


"Ha,emang kenapa? oh kamu malu sama suami sendiri?"


"Sayang, aku ini suamimu. Aku gak mau ambil resiko meninggalkan kamu sendiri. Bagaimana kalau kamu jatuh dan kalian kenapa-napa. Disini ada anak kita, Sayang, yang harus kita jaga,ayo cepat kenapa malu aku udah sering liat juga kan?" seringai Arga menatap serius.


Vania ppasrah dan menurut melakukannya didepan suaminya. Setelah selesai Arga menggendong Vania kembali dan membaringkannya keranjang.


" Terima kasih," irih Vania.


"Sama-sama, Sayang," tukas Arga tersenyum.


"Ayo tidur lagi baru jam 01.25, tu!" tunjuknya di jam tangan.


Arga menyelimuti tubuh Vania.


"Aku mau dipeluk," rengek Vania memohon.


"Hah, tapi sempit, Sayang. Aku takut kamu gak nyaman nanti," tolak Arga.


"Cukup kok, ayo aku mau dipeluk," rengek nya lagi sembari menggeser tubuhnya.


Arga mengalah untuk berbaring disamping Vania dan memeluknya hangat.


Cup!


Arga mendaratkan ciuman dipipi Vania membuat Vania merasa tenang.

__ADS_1


Tak lama Vania tertidur dengan belaian Arga dikepala dan diperutnya.


Arga memperhatikan wajah istri yang kini dalam pelukannya dan tersenyum sendiri.


"Makasih ya, Sayang sudah hadir dalam hidupku dan memberi hadiah terindah disini," lirihnya menatap sendu wajah sang istri dan mengelus perutnya.


Hingga akhirnya iya pun ikut tertidur.


Pagi hari yang cerah, Arga sudah bangun dan membersihkan diri. Tubuhnya kembali bugar setelah tertidur disamping istrinya.


Vania membuka matanya terlihat kedua ibu kesayanganya tengah mengobrol.


Tak didapatinya Arga diruangan itu.


"Ma, kak Arga dimana?" tanyanya celingukan.


"Eh sayang dah bangun nak?" sapa Mutia.


"Arga kehotel sebentar, Sayang. alAda urusan," jawab Sandra sang Mama.


"Mau mandi nak, ayo amama antar tadi suamimu sudah siapkan air hangat," tawar Mama Mutia.


"Iya, Ma."


Mutia membantu Vania mandi dengan sangat sayang. Sandra yang melihatnya sangat yakin kalau Vania sudah ditempat yang benar dan sangat aman. Tentu keluarga Arga akan melindunginya.


"San, Mana Vania?" tanya Kakek yang baru datang.


"Masih mandi sama Mutia, Pa?" jawab Sandra.


"San, kamu jangan khawatir ya atas kejadian yang menimpa Vania kami akan menjaganya dengan sangat baik," tutur Kakek kemudian.


"Iya, kamu harus bisa mencari saudara Vania dengan tenang, aku dengar dari Romy bahwa kalian mendapat petunjuk kalau dia ada di kota ini," jelas Kakek diangguki Sandra tampa sadar air matanya meleleh.


"Aku sangat merindukkan putraku Pa, sudah 25 tahun kami tidak berjumpa dengan dia setelah orang itu menculik Ardan."


"Jadi kakak Vania seusia dengan Arga, ya?" tanya Kakek ingin tau.


"Iya hanya beda bulan, aku mengendong Ardan yang masih berusia tiga bulan saat Mutia melahirkan Arga waktu itu."


Tak lama Vania dan Mutia keluar.


Sandra segera menghapus air mata nya. Vania jadi heran melihatnya.


"Ma, mama kenapa? Mama habis nangis ya?"


"Oh, enggak, Sayang. Ma..mama senang aja kalau Vania akan memberi Mama cucu," jelasnya masih menyeka air mata.


Vania mengambil posisi duduk diatas ranjang pasien.


"Sarapan ya," tukas Sandra sembari hendak menyuapkan. Saat melihat daging ayam diatas sendok Vania pun merasa mual lagi.


Ia bergegas mendorong sendok itu.


"Maaf Ma, aku tidak mau makan itu aku mual liatnya," tutur Vania.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa nak, biar Mama cariin ya?" tanya Sandra.


"Enggak Ma, gak usah," tolak Vania.


(Padahal aku pengen banget makan yang asem-asem tapi mana boleh kalau masih pagi gini) celetuknya berpikir sendiri.


Tak lama Arga datang bersama Vino.


"Hallo s


Sayang, maaf ya aku pergi gak pamit tadi," ucapnya sembari mencium pucuk kepala Vania.


Lalu menatap nasinya yang masih utuh di atas meja.


"Lo kok nasinya belum dimakan, kamu gak suka daging ayam ya?" tanyanya melihat daging ayam yang belum tersentuh sama sekali.


Yang lain hanya tersenyum memperhatikan mereka berdua seakan dunia hanya milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak disana.


Vania hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Vin sini kotaknya," pinta Arga yang meminta bungkusan dalam tas yang dibawakan Vino.


Arga mengambil sekotak lutisan buah segar dan sekotak bubur kacang hijau dari dalam bungkusan itu.


"Ayo makan, aku suapin," ucap Arga sembari menyiuk bubur yang dipegangnya.


Vania masih terdiam sembari menelan liur melihat buah segar itu diatas meja. Ingin sekali ia melahapnya segera namun Arga rupanya menyadari itu.


"Hmmm... boleh makan itu tapi Abisin dulu buburnya, kasihan kan dedeknya kalau belum sarapan dikasih kecutan," tukas Arga tersenyum hangat.


Vania membuka mulutnya dan menghabiskan semua bubur itu.


Tak lama Dokter dan seorang perawat masuk.


"Maaf, tolong tunggu diluar kami akan memeriksa pasien," pinta sang dokter perempuan.


Mereka keluar tinggal Arga disana.


Dokter dan perawat memeriksa Vania dengan kompeten sampai selesai.


"Gimana Dok, istri saya?" tanya Arga ingin tau.


"Alhamdulilah semua sudah pulih, nanti sore Vania sudah boleh pulang," jawab Dokter.


"Alhamdulilah, Dia sangat ingin makan lutisan. Apakah diperbolehkan masih pagi begini, Dok?" tanya Arga lagi.


"Oh gak papa asal jangan berlebihan Dan satu lagi, kalau Hb jangan kasar ya pelan-pelan aja karna riskan untuk janinnya yang masih sangat muda," pesan dokter membuat wajah Arga dan Vania memerah karna malu dengan ucapan sang Dokter.


"Iya Dok, terima kasih," tukas Arga.


Dokter dan perawat itu keluar.


Arga segera menyuapkan lutisan itu ke mulut Vania.


Vania terkekeh melihat ulasan wajah Arga yang cemberut dengan ucapan Dokter tadi.

__ADS_1


"Kenapa ketawa, mengejek?" seringai Arga.


"Enggak," jawab Vania yang masih terkekeh.


__ADS_2