Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_54 Tak Percaya


__ADS_3

Adiyaksa pun menendang Sandra hingga terbelalak.


"Aw," teriak Sandra kesakitan.


"Aku heran ya? Kok bisa kedua keluarga yang aku benci bisa menjadi besan saat ini," ucap nya heran.


"Oh ya, mungkin ini yang dinamakan takdir Tuhan agar aku dengan mudah membalas kalian," Ungkap Adiyaksa menatap mereka penuh kebencian.


"Di, saya mohon Di, tolong beritahu kami dimana Vania dan Bayu sekarang, tolong Di?" Tanya Romy memelas.


"Heh, tidak semudah itu," jengah Adiyaksa menyunggingkan sebelah bibirnya sinis.


"Om, tolong Om, jangan biarkan Bayu berbuat aneh-aneh pada istri saya, Om," imbuh Arga ikut memohon.


"Biarkan saja, aku tidak peduli, sebelum kau menanda tangani ini Romy." timbal Adiyaksa.


Namun Romy masih terdiam bingung dengan pilihan yang sangat memberatkanya. Membuat Sandra geram melihatnya.


"Pa, sudahlah Pa, berikan apa yang Mas Adiyaksa minta Pa," ujar Sandra memohon.


"Tapi Ma, dimana kita akan tinggal nanti?" Tanya Romy masih bingung.


"Kita fikirkan nanti Pa, yang penting anak-anak kita tidak akan berbuat yang tidak diinginkan," desak Sandra.


Kembali ke Ilman!!!


"Aduh, dimana Vania di kurung? padahal udah beberapa ruang yang aku lihat dari jendela. Tapi aku belum menemukanya. Bukankah rumah ini tidak bertingkat apa mungkin didalam ya? aku harus bisa masuk," gumam Ilman terus berfikir.


Ia pun melihat sebuah jendela yang terbuka sedikit. " Alhamdulilah, aku bisa masuk dari sana," ucapnya lagi.


Sedangkan diruangan lain. Bayu terus memaksa Vania menanda tangani surat perceraian itu.


"Ayo cepat tandatangani ini," perintah Bayu melotot.


"Tidak! tidak akan." tolak Vania.


"Oh kau mau macam-macam ya?" Tanya Bayu.


Vania pun bangkit dari duduknya ditepi ranjang.


"Aku gak mau Bay," sanggah Vania lagi.


Bayu pun memegang tangan Vania dan menekan kedua tanganya dengan keras.


"AW sakit," keluh Vania. Ia sangat ketakutan dengan perbuatan Bayu yang sangat menyeramkan dan kasar padanya. Tubuhnya berkeringat dan rasa gemetar menyeruak didada nya.


"Kau ingin aku memaksa rupanya," tukas Bayu membentak dan mendekat kan wajahnya ke wajah Vania hendak memangut b*b*r Vania.


Namun Vania berontak dan menangis histeris.


"Tidak! Jangan Bay," tolaknya.


Vania pun berusaha melepaskan diri dari cengkraman Bayu. Dan berusah menghindari Bayu yang mendekatinya.


Ia melempar apapun benda yang ada disekitarnya dari setiap langkah kaki Bayu yang mengejarnya dengan langkah pelan namun mencekam


"Pergi! Pergi dari sini!" Teriak Vania semakin ketakutan.


Kembali kerumah!!!


Dengan gemetar dan masih ragu-ragu Romy pun meraih maff itu dan menandatanganinya. Setelah selesai Adiyaksa segera menyerobotnya.


"Heh, Bagus memang ini yang seharusnya," Ulas Adiyaksa tersenyum puas.


"Sekarang kasih tau Arga, Om. dimana Vania di kurung, Om?" Teriak Arga. Ia sudah tak tahan lagi dengan drama itu. Wajahnya merah padam menahan diri dari setiap permainan Adiyaksa.


"Tenang! Aku akan kasih tau kalau sudah waktunya," tilas Adiyaksa.

__ADS_1


"Kur*ngaj*r Kau, Om. kau mempermainkan kan kami." Arga pun berusaha hendak melayangkan pukulan kewajah Adiyaksa namun Vino menghalanginya.


"Tenang Bos, tenang!" larang Vino.


"Lepasin aku Vin, aku ingin mengh*j*r orang tua ini," geram Arga berusaha melepaskan diri dari kungkungan Vino.


Kakek dan yang lainya hanya bisa terdiam dengan Kejadian itu. Semua rahasia yang mereka tutupi selama dua puluh empat tahun pada Arga pun sudah terbongkar. Mereka hanya Pasrah jika nanti Arga akan membenci mereka.


***********


Kini Ilman sampai diruangan yang kosong dan sepi dari jangkauan orang-orang. Ia juga mendengar suara teriakan Vania dari ruangan itu.


"Itu pasti ruangan tempat Mbak Vania dikurung, tapi kenapa suara itu kayak suara Mbak Vania berteriak?" oceh Ilman pada dirinya sendiri.


Ia pun mendengarkan arah suara itu dengan seksama. " Benar itu Mbak Vania aku harus menghubungi Bang Arga sekarang," fikirnya kemudian segera meraih HP disakunya.


Arga yang masih ngotot pun meraih ponselnya yang berdering.


"Ilman!" Ucapnya.


"Halo Man, ada apa?" Tanya Arga selanjutnya.


"Dengar Bang, aku menemukan keberadaan Mbak Vania," ungkap Ilman dari sebrang telpon.


"Apa! Dimana Man?" Tanyanya terkejut.


"Saya akan sherlok bang," jawab Ilman.


"Ilman, dengar! Tolong lindungi Vania dari Bayu, Man. Kamu tau? Bayu adalah saudara Vania sebenarnya," jelas Arga.


"Apa Bang! oke, saya akan berusaha semampu saya,Bang" jawab Ilman lalu memutuskan sambungan.


Setelah mengirim tempat lokasi dia segera melangkah keruangan itu.


"Vin, Lang, ayo ikut aku!" Ajak Arga.


"Vin, segera hubungi beberapa bodigat Papa untuk menyusul!" Pinta Arga. Sambil melajukan mobilnya lebih cepat lagi.


"Baik, Bos," jawab Vino. Ia pun segera menghubungi seseorang.


Sedang Vania masih terus melempari Bayu dengan segala benda di sekitarnya dan terus menghindari Bayu namun Bayu langsung memegang Vania dan menjatuhkanya keranjang, kini Vania ada dalam kendalinya. Ia memegang tangan Vania dengan sangat keras. Vania semakin takut dan histeris saat Bayu memaksa hendak menci*mnya.


"Enggak, enggak lepasin," teriak Vania terus berontak tapi Ia kalah tenaga dengan Bayu tubuhnya sudah lelah apalagi Ia kurang makan, Istirahat dan mengandung. Bahkan Ia pun rak menyadari kalau dia sedang hamil akibat rada takut yang dideranya.


Ilman susah payah berusaha mendobrak pintu itu.


Ia sangat panik saat mendengar Vania terus berteriak sedangkan Fiona dan pengawalnya tersenyum puas mendengar teriakan Vania.


Ilman pun menemukan sebuah balok dan langsung mendorong pintu itu sekuat tenaganya.


Dear! Dear! Dear!


Pintu itu terbuka dengan tiga dorongan balok itu.


Ilman terkejut melihat Vania ada dalam Kungkungan Bayu yang berusaha hendak mel*cehkan Vania.


"Bayu!" Teriak Ilman. Ia melayangkan tonjok kan kewajah Bayu bertubi-tubi hingga Bayu terjatuh kelantai dan Meringis kesakitan terkejut.


"Kau gil* Bayu, kau sudah menodai kepercayaan ku sebagai sahabat," ucap Ilman memarahinya.


"Bukan urusanmu," sahut Bayu. Lalu berdiri dari lantai.


"Aku tidak pernah menyangka kalau kau sebj*t ini Bayu, padahal aku sangat mengagumimu," tukas Ilman menatap Kesal.


"Ngapain kamu ikut campur, ini bukan urusanmu," jengah Bayu lagi.


"Aku sudah bilang kan, ini akan menjadi urusanku jika menyangkut Bang Arga dan Mbak Vania," ucapnya. Ia pun melirik Vania yang masih ketakutan lalu menarik pergelangan tangan Vania dari ranjang keramat itu.

__ADS_1


"Tenang Mbak, Bang Arga akan segera kesini," tukas Ilman menenangkan.


"Jangan mencoba untuk jadi pahlawan Man, Vania itu milikku!" Teriak Bayu yang mengelap pinggir


bibirnya yang berdarah akibat pukulan Ilman.


"Milikmu? Dia itu adikmu," tukas Ilman meninggikan suaranya.


"Adik, adik darimana?" Seringai Bayu tak percaya.


"Tanya sama Orang tuamu apa yang sudah terjadi," bentak Ilman


"Aku gak percaya," tolak Bayu. Ia pun hendak memukul Ilman hingga keduanya beradu otot.


Selang beberapa waktu, Arga dan yang lainya pun tiba termasuk para bodigatnya. Mereka disambut perkelahian hebat.


"Arga, Vino, kalian berdua masuk aja biar aku dan mereka yang Urus disini," saran Gilang.


"Makasih Lang," timbal Arga. Ia dan Vino pun masuk.


Fiona terkejut melihat kedatangan Arga.


"Arga!" Sentak nya.


"Dimana Vania Fi, dimana dia?" Tanya Arga mendelik. Sembari menekan pergelangan tangan Fiona dengan kuat.


"Aku gak...bgak tau," jawab Fiona merasa takut. Ia pun memerintah ketiga bodigat nya menyerang Arga dan Vino.


Hingga perkelahian kembali terjadi, semua perabot rumah itu berserakan akibat perkelahian mereka.


Sedangkan Ilman terus adu tonjok dengan Bayu hingga Ilman jatuh tersungkur.


Bayu pun melirik balok yang tadi dipakai Ilman membuka pintu sembari tertawa licik dan memukulkannya kekepala Ilman dengan kuat. Hingga Ilman terkejut.


"Jangan Bay," teriaknya saat benda itu melayang ke kepalanya.


Bugk!!!!


Hantaman itu terkena kepala Ilman.


"Aaaa," teriak Ilman kesakitan.


"Maaf Man, kau sudah menghalangi aku," tilas Bayu sisis.


"Bayu jangan!" Teriak Vania. Namun terlambat kepala Ilman tampak sudah berdarah dan meraung kesakitan.


Bayu pun dengan paksa menarik tangan Vania.


"Lepasin Bay, lepasin." tolak Vania ia terus memberontak dan melirik Ilman yang masih kesakitan memegang kepalanya yang sudah berlumur darah.


Hingga tiba diruangan Arga berkelahi. Arga terkejut melihat Bayu menarik Vania dengan paksa.


"Vania," panggilnya.


Ia segera meninggalkan teman duelnya dan menghampiri Bayu, membuat Bayu memicingkan matanya.


"Tolong lepasin Bay, dia lagi hamil, Bay," ucap Arga memohon.


"Heh, tidak akan. Dia ini milik ku," tilas Bayu menolak dengan tatapan sinis.


"Bay, dengar! Dia adikmu, adik kandungmu Bay," jelas Arga meyakinkan.


"Ha, adik kandung," desis Fiona. Kerena merasa takut Fiona pun mengisyaratkan anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu. Membuat Vino menatap heran melihat mereka pergi. Sedang kan diluar, Gilang pun ikut heran saat Fiona meminta semua anak buah nya meninggalkan tempat itu.


Hingga kedua orang tua mereka tiba ditempat itu.


"Gilang, dimana Arga nak?" Tanya Sandra panik.

__ADS_1


"Didalam Ma," jawabnya. Sandra yang lainya pun masuk kedalam mereka masih melihat Bayu memegang tangan Vania dengan erat dan Vania meringis kesakitan.


__ADS_2