
Arga pun duduk lalu mengusap rambut Vania dengan seluruh kasih sayang dan Cinta yang Ia curahkan pada wanitanya.
"Sayang, sepertinya aku berbuat kesalahan ya?" Tanya Arga saat melihat kedua bola mata Vania bengkak dan menyadari dirinya sedang memakai jas pengantin yang senada dengan gaun milik Fiona.
"Apa aku telah melakukan kesalahan terbesar dan menyakiti mu?" Arga mengulangi pertanyaannya dengan serius saat Vania lagi-lagi meneteskan air mata sembari tersenyum.
Vania menggeleng.
Arga menggenggam erat kedua jari jemari istrinya. "Maaf sayang, maaf jika aku berbuat salah. Apa yang sebenarnya terjadi pada ku? Mengapa aku memakai baju ini dan Fiona_." Ucapnya terputus saat mengingat gaun yang dipakai Fiona.
"Apa aku telah menikahinya, jawab sayang, jawab? Aku... Aku tidak menginginkannya, sungguh?" Ucapnya meyakinkan. "Bahkan seluruh hidupku sudah keserah kan pada mu jadi mana mungkin aku menghianati mu."
Disela rasa takut dan gelisah karena telah merasa melakukan kesalahan pada istri tercintanya justru Vania malah terkekeh, Membuat Arga menjadi heran dan bingung.
"Kenapa kau malah tertawa, sayang? Aku tidak menikahi mak lampir itu kan?" Alis Arga bertautan, sungguh Ia merasa gamang karena belum mendapat kan jawaban.
"Enggak akan kubiarkan suami ku dimiliki orang lain," jelas Vania lagi-lagi tersenyum yang mewakili jawaban atas pertanyaan Arga.
Arga kembali menyelusuri wajah Vania dengan senyumnya. "Aku mencintai mu sayang dan hanya kamu," desisnya. Ia pun mendaratkan kecupan manis dipipi Vania, tampa disadari keluarganya tengah memperhatikan mereka diambang pintu.
"Ciye, ciye, jadi kangen Adel dikampung!" Goda Ilman meledek.
Arga dan Vania menoleh, wajah keduanya berubah jadi memerah karena malu ketangkap..
Mereka pun menghampiri Arga dan Vania yang masih setia duduk diatas ranjang pasien diikuti sang Dokter dan perawat yang hendak memeriksa.
Vania pun bergegas turun, tapi Arga masih saja menggenggam tangannya.
"Ih, apaan sih Kak, malu tahu dilihat orang!" Lirih Vania membisikkan suaranya.
"Biarin, biar semua tahu kalau kamu adalah istriku termasuk Dokter, iya kan Dok?" Arga tersenyum pada sang Dokter yang dibalas senyuman oleh sang Dokter.
Sembari meriksa sang Dokter menjelaskan kepada keluarga Arga kalau ingatannya sudah pulih.
"Ini, keajaiban Pak, Bu, sungguh diluar dugaan kalau Arga bisa sembuh secepat ini, ini pasti karena ikatan Cinta yang kuat antara suami dan istri." Sang Dokter ikut-ikutan menggoda.
__ADS_1
"Ya elah sang Dokter bikin aku terharu," sahut arga dengan raut wajah yang cerah. Bagaikan pribahasa habis gelap terbitlah terang begitulah perasaanya saat ini.
Setelah sang Dokter pergi, Arga pun mengalihkan pandanganya pada sang Ayah. Wajah yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi penuh kebencian.
"Jangan sakiti Mama saya, jika anda tidak ingin saya benci selamanya." Ucapan Arga membuat semua yang ada diruangan itu saling berpandangan lalu beralih menatap Dana.
"Apaa maksud kamu nak?" Tanya Mutia bingung.
Arga tak menjawab dan masih menatap lekat dengan penuh kebencian pada Dana.
Mutia menghampiri Arga yang kembali duduk dan memeluk putranya.
"Untung Vania datang telat waktu nak, kalau tidak keluarga mu pasti berantakan."
Arga melepaskan pelukan sang Ibu lalu mengernyit. "Apa maksud Mama?"
"Kau hampir saja menikahi Fiona Sayang, kau mengalami amnesia dan hanya mengingat Fiona sebagai pacarmu, tapi syukurlah Vania yang yang kami pikir sudah meninggal ternyata masih hidup dan menyelamat kan pernikahan mu," jelas Mutia.
Arga tersenyum menatap Vania sembari memeluk Mutia.
"Hehehe.. iya Kakak ipar maaf, pasti wajah mu seperti singa yang hendak menerkam ku," canda Arga.
Setelah lama mengobrol, Arga pun dibawa pulang kerumah pribadi Arga.
Dana dan Mutia sudah pulang kerumah sedangkan Kakek tak ikut kerumah sakit.
"Istirahat lah Nak, agar kesehatan kalian cepat pulih!" Perintah Romy.
"Iya Pak," jawab kedua nya serempak.
"Iya, bersenang-senanglah," goda Bayu. "Tapi aku pamit pulang dulu ya kangen ma Bayu kecil!"
"Iya kak." Lagi-lagi keduanya serempak.
"Ck, ck, ck, " Bayu berdecak geleng-geleng. "Kalian memang kompak."
__ADS_1
"Iya Kak," timpal mereka lagi. Hingga mengundang tawa keempat manusia itu.
Saat Romy dan Bayu pergi, Arga menggerak-gerakan alisnya menggoda Vania yang kini membaringkan tubuhnya disamping Arga.
"Kenapa Kak, gatal, sini aku garukkin." Bukannya menggaruk, Vania malah memijit batang hidungnya sambil menyeringai tak percaya diri saat Arga menatapnya dengan lekat.
"Sayang!"
"Hem?"
"Ehem... Ehem... Yok!"
"Apaan tu?"
"Pengen, dah lama?" Arga mengelus-elus lengan putih dan mulus milik Vania hingga mengeluarkan efek geli pada Vania.
"Ih, geli Kak," sungut Vania.
"Boleh ya? Ya?" Melas Arga.
"Em, boleh enggak ya?" Canda Vania.
"kok gitu, nanti juniorku ngambek lo?" Kini Arga yang menyungut.
Cup!
Arga mencuri pipi Vania.
"Ih nakal!"
"Biarin, istri ku ini."
Arga pun mendekatkan bibirnya ke bibir merah muda milik Vania lalu mencurahkan keluh kesah yang menyiksa juniornya semenjak Vania keguguran. Arga selalu mencoba agar pertahanan junior nya hanya setia pada Vania yang membuatnya selalu merasa puas.
Sepanjang malam, Keduanya pun menghabiskan waktu untuk melepas hasrat setelah rindu dan kesabaran berbaur manjadi satu akhirnya tercurahkan, rasa malam pertama.
__ADS_1