
Arga yang sudah mengabari Romy telah tiba dirumah sakit disusul Kakek Bram, Dana dan Mutia.
"Arga apa yang terjadi? Bagaimana kah keadaan Vania sekarang?" Tanya Romy yang baru masuk.
Arga belum menjawab, pandangannya langsung mengarah penuh kebencian pada Dana dan Mutia.
"Dari mana mereka tahu kami disini, Pa?" Tanya Arga balik pada Romy.
Dana dan Mutia saling melempar pandang.
"Arga, tolong jangan benci kami nak, kami tau kami salah," mohon Mutia.
"Puas kah kalian melihat ku menderita Pa, Ma?" Tanya Arga.
"Anak Papa Dana ternyata ada disekitar kita," jengah Arga lagi.
"Apa?" Dana dan Mutia tersentak kaget.
"Apa maksud mu Arga?" Tanya Kakek Bram yang jadi penasaran.
"Heh, penasaran rupanya, apa kalian merindukannya?" Tegas Arga.
Vania yang melihat Arga mulai berbicara dengan nada meninggi jadi tak enak hati.
"Kak, kenapa bicara begitu?" Tanya Vania menggenggam tangan Arga. " Siapa orang yang Kakak maksud?"
"Biarin Van, aku merasa kesal telah dibohongi selama ini, gak papa jika aku harus kehilangan semua harta benda tetapi aku gak terima, karena masalah ini kita jadi kehilangan anak kita," sentak Arga.
"Tidak Kak, ini salah ku tidak ada hubungannya dengan mereka," tilas Vania.
Arga mengusap peluh wajahnya dengan kasar.
"Dia ada di kantor dan sangat Papa rindukan tentunya, temui dia Pa, temui anak yang sudah Papa telantarkan selama ini!"
"Tenang Arga, jangan emosi," melas Mutia.
Romy dan Brama tak mampu berucap lagi mendengar perdebatan orang tua dan anak itu.
"Pala tahu siapa orangnya? Arga terkejut saat tahu Pa, Arga merasa orang yang benar-benar bodoh selama ini, Orang yang Papa telantarkan telah hidup bertahun-tahun bersama kita, apa Papa tau?"
"Siapa dia nak?" Lirih Dana kemudian.
"Vino, Vino adalah Alan Pa!" Terang Arga.
"Apa? Vino?"
"Iya, orang yang selama ini menjadi sahabat yang sudah Arga anggap jadi Kakak Arga sendiri ternyata memang Kakak Arga."
__ADS_1
"Aku gak papa Pa, akan ku lepaskan apa ku punya sekarang demi anak Papa itu, akan ke serahkan semua aset atas nama Arga padanya, agar Papa puas!" Teriak Arga yang sudah sangat geram.
Plak!
Tamparan Dana mendarat dipipi Arga.
"Kenapa Papa menamparku?" Tanya Arga yang terkejut.
"Jangan bertindak bodoh Arga. aset yang sudah mengatas nama kan diri mu adalah milik mu, baik Alan atau pun siapa pun tidak ada hak sedikit pun dengan kekayaan yang ku punya, Paham!" Sentak Dana. Ia berlalu keluar meninggalkan Arga yang menjadi bingung.
"Arga kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Mutia yang memegang tangan Arga tapi justru dilepaskan Arga dengan kesal.
"Apa maksud Papa bicara begitu, apa Papa sedang mengejekku," lirih Arga.
Dana bergegas ke Hotel setelah mendengar ucapan Arga kalau Vino adalah anak dari istri pertamanya Tari.
Tanpa basa basi, Dana memasuki ruangan Vino yang sedang menyeringai licik.
"Dimana Tari?" Tanya nya yang langsung menatap tajam kearah Vino.
"Udah tau rupanya, kupikir Arga akan merahasiakannya dari kalian?" Timpal Vino yang menyungging sudut bibirnya.
"Dimana Tari, Vino? Kasih tau sekarang!"
Vino melangkah kearah Dana dan menatap penuh kebencian. "Untuk apa anda cari Mama saya?" Sinis Vino.
"Karena aku harus bicara dengannya," jawab Dana.
"Untuk apa?" Tolak Dana tanpa tersenyum.
"Jadi kau tidak merasa bersalah denganku?" Tanya Vino sembari terkekeh mendengar penolakan Dana.
"Tidak," tegas Dana.
"Apa? Heh, aku tidak akan mempertemukan mu dengan Mama ku, apa lagi kau baru saja mengejekku," ketus Vino.
"Karena Mama mu harus menjelaskan maksudnya mengirim mu hadir ditengah keluarga kami!" Sentak Dana meledak emosi.
Bug!
Tinjuan Vino mendarat di pelipis Dana hingga memar.
"Berani nya Kau bicara begitu dengan ku tua bangka, kau sudah menelantarkan kami demi selingkuhan mu itu!" Geram Vino kemudian.
"Kau tidak akan bicara begitu jika tahu kebenarannya Vino," timpal Dana yang memegang pelipisnya.
"Apa! Kebenaran apa yang perlu keketahui, kau sudah membuang kami demi pelakor!" Teriak Vino.
__ADS_1
"Kau salah Vino, sampai kapan pun aku tidak akan pernah anggap kau anakku, dan jangan harap sepeser pun kau mendapat harta yang ku punya termasuk Hotel milik Arga ini," terang Dana.
"Dasar tua Bangka, tidak punya malu rupanya!" Geram Vino. Ia pun membabi buta memukul Dana.
Bag! Bug! Bag! Bug!
Dana tak melawan dan membiarkan Vino memukul sesuka hatinya.
Ilman yang mendengar keributan diruangan Vino pun langsung masuk.
"Vino, hentikan! Apa yang kau lakukan?" Cegah Ilman menahan tubuh Vino yang menendang Dana yang sudah tersungkur lemas.
"Dasar gila! Orang tua gila!" Umpat Vino yang terus memaki Dana.
"Hentikan Vino! Hentikan!" Cegah Ilman yang terus menahan tubuhnya.
"Lepaskan!" Teriak Vino memaksa Ilman melepaskan tubuhnya.
"Jika kau tidak memberikan hak ku, maka aku akan mendapatkannya dengan paksa Tuan Dana!" Ancam Vino kesal. Ia pun keluar meninggalkan Dana dan Ilman.
"Ayo Om bangun!" Ilman pun memapah Dana membantunya Berdiri.
Vino melajukan mobilnya dengan cepat sampai tiba disebuah rumah sederhana.
"Mama!" Teriak Vino memanggil Tari.
"Alan, dari mana saja kamu? Bukankah sudah Mama bilang berhenti bekerja di Hotel itu!" Tutur Tari yang langsung memarahi Alan alias Vino.
"Aku harus mendapatkan hak kita Mama, aku tidak rela Papa hidup bergelimpangan harta bersama selingkuhannya dan anak haramnya itu, sedangkan kita dibuang begitu saja," timpal Alan.
Plak!
Tamparan Tari, membuat pipi Alan memerah.
"Mama, kenapa Mama menamparku?"
"Berhenti bergantung pada mereka Alan, biarkan mereka bahagia, Mama ikhlas hidup seadanya begini," timpal Tari.
"Tapi aku gak Ma, aku gak menjadi budak mereka terus, berpura-pura bersikap manis padahal pahit rasanya, aku yang membantu Arga membesarkan Hotel itu, bukanya untuk membuatnya bahagia tapi dia harus merasakan sakitnya jatuh miskin Ma," bantah Alan.
"Mama, kakak!" Tukas seorang gadis yang baru muncul, dialah Nisya yang dulu masih berada dikandungan Tari usianya baru menginjak delapan belas tahun.
"Nisya, sini nak!" Tari langsung merengkuh Nisya.
"Ma, Kenapa dengan Kakak?" Tanya Nisya polos.
"Gak papa, Kakak kecapean kayaknya," tutur Tari lembut. Namun air matanya tak dapat berbohong jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
***
Maaf ya mode gratis, jadi begini munculnya.