Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_48 Semakin Prustasi


__ADS_3

Arga pun tiba di kantor dan buru-buru mengajak Vino keruang CCTV tersembunyi. Membuat Bayu yang sedang mengobrol dengan resepsionis merasa heran. Ia pun segera membuntuti Arga dan Vino.


"Kenapa Bos, kok sepertinya Bos sangat penasaran dengan CCTV disini," tanya Vino heran.


"Iya Vin, kita sudah lupa memeriksa bagian ini," jelas Arga.


Bayu nampak mengendap mendekati ruangan rahasia itu.


"Ruangan apa ini? Apa yang hendak mereka periksa? Gumam Bayu penasaran.


Ia mengintip ke pintu dan membukanya sedikit agar bisa mendengar ucapan mereka.


"Aku merasa ada orang yang sudah memfitnah hotel kita, Vin. Dan aku akan menangkap dia lewat CCTV ini," tukas Arga. Sembari memainkan mouse dan membuka Vidio-vidio itu.


"Tanggal berapa hilangnya playdist itu,Vin?" Tanya Arga. Sambil menggaruk pelipisnya dan kembali memeriksa.


"Hari Rabu, tanggal sembilan mei, Bos," Ungkap Vino. Ia mengingat jelas kejadian bersamaan hilangnya Vania.


"Berarti satu setengah bulan yang lalu." Arga menebak sesuai usia kandungan Vania yang sudah dua bulan saat ini.


"Lihat Bos, Aku menyelipkannya di berkas itu," serunya pada Gambar yang melintas.


"Apa kamu belum memeriksanya?" Tanya Arga.


"Belum Bos, tapi dua hari setelahnya Bayu dan Ilman lah yang memeriksa disana," jelas Vino lagi.


"Berarti kita buka tanggal sebelas mei," tukas Arga.


Bayu yang mendengar pun merasa gelisah.


"Tamat sudah semuanya, aku harus segera kabur dari tempat ini sebelum Arga menyadarinya," gumam Bayu. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya karena panik. Ia pun segera pergi keluar untuk melarikan diri.


Arga dan Vino pun memutar Vidio saat Bayu dan Ilman memeriksa ruangan itu. Mereka tercengang saat melihat Bayu dengan mencurigakan memasukkan kan benda kecil kedalam sakunya.


"Coba,di stop pada benda itu, Bos," pinta Vino.


Arga pun menyetop dan memperbesar kearah benda itu.


"Benar, ini playdist yang kita cari, Bos," jengah Vino. Mereka tak menyangka jika Bayu sudah bermain api dengan mereka.

__ADS_1


Arga pun tampak berfikir.


"Apa yang Bos pikirkan tentang Bayu?" Tanya Vino.


"Aku curiga, Bayu dan Fiona memang ada hubungannya," tukas Arga. Lalu menghela nafas Dengan kasar.


"Fiona, kenapa bisa begitu?" Tanya Vino heran.


"Iya, kemaren Fiona hampir mencelakai Vania di butik, untung aku datang tepat waktu. Lalu kami meninggalkannya disana", jelas Arga.


"Lalu?" tanya Vino masih penasaran.


"Entah lewat mana dia, aku melihat Fiona dan Bayu sedang ngobrol di pinggir jalan depan kafe." Arga melanjutkan ceritanya.


"Kalai begitu, fiks. Mereka kerja sama." Vino pun menebak cerita Arga.


Singkatnya!!!!


Bayu pun terburu-buru masuk kekamar hotelnya dengan Ilman. Ia membereskan semua pakaian yang pernah dipakai untuk berganti jika menginap disana.


Bayu yang keluar dari kamar Mandi pun merasa heran. Ia melihat Bayu tergesa-gesa membuka kemejanya dengan kaos dan jaket. Terlihat jelas ada tanda lahir pula dipinggang belakang nya. Tapi Ilman tak peduli toh dirinya sudah sering melihat itu.


"Pergi! Aku tidak akan bekerja disini lagi," timbalnya dingin. Lalu menutupkan jaket yang ada pelindung ke kepalanya. Dan segera menenteng ransel kecil miliknya.


"Bay, tunggu! Kenapa mau rasain?" Teriak Ilman.


Namun Bayu tak menggubrisnya.


"Kenapa sih tu anak," gerutu Ilman kesal. Teriakannya tak dipedulikan Bayu. Padahal Bayu tidak pernah seperti itu padanya.


Ilman pun mengejarnya hingga kelantai bawah namun Bayu sudah keluar dari lobby dan menaiki mobilnya. Arga dan Vino pun sudah tiba di lobby.


Masih terdengar jelas teriakan Ilman pada Bayu.


"Bay, ada apa? Cerita dong sama gue. Jangan kabur begini," teriak Ilman lagi. Yang menatap mobil Bayu sudah menjauh.


Arga dan Vino pun bergegas mendekat.


"Kenapa Man?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Bayu pergi, katanya gak akan kerja disini lagi. Emang kenapa Bos?"tanya Ilman setelah ia menjelaskan pada Arga dan Vino.


"Hmmmm..., Berarti Bayu mengetahui semuanya," tukas Arga. Ia sudah menebak kalau Bayu pasti kabur karna sudah ketahuan.


Drrrrttt!!!!!


HPNya berdering. Arga segera meraih benda pipih itu dari sakunya.


"Papa!"


"Halo Pa," sapanya.


"Gawat Ar, gawat. Vania diculik lagi," jelas Romy panik.


"Apa!" Arga tersentak kaget.


"Iya nak, Ia diculik saat menyiram tanaman disamping rumah," jelas Romy.


Tampa sadar benda pipih itu terjatuh dari tanganya. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Ia duduk tersungkur dilahan parkir. Ilman dan Vino pun merasa heran.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini," Keluhnya. Sambil mengusap rambutnya kasar.


"Kenapa Bos, apa yang terjadi?" Tanya Vino ikut panik. Ia melihat Arga nampak histeris.


Vino pun segera meraih HP yang masih tersambung dan suara Romy masih terdengar disana.


"Halo Ar, halo. kamu masih disana," teriak Romy dari sebrang telpon.


"Iya Om, sepertinya Arga sangat terpukul. Ada apa Om?" Tanya Vino.


"Vania diculik lagi Vin," jelas Romy. Ia mengulang kalimat yang sama.


"AstaufiruLlah, Iya Om biar Vino bantu cari nanti," timbal Vino. Lalu mematikan HP nya. Dan segera menuntun Arga untuk berdiri.


"Sabar Bos, Bos harus kuat. Kita akan cari sampai ketemu." Vino berusaha menenangkan Arga lalu menuntunnya masuk ke mobil.


"Man, urus hotel," perintah Vino.


"Baik Pak".

__ADS_1


__ADS_2