Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_51 Hilang Semangat


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, Namun Arga dan keluarga belum menemukan Kabar tentang keberadaan Vania. Hari-hari itu terasa begitu sulit untuk Arga. Kerinduannya telah mematahkan semangatnya. Banyak Klayen yang kecewa atas kinerjanya kali ini.


Tak jarang Ia mendapatkanan Omelan dengan persentasenya yang hancur dan mute yang hilang.


Banyak juga Klayen Nya yang memutuskan kontrak mereka. Ilman dan Vino hanya bisa melempar pandang atas kejadian itu. Mereka mengerti itu tidak mudah bagi Arga.


"Bos, kami mengerti perasaanmu. tapi Bos, kalau semua klayen memutuskan kontrak dengan kita bagaimana nasib hotel kita Bos?" tanya Vino. Ia berusaha menyadarkan sembari memegang bahu Arga yang duduk dengan lesu.


"Bang, ini salah Ilman bang. Seharusnya Ilman tidak mengajak Bayu kerja disini. Tapi Ilman janji bang akan membantu abang menemukan mbak Vania," tutur Ilman. Ia juga merasa bersalah atas kejadian itu.


"Sudahlah, aku mau pulang," ketusnya. Lalu beranjak dari tempat duduk dan pergi.


"Vino dan Ilman hanya bisa menghela nafas dengan kasar menatap Arga membanting pintu.


"Man, aku berharap kamu menemukan Bayu, Man," tukas Vino."jika tidak hotel ini akan benar-benar hancur," tambahnya.


"Iya pak, saya akan berusaha semampu saya," jawab Vino.


Singkatnya!!!


"Apa yang bisa kulakukan aku sudah berusaha mencari jalan keluarnya. tapi tidak ketemu, Kak Arga tolong Vania," keluh nya.


Ia sudah tidak tahan terkurung ditempat itu. Namun Ia tak bisa berbuat apapun.


Tak lama datang beberapa orang membuka pintu.


Vania tercengang kala melihat siapa yang datang dengan senyum kebencian menatapnya.


"Fiona, jadi ini semua ulah kamu, ha!" Teriak Vania geram. Sambil hendak menjambak rambut Fiona.


"Hey, stop berulah kalau tidak ingin aku berbuat kasar yang akan membahayakan kandunganmu" jengah Fiona mendorongnya kebelakang.


"Duduk dilantai! Perintahnya pada Vania.


"Ayo, kalau kau ingin mendapatkan makan siang kau harus duduk dilantai! Atau..., Kau ingin melewatkannya." seringai Fiona tersenyum sinis.


"Kau tidak kasihan kalau bayimu kekurangan gizi, ha!" Bentaknya. Iamerasa puas telah menyiksa


Vania.


Vania pun mengelus perutnya. Rasa lapar memang sudah menderanya. Dengan terpaksa akhirnya Ia pun duduk dilantai. Fiona pun jongkok didepan Vania.


"Bagus sayang, ternyata kamu sangat sayang dengan kandungan mu," tukas Fiona mengangkat dagu Vania dengan telunjuknya. Lalu berdiri dan mengusap kedua tanganya.


"Ayo kasih dia makan, pasti dia sangat lapar," perintahnya pada dua orang pesuruhnya. Mereka laki-laki yang tampak seram tinggi besar dan gemuk. Rambut yang satunya gimbal tidak pernah disisir mungkin dan satunya lagi plontos.


Seorang yang plontos pun menyerahkan sebungkus nasi dan segelas air kemasan.

__ADS_1


"Ayo makan, aku pengen liat seorang istri dari Arga Gautama Wijaya pemilik hotel ternama makan seperti gelandangan begini oh miris sekali," ejek Fiona terkekeh.


Dengan air mata berderai dan rasa yang menyakitkan Ia pun membuka bungkus nasi itu dan melahapnya.


"Vania...Vania..., Aku akan membebaskanmu dengan satu syarat? Bagaimana? tanya Fiona menyeringai.


Namun Vania tak menimpali.


"Kenapa diam, kamu ingin makanan mu ku buang, ha!" Gertaknya sambil menyempar nasi bungkus itu hingga berserakan dilantai.


Melihat itu Vania menjadi geram


"Apa mau mu, Fi?" tanya Vania kesal.


"Mau ku, ceraikan Arga!" Jelasnya.


Vania pun berdiri dan menatap Fiona dengan sorotata yang tajam. Ia juga bisa marah jika terus disakiti.


"Heh, jangan mimpi. Seharusnya kamu malu. tidak punya harga diri,kah? hingga mengejar suami orang terus menerus," balas Vania dengan sinis.


"Tutup mulud mu Vania," tukas Fiona emosi dan hampir menampar Vania. Tapi Vania menahan tanganya.


"Itu Paktanya Fi, aku sudah tau akal bulus mu bersama Bayu. Kau menginginkan perpisahan ku dengan Arga supaya kau bisa bersamanya, kan?" tanya Vania dengan lantang. Sambil melepaskan tangan Fiona kasar.


"Sialan! Kau akan menyesal, Van!" Ancam Fiona.


Sebuah tepukan pun terdengar dari balik pintu.


Membuat mereka menatap kearah sana. Ialah Bayu siapa lagi? Ia memegang sebuah maff.


"Oh..., Berani juga kamu ya," seringai Bayu. Membelai rambut Vania. Namun Vania menepisnya.


"Sayang, aku sangat mencintaimu bisakah kau menuruti keinginan kami, tanda tangani ini?" Pinta Bayu dengan senyum menggoda. Sembari menyerahkan maff itu diatas meja beserta bolpoin nya.


"Kalian memang sudah tidak w*r*s, apa tidak ada yang menyukai kalian diluar sana, ha!" Ejek Vania.


"Oh iya aku tau, orang-orang busuk seperti kalian mana ada yang mau," tambah Vania lagi dengan berani.


Bayu pun mendekatkan wajahnya kewajah Vania.


"Apa kau yakin tidak mau melepaskan Arga, berarti kau ingin suamimu celaka ya!" ancam Bayu berbisik. Sembari membelai wajah Vania.


Plak!


Tamparan keras mendarat kewajah Bayu. Bayu pun memegang bekas tamparan itu.


"Meski pun, Aku mati aku tidak akan berpisah dengan Arga, kau dengar itu!" Jelasnya menunjuk muka Bayu.

__ADS_1


"Sayang, apa sih hebatnya Arga dibanding aku. Aku gak kalah ganteng lo sama dia?" tanyanya dengan santai namun menjengkelkan bagi Vania.


"Tentu saja jauh, dia sangat tulus mencintai aku. Dan ketulusan Cintanya tidak bisa digantikan oleh siapa pun," terang Vania menekankan kata ketulusan cintanya.


Bayu pun menjambak rambut Vania.


"Aw," teriak Vania kesakitan.


"Aku kasih waktu sampai besok untuk menanda tangani surat cerai ini kalau tidak kau akan tanggung akibatnya," tukas Bayu geram dengan penolakan Vania dan mengancam.


Ia pun meraih maff itu dan pergi meninggalkan Vania seorang diri diikuti Fiona dan yang lainnya.


Vania pun duduk lemas dan menatap dengan perasaan sakit melihat nasi yang berserakan dilantai.


"Maafkan mama nak, kita harus menahan lapar lagi." Ia menyayangkan kejadian itu hingga buliran air mata membasahi pipinya.


Kembali ke hotel!!!


Nampak Ilman sedang Vidio Call dengan Adel. Ia sudah menceritakan semuanya pada Adel.


"Kasihan Del, Bang Arga jadi gak keurus sekarang. Gak mau makan juga," tukas Ilman.


"Iya ya Bang, gimana nasib mbak Vania dan bayinya?" tanyanya pada diri sendiri.


" Entahlah, tapi aku akan menemukan mbak Vania sampai ketemu, dan menghukum pelakunya itu," tukasnya berjanji.


"Ini memang salahku terlalu percaya sama Bayu aku gak tau bagaimana hubungan kita kalau hotel ini bangkrut," tambah Ilman sedih.


"sabar Bang, Bang Arga, kan cerdas pasti dia bisa bangkit lagi," tukas Adel menguatkan.


"Aamiin, semoga ya Del," sahutnya.


"Ya udah ya bang, aku ada kerjaan untuk kegiatan anak-anak karang taruna," tukasnya hendak mengakhiri sambungan.


"I Love You, Del," teriak Ilman.


"I Love You too, bang," balas Adel.


Skiiippp.....


Gilang, Arga, Vino dan Ilman pun memasang poster hilangnya Vania dijalan-jalan dengan imingan uang lima puluh juta bagi yang menemukanya.


Tentu saja semua warga yang melihat antusias menyimpan nomer yang tertera di poster itu.


"Wah ada orang hilang tu, hadiahnya besar banget lagi," saru seseorang dan seorang temannya.


"Liat aja istrinya cantik begitu pasti suaminya sangat mencintainya ya? ya hingga hilang aja hadiahnya besar Pasti orang kaya," sahut seorang lagi.

__ADS_1


"Ayo..ayo..., Simpen nomernya siapa tau rezeki kita," ajaknya.


__ADS_2