
Siang itu, Arga tengah sibuk beraktivitas di Hotel. Tiba-tiba Ilman datang tergopoh-gopoh setelah mengantar Adel dan Orang tuanya di terminal.
"Bang!" Panggilnya setelah bertemu Arga diruang Kerja.
"Kenapa Man? Kok ngis-ngosan gitu?" Tanya Arga menatap heran.
" Pak Dana menelpon katanya ada orang tak dikenal menyerang kantor," jawab Ilman yang masih ngos-ngosan.
"Siapa?" Gumam Arga.
"Vino mana?" Tanya Arga.
"Dia tidak kekantor, katanya ada kepentingan," jawab Ilman.
"Lalu bagaimana keadaan Papa?"
"Kurang tau Bang, yang nelpon tadi sekretarisnya."
"Kalau begitu, ayo kita kesana!" Ajak Arga melangkah lebih dulu.
"Baik Bang."
Arga dan Ilman pun pergi ke kantor dan melihat kericuhan terjadi. Semua pegawai kantor berhamburan keluar dan berteriak histeris.
"Aaaaaaa... ." Teriakan orang-orang menambah kekacauan
Dor! Dor! Dor!
Dentuman suara tembakan membahana dari dalam.
"Papa, apa yang terjadi?" Tanya Arga pada Dana yang nampak panik.
"Entahlah Arga ada seseorang yang masuk dan menembakkan pistol ke sembarang arah."
Arga pun hendak bergegas masuk.
"Mau kemana Arga? berbahaya. Polisi sudah mengatasinya," cegah Dana.
Namun Arga tak menghiraukan kata-kata Dana dan melangkah masuk.
Arga berhenti terkejut dan mengangkat tangannya saat melihat orang berpakaian serba hitam memakai topeng menodongkan pistolnya kearah Arga.
"Hahaha, selamat datang Arga Rama Wijaya, senang bertemu denganmu pewaris tunggal Brama Wijaya," tukas seorang itu dengan tawa licik.
"Siapa kamu? Mau apa kamu membuat kekacauan?" Tanya Arga yang masih mengangkat tangannya.
"Tidak perlu tau siapa aku? Aku adalah orang yang dibuang dan aku akan menghancurkan keluarga mu!" Ancam orang itu dengan nada dingin.
"Apa salah keluarga ku? Hingga kamu mau balas dendam?" Tanya Arga lagi.
Belum sempat orang itu menjawab Polisi datang menodongkan senjata kearah orang itu.
"Berhenti! Turunkan senjata mu!" Perintah Pak polisi.
Karena terkejut Ia langsung melompat kearah Arga dan memukul tengkuk Arga hingga jatuh lalu bergegas melarikan diri.
"Bang Arga!" Teriak Ilman panik.
Lalu membantu Arga berdiri.
"Segera cari orang itu!" Teriak Komandan Polisi.
"Siap Pak."
***
Orang tak dikenal itu pun melompat kesebuah tong sampah besar saat Polisi mengejarnya.
"Ayo cari kesana!" Ajak salah satu Polisi.
__ADS_1
Setelah dirasa aman, orang misterius itu segera melarikan diri sejauh mungkin.
***
Arga masih merasa sakit, Ia meringis menahan memar dipunggung nya.
Beberapa Polisi itu kembali Tampa hasil.
"Maaf Pak, seperti nya orang itu berhasil kabur, tapi kamu akan terus melakukan pencarian," ucap Komandan itu pada Arga dan Dana.
"Terima kasih ,Pak," jawab Arga.
Para polisi itupun berpamitan.
"Gimana keadaan kamu, Arga?" Tanya Dana khawatir.
"Tidak perlu khawatir 'kan aku Pa. Seharusnya Papa ingat siapa saja yang sudah Papa sakiti hingga mereka melakukan balas dendam pada Arga, Pa," tukas Arga kesal sambil menatap serius. Lalu meninggalkan Dana yang masih terdiam.
***
Arga yang sudah kembali ke Hotel pun merenung dan duduk memegangi dagu yang bersih itu.
Ia tampak berpikir keras atas kekacauan barusan.
"Siapa orang itu? Dan dendam apa yang dia maksud?" Pikir Arga. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya.
"Ilman!" Panggil Arga.
"Iya Bos."
"Aku akan pulang, tolong urus semuanya ya!"
"Baik Bos."
Arga pun bergegas pulang dan menemui Brama yang duduk ditaman.
"Kek!"
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu? Kakek pasti sudah tau'kan kalau kantor Papa terjadi kekacauan?" Tanya Arga sembari duduk disamping Brama.
Brama pun memandang Arga dengan lekat.
"Ar, mungkin sudah saat nya kamu tau tentang kisah orang tua mu. Kakek tidak menyalahkan jika banyak yang datang kembali untuk membalas dendam," ulas Kakek.
"Maksud Kakek?"
"Kamu punya saudara tiri, Arga," jengah Kakek.
"Apa! Saudara tiri?"
"Ya, Dana memiliki dua orang anak selain kamu sebelum menikahi Mutia," ungkap Kakek.
"Apa! jadi maksud Kakek. Aku adalah orang yang tidak berhak atas apapun?"
"Arga!" tepuk Kakek ke pundak Arga.
"Dana mencampakkan istri pertamanya saat bertemu Mutia," ulas Kakek lagi.
Arga menghela nafas dan mendongakkan kepalanya keatas lalu menoleh kembali kearah Brama.
"Lalu siapa Orang itu, Kek? Dimana keberadaan mereka?" Tanya Arga dengan nada yang meninggi. Ia sudah tidak tahan lagi dengan drama kebohongan keluarganya itu.
"Kami tidak tau, Arga. Sampai saat ini kami belum menemukan titik terang tentang
Keberadaan mereka."
\*\*\*Masa Lalu\*\*\*
"Mas, kamu kemana aja sih kok gak pernah pulang kalau malem?" Tanya Tari. Tari masih mengandung delapan bulan waktu itu.
__ADS_1
"Lembur," jawab Dana jutek.
"Mas, aku tu hamil besar sebentar lagi aku akan melahir'kan tolong sisih kan waktu mu untuk aku dan Alan, Mas," pinta Tari. Alan adalah anak mereka yang masih berusia tiga tahun.
"Kamu gak usah protes terus dong Tari, yang penting 'kan aku mencukupi kebutuhan mu. Toh aku bekerja untuk kita agar Kantor Papa bertambah besar," bentak Dana.
"Aku mengerti, Mas. tapi apa kamu yakin, kalau kamu memang lembur?" Tanya Tari.
"Maksud mu apa?"
"Liat ini Mas, aku menemu'kan bekas lipstik perempuan di baju mu," tunjuk Tari pada kemeja yang dipegangnya.
"Ahk, sudahlah kantor itu ramai sudah pasti jalan saja tabrakan," jelas Dana tak perduli.
Buliran bening membasahi pipi Tari, Ia tidak mungkin salah kalau Dana punya wanita simpanan.
"Aku lembur lagi malam ini, tidak usah tunggu aku pulang ," tukas Dana. Lalu meninggalkan Tari yang duduk menangis ditepi ranjang sambil memegangi kepalanya yang pusing.
"Mama, Papa mau kemana?" Tanya Alan kecil yang imut dan lugu.
"Papa kerja sayang, ayo bobok sama Mama!" Ajak Tari.
"Ia Ma, tapi Mama kenapa nangis?" Tanya Alan sembari berbaring.
"Mama gak papa, nak," jawab Tadi sabar.
Setelah Alan tidur Tari pun memutuskan untuk memergoki Dana.
"Tari mau kemana, malam-malam?" Tanya Brama.
"Ada urusan, Pa. Tari pergi dulu!"
Karena rasa curiga Brama pun mengikuti Tari kesebuah apartement. Ia mendapat kabar dari orang suruhannya kalau Dana masuk ke apartemen bersama wanita.
Tampa basa basi Tari menuju ke kamar yang diberi tahukan oleh resepsionis.
Tari mendengar ******* dan tawa cekikikan dari kamar itu. Ia langsung membuka paksa kamar itu dengan kunci cadangan yang diberikan resepsionis itu.
Dana dan Mutia yang tak memakai busana pun langsung terkejut dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
Tari tak lagi dapat membendung amarahnya menyaksikan itu.
"Dasar pelakor! Bisanya kamu menggoda suamiku Mut, kamu itu sahabat aku. Tapi kamu menusuk aku dari belakang!" Teriak Mutia.
"Ma... Maaf Tari, akun mencintai, Mas Dana," jawab Mutia.
"Dasar pelac*r!'
Plok!
Tamparan Dana melayang diwajah Tari.
"Jangan pernah sebut Mutia seperti itu Tari," bela Dana.
"Mas, aku ini sedang hamil. Apa kamu tidak kasihan sama aku dan anak-anak Mas?" Jengah Tari menangis.
"Aku tidak perduli, aku sudah tidak cinta sama kamu," gertak Dana.
"Aku akan menceraikan kamu setelah melahirkan," tukas Dana lagi.
"Kamu keterlaluan Mas, aku bersumpah akan membalas perlakuan mu terhadapku," ungkap Tari.
\*\*\*Kembali ke Masa Sekarang\*\*\*
"Sejak daat itu, Tari pergi dari rumah dan membawa serta Alan dan bayi di kandungannya tampa ada sedikit pun keperdulian Dana kepadanya," ulas Kakek mengakhiri ceritanya. Sambil menangis sesegukan merasa bersalah.
"Jadi, setelah istri Papa pergi Mama Mutia menikah dengan Papa?" Tanta Arga ingin tau lebih jauh.
"Awalnya Kakek membujuk Papamu agar mencari Tari dan meninggalkan Mamamu. Tapi saat Dana mencari Tari. Mutia datang dan mengaku Hamil oleh Papa mu. Adiyaksa juga menceraikan dan mengusirnya dari rumah. Setelah tau Mutia berselingkuh," jelas Kakek lagi.
__ADS_1
"rgggg..... Gak tau'lah Kek Arga pusing dengan masa lalu kalian!" Teriak Arga kesal. Sambil bangkit dari duduknya mengusap kepalanya dengan kasar dan meninggalkan Kakek yang masih menangis.
****Bersambung****