Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_49 Emosi


__ADS_3

"Brengsek! Siapa yang sudah berani menculik Vania. Akan ku habisi dia," gerutu Arga. Sambil memijat kepalanya Yang pening. Mereka masih berada di dalam perjalanan. Vino hanya terdiam dan sekali-kali menatap Arga. Terlihat sekali kalau Arga sangat emosi.


"Bos, apa mungkin kalau Bayu atau Fiona yang sudah berencana menculik Vania?" Tanya Vino dengan ragu. Ia hanya menebak dan menyambungkan kejadian itu.


"Apa Vin?" tanya Arga. Sambil menatap Vino.


"Kalau begitu ayo kita kerumah Viona!" ajakNya kemudian.


"Oke Bos," timbal Vino. Ia pun mempercepat laju mobilNya.


Sesampainya dirumah Fiona...


Arga pun menggedor-gedor pintu dengan kasar sambil meluapkan emosi yang sudah memuncak dikepalanya.


Dor! Dor! Dor!


"Fiona,keluar kamu. Fiona!" Teriak Arga.


"Dor! Dor! Dor!


Ia kembali menggedor sangat keras.


Erwin yang sedang santai pun merasa geram dibuatnya.


"Siapa sih? Menggedor rumah orang gak ada sopan santunnya," gerutu Erwin. Ia pun bergegas membuka pintu.


Ceklek!


Belum terbuka penuh pintu itu, Arga langsung mendorong Erwin dan bergegas menerobos masuk.


"Fiona, Keluar kamu. Fiona!"teriaknya dengan keras.


"Eh, eh, eh, mau apa kalian? Main nyelonong aja gak diajarin sopan santun sama orang tua kalian," tegur Erwin kesal.


"Fiona, dimana Om?" tanya Arga mendelik.

__ADS_1


"Ngapain cari Fiona? Apa dia berulah?" tanya Erwin heran.


"Iya Om, anak Om sudah berani menculik istri saya," jawabnya. Sambil menekankan kalimat istri saya.


"Apa! Gak mungkinlah Fiona nyulik istri kamu, apa untungnya buat dia," tukas Erwin tak percaya.


"Anak Om itu sudah s*nt*ng, dia terus mengejar aku. Dan Om tau? dulu dia yang ninggalin aku," jelas Arga. Sembari berteriak. Arga pun bergegas mencari kesetiap sudut ruangan rumah itu. Diikuti Vino dan Erwin.


"Fiona! Dimana kamu? Aku gak akan lepasin kamu," Ancam Arga sembari terus mencari.


"Cukup Arga! Fiona tidak dirumah", ungkap Erwin.


"Om pasti sembunyikan dia,kan? Jawab Om!" tanya Arga geram. Sambil menarik kerah baju Erwin. Ia sudah tak mampu mengendalikan emosinya. Namun Erwin melepaskannya dengan paksa.


"Terserah! Kamu bilang apa. Paktanya, aku tidak tau apa-apa," tegas Erwin.


"Oke, tapi kalau sampai aku tau Fiona dalang dibalik hilangnya Vania. Aku gak akan lepasin dia, Om," gertak Arga. Lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan disusul Vino.


Vino tak mengatakan apapun disana. Ia hanya takut jika Arga hilang kendali dan Ia akan bersiap menghalangi Arga. Tapi untunglah semua tidak terjadi.


Arga dan Vino pun tiba dirumah. Kakek Brama, Dana dan Mutia sudah ada disana.


"Arga, bagaimana nak? apa ada petunjuk dimana Vania?" tanya Kakek yang tampak khawatir.


Arga pun duduk di sofa, Ia hanya membisu dan tak menimpali pertanyaan kakek. Ia nampak sangat lesu dan kisruh.


"Vin, gimana Vin?" tanya Romy pada Vino.


"Kami tidak menemukan apapun Om," jelas Vino yang ikut simpati.


"Hig...hig..., Aku yang salah tidak bisa menjaga putriku sendiri. Aku terlalu sibuk memikirkan putraku yang hilang. Sekarang putraku sudah ketemu tapi Putriku yang hilang. Hig..hig..., Ibu macam apa aku ini," jengah Sandra. Ia merasa bersalah karena Vania diculik dihadapannya. Air matanya tumpah tak terbendung.


"Sabar San, kita pasti akan menemukan Vania secepatnya," tukas Vania menenangkan. Sembari mengelus punggung Sandra.


Arga pun beranjak dari duduknya dan bergegas mendekati Mutia. Lalu bersipuh dikaki Mutia.

__ADS_1


"Maafin Arga, Ma. Arga yang salah, Arga tidak bisa menjaga Vania Ma," keluhNya. Ia pun menangis dipangkuan Mutia.


Semua yang ada disana hanya bisa ikut menitikan air mata, Melihat duka Arga yang begitu dalam. Padahal Arga tak pernah sesedih ini saat Vania diculik Bagas berulang kali.


Sandra pun mengusap punggung Arga.


"Tidak nak, ini bukan salahmu.ini sudah takdir nak," tutur Sandra. Ia berusaha menenangkan Arga walaupun ia sendiri terpukul dengan hilangnya Vania.


"Tidak Ma." Beranjak dari duduknya.


"Arga yang gak bisa jaga Vania. sudah tiga kali Vania diculik selama jadi istri Arga," tolak Arga. Ia tetap yang merasa paling bersalah disana.


"Aku tidak belajar dari kesalahan sebelumnya," imbuhnya lagi.


"Ma, maaf Ma. Arga belum bisa jadi suami yang baik untuk Vania." Kembali duduk.


"Arga merasa gagal melindungi Vania," ungkapnya.


"Sudah...sudah, jangan seperti ini Arga. Kita akan cari Vania sampai ketemu ya," tukas Sandra berusaha sabar. Sambil memeluk menantunya itu.


"O ya kamu belum kenalkan dengan kakaknya Vania?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.


"Sini Lang," ajak Sandra.


Arga pun berdiri dari duduknya dan menatap Gilang seksama. Sambil menghapus air matanya yang sembab.


Dia Gilang, kakaknya Vania," jelas Sandra.


"Oh Kak, ternyata Kakak sudah diketemukan," ucapnya sambil tampak terpaksa mengulas senyum.


"Iya Ar, yang sabar ya!. Sambil menepuk pundak Arga. "Aku akan ikut mencari adikku. Tapi sebelumnya, Gilang harus pulang dulu untuk memastikan kalau Gilang benar-benar anak papa dan mama," tuturnya kemudian. Setelah melihat drama yang panjang. Ia pun menyalami semuanya dan pergi dari tempat itu.


"Tunggu nak! tolong jangan pergi Mama takut Adiyaksa tidak mengijinkan kamu ketemu kami." cegah Sandra.


Gilang pun memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Aku pasti kembali," jawabnya singkat. Lalu melangkah pergi.


__ADS_2